Disukai
3
Dilihat
2,149
AYAN
Thriller

Kejadiannya di salah satu restoran viral yang ada di Kintamani Bangli, Bali. Restoran yang menyajikan pemandangan gunung dan danau Batur sebagai pemikat.

Aku dan Dewa memiliki janji untuk bertemu dengan Grace teman kami, seorang pramuwisata yang juga menjadi selebgram dengan jumlah pengikut hampir satu juta.

Ketika kami datang ternyata Grace sudah lebih dulu ada di sana duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang kemudian pamit pergi setelah Grace yang melihat kedatangan kami menyapa kami.

“Hemm .. siapa tuh?” tanyaku iseng setibanya kami

“Siapa?” balas Grace menanggapi isengku

Aku berkode dengan alis mata mengarah ke seorang lelaki tinggi dengan kaus hitam lengan pendek dan celana chinos krem yang senada dengan warna topinya dan masker yang sama warnanya dengan kausnya.

“Ohh klien, udah seminggu gue temenin keliling Bali dan ini hari terakhir, dua malem kami di sini. Itu dia sekarang mau langsung ke airport,” terang Grace

“Pantes rapi banget suitnya, kayak bukan turis lagi liburan,” pangkasku

“Iyalah biasanya kemana-mana boxeran doang, telanjang dada,”

Aku dan Grace tertawa bersama.

“BF loh kenapa tuh diem-diem bae?” Tanya Grace melihat Dewa yang terlihat tidak larut dengan suasana

Aku menyenggol Dewa melihat wajahnya berpikir keras.

“Noo .. Iam good, I just remembering something,” sahut Dewa

“What? What is?”

“Don’t you think that guy is familiar? Wait, how about his name, Grace?” cecar Dewa

“Oh okay, he is Will, William, did you guys knowing him?”

“Oh okay, so I don’t know,”

“Oke,”

“Who was in your mind before?” tanyaku kepada Dewa

“Yeaa, I think he is similar with someone psychopath in Seattle … “

“Aaa … yeaa, I see … “ potongku kaget mendengar yang disampaikan Dewa, jantungku mendadak berdebar cepat

“Right? Aren’t they look alike? Actually I can’t remember his name, but sure is not Will … “

“Gil!! I remember and I always remember his name, is Gil!” potongku lagi penuh emosi

Grace di depanku tersenyum melihat sikapku. Dewa mengusap punggungku, mengatakan “calm down!” berulang kali

“Yaap, sabar mbak sabar, emang kenapa sih kok Lo emosional banget? Eh order dulu deh, you need a water,”

Dua cangkir jus melon pun disajikan di meja kami.

“Oke, jadi Gill itu?” tanya Grace

“Jadi kejadiannya pas Christmas tahun lalu di Leavenworth, Wangshiton … “

***

Suhu minus lima sejak sore tadi membuat salju menebal di balik jendela. Jalan dan hutan yang mengelilingi kabin kami juga penuh salju. Badai salju membuat suasana di luar sangat sepi.

Aku dan Dewa di dalam kabin menghangatkan tubuh dengan secangkir teh dan pizza membiarkan layar lebar di depan kami memutar film A Christmas Carol. Sedang fokus kami tertuju pada layar yang lebih kecil di tangan kami masing-masing.

Keputusan kami meminta izin ke kantor untuk kembali ke Jakarta setelah tahun baru karena ingin menyaksikan perayaan natal dan tahun baru di kota hujan Leavenworth ini membuat kami diberi tugas tambahan yaitu mengisi slot hari peringatan Purple Day for Epilepsy Awarness Day atau Hari Peringatan Epilepsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 Maret. Kami akan mewawancarai dokter Gilbert, seorang WNI yang sudah lama menetap di Amerika untuk menjadi seorang neurosurgeon. Dan sekarang bersama temannya seorang farmasis yang merupakan warga setempat, membuka klinik Cannabis for A Better Life di Seattle.

Karenanya, kami perlu mencari tahu dulu sedikit banyak tentang epilepsi untuk membuat pertanyaan pada saat wawancara hari besoknya.

Dengan dokter Gilbert kami berjanji bertemu di kafe tidak jauh dari kliniknya. Dewa mengendarai mobil yang kami sewa untuk selama berada di sini. Akibat badai salju jalan terasa sangat licin dengan pemandangan tumpukan salju di sisi kanan dan kiri sepanjang jalan. Perjalanan Leavenworth – Seattle itu kami tempuh dalam waktu dua jam lebih karena kecepatan yang harus menyesuaikan dengan kondisi jalan.

Akhirnya kami sampai sepuluh menit lebih awal dari waktu berjanjian. Dewa menyiapkan alat rekam yang kami bawa. Tidak lama kemudian datanglah dokter Gilbert dengan keponakannya yang beliau kenalkan dengan nama Gil.

Setelah berbasa-basi cukup panjang, akhirnya kami tiba pada topik pembahasan yaitu Epilepsi.

“Ironinya adalah penyakit epilepsy atau banyak penamaannya yaa di Indonesia, kita kenal kata Ayan, sawan babi, sekalor, dan lainnya yang mungkin ada perbedaan di tiap daerah, saya menemukan kalau masih ada masyarakat yang menganggap penyakit kronis itu sebagai gangguan mistik dari roh halus, sehingga sering diduga sedang kesurupan. Saya pernah punya pasien dari Indonesia yang cerita begitu, kalau epilepsinya kambuh sama orangtuanya dipanggilkan ustaz atau kiai, katanya doanya lebih manjur. Padahal seorang pengidap epilepsy yang kambuh, pasti akan sadar lagi selama tidak sampai kondisi kritis karena terhalang proses bernapasnya misalnya.” Dokter Gilbert menyudahi kalimatnya dan meminum kopi di cangkirnya

“Bahkan masih ada yang beranggapan kalau epilepsi adalah gangguan jiwa dan bersifat menular. Padahal epilepsi adalah gangguan pada fungsi listrik otak dan tidak menular, baik itu dari liur maupun kulit. Jadi sebenarnya tidak perlu takut ketika tidak sengaja bertemu atau menghadapi seorang yang terkena serangan epilepsi, karena justru salah satu pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah memastikan tidak ada yang menghambat jalur pernapasan, bisa dilakukan dengan cara mengendorkan pakaian, dan juga memastikan tidak ada sesuatu yang mengumpul di mulutnya, bisa dilakukan dengan memiringkan badan ke samping kanan atau kiri.” Tambah dokter Gilbert

“Sepertinya mitos-mitos seperti itu cukup menjamur dan sangat mudah dipercaya ya dok?” timpaku

“Ya betul, dan setelah banyak mengobrol dengan pasien asal Indonesia yang melakukan terapi di sini, ternyata memang yang lebih mengkhawatirkan justru memastikan kondisi mental penyintas epilepsi itu tetap aman. Karena persis seperti lambangnya, lavender, diasingkan dari lingkungan termasuk lingkungan keluarga adalah salah satu hal yang harus ditanggung oleh pengidap epilepsi, seolah penjahat yang harus dijauhi, padahal mereka adalah pasien, orang yang sedang sakit. Saya pernah mendengar cerita seorang ibu yang anaknya terkena epilepsi bawaan, dan memutuskan menyekolahkan anaknya di pondok supaya ketika sekolah 24 jam ada dalam pantauan guru, namun ternyata belum setahun si anak mondok epilepsinya kambuh, dan ketika ibunya menjenguk, si anak minta pulang karena ternyata setelah teman-temannya tahu penyakitnya, banyak teman yang menjauhi, ada juga yang menyakiti dengan kata-kata, bahkan ada yang menyerang fisik.”

“Nah iya dok, saya juga baca ungkapan yang sering disampaikan penyintas atau pengidap epilepsi adalah merasa seperti sampah masyarakat, karena pengidap epilepsi dicap sebagai orang lemah yang butuh pengawasan dari orang lainnya. Bahkan seperti mendapat kutukan, seorang penyintas epilepsi tidak boleh menikah dan memberikan keturunan karena ditakutkan epilepsinya menurun juga.” Tambahku

Nah itu mitos terjahat dari lingkungan untuk orang sakit. Tapi dari sepengamatan saya, seorang pengidap epilepsi akan tetap kuat mentalnya meski lingkungan luar mengisolasinya, selama keluarganya tidak ikut merasa malu dengan kondisinya. Ada cerita lain yang cukup menyayat hati bahkan bisa dibilang berakhir tragis ketika keluarga belum bisa menerima atau mungkin tidak mau menerima si epilepsi ini. Kalau untuk konten media digital mungkin cerita ini bisa lebih meningkatkan empati dan kepedulian masyarakat. Juga sebenarnya kasus epilepsi sendiri di Indonesia terbilang cukup tinggi meskipun belum ada data yang pasti, tetapi diperkirakan mencapai angka satu sampai dua juta penderita epilepsi. Tapi dengan angka setinggi itu rasanya masyrakat kita masih kurang banyak kenal dengan epilepsi ini. Terlalu banyak percaya pada mitos.” Jelas dokter Gilbert panjang

“Maaf kalau boleh tahu ceritanya seperti apa? Bisa dokter sampaikan?” tanyaku kepada dokter Gilbert

“Oh iyaa tentu,tapi kalau diceritakan sekarang agaknya terlalu panjang, dan saya kurang tahu pasti detailnya, juga kalau disampaikan dengan format tulisan rasanya di Indonesia akan kurang dapat perhatian, bagaimana kalau dibuat dalam medium lain seperti video siniar yang lebih bisa menjangkau banyak lapisan masyarakat?”

“Waah menarik dok, kalau tidak keberatan dokter bisa menyempatkan untuk jadi pembicara? Kebetulan kami sebenarnya bawa alat rekam lengkap dari Indonesia untuk meliput berita lain kemarin, tapi kalau sekarang kami cuma mempersiapkan ini, mungkin bisa kita atur lagi untuk podcast di lain hari, dok?”

“Hehee … untuk itu bisa saja, tapi sebenarnya narasumbernya lebih cocok kalau keponakan saya, karena dia yang lebih dekat dengan pemilik cerita itu. Karena ceritanya lebih ke personal pasien saya yang sudah berteman dengan epilepsi sejak usianya lima. Selama tidak disebutkan identitasnya, saya rasa tidak melanggar kode etik saya sebagai dokter, dan saya yakin bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang yang mendengar ceritanya.”

Malam itu juga kami mengatur jadwal untuk membuat video podcast dengan Gil keponakan dokter Gilbert. Gil menyetujui dan bahkan menawari kami untuk mengajak seorang pembicara lain. Kami pun setuju tanpa banyak berpikir. Gil akan segera mengabari kami kalau seorang lainnya itu mau ikut berpartisipasi. Singkat hari, pada 27 Desember, Gil mengabari kalau dia dan seorang lainnya bisa dan sanggup untuk menjadi pembicara dalam konten kami. Kami pun membuat janji untuk bertemu di penginapan aku dan Dewa pada 28 Desember.

***

28 Desember, Empat p.m., Little Bear Cabin, Leavenworth

Di luar jendela badai salju lebih lebat dari hari sebelumnya. Aku, Dewa, Gil, dan seorang lagi perempuan bernama Bia duduk mengotak di set siniar yang sudah Dewa siapkan sedari pagi.

“Selamat pagi, siang, sore malam, di mana pun dan kapan pun wisizen mendengarkan, kembali lagi dengan aku yang sekarang ditemenin sama Mas Dewa nih, siapa yang kemarin spam komen sama DM nanyain mas Dewa, say Hi Dew!”

“Haloo Guys! Haloo Wisizen! Mas Dewa here!”

“Yeayy gimana nih kabarnya Mas Dewa?”

“Baik, kabar aku baik. Kamu apa kabar?”

“Syukurlah, aku juga baik. Oh ya wisizen ngomong-ngomong pada tahu kan kalau tanggal 26 Maret itu diperingati sebagai hari epilepsi sedunia? Nah dalam rangka ikut memperingati hari ini, wise news bakal angkat tema Epilepsi dengan dua bintang tamu yang udah ada di hadapan aku dan mas Dewa, Gil dan Bia, welcome di Wise News boleh say hi dulu!

“Halooo guys, apa namanya tadi?” Tanya Bia

“Wisizen,” sahut aku dan Dewa bersamaan

“Yaa itu, haai wisizen, aku Bia! Ini wisizen maksudnya tuh netizen yang bijak ya?”

“Tepat sekali kak Bia! Selanjutnya!”

“Oh ya Halo guys, aku Gil!”

“Okee jadi hari ini kita udah bareng Bia dan Gil nih mas Dewa!”

“Apa kabar Bil dan Gia?”

“Puji Tuhan baik, Mas!” sahut Bia

“Kabar baik,” sahut Gil agak samar

“Yap, jadi Bia dan Gil ini mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Amerika ya? Di mana mungkin lebih tepatnya sama jurusannya boleh?”

“Aku lagi ambil bisnis administrasi di Seattle University sekarang jalan tahun ketiga,” sahut Bia

“Aku journalism sih sama di Seattle tahun ketiga juga,” sambung Gil

“Oke semoga kuliahnya lancar dan bisa lulus tepat waktu, doa yang baik-baik buat kalian. Oh ya kita langsung ke tema hari ini, Epilepsi. Sebenernya wise news juga udah sempet ngobrol sama dokter Gilbert, dokter Gilbert itu neurosurgeon, dokter bedah saraf, beliau orang Indonesia yang sekolah di Jerman dan Amerika mix gitu dan sekarang stay di Seattle. Ini pandangan beliau tentang Epilepsi. Itu nanti diinsert.

Sekarang langsung deh ke siapa dulu? Bia atau Gil yang mau share duluan tentang epilepsi ini?”

“Oke jadi kejadiannya November tahun lalu, pertama kali aku ketemu Flo. Sore itu aku diminta dokter Gilbert yang by chance is my uncle to driving him to met Flo at café in Seattle. Ternyata Flo saat itu disuruh Maminya nyari terapis buat Chloe, kakak Flo yang didiagnosa sakit epilepsi dari lima tahun. Posisinya, Maminya sama Chloe itu di Indonesia, jadi katanya kalau terapisnya udah nemu, in an or two weeks Chloe bakal langsung terbang ke Seattle, jadi disuruh buat janji. Inti kasus, maminya mau ngobatin epilepsi Chloe ini di Seattle dan minta Flo buat cariin terapis dan jadi walinya. Sore itu setelah kenalan ternyata Flo ngampus di Seattle juga, akhirnya aku ajak temenan, dan kami tukeran kontak. Kami chatting dan ternyata Flo asyik, on a day aku ajak hiking sama temenku yang lain, dan sesuai prediksiku dia mau. Kami jadi lebih deket sejak hiking itu, kami hangout berdua, kadang bareng temen lain pas weekend, ke lake, ke taman, kalau waktu senggangnya banyak ke uptown. Dan selama itu Flo banyak cerita tentang dia, tentang Chloe kakaknya yang ternyata saudara kembar beda sepuluh menit, tentang maminya, dan keluarga maminya,”

“Okay, but by the way, where is Flo and Chloe now? To be honest, waktu kemarin Gil bilang mau ajak temen satu lagi, kupikir dia adalah tokoh cerita ini, penyintas epilepsinya,” sambungku

Gil menunduk, sekilas aku melihat dia tersenyum. Sedang Bia langsung berubah rautnya menjadi padam dan sendu.

“Khemm … they have passed away … “ sahut Bia

“Ohh my deep condolences, so sory I can’t,” pungkasku

“No, it’s okay. Alasan aku mau waktu Gil ajak juga karena aku berharap pihak yang seharusnya mendengar ini, podcast ini sampai ke mereka. Walaupun aku nggak merasa berhak ada di sini,” Bia mengakhirinya dengan tangis yang ditahan

Aku memeluk Bia berusaha menenangkan. Gil menerima kotak tisu dari Dewa, dan menyuguhkannya kepada Bia. Aku melihat raut sedih juga di wajah Gil.

“Okay I’ll tell the story, the long story.” Sahut Gil melihat Bia yang keluar dari set podcast sambil menangis

“Yes please!” sahut Dewa

Aku refleks bangun namun Dewa mencegahku.

“Do your job!” pintanya

Sebagai gantinya, Dewa yang menghampiri Bia dengan mug berisi coklat panas yang sudah kami suguhkan sebelumnya.

Tanganku menyilakan Gil untuk berbicara.

“Oke jadi guys, aku mau disclaimer kalau nama-nama yang aku dan Bia sebutkan tadi atau pun nanti kedepannya itu bukan nama asli mereka. Kami ada keharusan melindungi identitas para tokoh demi kode etik dokter Gilbert.

Jadi kembali lagi, dulu Flo tinggal di rumah sewa yang lumayan gede kata Flo ada lima kamar, karena sebelumnya mereka tinggal sama temen lain yang udah pindah ke kota lain karena ambil S1 di kampus lain. Dan … setiap aku ajak Flo main kan aku jemput ke rumahnya, nah Flo tuh punya kebiasaan pamit ke Bia, tapi kayak bukan pamit beneran gitu loh. Dari luar atau di depan pintu Flo selalu teriak ke arah dalem rumah,

Biii, I’ll home before seven, atau, Bii, I’ll home at ten.

Padahal Bia nggak nanya, dan teriakan Flo juga belum tentu kedenger Bia.

Pas awal-awal temenan aku nggak berani nanya kenapa dia selalu begitu, sampe suatu hari aku akhirnya memberanikan diri buat nanya, waktu itu aku juga nggak akrab sama Bia, paling kenal muka kalau waktu jemput ternyata Bia lagi nyiram taneman di luar.

Anyways, who is she? Do you really need to tell her, karena ujung-ujungnya pasti before seven atau at ten itu nggak pernah tepat waktu.

Ohhh she is Bia, she needs to reporting me to my Mom.

Is she your nanny? Aku memastikan

Let’s say she is. Jawabnya terkesan asal.

Sejak hari itu dia cerita semuanya. Sekitar sebulan lebih hampir dua bulan, itu sebenarnya masa Flo nunggu Chloe, karena ternyata untuk ngurus visa dan berkas keberangkatan lainnya agak lama.

Waktu itu winter di Alki beach. Kami bersepeda dan pengin lihat sunset ceritanya. Flo juga ajak Zippo, it’s her Siberian husky puppy. Setelah capek bersepeda dan Zippo juga butuh istirahat, kami jalan-jalan di pinggir alki nunggu sunset.

Actually Chloe is my twin. Kami lahir beda sepuluh menit.

O ya? Tanyaku menimpalinya yang membuka percakapan.

Yaa, kami tetap hidup sampai hari ini adalah sebuah kesalahan menurut keluarga Mami.

Kenapa gitu? Aku aneh dengernya

Keluarga Mami tuh punya belief kalau kembar itu kesalahan, sebuah kecelakaan yang terjadi ketika proses pembuahan. Karena kesalahan itu nggak bisa diperbaiki ketika masih di dalam rahim, jadi keluarga mami tuh kayak mewajarkan kill anak yang lahir berikutnya setelah lahir. Ini nggak ada relasinya sama agama yang mereka anut yaaa, lebih karena kembar kan genetik, jadi emang udah begitu dari dulu, dari nenek moyang keluarga mami.

But you and Chloe …

Yea, why we both still alive? Jadi dulu setelah kami lahir, Chloe ternyata lemah jantung, bahkan pas lahir nggak nangis, nggak napas, baru napas setelah beberapa detik kemudian. Akhirnya keluarga memutuskan keep aku buat sewaktu-waktu kalau Chloe butuh apa pun dari aku, karena aku lahir dalam kondisi all good. Dan yaa nyatanya sampai hari ini Chloe malah sakit yang organ sehatku pun can’t help her.

Damn! That’s sounds weird!

Is that?

And see how you too chill …

No Iam not awalnya, aku tuh tahu hal ini dari aku delapan tahun, ketika otakku belum bisa mencerna semua alasan mereka, satu yang aku simpulkan, aku merebut kesehatan Chloe yang seharusnya lahir sendiri dalam keadaan sehat, jadi aku harus siap mati kapan pun, karena sejak awal aku nggak berhak hidup.

Sory but, karena Chloe dari lahir aja udah lemah kenapa mereka nggak mempertahankan kamu aja?

Yaa, karena urutannya Chloe lahir lebih dulu, Chloe yang punya hak hidup.

Aku merinding, bulu kudukku bangun lebih tinggi menyaksikan sunset di Alki sore itu, sedang aku kehilangan kesadaran terjun ke ceritanya. Flo mengajakku duduk dulu menyaksikan sunset ketika aku masih mencerna semua ceritanya. Kami duduk di pasir dekat ombak yang sesekali menyapu telapak kaki kami. Flo menatap sunset dengan wajah datar, kemudian memotretnya dengan kamera IOSnya.

Makannya aku nggak relate sama orang yang takut mati, atau orang yang ragu suicide karena takut kalau siksa Tuhan is real, karena kalau nanti aku mati dan Tuhan mau nyiksa aku, aku bakal interupsi, karena dari awal aku tahunya hidup ini bukan punyaku.

So, do you hate her? Your mom?

Masih dengan wajah datar Flo menggeleng.

Why? Tanyaku penasaran.

I just don’t hate her.

Dia jawab itu dengan mudah dan lancar, nggak dipikir dulu, spontan aja.

But why? Aku bertanya sekali lagi masih heran dengan respon datarnya.

Yap it’s going night, we need to homing now, it’s time for Zippo to dinner.

Jawabnya sambil berdiri nggak menghiraukan pertanyaanku.

Sore itu aku melihatnya bukan lagi sebagai Flo si pendiem yang ternyata asyik, tapi Flo yang aneh karena bisa nerima dan stay sama mami dan keluarga maminya yang punya weird belief gitu, like she didn’t have any emotional.”

Gil menjauhkan wajahnya dari microphone untuk batuk. Aku mendekatkan coklat panas dan air bening hangat yang sudah kami siapkan. Namun Gil memilih kopi yang dibawanya sendiri.

“What coffee is that? Bikin sendiri?”

“Oh ini, iya. Om Gil yang bikin, robusta Temanggung diracik pakai metode Turkish, menghasilkan Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love. Do you want to try?”

“Is that bitter?”

“Yes, but I have this one, it’s diamond healthy glucose levels.”

“Oh thank you but I don’t drink caffeine,”

“Ohhh okay, caffeine sensitive?”

“It’s allergy. That’s why I just drink this herbal tea. It’s chamomile,”

Gil mengangguk berulang mendengarnya. Kemudian menutup termos kopinya, juga botol vial kaca kecil dengan tutup karet dan segel alumunium tempat disimpannya glukosa sehat berbentuk berlian.

“Selain karena lahir sebagai kembaran, aku nggak ngerti kenapa Maminya bisa sebenci itu sama Flo. Yang kalau dipikir lagi juga kan terlahir sebagai kembarannya Chloe tuh bukan maunya Flo, dan come on kok bisa ada ibu yang benci ke anak kandungnya?” Aku merespon cerita panjang Gil

Tiba-tiba pintu terbuka. Bia dan Dewa muncul dibaliknya. Bia tersenyum dengan mug di tangannya.

“It’s too cold to stay outside, Bia bilang dia bisa jadi Elsa kalau di luar lebih lama lagi.” Dewa menyilakan Bia duduk

“Yaa, and you’ll be Olaf,” sambarku

“Hahahaa,” seisi ruangan tertawa

“Anyways, ada reason lain yang bikin maminya bisa sampe ulu ati benci Flo …” ucap Bia sepersekian detik tawa kami selesai

“Because she judges Flo as a psycho,” potong Gil

“And you knew?” balas Bia keheranan

“That’s why Iam here, and the fact she is not a psycho,”

Bia mengangguk mendengarnya.

“Tapi maminya punya alasan yang menurutnya kuat buat judge Flo itu psycho. Flo datar kayak nggak punya emosi, less empathy. Chloe kan mulai sering dateng serangan epilepsinya dari umur lima, nah si Flo ini tuh katanya ekspresinya nggak pernah berubah pas liat Chloe kejang, nggak nangis atau takut atau apa gitu. Bener-bener less empathy, itu dibuktikan dari Flo yang nggak tertular ketika ada orang yang dilihatnya nguap. Hal lain yang bikin maminya yakin, Flo tuh tertuduh mbunuh Coco, iguana yang mereka pelihara, karena Coco ditemukan mati setelah main sama dia. Juga anjing kesayangan maminya namanya Ace yang mendadak sakit dan nggak lama mati setelah ditinggal berdua sama Flo. Kematian-kematian hewan peliharaan di rumah tuh selalu ada hubung kaitnya sama Flo. Belum lagi yang katanya Flo malem-malem sengaja nyabut kabel akuarium, jadi paginya semua ikan mati. Yang mana hal-hal itu terjadi sebelum Papinya meninggal, sialnya Flo dia bahkan jadi tertuduh di mata maminya waktu papinya meninggal karena Flo yang pertama kali nemuin kondisi papinya. Jadi walaupun keterangan dokter bilang ada kemungkinan penyebab kematiannya serangan jantung, maminya kuat dengan instingnya kalau bisa aja Flo yang sengaja bekep papinya sampai meninggal.” Giliran Bia yang menjelaskan dengan emosi penuh

“Dan yaa lagi-lagi Flo menunjukkan ekspresi salah yang bikin maminya jadi sangat amat yakin kalau Flo psycho. Dia nggak nangis waktu papinya meninggal, waktu hari H, juga hari-hari setelahnya. Padahal Flo punya alasan dan tujuan dia menyembunyikan air matanya. Dan Flo juga bilang, Percayalah Gil, walau pun aku berhasil hiding my tears, but not with my sad. If Mami try to knows me better, easily for her to wised up my sadness.” Gil berdehem menyudahi kalimatnya

Pandangan Gil melihat ke arah Bia yang sejak tadi memainkan botol vial berisi glukosa sehat miliknya.

“Just try it, that’s healthy glucose, your chocolate bit bitter right?” Gil membuka botol kecil itu

“Take it, this diamond will make your drink bit sweet … “ tawar Gil kepada Bia

Setelah Bia mengambil satu butir, Gil menawarkannya padaku dan Dewa. Dewa meringis.

“Hahaa it’s interesting, I’ll tell you a story. Actually I am not a healthy person since a kid. I was a dipsomaniac, druggie, my father was a drug baron, he was a big boss till his lad killed him in front of me. If you seeing me by humanity perspective, I am not a human, sure! Aku milih jadi kacung orang yang bunuh Ayahku di depan mataku sendiri, karena adiksi kepada drugs. Lalu aku jadi drug runner, came to her country, worked in a nightclub, and there I met her … “

“Wait, I need to explain why I was there at that time … “ pungkasku

“Yes of course, actually I will,” sahut Dewa tidak berdaya

“You Gil, you in journalistic, right?”

Gil mengangguk.

“Itu tahun pertamaku jadi wartawan di tempat kerjaku sebelumnya. Sebagai pemula aku harus mau ditugaskan kemana pun, mewawancarai siapa pun dan seabsurd apa pun narasumbernya. Dan hari itu was my bad day, the informant made an appointment in a club, clubnight. Aku yang sepanjang hayat belum pernah ke klub, malam itu untuk pertama kalinya dengan berat hati. Ketidakberuntungan berlanjut karena si informan maksa minum setelah wawancara kami selesai. Kalau aku nggak mau, dia ngancem ngaduin aku ke kantorku dan nolak hasil wawancara tadi ditayangkan. Karena kupikir kalau kerja jangan setengah-setengah … “

“You did?” potong Bia terbawa dengan ceritaku

Aku mengangguk.

“Padahal cuma sedikit, sedikit banget. Kan gelas kecil itu diisi setengahnya, dan aku minum nggak sampe habis. Tahu apa efeknya? Aku kejang, pingsan, mulut berbusa persis orang OD, dan ternyata aku alergi alkohol. My lucky that he help me. And you guys need to know why this bad guy help me, tell them!” titahku menepuk pundak Dewa

“The way she collapse was reminding me to my Dad, so familiar.”

“He is my hero … “

“She also my hero. Dia yang bantu aku lepas dari adiksi drug, aku punya kualitas hidup jauh lebih baik. Pola hidup dan makan sehat. Aku hanya makan dan minum apa yang dia makan dan minum.” Dewa mengakhirinya dengan mengelus punggungku, kami melempar senyum

Bia dan Gil bertepuk tangan menyaksikan kami.

“How sweet … “ puji Bia

“So thanks for the healthy glucose, but better for us to … “ Dewa melirik ke arahku

“Yaa.. yaa, kami nggak bisa atau kalian bakal lihat aku sekarat di sini, hihii,” potongku yang disambut anggukan dan senyuman ketiganya

“Eh sorry sorry jadi panjang nih ceritanya, malah out of topic,” tambahku

“No no, it’s okay. Rasanya seperti mendengar senior berbagi pengalaman.” Sahut Gil

“Kalau kata Flo, selama itu cerita nyata, selama di dalamnya ada kejujuran, cerita itu selalu punya efek menyenangkan ketika didengar.” Tambah Bia

“Aku yang bilang itu ke Flo,” serobot Gil

“O yea?” tanya Bia

Gil mengangguk.

“Di lain kesempatan kami hike ke Colchuk lake, berenam sebenernya, tapi karena kami pergi dengan empat lainnya are couples, so we act like couple too. I often held her hand, or push her back. Waktu itu, aku banyak bertanya lagi ke Flo, tentang Maminya, Chloe, dan yang paling menarik, karena hari itu Flo bekel bunga lavender dari rumah.

Lavender punya citra kesendirian, that’s why jadi lambang epilepsi, karena penyintasnya yang merasa terisolasi. Mungkin dokter Gilbert pernah cerita tentang itu. Tapi kata Chloe, aku lebih lavender dibanding dia, lavender yang kubawa itu bukan bunga asli, itu artificial. Gift dari Chloe sebelum aku ke sini. Katanya buat temen, supaya nggak ngerasa sendiri kalau nanti ternyata di sini aku juga nggak punya temen. Can we stop for a moment?

Flo mengajak kami berhenti sebentar untuk menikmati alam yang keasriannya semakin merasuki pandangan kami. Di tengah-tengah jembatan Flo memintaku untuk memotretnya sedang memegang lavender itu. Di foto lainnya Flo mengajakku bergroufie. Setelah selesai berfoto, kami menikmati air jernih di bawah kami yang terlihat jauh sekali. Masih sambil memotret pemandangan lain, Flo bertanya kepadaku,

Dan Gil, kenapa kamu mau bertemen sama aku? Kamu ajak aku main, you introduce me to your friends too. Aku sering ngerasa kalau aku too nerd buat kamu yang a star in your circle. Yang lebih aneh kamu selalu mau ndengerin cerita-ceritaku, nggak jarang juga kamu yang nanya duluan.

Karena menyenangkan Flo, ketika itu cerita nyata dan ada kejujuran di dalamnya, cerita seperti itu selalu menyenangkan untuk didengarkan. Jawabku membuat Flo tersenyum lebar

Terima kasih yaa, sudah mau mendengarkan. Aku yakin kamu bakal sukses di jurnalistik, kalau kamu jadi interviewer, narasumber yang kamu interview pasti bakal seneng. Puji Flo setelah meminum air di botolnya

Seneng kenapa? Tanyaku iseng

Karena kamu pendengar yang baik. Jawabnya meyakinkan

Ohhh kirain karena aku ganteng. Tambahku iseng

Itu juga. Sahutnya singkat kemudian tersenyum malu, berjalan lebih dulu melintasi jembatan meninggalkanku di belakangnya yang terhipnotis dengan ikatan rambut ekor kudanya.

Aku mempercepat jalanku, menggenggam tangannya dan berjalan selangkah lebih awal dari Flo.

Terima kasih atas pujiannya. Aku sebenernya mau muji balik kalau kamu juga cantik, khas perempuan kan kalau dipuji cantik sama temennya, pasti jawabnya …

Makasih yang lebih cantiiik … Potongnya tertawa kecil

Nah gitu, iya kan? Tanyaku

Flo mengangguk.

Trus kenapa kamu nggak jadi bilang aku cantik? Tanyanya menghentikan langkah menahan tanganku

Aku mau tahu dulu, kamu sama Chloe lebih cantik siapa, kalau emang lebih cantik kamu, aku bakal bilang kamu cantik, aku nggak sembarang memuji Flo. Sahutku membuat wajahnya tersenyum licik.

Kaki Flo melangkah lagi membuat perjalanan kami dimulai lagi.

Kalau besok Chloe di sini, kamu pasti nggak bakal bisa bedain aku sama dia. Kami tuh sama semuanya, proporsi muka, jenis rambut, fashion style kami juga sama.

Ah tetep aja suara pasti beda dong.

Beda, tapi kami bisa niruin satu sama lain. Kami terbiasa bermain peran. Switching-switching suara tuh kami terlatih. Dulu tuh, kalau ada acara kumpul keluarga dan tempatnya di rumah, aku dikurung di kamar, yang boleh ada cuma Chloe, karena aku anak sial kan, anak yang seharusnya nggak ada. Nah kalau acaranya di luar rumah, apalagi di luar kota, baru deh mami selalu ajak aku dan nyuruh aku buat jadi Chloe. Dan selama ini nggak ada yang curiga kalau kami bermain peran. Jelas Flo panjang

Kenapa kalau acaranya nggak di rumah kamu harus jadi Chloe?

Yaaa karena Mami nggak mau acara keluarga rusak dengan tiba-tiba Chloe kambuh, kejang, atau Chloe kambuh di jalan. Itu terlalu ribet aja buat Mami.

Dan kamu oke dengan itu? Aku memastikan

Flo mengangkat bahu dan alisnya bersamaan.

If you think that’s hurting Chloe, you true. Tapi kamu bayangin deh, aku di sana tuh jadi Chloe, aku harus ngerasa oke dan nggak boleh berekspresi mencurigakan ketika semua orang di rumah itu lagi bahas aku, waktu mami dengan lantang mengarang cerita membicarakan betapa nakalnya aku. Meyakinkan semua anggota keluarga untuk ikut percaya dengan insting mami kalau aku psycho. Bahkan aku harus membenarkan juga mendukung pernyataan mami itu. Aku harus menjadi saudara yang seolah membenci saudaranya. Aku harus menjadi orang yang merasa hak hidupnya direbut. Karena memang peran itu yang juga Chloe mainkan sesuai dengan briefing dari mami. Hal yang Chloe sendiri juga nggak rasa. Jadi sebenernya bisa dibilang Chloe juga sedang berakting, kami berakting dengan skenario yang mami kasih.

Aku melihat aura penerimaan di wajah Flo. Entah karena Flo merasa itu hanya masa lalu, atau memang sejak awal Flo memaklumi yang maminya lakukan. Dan aku mendapat jawaban atas pertanyaanku tadi setelah kami tiba di tujuan. Setelah menikmati medan yang menghasilkan banyak keringat, berjalan menapaki bebatuan dan tanah lembab di hutan yang asing bagi kami, terutama bagi Flo yang merupakan pengalaman pertamanya mendaki. Flo sempat beberapa kali hampir jatuh dan akhirnya jatuh karena terpleset meski sudah bertumpu pada kayu sebagai tongkat yang membuatnya disangka seorang difabel oleh pendaki lain yang dari wajahnya terlihat seperti warga lokal. Kami juga sempat berhenti agak lama karena Flo tiba-tiba muntah karena kelelahan. Rintangan-rintangan di jalan tersebut membuat kami tertinggal jauh dari dua pasang temanku yang setibanya kami ternyata sudah sibuk bermain di air meski cuaca terbilang sudah mulai dingin. Karena tidak berniat main air, kami hanya menyaksikan mereka dari jauh. Naik ke salah satu batu yang cukup tinggi dan memotret sekeliling danau dengan lensa mata kami.

Flo segera mengeluarkan kamera memotret semua sisi yang tertangkap oleh lensa kameranya. Lupa dengan rasa lelah dan mualnya. Namun Flo tiba-tiba menoleh ke arahku yang duduk di atas bayangannya. Flo mapan duduk di sampingku, memotret wajahku yang penuh dengan keringat.

Tolong gantian! Flo memberikan kameranya kepadaku

Flo mengeluarkan lavender artificial yang tadi sempat dikeluarkannya. Kemudian berpose memasang wajah paling ceria yang pernah kulihat. Giginya yang berjejer rapi terlihat semuanya. Tangan kanan dan kirinya yang masing-masing memegang setangkai lavender mengangkat tinggi. Flo juga mengganti pose dengan berdiri membelakangiku, meminta difoto dari belakang dengan wajah menoleh ke kamera, juga pose foto lainnya yang benar-benar membelakangi kamera termasuk wajahnya.

O ya, ada satu perbedaan aku sama Chloe. Kamu nggak bisa ajak Chloe ke sini atau ke greet wheel di waterfront park, dia takut ketinggian. Dia juga nggak bisa capek. Aku bakal ajak Chloe ke Michigan kalau dia udah di sini. Terangnya

Kenapa Michigan? Tanyaku memastikan masih sambil memotretnya yang tidak lagi memedulikan posenya

Karena ada labirin lavender di Shelby, kalau sekitar Juli atau Agustus Chloe masih stay di sini sih. Aku mau kasih unjuk kalau menjadi yang diisolasi juga punya sisi indah.

Flo kembali duduk di sampingku. Menyimpan sebatang lavender dan berpose dengan sebatang lainnya.

Aku boleh ikut?

Flo menggeleng memberikan lavender yang dipegangnya kepadaku dan mengambil kamera yang kupegang. Giliran Flo menyuruhku berpose dengan lavender.

Kalau menurut Chloe kamu lebih lavender dari dia, menurutku kamu definisi lavender ini, kesendirianmu itu nggak asli, kamu bukan terisolasi seperti Chloe, kamu diisolasi, lingkungan yang sengaja melakukannya. Ucapku tidak menghiraukan kamera yang Flo arahkan kepadaku.

Emm no doubt about it, and maybe that’s why I don’t hate mami. Kamu pernah nanya itu kan? Mungkin aku emang nggak benci, tapi aku juga nggak mengasihi mami, aku mungkin lebih ke mengasihaninya tepatnya. Aku kasihan karena mami lahir di lingkungan yang sangat membentuk menjadi siapa mami hari ini. Menurutku mami juga diisolasi kebebasan berpikirnya. Mau nggak mau mami harus otomatis membenci aku karena budaya di keluarga kami begitu. Menurutku bagaimana sikap mami ke aku dari dulu dan sampai hari ini adalah bentuk reaksinya bukan hanya atas hadirku, tapi juga atas keluarga yang sudah ada lebih dulu sebelum aku. Itu hanya reaksi mami, nggak terlalu menganggap aku sebagai anak, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, nggak ada satu pun kita yang tahu. Mungkin terdengar seperti aku ngarep kalau mami sebenernya sayang aku, tapi yaa iya pun mungkin memang begini cara mami menyayangiku …

Dengan menunjukkan kebencian? Potongku

Flo mengangguk segera tanpa ragu.

Aku menggelengkan kepalaku berulang merasa tertampar dengan fakta orang yang aku kasihani karena cerita-ceritanya, ternyata mengasihani tokoh jahat yang ada di dalam ceritanya. Aku iri kepada Flo yang bisa memiliki sudut pandang kalau tokoh itu nggak bener-bener jahat. Orang itu hanya bereaksi semampunya.”

Gil menyudahi ceritanya meminum lagi kopinya.

Aku refleks ikut meminum teh di cawanku yang mulai mendingin. Begitu juga Dewa dan Bia yang masih dalam diam menyeruput minum masing-masing. Kami yang mendengar cerita Gil membuat ekspresi wajah yang sama, kami menangis.

“Dan aku yang tinggal satu atap sama Chloe bertahun-tahun nggak tahu kalau ada emosi seperti itu.” Bia menanggapi setelah mengusap air mata di pipinya

“Dan itu bukan puncak emosinya. Flo lebur ketika snowfall mengguyur leavenworth tanpa ampun di penghujung Desember tahun lalu. Ketika epilepsi merenggut Chloe begitu saja di depan mata Flo.

Hari itu terhitung sudah seminggu Chloe di Seattle. Seingatku sudah ketemu dokter Gilbert sekali. Dan hari itu pertemuan kedua kami. Pertemuan pertama di bandara, aku nganter Flo jemput Chloe di bandara, dan bener kata Flo, aku nggak bisa bedain mereka. Rambutnya sama-sama hitam tebal, bervolume, lurus dengan model potongan rambut sepunggung, belah tengah tanpa poni. Warna kulit, ketebalan alis, ketajaman rahang, persis. Bentuk badannya juga sama-sama ideal, Flo sedikit lebih tinggi sekitar dua senti dibanding Chloe, dan juga cara berpakaian mereka yang santai tapi tetap santun dan nggak berlebihan.

Avaaa ….

Mereka mengeluarkan kata yang sama ketika pertama kali saling lihat, berlari, dan berpelukan. Flo pernah cerita, panggilan itu yang membuat mereka tetap saling menyayangi. Nama keluarga dari Ayahnya yang menjadi nama panjang mereka. Keluarga yang menerima mereka apa adanya yang sangat berbanding terbalik dengan keluarga dari Maminya. Dan Flo benar lagi, suara mereka sama.

Kesan yang kudapati dari pertemuan lagi mereka, menyaksikan mereka sering kali saling tatap, tersenyum, dan berpelukan, mereka bersyukur karena saling memiliki satu sama lain.

Kami bertemu kedua kalinya untuk sarapan dan menghangatkan diri di kafe tidak terlalu jauh dari rumah yang mereka dan Bia tempati. Dari situ rencananya kami mau ke Leavenworth, menginap di salah satu kabin selama beberapa malam untuk menyambut malam natal sambil menghias pohon dan saling bertukar kado.

Namun rencana indah itu sirna begitu saja karena ditengah sarapan, epilepsi Chloe kambuh ketika baru saja menghirup sedikit kopi yang diberi glukosa sehat karena Chloe tidak seperti Flo yang penggila kopi pahit. Dan itu salah satu perbedaan di antara mereka. Sejak awal kenal Flo aku selalu menawarinya ini (mengangkat botol glukosa sehat), tapi Flo selalu menolak dengan alibi, kopi pahit terasa lebih nyata dibanding yang manis. Berbeda dengan Chloe yang menyambut ini (mengangkat botol glukosa sehat lagi) dengan prinsipnya, pahitnya hidup ini nggak seberapa, buktinya kopiku tetap manis.

Dan kata Flo, kali itu kejang Chloe agak aneh, Flo ragu karena sudah lama sekali tidak pernah melihat Chloe kambuh. Menurut pengamatan Flo itu lebih terlihat seperti menggigil dibanding kejang. Kepanikan Flo bertambah ketika orang di sekitar kami juga ikut panik, seorang pegawai kafe yang cepat tanggap langsung memanggil ambulans. Namun belum tiba ambulansnya, badan Chloe berhenti kejang dan menggigil, Flo yang sempat mengira Chloe sudah sadar langsung memeluknya. Namun tidak lama kemudian Flo menyadari Chloe berhenti bergerak bukan karena sadar, karena nafasnya tidak terdengar di telinga Flo, detak jantungnya, juga denyut nadinya hilang. Tangan Chloe mendingin dan bibirnya membiru.”

Gil menyudahi lagi ceritanya, menyeruput kopinya yang terlihat tetap panas karena disimpan di termos kecilnya. Aku berusaha bersikap profesional dengan tetap menahan tangisku, dan memikirkan kalimat untuk menanggapi cerita Gil. Namun otakku tidak memberi ide apa-apa. Ditambah Bia yang tiba-tiba sesak napas karena terlalu menahan tangisnya. Akhirnya Bia kami baringkan di kasur dekat tempat kami melakukan siniar, jadi Bia masih tetap bisa mendengarkan juga ikut berkomentar. Sebelum ke kasur, Bia sempat menunjukkan foto halaman terakhir buku diari Flo. Di sebuah kertas warna ungu dengan aksen lavender menghias, tertulis begini,

Sebelas Agustus,

Michigan

Hai Kak! Ah, kamu selalu nggak suka dipanggil Kak.

Aku di sini, di labirin lavender, inget nggak aku pernah bilang mau ajak kamu ke sini, waktu itu aku pengin kasih unjuk kalau yang diisolasi juga punya sisi indah.

Oh ya, kamu salah kak. Sepergimu aku tetap sama, seorang yang sejak awal tidak punya hak hidup. Bahkan aku nggak boleh ada di pemakamanmu. Sama seperti kejadian Ayah dulu, kali ini tentangmu pun aku pembunuhnya juga.

Maaf karena aku nggak benar-benar menemani sampai akhir. Aku nggak tahu apakah kamu lestari di dalam peti, atau abumu larut berdampingan dengan garam mengarungi osean. Menjadi apa pun itu, mari mengabadi menjadi lavender untuk satu sama lain, baik di kehidupan ini, juga di kehidupan selanjutnya.

“Januari Flo move ke Chicago, tinggal sama tante dari Ayahnya. Seattle, leavenworth, dan sekitarnya terlalu menyakitkan bagi Flo. Kami tetap rajin berkabar meski berjauhan. Flo masih sama, orang yang senang bercerita, juga aku masih menjadi pendengar yang baik. Yang beda topiknya saja. Aku mengikuti alur pembicaraan Flo yang tidak pernah lagi menyinggung tentang keluarga maminya, juga tentang Chloe. Flo lebih banyak bercerita tentang hobi barunya yaitu membuat sabun. Juga tentang Ava, nama husky barunya yang umurnya lebih muda dibanding Zippo yang sebelum pergi Flo titip ke aku, dan mati dua hari kemudian karena nggak sengaja minum cairan racikan obat yang Om buang sembarangan.

Aku yang mengira Flo tidak ingin lagi mengingat tentang semuanya terutama tentang Chloe, kaget karena tiba-tiba di awal Agustus Flo ngajak ke Michigan, yaa labirin lavender di Shelby. Dia bilang sebelas Agustus adalah tanggal ulang tahunnya dan Chloe. Flo bilang mau rutin ke sana tiap tahun … “

“That’s it. Flo juga bilang gitu ke aku. Dia yakin Gil nggak mungkin stay untuk waktu lebih lama lagi, jadi Flo minta aku buat stay. Dan aku setuju karena rasa bersalahku. Bahkan sebelas Agustus kemarin aku nyusul, aku stay di hotel bahkan di kamar yang sama sama Flo, tapi aku nggak ikut ke labirin itu karena kupikir kalau bertiga suasananya bakal canggung. Yang aku aneh, kalau Flo emang niat ke sana tiap tahun, kenapa sampe hotel Flo malah commit suicide?” Sambar Bia dari tempatnya berbaring

“Exactly! Waktu itu Flo emang agak beda, nggak seperti Flo sebelumnya, awalnya kupikir mungkin karena udah lama nggak ketemu. Flo ajak mampir ke hotelnya buat ketemu sama Bia, katanya merasa picik karena udah beberapa kali ketemu tapi nggak pernah ngenalin aku ke Bia. Hari itu juga Flo minta ini (mengangkat botol glukosa sehat) katanya hari itu adalah pengecualian, hari itu semua harus beda. Dan yaa as you knew tiba-tiba malemnya …. “

Kalimat Gil terpotong karena tiba-tiba Bia mengerang dan kejang-kejang di kasur. Bola mataku dan Dewa saling pandang melihatnya. Aku melihat ke Gil yang awalnya aku ragu melihat dia tersenyum lebar, aku menduga kalau mataku saat itu siwer karena panik. Karena kemudian Gil bergerak mendekat ke Bia, meminta tolong kepadaku dan Dewa. Dewa langsung menelepon ambulans, sedang aku mematung melihat Bia yang mulutnya menyemburkan busa. Pikiranku meramu semua yang kuingat, aku hilang akal dan bukannya memikirkan Bia, aku membereskan alat siniar dan memastikan semua berkas video dan audio aman. Aku bahkan menelepon polisi, dan satu hal yang kulakukan dan aku sangat bersyukur karena berani melakukannya …

***

“Emang Lo ngapain? Lo kenapa manggil polisi?” sambar Grace

“Lo nggak ngeh? Dimulai Chloe, Flo, sampe Bia, mereka kejang dan mati setelah mereka minum glukosa sehatnya Gil! Gil keponakan dokter Gilbert itu yang psycho, dia diem-diem ngambil obat-obatan Omnya, racikan obat dosis tinggi yang cara kerjanya nyerang otak sekaligus jantung bersamaan. Obat yang masih dalam tahap penelitian buat penyakit saraf. Gue ambil botol itu dan gue umpetin, Gil baru ngeh dan kelabakan nyari botol itu pas denger sirine polisi samar-samar sirine ambulans.”

“She is smart, always smart,” puji Dewa kepadaku

“You too, Dew!” balasku

Grace terbatuk dan langsung minum minuman di gelasnya, namun Grace segera menyemburkan yang diminumnya.

“Emm tiatii mbak,” ujarku mengira Grace tersedak

“Dan Lo tahu apa yang sebenernya menakutkan? Pas dia ga nemu-nemu nyari botol itu, Dewa bilang nggak tahu, dan Gue berlagak bego, dia bilang gini … “

“Diamond itu benci kalau cuma dilihatin, dia maunya dimiliki sampai akhir,” sambar Grace

Aku dan Dewa melotot mendengar yang diucapkan Grace.

“Yang pernah melihat, pasti akan berakhir bersama. Seperti bayangan, dia tidak pernah benar-benar menghilang,” aku dan Grace mengatakannya bersamaan

Aku dan Dewa menggeleng melihat Grace yang mulai membuka tasnya. Kami saling pandang beberapa saat. Namun belum selesai Grace membuka resleting tasnya, pandangan Grace tiba-tiba kabur ke arah lain, kemudian Grace kaku, badannya terjatuh kepalanya membentur meja di samping, badannya kejang, mulutnya mengeluarkan busa banyak sekali. Seketika Grace menjadi tontonan. Tas yang baru Grace buka setengahnya jatuh dari meja dan berkeluaranlah isi-isi di dalamnya, sebuah vial kaca menggelinding keluar dari tas. Aku langsung berdiri. Melihat ke sekeliling, dan yaa di tempat yang agak menjorok ke luar, tempat yang dijadikan spot foto dengan pemandangan gunung batur itu, seorang lelaki tidak asing itu terlihat lagi sedang tersenyum ke arah kerumunan. Seorang lelaki yang sebelumnya kulihat berdandan rapi dengan tas, masker, dan celana panjang. Lelaki itu kemudian mengarahkan pandangannya ke arahku masih sambil tersenyum kemudian melambaikan tangan kanannya.

Meski wajah itu bukan wajah Gil keponakan dokter Gilbert yang kulihat di Wangshiton, namun aku yakin dengan tanda rajah lavender di dekat nadinya. Tusukan lavender yang sama dengan yang ada di dekat siku tangan kiri Flo, yang sempat kulihat di foto ketika membantu penyelidikan di rumah Bia sepeninggalnya Bia.

Lelaki yang aku yakin Gil itu berjalan menjauh dan menuruni tangga, aku yang sudah mengambil ancang-ancang hendak mengejarnya dihentikan oleh Dewa yang memintaku mencari ambulans.

“Kamu cari ambulans, aku manggil polisi. Gil di sini Dew! Aku lihat dia tadi! cowo yang kamu pikir Gil itu bener dia!” ujarku penuh emosi

“Hey … heyy … calm down! Calm down! Of course that Gil, these things is his, but now we need to calm, we help Grace first, okay?”

“Dew! Kamu lihat Grace sekarang! Masih perlu nyari P3K?! Makannya kita bagi tugas, kamu cari ambulans, aku urus Gil! Okay?”

Aku keluar dari kerumunan meninggalkan Dewa, berlari ke arah tangga berniat membuntuti Gil. Aku sempat menoleh ke belakang, melihat ke arah kerumunan, di antara kaki-kaki orang aku melihat kepala Grace.

“Sorry Grace, eternity sorry, bukannya nggak mau nolong Lo, tapi murderer itu harus cepet diringkus sebelum ada Flo, Chloe, Bia, dan Grace yang lain. Atau mungkin sebenernya udah banyak yang lainnya.”

Aku membuka ponselku dan segera memanggil kontak yang kusimpan dengan nama Wise Boss. Setelah terdengar sapaan halo, aku segera nyerocos,

“Boss, you true. Gue sama Dewa salah ambil keputusan. Kayaknya bukan waktunya Gue dan Dewa merasa trauma, karena mungkin bakal makin banyak Flo lainnya. Gue mau hari ini masuk slot epilepsi day, gue nggak peduli ini masih Desember, ini belum 26 Maret. Ini mendesak banget, si psycho Gil ternyata nggak dikurung, barusan gue liat dia di sini …”

“Di sini di mana? Lo lagi di mana?”

“Kintamani, gue di Bali, di Indo. Temen gue jadi korbannya … “

“Korban gimana?”

“Pokoknya sekarang juga gue ke kantor, semuanya harus udah ready, gue jelasin di kantor, Bye!”

Bukan tanpa alasan aku menamainya dengan Wise Boss, bukan hanya karena beliau bos di wise news, tapi bosku itu memang bijak. Dan aku merasa perlu banyak belajar untuk bersikap bijak dari beliau. Karena bahkan Desember lalu, setelah kejadian Bia, aku dan Dewa kembali ke kantor untuk pamit resign. Kami menolak menyiarkan hasil siniar kami dengan Bia dan Gil karena pada akhirnya kami tahu, seorang penyintas epilepsi meninggal bukan karena epilepsi, seorang lainnya meninggal bukan bunuh diri karena stres dan rasa bersalahnya ke penyintas epilepsi itu. Dan seorang lainnya meninggal bukan karena over consume suplemen diet. Jelas-jelas kematian dua tokoh yang dokter Gilbert sebut tragis itu bukan karena epilepsi, melainkan karena eksperimen obat-obatan yang diraciknya. Jadi menurutku dan Dewa hasil siniar kami kurang berelasi dengan topik epilepsi itu sendiri.

Desember lalu wise boss sudah mencoba mengajak kami berpikir untuk melupakan tentang epilepsinya, tapi tentang psikopat yang menurutnya perlu disampaikan juga ke masyarakat Indonesia. Namun kami tetap menolak dengan alasan we have a solitude. Dan tidak perlu takut dengan Gil karena sudah ditangani pihak yang bertanggung jawab. Ketidakprofesionalan aku dan Dewa itu beliau jawab begini,

Kalian pergi rest deh, gue sebenernya pengin banget dapet hasil siniar itu buat syarat resign kalian. Karena gue yakin that’s gonna work, bakal trending di twitter, youtube, dan sosmed lainnya. Tapi ga usah deh, balik ke sini sesiap kalian, gue tunggu, wise news tunggu. Kalian kan akar wise news, kalian berpartisipasi banyak membuat akar wise news bukan hanya menunggang, tapi juga menyerabut.

Waktu itu kutanya balik kenapa beliau seyakin itu dengan hasil siniar kami,

Because the topic is scarce, and the detail is exclusive. Kalau kata Gil, gue nggak sembarang memuji. Gue nggak mungkin bilang stroberi paling wangi ketika ada durian.

Dan yaa ini keputusanku, yang pasti Dewa setuju juga. Rehat yang ternyata setahun ini rasanya cukup. Aku dan Dewa akan mulai lagi dengan mengkawal kasus Gil dan dokter Gilbert sampai tuntas.

Diakhiri ...

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@semangat123 makasih kak. Hihii setuju kak, durian terlalu menyengat, durian wangi bagi yang suka-suka aja😄
"Gue nggak mungkin bilang stroberi paling wangi ketika ada durian." Hmm, durian baunya menyengat 😂. Cerpennya bagus👍🥰
@hnmsyf25 : Hihiii makasih kak @hnmsyf25, ini juga ditolak cerpennya😭😭, tapi nggak tahu kenapa deh, pas kulihat cek revisi nggak ada poin-poin yang harus direvisinya😭
Semoga kasus Gil dan dokter Gilbert cepat kelar ya, semangat author