Sayup-sayup aku mendengar langkah kaki seseorang melewati koridor depan kamarku yang berlantai papan lalu membuka pintu menuju keluar dengan suara yang cukup keras.
"Krek ... Krek ... Krek ... Jeblug."
Mataku langsung terbuka lebar. Hal pertama yang kulihat adalah kamarku yang gelap. Langit-langit kamar tersorot cahaya dari kamar sebelah, menciptakan siluet kekuningan yang redup.
"Siapa sih?" gumamku diiringi suara erangan.
Tubuhku terbangun dengan embusan napas kasar. Sambil mengusap wajah yang masih dipenuhi sisa lelah setelah semalam BDH-ku ceramah di ruang kaca, aku mendengus pelan. Kalau begini terus, sepertinya aku tak akan bisa kembali tidur.
Aku membuka tirai jendela yang ujungnya menyentuh kasur busa tanpa ranjang milikku. Di sana, Ibu Kos sudah berdiri di bawah tiang jemuran di balkon, tepat di depan jendela kamarku, dengan ember besar berisi cucian yang siap dijemur.
Aku hanya menggeleng pelan.
Pagi buta begini, wanita tua itu sudah mencuci sebanyak itu.
Sungguh luar biasa.
Memang, dia istri teladan. Saat anak-anaknya masih menggulung tubuh di balik selimut, ibu kosku yang sudah cukup sepuh itu bahkan telah menyelesaikan cucian.
Sayangnya, karena terlalu rajin, aku ikut terbangun.
Ya ampun.
Semalam aku baru tiba di kos sekitar pukul satu dini hari. Sekarang baru pukul empat pagi, tetapi mataku sudah enggan terpejam lagi.
Aku meraih sakelar lampu di atas kepala. Seketika, cahaya kekuningan memenuhi kamar sempit ini.
Pandanganku menyusuri dinding yang dipenuhi berbagai kertas dan catatan: target harian, target mingguan, daftar perusahaan yang harus kudatangi, jadwal bertemu nasabah, hingga rincian pengeluaran dan gajiku setiap bulan.
Terlihat sesak.
Namun, aku menyukainya.
Semua itu adalah bukti perjuanganku selama satu tahun terakhir menghadapi pekerjaan yang seolah menyita pikiranku selama dua puluh empat jam.
Tak ada penyesalan.
Setahun lalu, aku meninggalkan rumah hanya dengan bekal empat ratus ribu rupiah dan sebuah janji bahwa aku tak akan pernah mengemis belas kasihan kepada siapa pun.
Kini aku di sini.
Masih berdiri.
Meski rasa lelah menjadi teman setiap hari, aku—Eka, perempuan dua puluh dua tahun yang hidup sendiri di kota asing—berhasil membuktikan bahwa aku mampu bertahan.
Tanganku meraih sebuah mug kuning bergambar keju yang tersimpan di atas meja yang bersisian dengan persediaan makanan daruratku. Kopi ABC Susu menjadi pilihan untuk menemaniku menyambut pagi buta ini. Aroma kopi yang bercampur manisnya susu langsung memenuhi hidungku.
Tanpa merasa bersalah, aku langsung menyeruputnya. Tak ada niat memb...