Ruang Rahasia Ibu
2. 4-12

4--- EXT/INT. Mimpi Alex

FADE IN

Blur dan slow motion memperlihatkan Erin dan teman-teman sedang bercanda dan tertawa renyah tanpa beban. Tawa yang tumpang tindih tapi menyuarakan keceriaan. Frame makin fokus pada sosok Erin yang tersenyum lebar pada teman-temannya namun sekitarnya tampak buram.

CUT TO

 

5---INT. Kamar Alex. Pagi hari.

Close up wajah Alex yang membuka mata cepat, mendadak terbangun oleh suara adzan.


VO
“Allahuakbar, Allahuakbar …. Allahuakbar, Allahuakbar!”

 

6---EXT. Jalan depan rumah Alex. Pagi-pagi.

Suasana depan rumah Alex, pagi buta dan masih sepi. Lalu tampak Alex menuntun dan menaiki sepedanya, berbelok dan mengayuh sepeda sehingga membelakangi dan meninggalkan kamera. Menjauh.

CUT TO

 

7--- INT. Ruang kelas. Pagi, sebelum masuk kelas.

Suara siswa-siswi tumpang tindih di dalam kelas yang menandakan kelas belum dimulai. Wide-frame yang bergeser pelan, menunjukkan suasana kelas yang telah ramai. Lalu, frame berubah ke sebuah bangku kelas dan tas Alex disimpan di atas bangku itu.


VO (Erin)
“Alex, bisa bicara sebentar?”


Alex yang berdiri di samping bangku kelasnya berpaling dan melihat Erin telah berdiri di dekatnya masih memakai tasnya. Dan Erin memberi isyarat supaya Alex mengikutinya. Mereka pun pergi keluar kelas.

CUT TO

 

8--- EXT. Pinggir lapangan yang relatif sepi namun tidak menutupi suasana sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar.

Erin dan Alex berdiri berhadapan di pinggir lapangan, lalu, Big Close Up, tangan Erin yang menyerahkan secarik kertas dan diterima oleh Alex.


VO (Erin)
“Apa yang kamu lihat?”

Alex yang telah menerima kertas itu membaca tulisan tangan Erin.

 

Text (Tulisan tangan Erin)
CMXMMIXMX
10010001010001000110100010

 

Alex
“Empat-delapan-dua-delapan-delapan-satu-dua-delapan-dua,”
Erin
(Sedih, frustasi dan putus asa)
“Aku sudah mencobanya!”
Alex
“Memangnya password apaan sih?”
Erin
“Ah, sudahlah! Lupakan!”


Erin dengan cepat merebut kertas itu dari tangan Alex dan pergi. Meninggalkan Alex yang dead-pan menatap Erin pergi dan diikuti dengan munculnya tulisan “Lupakan…” fade in-fade out di atas kepala Alex.


TEXT FADE IN
“Lupakan ….”
TEXT FADE OUT

 

CUT TO

 

9--- EXT. Tempat parkir sepeda siswa. Siang. Pulang sekolah.

Bel berbunyi. Sekolah selesai. Alex telah keluar dari kelas dan menapaki pelataran parkir sepeda untuk siswa. Alex Menghampiri sepedanya sambil memeriksa ponselnya (mungkin sebelumnya ada suara notifikasi, tapi sepertinya itu tidak penting). Alex melihat ada pesan dari ibunya.


Ibunya Alex (Text)
Lex, Ibu pergi dulu ke Jambi. Jaga Nenek, soalnya Tante Yanti mesti ke Malaysia. Kira-kira seminggu. Kunci rumah ada di Ayah.

 

Alex scroll ponselnya dan menemukan kalau dia juga mendapatkan pesan lain dari ayahnya.


Ayahnya Alex (Text)
X, kunci rumah ada di Ayah. Ambil di kantor, ya. Ayah kemungkinan lembur.

 

Alex simpan ponselnya dan melepas rantai sepedanya.

 

10--- EXT. Pelataran parkir sebuah gedung perkantoran. Siang.

Alex mengayuh sepedanya memasuki pelataran parkir gedung perkantoran.

 

11--- INT. Lobi gedung. Siang

Alex memasuki lobi gedung, melangkah dan melihat sebuah lounge yang merangkap café. Lounge itu berdinding kaca yang memperlihatkan keramaian para profesional di dalamnya yang sepertinya sedang berlangsung semacam rapat yang tidak terlalu resmi. Salah seorang professional itu melihat Alex dan melambaikan tangan. Ayahnya Alex.

Alex menghampiri pintu lounge.

Di pintu lounge, ayahnya Alex melambai dengan tangan telah memegang kunci rumah. Ayahnya Alex menyerahkan kunci rumah setelah Alex dekat.


Ayah Alex (Iskandar)
“Kamu sudah makan?”


Sambil menyinpan kunci rumah ke dalam saku celananya, Alex mengangkat bahu. Hanya mengangkat bahu seolah tahu kalau ayahnya telah tahu jawaban Alex dan telah lebih dulu memesankan sesuatu untuk Alex.


Ayah Alex (Iskandar)
“Ayah sudah pesan Steak sama milkshake. Kamu makan dulu sana. Nanti dah makan, kalau mau pulang duluan, pulang saja. Sepertinya pertarungan Ayah bakal panjang. Dah dulu, ya!”


Ayah Alex menepuk pundak Alex, lalu memberi isyarat kepada seorang pelayan Café untuk melayani Alex.

 

12--- INT. Lounge/Café. Sore hari.

 Alex sedang duduk di salah satu meja café (mungkin ada baiknya meja Alex terletak di jalur yang dilewati pengunjung cafe yang hendak ke toilet, sekedar sinkronisasi logika untuk adegan kedepannya). Dan Alex telah selesai makan.

Alex kesampingkan piring dan gelasnya. Sempat ia melirik ke Ayahnya dan menyaksikan Ayahnya yang agak berjarak sedang berpresentasi dan bernegosiasi dengan orang-orang yang tampak penting (berjas dan berdasi). Lalu, Alex membuka dan merogoh tasnya, mengambil buku catatan dan pensil. Ia mulai menulis.


TEXT
(Tulisan tangan Alex)
CMXMMIXMX
10010001010001000110100010

 

Alex berpikir sejenak, seolah mengingat-ingat kertas yang pernah Erin perlihatkan kepadanya. Kemudian Alex menuliskan baris lain di bawahnya.


TEXT
(Tulisan tangan Alex)
482881282

 

Pada saat itu, ada seseorang yang berjalan melewati meja Alex (dan sepertinya hendak ke toilet) dan mendadak berhenti di meja Alex seolah tertarik dengan apa yang Alex tulis. Hanya saja, frame masih memperlihatkan Alex yang tampak berpikir sambil melihat hasil tulisannya.


VO (Adrian/Ayahnya Erin)
“Da-dari mana kamu dapat itu?”


Alex mendongak dan melihat seorang pria berjas dan berdasi menunjuk ke buku tulis Alex. Alex menatapnya sejenak, melihat kemiripan yang kentara dari wajah pria itu dengan Erin.


Alex
“Ayahnya Erin?”
Adrian
“Kamu temannya Erin?”


Alex mengangguk.


Alex
“Ya, Pak.”
Adrian
“Erin minta bantuan kamu? Kamu sudah bisa memecahkannya?”

Adrian lebih mendekat dan memperhatikan tulisan Alex.


Alex
“Belum, Pak. Kata Erin, Erin sudah mencoba ini.”


Alex melingkari angka 482881282.


Alex
“Tapi katanya tidak berhasil. Mungkin ada yang terlewat. Sepertinya ada runutan di bilangan binernya yang saya lewatkan.”
Adrian
“Tunggu sebentar! Bagaimana bisa jadi bilangan biner?”
Alex
“Saya berasumsi huruf-huruf ini adalah lambang angka Romawi.”


Alex melingkari tulisan CMXMMIXMX.


Alex
“Kalau diubah ke angka, akan menjadi rangkaian bilangan biner ini.”


Alex lingkari tulisan 10010001010001000110100010.


Adrian
“Terus bagaimana bisa menjadi ini?”


Adrian menunjuk tulisan 482881282.

Alex membuat sebuah tabel di bawahnya.


TEXT (Tulisan tangan Alex)
1 = 1
2 = 10
3 = 11
4 = 100
5 = 101
6 = 110
7 = 111
8 = 1000
9 = 1001

 

Alex
"Nanti diubah lagi menjadi angka desimal dengan ini."
Adrian
“Hmm, menarik.”
Ayah/Iskandar (VO)
“Pak Adrian, maaf, apa ada masalah dengan anak saya?”


Frame melebar memperlihatkan ayahnya Alex yang telah dekat dengan mereka berdua. Ada perasan cemas sekaligus penasaran di wajah ayahnya Alex.


Adrian
“Oh, Pak Iskandar! Tidak, tidak. Ternyata putra Bapak teman satu sekolah dengan anak saya.”
Alex
“Teman satu kelas, Pak. Nama saya Alex.”


Alex menjulurkan tangan.


Adrian
Wellmet, Alex! Aku Adrian.”


Adrian membalas jabat tangan Alex lalu berpaling ke ayahnya Alex.


Adrian
“Maaf, Pak Iskandar, kalau boleh saya pinjam Alex, tidak apa-apa? Sepertinya putra Bapak benar-benar cerdas untuk bisa membantu saya.”
Ayah
(Salah tingkah sekaligus sumeringah)
“Te-tentu. Itu juga kalau Alex nggak keberatan.”
Alex
“Saya tidak keberatan. Tapi bantu apa, Pak?”
Adrian
“Memecahkan password itu. Untuk itu sepertinya kamu mesti tahu latar belakang password itu. Kamu mau ikut ke rumahku? Erin sepertinya sekarang sudah di rumah.”


Adrian sempatkan ambil ponsel dan melihatnya sebentar.


Alex
“Tapi, sepeda saya—”
Ayah
(memotong Alex.)
“Biar Ayah yang bawa nanti. Kamu baik-baik sama Pak Adrian. Jangan merepotkan.”


CUT TO

 


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Makasih atas jejaknya. 😀
2 bulan 3 minggu lalu
marking here.
2 bulan 3 minggu lalu