Sedang Berlangsung
239 Disukai
4.5k Dibaca

The Rotate

Favorit
QR Code
Bagikan
Blurb
"Aku hanya gadis candala yang bertaruh nyawa pada sepi dan nelangsa. Telah diam selama 156 purnama namun masih saja tak jua bisa mengubah rasa melati menjadi fana. Sampai-sampai harus menjual jiwa untuk berbisik pada adiwangsa yang duduk di takhta kenanganya dan kelak nanti, akan ada yang menagih hutang padaku. Terkutuk sudah raga ini, tak bisa lagi disinari oleh matahari dan akan terus mengabdi pada rembulan di langit malam. Sekali kau bisa menyiram sinar matahari padaku, akan ada keserakahan bersarang. Maka akan lebih baik rasa gamang yang bersarang daripada rasa keserakahan itu sendiri. Biarkanlah seperti ini hingga waktu hidupku berhenti."

Siapa sangka rentetan kata yang tak pernah berhasil aku pahami itu merupakan salah satu dari kerumitan yang datang darinya. Hanya sebuah uluran benang merah yang menyembunyikan rajutan kecil-kecil di dalamnya. Belum lagi tumpukkan puzzle yang juga kau sembunyikan dan kau gadaikan pada ilusi, yang harus aku susun dengan beserta ribuan makna terkubur di dalamnya, yang membuatku merasa tak tahu malu meminta petunjuk padamu, padahal dulu mulutku selalu menggaungkan 2 kalimat ini padamu :

"Apakah kau mengizinkanku meluruhkan perputaran dalam hidupmu? Bersediakah jika aku nyalakan suar dalam hatimu?"

Dan kau selalu menjawabnya dengan kalimat yang membuatku bingung.

"Jangan pernah suka padaku!"

Aku tak pernah tahu bahwa hal itu bukanlah sebuah penolakkan, melainkan hal yang lebih dari itu. Sebuah peringatan akan konsekuensi jika aku terus berusaha mendekatimu. Konsekuensi jika matahari berani mendekati sebuah bintang kecil di galaksi terdalam.

Tapi, aku telah berhasil melanggarnya.

Dan hal yang tak pernah aku duga sama sekali datang, ketika kekelaman berhasil menelannya lebih dalam, ketika konsekuensi itu hanya mau menyeretnya sendirian, ketika sebuah kutukan yang sering disebutkannya tertunai pada tubuh mungilnya.
Tokoh Utama
Bintang
Radhitya Putra
Karya yang Terhubung
Rekomendasi