Sedang Berlangsung
1 Disukai
327 Dibaca

Simfoni Kesedihan

Penulis : Yudhi Herwibowo
Favorit
QR Code
Bagikan
Blurb
Kisah ini dimulai dengan tewasnya Barra, suami dari Sefadia Krani, karena sebuah kecelakaan. Setelah kematiannya, membawa kenangan Sefadia menuju masa lalunya, terutama saat ia masih bersama sahabatnya, Qurie Qurindra.
Qurie Qurindra dan Sefadia Krani bersahabat sejak kecil. Qurie adalah anak yatim dengan bakat istimewanya bermain piano, sedang Sefadia adalah anak pianis ternama, Kristalia Krani. Persahabatan itu dimulai sejak Qurie mendapat beasiswa bersekolah di sekolah musik Kristalia Krani.
Qurie yang sangat berbakat segera saja menjadi murid paling terkenal. Ia kerap mewakili sekolah musik itu di pentas-pentas musik. Sedang Sefadia, walau merupakan anak dari pianis terkenal, ia tak cukup memiliki bakat istimewa, sehingga tak pernah terpilih sekali pun.
Selama ini, Sefadia selalu mendapat kekerasan dari ambisi mamanya. Tangannya kerap dipukul saat salah berlatih piano. Setiap malam, Qurie mencoba mengajarkan apa yang bisa ia ajarkan. Keduanya kemudian menjadi begitu dekat.
Suatu kali Qurie jatuh cinta pada laki-laki bernama Barra, seorang biolis yang juga bermain band di di luar sekolah. Kadang mereka bermain musik bersama di waktu usai sekolah. Qurie sudah menciptakan simfoninya sendiri. Ia sebenanrya menulis simfoni itu untuk Sefadia, namun ia tak cukup berani memberi judul simfoni itu dengan nama Sefadia. Karena iramanya yang terlalu sedih, Barra kemudian yang mengusulkan judulnya: Simfoni Kesedihan.
Hubungan mereka diketahui Sefadia yang sebenarnya menyukai Barra. Untuk sejenak persahabatan keduanya merenggang. Tapi Qurie segera menyadarinya, dan mencoba merekatkannya kembali.
Prestasi Qurie membuat Kristalia Krani menjadi iri. Ia sebenarnya menyiapkan sekolah ini untuk jalan bagi anaknya sendiri. Namun semuanya sepeti direbut oleh Qurie. Suatu kali karena kemarahnnya, Kristalia Krani memukul kepala Qurie hingga terbentur. Ia menyangka Qurie tewas malam itu, sehingga untuk menutupi jejaknya ia membakar sekolahnya sendiri.
Tapi Qure ternyata bisa melarikan diri di saat terakhir. Barra menyelamatkannya dalam kondisi separuh tubuhnya terbakar. Karena tak ingin memperuncing hubungan Sefadia dan mamanya, Qurie memutuskan pergi. Ia bahkan meninggalkan Barra di malam setelah keduanya memadu kasih..
Bertahun-tahun ia hanya terus berpindah kota. Sefadia sendiri memutuskan meninggalkan kotanya. Keadaanya yang rapuh, membuat Barra mencoba menemaninya. Dua tahun kemudian keduanya menikah.

***

Sejak kebakaran itu, Sefadia belum pernah mendengar kabar Qurie. Namun setelah kematian suaminya, ia menemukan partitur di lemari Barra, dan ia ingat kalau itu adalah partitur simfoni yang diciptakan Qurie. Ia kemudian menjadi heran, saat mendengar konser mamanya, ternyata simfoni yang tak kalah persisnya muncul pula di situ.
Maka ia memutuskan kembali ke kotanya untuk menanyakan itu. Di situlah terbongkar apa yang terjadi 8 tahun yang lalu, bagaimana ibunya melukai Qurie dan membakar ruang piano.
Namun yang membuatnya lega, Qurie tak mati hari itu. Ia selamat. Keinginannya bertemu Qurie begitu dalam sampai tanpa sadar ia melihat di televisi sebuah konser kecil di kota kecil. Seorang pianis cilik muncul dengan nama: Sefadia Qurie.
Qurie ternyata telah beberapa tahun lalu meninggal dunia, namun Safadia bisa menemukan anak dari sahabatnya itu. Pertemuannya itu bagai mengkilas balik pertemuannya dengan Qurie Qurindra bertahun-tahun lalu...
Tokoh Utama
Safadia Krani
Qurie Qurindra
Barra
Rekomendasi