Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
"Jakarta keras, Bro!"
Begitu kata orang. Jakarta memang bukan untuk yang belum siap. Rasanya seperti kota ini tidak pernah meliburkan diri dari perannya sebagai Ibu Kota dari negara besar. Jika hanya untuk sekadar hidup, baiknya mencari tanah yang lebih subur saja.
Hidup itu pilihan. Maka, pilih di mana kamu bisa bertumbuh.
Kalau bisa memilih, Dwipa juga tidak mau menghabiskan lebih dari belasan tahun hidupnya di sini, di kota yang katanya menjadi mimpi begitu banyak orang. Terlebih dengan perannya yang rupa-rupa, kadang menjadi orang miskin yang mendamba kemewahan orang lain, atau sebagai anak dari Ayah penjual gorengan yang tanpa daya.
Dwipa benci miskin. Orang miskin yang tinggal di kota serba mahal dan penuh gengsi. Melihat peluh yang jatuh berkali-kali dari dahi Ayah membuat Dwipa ingin merenggut kehidupan mewah orang lain kalau bisa, agar malam ini dan malam-malam berikutnya Ayah tidak sibuk mengurusi gorengan-gorengan yang untungnya tidak seberapa itu.
Jika bukan karena paksaan dari kakaknya, Aksara, Dwipa enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kata orang, Dwipa seharusnya tahu diri. Kuliah adalah seni membuang-buang waktu dan penghambat rezeki bagi orang miskin seperti keluarganya.
Begitu kata orang. Jakarta memang bukan untuk yang belum siap. Rasanya seperti kota ini tidak pernah meliburkan diri dari perannya sebagai Ibu Kota dari negara besar. Jika hanya untuk sekadar hidup, baiknya mencari tanah yang lebih subur saja.
Hidup itu pilihan. Maka, pilih di mana kamu bisa bertumbuh.
Kalau bisa memilih, Dwipa juga tidak mau menghabiskan lebih dari belasan tahun hidupnya di sini, di kota yang katanya menjadi mimpi begitu banyak orang. Terlebih dengan perannya yang rupa-rupa, kadang menjadi orang miskin yang mendamba kemewahan orang lain, atau sebagai anak dari Ayah penjual gorengan yang tanpa daya.
Dwipa benci miskin. Orang miskin yang tinggal di kota serba mahal dan penuh gengsi. Melihat peluh yang jatuh berkali-kali dari dahi Ayah membuat Dwipa ingin merenggut kehidupan mewah orang lain kalau bisa, agar malam ini dan malam-malam berikutnya Ayah tidak sibuk mengurusi gorengan-gorengan yang untungnya tidak seberapa itu.
Jika bukan karena paksaan dari kakaknya, Aksara, Dwipa enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kata orang, Dwipa seharusnya tahu diri. Kuliah adalah seni membuang-buang waktu dan penghambat rezeki bagi orang miskin seperti keluarganya.
Tokoh Utama
Dwipa
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
14
Tentang Penulis
Ceceaie
-
Bergabung sejak 2026-04-01
Telah diikuti oleh 4 pengguna
Sudah memublikasikan 1 karya
Menulis lebih dari 2,093 kata pada novel
Rekomendasi dari Petualangan
Novel
Meraki (Bakar Memori, Habis Jati Diri)
Ceceaie
Novel
Astara dan Buku Catatan Pendahulu
Swaradtri
Novel
Codex Genetika
Firsty Elsa
Novel
Kritikus Adinan
Bentang Pustaka
Novel
ARUS BAWAH
Bentang Pustaka
Novel
Saving Savier Angel
Bentang Pustaka
Novel
Abada
Yaraa
Novel
3 Titisan Adorno
Kirana Aisyah
Novel
KKPK Congklak Misterius
Mizan Publishing
Novel
Langit Merbabu
Bentang Pustaka
Novel
Teen Stars
Mizan Publishing
Skrip Film
METAMORFOSIS (indahnya masa kecil)
Widhi ibrahim
Novel
Salam Senyum Nestapa
MW saja
Novel
VENTO GEHEIM
Oky Rizkiana S
Novel
Kata Arunika
Dian Fitriana
Rekomendasi