Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
Locus adalah dunia pasca-Apeiron. Semesta setelah Era Kekosongan yang hampa dan gulita. Apa-apa yang tertinggal dari sisa-sisa peradaban lama serta peperangan di padang gurun waktu itu masih utuh (bisa juga tidak) pada tempatnya.
Memasuki Era Kebangkitan, bukan hanya para entitas, ketiga Alam pun berproses untuk memulihkan kembali diri masing-masing dan keseimbangan. Namun kendati demikian, tak ayal bila dengan mudah bisa menjumpai monster-monster berkeliaran maupun kuburan hingga reruntuhan.
Ada satu aturan penuh yang disepakati di antara pengisi kuasa dalam Dewan Kuno di Langit Locus. Terdiri dari ruang, waktu, kecepatan, relativitas waktu, cahaya, dan kegelapan. Sebuah aturan kuno tentang perasaan, emosi, peperangan, perdamaian, kekuasaan, kerja sama, kebaikan, dan keburukan, yakni wewenang yang sama dari mereka berenam masing-masing. Sekalipun Dewa Bayangan dan Dewi Cahaya merupakan putra dari ruang dan waktu. Namun, keberadaan mereka sedikit mengubah aturan kuno. Kini mereka setara dengan siapa saja yang menaruh kepercayaan di samping wewenang mereka.
Kelahiran keturunan ketiga sangat tidak diharapkan oleh siapa pun. Bahkan oleh suku-suku pemuja ruang dan waktu. Suku-suku yang secara turun-temurun mewariskan segala aturan dan hukum kuno kepada setiap penerus mereka. Penerus, pelindung, serta tangan-tangan pelaksana keputusan penguasa. Penerjemah dan penyampai pesan. Telik sandi, penutup, dan pembuka rahasia.
Kelahiran keturunan ketiga berarti alam semesta akan segera goyah. Kelahiran keturunan ketiga pertanda mahapralaya. Namun, kelahiran keturunan ketiga pun bisa bermakna sebaliknya. Tidak ada seorang pun mengetahui pesan yang tersirat di baliknya. Semuanya masih akan sekadar spekulasi sampai Dewan Kuno memutuskan. Sampai keputusan Dewan Kuno turun kepada suku-suku, selama itu pula "keturunan ketiga" akan dijunjung tinggi di mana pun ia berada. Bahkan bisa pula sebaliknya, dianggap hanya manusia biasa. Setiap suku punya aturan dan kehendak masing-masing. Namun kendatipun demikian, Dewa-Dewi sudah saling memusuhi amat jauh semenjak hubungan terlarang sepasang ketururan pertama, Dewa Api dan Dewi Petir. Sebuah hubungan sepintas yang melahirkan keturunan kedua, ayah satu-satunya sang keturunan ketiga.
Memasuki Era Kebangkitan, bukan hanya para entitas, ketiga Alam pun berproses untuk memulihkan kembali diri masing-masing dan keseimbangan. Namun kendati demikian, tak ayal bila dengan mudah bisa menjumpai monster-monster berkeliaran maupun kuburan hingga reruntuhan.
Ada satu aturan penuh yang disepakati di antara pengisi kuasa dalam Dewan Kuno di Langit Locus. Terdiri dari ruang, waktu, kecepatan, relativitas waktu, cahaya, dan kegelapan. Sebuah aturan kuno tentang perasaan, emosi, peperangan, perdamaian, kekuasaan, kerja sama, kebaikan, dan keburukan, yakni wewenang yang sama dari mereka berenam masing-masing. Sekalipun Dewa Bayangan dan Dewi Cahaya merupakan putra dari ruang dan waktu. Namun, keberadaan mereka sedikit mengubah aturan kuno. Kini mereka setara dengan siapa saja yang menaruh kepercayaan di samping wewenang mereka.
Kelahiran keturunan ketiga sangat tidak diharapkan oleh siapa pun. Bahkan oleh suku-suku pemuja ruang dan waktu. Suku-suku yang secara turun-temurun mewariskan segala aturan dan hukum kuno kepada setiap penerus mereka. Penerus, pelindung, serta tangan-tangan pelaksana keputusan penguasa. Penerjemah dan penyampai pesan. Telik sandi, penutup, dan pembuka rahasia.
Kelahiran keturunan ketiga berarti alam semesta akan segera goyah. Kelahiran keturunan ketiga pertanda mahapralaya. Namun, kelahiran keturunan ketiga pun bisa bermakna sebaliknya. Tidak ada seorang pun mengetahui pesan yang tersirat di baliknya. Semuanya masih akan sekadar spekulasi sampai Dewan Kuno memutuskan. Sampai keputusan Dewan Kuno turun kepada suku-suku, selama itu pula "keturunan ketiga" akan dijunjung tinggi di mana pun ia berada. Bahkan bisa pula sebaliknya, dianggap hanya manusia biasa. Setiap suku punya aturan dan kehendak masing-masing. Namun kendatipun demikian, Dewa-Dewi sudah saling memusuhi amat jauh semenjak hubungan terlarang sepasang ketururan pertama, Dewa Api dan Dewi Petir. Sebuah hubungan sepintas yang melahirkan keturunan kedua, ayah satu-satunya sang keturunan ketiga.
Tokoh Utama
Erretir
Feng Liang
Sevilla
Eri
Dewa Ruang
Dewi Waktu
Durga
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
469
Tentang Penulis
Miftachul Arifin
-
Bergabung sejak 2024-01-25
Telah diikuti oleh 75 pengguna
Sudah memublikasikan 12 karya
Menulis lebih dari 68,008 kata pada novel
Rekomendasi dari Fantasi
Novel
LOCUS: kasa kufasa
Miftachul Arifin
Novel
Narsis
Saepul Kamilah
Novel
Memori di Santorini
Muhammad Haryadi
Komik
Reserse
Mangga dua berduaan
Komik
Devanagari
Fima Rachmawati
Novel
Gelembung
choiron nikmah
Komik
Donald Dark
rahmadrahim
Novel
Madani Negeri Para Penyair
AgiRu
Novel
LIVES AND DIE
♤ella♤
Novel
Amaris
Aria
Novel
ALEGORI : Sesumbar Kiamat
Bima Miftahul
Novel
GEMSTONERS
Ratna Aleefa
Novel
Runaway Castle
Ilma Laila
Novel
Neng
Kemas Nursyamsu Iskandar
Novel
Time Dimension
Hervi Dwi Susanti
Rekomendasi
Novel
LOCUS: kasa kufasa
Miftachul Arifin
Novel
Bronze
Mansheviora: Semesta Alternatif
Miftachul Arifin
Novel
APEIRON: Latar Para Kausa
Miftachul Arifin
Novel
Kisah Para Naga
Miftachul Arifin
Novel
APEIRON: Laga Para Kausa
Miftachul Arifin
Novel
KISAH KECEPATAN: Mengenai Suara
Miftachul Arifin
Novel
Kronik Semesta Alternatif (Origin)
Miftachul Arifin
Novel
APEIRON: Langkah Para Kausa
Miftachul Arifin
Novel
APEIRON: Latih Para Kausa
Miftachul Arifin
Novel
Jika Kausa Tidak Menjadi Kausa
Miftachul Arifin
Novel
Kisah Kelompok Taman Bunga
Miftachul Arifin
Novel
Dimensi Antara
Miftachul Arifin