Novel
Genre → Drama
Kata Umak, Perempuan Tak Boleh Guna Perhiasan
Oleh Goebahan R
Mulai membaca
Telah selesai
Gratis untuk dibaca
Blurb
Aku terlahir tanpa bapak, tanpa abang dan kakak. Satu-satunya kerabat yang kupunya hanya Umak. Umaklah yang melahirkanku, juga membesarkanku. Sehari-hari, Umak saja yang kulihat.
***
Aku yang patah, mengarungi lautan dengan luka berdarah-darah. Mengutuki terlahir sebagai perempuan, menahan tangis dan air mata, memaki keadaan dan menyumpah pada Tuhan.
Betapa besar derajat lelaki di bumi ini. Mereka dipuja, kelahirannya dibanggakan, kesalahannya dimaafkan, kehadirannya diharapkan, sampai-sampai mereka lupa, siapa yang telah melahirkan mereka ke dunia. Sedang perempuan hanya menanggung kesalahan demi kesalahan, kelahirannya pun kadang tak diharapkan.

-------------------------------------------------------------
Hamidah dan Safiah belajar memahami hidup, lewat kemalangan yang menimpa mereka di usia muda. Dalam perjalanan yang panjang, mereka berusaha memahami kesunyian di hati masing-masing; bahwa sebenarnya, mereka hanya jiwa-jiwa yang terluka.
Tokoh Utama
Hamidah
Safiah
Mak Long
Tengku Halim
Pakcik Hussein
Butet
Zul
Inang
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
anonim
Kisahnya menyentuh. Aspek emosionalnya kuat, pekat, dan berhasil menyihir.
nadyawijanarko
Membaca novel ini serasa nostalgia kembali ke masa sekolah ketika saya kerap diberi tugas untuk meresensi novel yang tak jauh-jauh dari Siti Nurbaya, Layar Terkembang, atau Perawan di Sarang Penyamun. Ka Rumi seakan memantapkan ciri khasnya yang kental Melayu seperti halnya dua naskah yang sebelumnya sudah saya baca. Karya yang sangat berkarakter. Good luck. πŸ’ͺ
Dah lahh kerenn..
alfiannbudiarto
Tulisan yang luar biasa. Yok bisa yok menang πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ
foggy81
Saya seperti diajak membaca Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Merasakan bagaimana dunia memuliakan laki-laki sembari mengabaikan perasaan dan pengorbanan perempuan. Perspektif feminis yang ditonjolkan dalam novel ini menggarisbawahi perjuangan perempuan dalam menggapai pengakuan dan tempat yang setara di masyarakat yang sering kali memprioritaskan kaum laki-laki. Melalui Hamidah dan Safiah, tulisan Rumi ini menjadi refleksi bagi para pembaca akan kesunyian yang mengiringi jiwa-jiwa yang terpinggirkan.
Penulis yang juga seorang pemenang kompetisi kwikku tahun lalu, dengan penuh kepekaan menggali sisi kemanusiaan tokoh-tokoh yang dibuatnya, sebagai simbol perlawanan diam-diam dan harapan akan keadilan bagi perempuan. Dari tulisan Rumi ini, saya sebagai pembaca seolah diajak untuk merenung: soal ketangguhan, harga diri, dan bagaimana mencari makna hidup bagi perempuan di tengah dunia yang cenderung timpang.
Tabik Rumi! Bismillah.
Seru ceritanya
Disukai
356
Dibaca
3.7k
Tentang Penulis
Goebahan R
- Sepotong Kisah Di Balik 98 Pilihan Okky Madasari (Rumah yang Sama, Pulang yang Beda)
- Percakapan Mereka yang Belum Usai

@cemumuts
Bergabung sejak 2020-05-04
Telah diikuti oleh 215 pengguna
Sudah memublikasikan 3 karya
Menulis lebih dari 79,852 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi