Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Di sebuah gang Melati semua orang saling mengenal, tetapi ada satu nama yang jarang sekali disebut dengan utuh. Bukan karena orang-orang lupa, melainkan karena keberadaannya seperti sesuatu yang sejak awal dianggap tidak seharusnya ada. Dia adalah Nadira.
Nadira tumbuh di rumah yang penuh dengan kenangan tentang lelaki yang bukan ayahnya, lelaki yang begitu dicintai lingkungan, begitu dikenang, hingga siapa pun yang datang setelahnya dianggap merusak sesuatu yang sakral. Ketika ibunya memutuskan menikah lagi dan melahirkan dirinya, rumah itu tak pernah benar-benar membuka pintunya.
Keadaan memaksa ayahnya pergi menjauh.
Nadira tinggal bersama stigma yang tak pernah ikut pergi. Di rumah itu, ia belajar bahwa tidak semua orang yang tinggal dalam satu rumah bisa disebut keluarga. Dua kakak perempuannya menatapnya seperti kesalahan yang tak pernah selesai diperbaiki.
Di luar rumah, bisik-bisik tentang asal-usulnya tumbuh lebih cepat daripada usianya. Setiap sudut gang seperti menyimpan pertanyaan yang tak pernah sanggup ia jawab.
Siapa ayahmu sebenarnya?
Kenapa kau masih tinggal di sini?
Dan mengapa tak ada seorang pun yang benar-benar menyebutmu sebagai bagian dari rumah ini?
Sejak kecil, Nadira tahu satu hal, ia tidak bisa meminta untuk dicintai.
Maka ia memilih cara lain agar keberadaannya tak bisa diabaikan.
Ia belajar lebih keras daripada siapa pun. Menyimpan tangisnya sendiri. Membungkam lapar, malu, dan sepi dengan angka-angka di rapor yang terus mendekati sempurna. Di sekolah, namanya disebut dengan bangga. Di rumah, namanya tetap berlalu seperti angin.
Namun seberapa lama seseorang bisa hidup hanya dengan pengakuan dari dunia luar, ketika rumahnya sendiri tak pernah memberinya tempat untuk pulang?
Ketika sebuah keadaan memaksanya mengubur impian, Nadira menemukan dirinya berdiri di persimpangan antara menyerah seperti yang diam-diam diharapkan banyak orang, atau terus berjalan meski tak ada siapa pun yang percaya ia akan sampai.
Ia memilih berjalan. Walaupun sendirian.
Langkah kecil itu membawanya semakin jauh dari rumah yang dulu menolaknya, hingga pada suatu hari, dunia memanggil namanya jauh lebih lantang daripada semua bisik-bisik yang pernah mencoba menghapusnya.
Namun keberhasilan tak selalu menyembuhkan luka. Sebab ada jarak yang tak bisa diukur oleh kilometer, ada rumah yang tetap terasa asing meski pintunya tak pernah benar-benar terkunci, dan ada maaf yang jauh lebih sulit diperjuangkan dari pada mimpi apa pun.
Nadira tumbuh di rumah yang penuh dengan kenangan tentang lelaki yang bukan ayahnya, lelaki yang begitu dicintai lingkungan, begitu dikenang, hingga siapa pun yang datang setelahnya dianggap merusak sesuatu yang sakral. Ketika ibunya memutuskan menikah lagi dan melahirkan dirinya, rumah itu tak pernah benar-benar membuka pintunya.
Keadaan memaksa ayahnya pergi menjauh.
Nadira tinggal bersama stigma yang tak pernah ikut pergi. Di rumah itu, ia belajar bahwa tidak semua orang yang tinggal dalam satu rumah bisa disebut keluarga. Dua kakak perempuannya menatapnya seperti kesalahan yang tak pernah selesai diperbaiki.
Di luar rumah, bisik-bisik tentang asal-usulnya tumbuh lebih cepat daripada usianya. Setiap sudut gang seperti menyimpan pertanyaan yang tak pernah sanggup ia jawab.
Siapa ayahmu sebenarnya?
Kenapa kau masih tinggal di sini?
Dan mengapa tak ada seorang pun yang benar-benar menyebutmu sebagai bagian dari rumah ini?
Sejak kecil, Nadira tahu satu hal, ia tidak bisa meminta untuk dicintai.
Maka ia memilih cara lain agar keberadaannya tak bisa diabaikan.
Ia belajar lebih keras daripada siapa pun. Menyimpan tangisnya sendiri. Membungkam lapar, malu, dan sepi dengan angka-angka di rapor yang terus mendekati sempurna. Di sekolah, namanya disebut dengan bangga. Di rumah, namanya tetap berlalu seperti angin.
Namun seberapa lama seseorang bisa hidup hanya dengan pengakuan dari dunia luar, ketika rumahnya sendiri tak pernah memberinya tempat untuk pulang?
Ketika sebuah keadaan memaksanya mengubur impian, Nadira menemukan dirinya berdiri di persimpangan antara menyerah seperti yang diam-diam diharapkan banyak orang, atau terus berjalan meski tak ada siapa pun yang percaya ia akan sampai.
Ia memilih berjalan. Walaupun sendirian.
Langkah kecil itu membawanya semakin jauh dari rumah yang dulu menolaknya, hingga pada suatu hari, dunia memanggil namanya jauh lebih lantang daripada semua bisik-bisik yang pernah mencoba menghapusnya.
Namun keberhasilan tak selalu menyembuhkan luka. Sebab ada jarak yang tak bisa diukur oleh kilometer, ada rumah yang tetap terasa asing meski pintunya tak pernah benar-benar terkunci, dan ada maaf yang jauh lebih sulit diperjuangkan dari pada mimpi apa pun.
Tokoh Utama
Nadira
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
5
Tentang Penulis
sepin hidayah
-
Bergabung sejak 2026-05-18
Telah diikuti oleh 6 pengguna
Sudah memublikasikan 1 karya
Menulis lebih dari 1,000 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
JUDUL: Nama yang tak pernah di sebut
sepin hidayah
Novel
Maitua
intan elsa lantika
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Novel
Darkpunzel
Art Fadilah
Novel
Orang Orang Di Atas Angin
Yovinus
Novel
Rumah Tujuh Cahaya
muhaibra
Novel
Patu: (Bukan) Cerita Cinta
Yudha Mahawani
Novel
13 Bagian yang Hilang
Adinda Amalia
Novel
Manusia Laron
Dewanto Amin Sadono
Novel
Lensa Argan
rekhasandy
Novel
Benang yang Tak Putus
Rie Yanti
Novel
Tanah Nganga
Kartini F. Astuti
Skrip Film
The Good Friend
DENKUS
Cerpen
Ada Apa dengan Cinta(ku)
hyu
Novel
TEARS OF A MAN
Bhina Wiriadinata
Rekomendasi