Perempuan di Balik Jendela

Matahari pagi menyinari 5 pria yang sedang bermain basket di lapangan komplek.

 “Fasa! Oper gw!” Teriak Jawir.

Fasa bergerak seperti hendak mengoper Jawir, lalu dengan cerdik mendribble bola ke arah berlawanan dan melakukan 3 points. Lawan yang menjaga Fasa tertipu tak berdaya.

Plukk... Bola masuk ke ring.

“Wooww....” suara perempuan disertai tepuk tangan terdengar di kejauhan.

Fasa menengok ke arah suara itu. Seorang gadis bertepuk tangan dari balik jendela kamarnya.

Fasa melempar senyum pada gadis itu dengan bangga. Si gadis membalas dengan anggukan malu, kaget suaranya terdengar hingga lapangan.

Fasa kembali bermain basket. Kali ini dia melakukan tembakan tipuan yang mengecoh lawannya. Fasa terlepas dari penjagaan. Dia kembali melakukan 3 points andalannya. Dia menengok si gadis. Menunggu tepuk tangan.

Namun tembakannya meleset. Jawir sigap berduel dengan lawan di bawah ring basket dan berhasil melakukan rebound. Dia lalu mengoper kepada Fasa.

DUUUUKKKK!!

Bola menghantam keras wajah Fasa. Dia terjungkal.

 

“Aawwww!”

 

“Lo bengong?” Tanya Jawir.

 

Merasa malu, Fasa menyudahi permainannya. Dia berjalan ke pinggir lapangan. Fasa melihat gadis itu menertawakannya sampai tersengal-sengal.

Kesal, Fasa menghampiri gadis itu.

 

“Puas?”

 

“Maaf kak. Ga ketahan, sumpah.”

 

Fasa menggosok hidungnya yang memerah.

 

“Nama kakak siapa?”

“Fasa. Kamu?”

“Aku Marsha.”

           “Kamu suka basket?”

           “Mulai sekarang aku suka basket kak.”

 

“Ish.. Main basket bareng yuk.”

 

“Aku ga bisa main kak.”

 

“Gapapa, ga harus jago kok.”

 

“Ngga deh kak. Aku benar-benar ga bisa.”

 

“Huff… kalau makan bisa?”

“Ya… bisa lah.”

“kalau begitu, nanti malam kita makan bareng ya.”

”Eh, kok gitu?”

“Kenapa? Udah punya pacar?”

“Belum. Tapi aku ga kenal kakak.”

 

“Ya udah, nanti kakak jemput kamu sambil ninggalin KTP buat keluarga kamu.”

 

“Hahahaha. Ninggalin KTP?”

 

“Iya, ga ada masalah kan? Sampai nanti ya.” Fasa pergi meninggalkan Marsha, yang kebingungan.

Pukul 7 malam. Fasa datang dengan pakaian rapi. Dia memarkirkan motornya di depan rumah Marsha.

TING TONG. Fasa menekan bell. Ibu Marsha keluar.

“Cari siapa ya?”

“Marsha ada tante?”

 

“Dari siapa?”

“Saya Fasa tante. Mau ngajak Marsha jalan.”

“Oh… Silahkan masuk.”

Fasa duduk di ruang tamu.

Ibu mengetuk kamar Marsha.

“Marsha! Ada Fasa!”

“Iya buu.” Jawab Marsha dari balik kamar.

Ibu duduk di hadapan Fasa.

 

“Kamu teman Marsha dari mana?”

 

“Saya teman basketnya Marsha, tante.”

“Basket? Marsha main basket sama kamu?”

“Teman ngobrol basket, tante.”

“Eh?”

Sebelum ibunya bertanya lagi, tiba-tiba pintu kamar Marsha terbuka.

Marsha keluar dari kamarnya dengan pakaian terbaiknya di atas kursi roda.

“Cantiknya anak Ibu.” ibu Marsha tersenyum.

Fasa memandangi kursi roda Marsha. Beberapa detik kemudian ekspresi Fasa berubah. Dia segera berdiri.

 

“Tante. Maaf, saya lupa sesuatu. Saya pamit dulu.”

Fasa keluar rumah. Ibu Marsha bingung. Tapi Marsha paham. Wajahnya menunduk.

Ibu menatap Marsha.

“Marsha...”

Marsha menggeleng keras. Dia mendorong kursi rodanya kembali ke kamar dan menguncinya.

Ibunya mengetok-ngetok pintu kamar Marsha.

 

“Marsha, keluar nak.“

Tapi Marsha tidak menjawab. Air mata Marsha jatuh. Dia menangis dalam telapak tangannya.

TING TONG. Bell rumahnya berbunyi.

Marsha mengangkat kepalanya. Fasa terlihat di balik jendela kamarnya.

“Mau apa?”

“Marsha, aku tadi bawa motor! Jadi aku minjem mobil temanku Jawir! Kita jalan yuk.”

Marsha tertawa dalam tangis mendengar jawaban itu.

 

10 disukai 4 komentar 801 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@affarain : Terima kasih 🙏
@alwindara : Wah, playboy jg dong. Baru kenal udah ngajak jalan. 😜 Sayangnya cewenya ga bisa jalan 😫
Mantap
Nostalgia cinta ala sma, dulu saya gini kalo dekwtin cewekklk haha. Namanya unik Jawir.
Saran Flash Fiction