Malam di Bulan November

Gadis itu berdiri di sana, pada malam di bulan November. Cuaca sedang tidak bersahabat.  Angin berembus cukup keras, mampu membuat spanduk yang terpasang di jalan seakan-akan terbang seperti kertas.

           Gadis itu menutup risleting mantelnya, melipat tangan dan merapatkannya  ke tubuhnya. Tampaknya ia mulai kedinginan. Langit sepenuhnya hitam, tanda akan hujan.  

         Sebenarnya ia ingin beranjak pergi. Namun, sesuatu menahannya.

           Tunggulah sebentar lagi, ia pasti datang.

           Jadi ia tetap menunggu di halte tua itu, sampai seseorang menghampirinya.

           “Masuklah, Nak. Udara mulai dingin.”

           Si empunya kafe sederhana dekat halte – seorang laki-laki tua paruh baya — mempersilakannya masuk. Gadis itu mengambil kursi yang menghadap pintu.

           “Duduklah di dalam, lebih hangat.”

           “Tidak, Pak. Di sini saya bisa melihat dengan jelas, orang-orang yang datang dan pergi di halte sana.”

           Si pemilik kafe lalu meninggalkannya setelah menghidangkan segelas teh hangat.

           Hujan mulai turun dan membasahi pelataran.  Bus dan taksi datang dan pergi, membawa dan menurunkan penumpang. Mereka yang harus berada di luar saat malam, untuk satu alasan.

           Malam semakin larut. Sebentar lagi, kafe akan tutup. Laki-laki tua itu mengecilkan volume tape recordernya. Entah sudah berapa judul lagu yang ia putar. Semua tentang cinta. Lagu yang menyenangkan banyak orang. Termasuk sepasang kekasih yang menjadi tamu terakhirnya malam itu.

           Gadis itu masih melihat ke arah jalan. Tatapannya masih sama.

           “Apakah dia belum datang?”

           Pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban.

           Gadis itu menggeleng. Raut wajahnya tampak kecewa.

           Laki-laki tua itu mendesah.

           Tidak ada yang berubah. Semua masih sama, seperti tahun-tahun sebelumnya. Gadis yang menunggu, di malam dingin bulan November. Entah siapa yang ditunggunya. Laki-laki tua itu tak pernah bertanya.

           Gadis itu lalu bangkit dari duduknya.

           “Kau akan pulang?”

           Gadis itu mengangguk. Si pemilik kafe mengantarnya sampai pintu. Seperti biasa, ia melambaikan tangannya pada gadis itu.

           “Sampai jumpa lagi, Nak. Tanggal tujuh belas November. Tahun depan.”

10 disukai 1.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction