Jam digital di dinding menunjukkan pukul 22.14 ketika Naila memulai dua jam terakhir sif malamnya di Pusat Layanan Darurat Kota Arunika.
Ruangan itu dipenuhi suara papan ketik, nada dering telepon, dan percakapan para operator yang silih berganti menerima laporan kecelakaan, kebakaran, hingga kehilangan anak. Setelah lima tahun bekerja, Naila terbiasa menghadapi kepanikan orang lain tanpa ikut larut di dalamnya.
Namun malam itu, sebuah panggilan mengubah segalanya.
Telepon di mejanya berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Naila mengangkat gagang.
"Pusat Layanan Darurat, ada yang bisa kami bantu?"
Beberapa detik hanya terdengar suara napas berat.
Lalu seorang pria berbicara dengan suara bergetar.
"Tolong... saya hanya punya delapan menit."
"Apa yang terjadi?"
"Seseorang akan membunuh saya."
Naila langsung membuka formulir laporan.
"Sebutkan nama Anda."
"Rendi."
"Lokasi Anda sekarang?"
Hening.
Kemudian terdengar jawaban yang membuat Naila mengernyit.
"Itulah masalahnya."
"Apa maksud Anda?"
"Saya tidak tahu di mana saya berada."
Naila mengira pria itu mengalami kepanikan.
"Dengar, Pak Rendi. Coba lihat sekitar. Apa yang Anda lihat?"
"Dinding beton."
"Apa lagi?"
"Lampu putih."
"Pintu?"
"Ada."
"Jendela?"
"Tidak."
Suara pria itu terdengar semakin gelisah.
"Lantai?"
"Beton."
"Apakah ada suara kendaraan?"
"Tidak."
"Suara mesin?"
"Pelan... seperti dengungan."
Naila mencatat semuanya.
Gudang?
Ruang bawah tanah?
Pabrik?
Kemungkinan terlalu banyak.
"Lihat apakah ada tanda, tulisan, atau nomor di ruangan."
Beberapa detik berlalu.
"Ada angka."
"Berapa?"
"Tujuh."
"Hanya tujuh?"
"Iya."
Naila segera meneruskan informasi itu kepada petugas pelacak.
Namun angka tujuh saja tidak cukup untuk menentukan lokasi.
Tiba-tiba terdengar bunyi logam dipukul.
Tang!
Rendi langsung berbisik.
"Dia datang."
"Siapa?"
"Saya tidak pernah melihat wajahnya."
Naila membeku.
"Bagaimana bisa?"
"Setiap kali saya sadar, dia selalu memakai topeng."
Petugas pelacak memberi isyarat.
Nomor telepon berasal dari kartu prabayar tanpa identitas.
Lokasinya berpindah-pindah karena sinyal sangat lemah.
Tidak bisa dipastikan.
Naila mencoba membuat Rendi tetap berbicara.
"Kapan Anda diculik?"
"Saya... tidak ingat."
"Terakhir kali mengingat apa?"
"Saya pulang kerja."
"Lalu?"
"Parkiran."
"Itu saja."
Ingatan pria itu seperti terpotong.
Lima menit tersisa.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat.
Rendi bernapas cepat.
"Saya mendengar dia."
"Tenang. Tetap bersama saya."
"Pintu..."
"Ada apa dengan pintunya?"
"Pegangannya bergerak."
Suara logam berderit memenuhi sambungan telepon.
Namun pintu tidak terbuka.
Sebaliknya terdengar langkah menjauh.
Naila merasa ada yang aneh.
Jika pelaku benar-benar ingin membunuh korban, mengapa hanya berdiri di depan pintu?
Seolah sedang menunggu sesuatu.
Empat menit tersisa.
Naila memutuskan mengubah pendekatan.
"Pak Rendi."
"Iya?"
"Saya ingin Anda meraba dinding."
"Untuk apa?"
"Cari sesuatu yang berbeda."
Rendi melakukannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suaranya lagi.
"Ada garis."
"Garis?"
"Seperti sambungan."
"Panjang?"
"Dari lantai sampai langit-langit."
Naila berpikir keras.
Ruangan itu mungkin bukan ruangan permanen.
Mungkin panel.
Atau dinding geser.
"Lihat lantainya."
"Ada rel."
Rel.
Jantung Naila berdetak lebih cepat.
Gudang kontainer.
Ia segera memberi tahu tim lapangan.
Di kota itu hanya ada tiga terminal kontainer besar.
Seluruh patroli bergerak menuju lokasi.
Namun waktu terus berjalan.
Dua menit tersisa.
Suara dengungan tiba-tiba menjadi lebih keras.
Rendi panik.
"Ruangan ini bergerak!"
"Apa?"
"Saya... saya merasa berguncang."
Naila langsung memahami.
"Itu bukan ruangan."
"Lalu?"
"Itu kontainer."
Di ujung ruangan terdengar suara besi dipukul dari luar.
Kontainer sedang dipindahkan.
Jika berhasil masuk ke kapal atau kereta barang, pencarian akan jauh lebih sulit.
Satu menit tersisa.
Petugas lapangan melaporkan bahwa salah satu terminal sedang melakukan pemuatan malam.
Puluhan kontainer berjejer.
Masing-masing hampir identik.
Bagaimana menemukan satu kontainer dalam waktu kurang dari semenit?
Naila menutup mata.
Mengingat kembali semua petunjuk.
Beton.
Lampu putih.
Angka tujuh.
Rel.
Dengungan.
Kemudian satu detail kecil yang hampir terlupakan.
"Pak Rendi."
"Iya..."
"Tadi Anda bilang angka tujuh."
"Iya."
"Warnanya apa?"
"Merah."
Merah.
Di terminal itu, hanya kontainer berpendingin yang diberi nomor merah.
Lampu putih.
Dengungan mesin pendingin.
Semuanya cocok.
Petugas lapangan langsung menyisir deretan kontainer berpendingin.
Nomor tujuh.
Ditemukan.
Namun gemboknya telah dilas.
Mereka memotongnya dengan alat khusus.
Detik demi detik terasa lambat.
Di sisi lain telepon, Rendi mulai menangis.
"Saya tidak mau mati."
Naila menggenggam gagang telepon lebih erat.
"Anda tidak akan sendiri."
Suara besi dipotong menggema.
Lalu...
Brak!
Pintu kontainer terbuka.
Suara petugas terdengar.
"Kami menemukan korban!"
Naila mengembuskan napas lega.
Namun kelegaan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Salah satu petugas berbicara melalui radio.
"Korban selamat."
"Lalu pelakunya?"
"Tidak ada."
"Apa maksudnya?"
"Kontainer terkunci dari luar."
"Pelaku tidak ada di sekitar."
Seminggu kemudian.
Kasus itu menjadi perhatian banyak pihak.
Rendi berhasil selamat.
Namun ia tetap tidak mampu mengingat siapa yang menculiknya.
Rekaman CCTV di area parkir tempat ia terakhir terlihat mendadak hilang tepat pada rentang waktu yang dibutuhkan.
Tidak ada sidik jari selain milik korban.
Tidak ada saksi.
Tidak ada kendaraan mencurigakan.
Penyelidikan menemui jalan buntu.
Naila berusaha melupakan kasus tersebut.
Hingga suatu malam, telepon di mejanya kembali berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya perlahan.
"Halo..."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas.
Kemudian terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Tolong..."
Naila membeku.
Itu suara Rendi.
Namun laporan resmi menyatakan Rendi sedang berada di luar kota untuk menjalani pemulihan.
"Pak Rendi?"
Suara itu berbisik pelan.
"Saya hanya punya delapan menit..."
Sambungan langsung terputus.
Naila segera menghubungi nomor Rendi.
Ponselnya aktif.
Rendi menjawab dengan suara bingung.
"Saya sedang di rumah sakit. Ada apa?"
Naila terdiam.
Kalau begitu...
Siapa yang baru saja meneleponnya?
Ia perlahan membuka laci mejanya untuk mengambil berkas lama kasus tersebut.
Di dalam map, ia menemukan secarik foto kontainer nomor tujuh yang belum pernah benar-benar ia perhatikan.
Pada sisi belakang pintu kontainer terdapat sebuah simbol kecil berbentuk lingkaran dengan tujuh garis mengarah ke luar.
Simbol yang tidak tercantum pada laporan resmi.
Malam itu juga, ketika hendak menyerahkan foto tersebut kepada penyidik, lampu di ruang operator berkedip sesaat.
Komputer di mejanya menyala sendiri.
Layar yang semula kosong menampilkan satu kalimat tanpa ada seorang pun yang mengetik.
"Kasus pertama sudah selesai. Masih ada enam."
Naila menatap layar tanpa berkedip.
Di sudut kanan bawah monitor, jam digital kembali menghitung mundur.
08:00... 07:59... 07:58...