Di kantor itu orang-orang diam-diam memanggilnya Ahli Sihir.
Bukan karena ia mampu mengubah batu menjadi emas atau membaca mantra kuno, melainkan karena hampir setiap persoalan yang tampak mustahil selalu berakhir di mejanya. Berkas yang bertahun-tahun mangkrak menjadi selesai. Konflik antardivisi yang menguras tenaga mendadak menemukan jalan damai. Klien yang keras kepala pulang dengan senyum ramah. Seolah-olah lelaki itu memiliki sihir yang tidak dimiliki orang lain.
Padahal sihirnya sederhana, ia hanya mampu mendengarkan lebih baik daripada orang lain dan berpikir lebih jernih ketika semua orang mulai panik.
Sayangnya, kemampuan seperti itu jarang dihargai di rumahnya sendiri.
Istrinya berasal dari keluarga yang tidak pernah mengenal kata kekurangan. Sejak kecil perempuan itu hidup dalam rumah besar dengan pagar tinggi, pembantu yang banyak, dan keyakinan bahwa uang selalu menjadi ukuran paling masuk akal untuk menilai seseorang.
Pernikahan mereka lahir dari perhitungan keluarga, bukan dari cinta.
Selama bertahun-tahun lelaki itu diperlakukan seperti tamu yang kebetulan tinggal serumah. Ia memperoleh segala fasilitas, kecuali kehangatan.
Perempuan itu tidak pernah benar-benar memandangnya sebagai laki-laki yang pantas dikagumi. Di matanya, suaminya hanyalah orang biasa yang kebetulan berhasil masuk ke dalam keluarganya.
Tapi lelaki itu tidak pernah membalas dengan kemarahan, ia justru semakin tenggelam dalam pekerjaannya.
Menurutnya kesepian ternyata lebih mudah dihadapi ketika seseorang memiliki banyak pekerjaan.
Ironisnya, justru di kantor banyak perempuan mulai memperhatikannya.
Mereka tidak jatuh cinta pada wajahnya. Ketampanan lelaki itu bahkan bukan jenis yang mudah dipuja, namun yang membuat orang sulit berpaling adalah ketenangannya. Ia tidak pernah berbicara keras, tidak pernah tergesa-gesa mengambil keputusan, dan tidak pernah membuat orang lain merasa bodoh.
Ada sesuatu yang bikin tenang jika berada di dekatnya.
Di antara mereka terdapat seorang perempuan senior yang usianya beberapa tahun lebih tua. Pengalamannya panjang, kecerdasannya tidak diragukan, tetapi ia mulai menyadari bahwa lelaki itu memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah ia temukan pada laki-laki lain.
Perhatian yang selama ini dianggapnya sebagai "kemewahan" yang sulit di dapatkannya dari para laki-laki lain.
Perempuan itu beberapa kali mencoba mendekatinya dengan cara-cara yang tidak terang-terangan. Ia selalu mencari alasan untuk pulang bersama setelah lembur. Kadang sebuah kecupan singkat di pipi menjadi permainan kecil yang menurutnya cukup untuk menguji hati lelaki itu.
Namun setiap kali itu terjadi, lelaki tersebut hanya tersenyum tanpa beban. Di dalam pikirannya, ciuman hanyalah sihir paling tua yang pernah ditemukan manusia. Banyak laki-laki kehilangan akal sehat hanya karena benda sesederhana sepasang bibir.
Ia tidak ingin menjadi korban sihir yang sama.
Hubungan mereka berhenti pada batas yang tidak pernah dilanggar. Perempuan senior itu mulai memahami bahwa tidak semua laki-laki dapat dibujuk oleh rasa sepi.
Sementara itu, di rumah, istrinya mulai gelisah, bukan karena cinta, melainkan karena memiliki naluri sebagai perempuan.
Ia sering melihat suaminya pulang dengan wajah tenang setelah bekerja bersama perempuan senior itu. Tidak ada bukti apa pun yang mengarah pada perselingkuhan atau hubungan asmara yang mencemaskan rumah tangganya, tetapi kecemburuan tidak pernah membutuhkan bukti. Ia tumbuh dari ketakutan kehilangan, sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar dimiliki selama ia menikah dengan laki-laki itu.
Semakin cemburu, semakin dingin pula sikapnya, seolah-olah harga diri lebih penting daripada kebahagiaan.
Tanpa seorang pun menyadari, perhatian lelaki itu justru tertuju kepada orang yang sama sekali tidak diperhitungkan.
Perempuan muda yang bertugas mendampingi istrinya ke mana pun pergi, ia hanyalah pegawai biasa yang bukan berasal dari keluarga kaya seperti ekosistemnya sekarang. Perempuan itu juga tidak memiliki jabatan, dan tak pernah punya tendensi apapun yang mengarah pada usaha untuk menarik perhatian siapa pun.
Tetapi setiap kali lelaki itu pulang larut malam dan menemukan perempuan tersebut masih menunggu majikannya selesai menghadiri berbagai acara, ia selalu menyempatkan membawa dua gelas kopi.
Malam-malam yang panjang perlahan berubah menjadi kebiasaan, mereka berbagi kesunyian yang sama, tanpa perlu harus membuat janji, begitu juga dengan bentuk hubungannya yang tidak ada pengakuan.
Tidak ada keramaian yang biasa menyertai kisah cinta, hanya dua orang yang sama-sama lelah menghadapi dunia.
Bagi perempuan sederhana itu, perhatian sekecil apa pun terasa seperti anugerah yang tidak pernah dimintanya. Ia tidak mengejar lelaki tersebut, tidak menuntut apa pun, bahkan tidak pernah berharap menjadi pusat hidupnya.
Justru karena tidak menuntut itulah ia memperoleh sesuatu yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain.
Kepercayaan.
Di dekat perempuan itu, lelaki tersebut tidak perlu menjadi Ahli Sihir, ia merasa bisa menjadi manusia biasa yang lelah.
Waktu berjalan tanpa suara.
Satu demi satu keberhasilan lelaki itu mulai dikenal banyak orang. Namanya muncul di berbagai forum bisnis. Pendapatnya dicari, keputusannya menjadi rujukan dan orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata kini mulai menyebutnya sebagai orang paling cerdas yang pernah mereka temui.
Barulah pada saat itu istrinya melihat sesuatu yang selama ini luput dari matanya, ternyata selama bertahun-tahun ia hidup bersama seorang lelaki luar biasa, bukan karena kekayaan atau jabatan. Tapi karena kecerdasan yang mampu mengubah banyak kehidupan.
Perempuan itu mulai jatuh cinta, untuk pertama kalinya, kepada suaminya sendiri.
Sayangnya, cinta selalu datang mengikuti waktu yang aneh. Ia datang ketika penghargaan seharusnya sudah diberikan sejak lama, justru ketika lelaki itu telah belajar hidup tanpa mengharapkan kehadirannya seperti dulu yang selalu dirindukannya sejak awal menikahinya.
Cinta dan sayang itu datang setelah bertahun-tahun kesepian mengajari suaminya bahwa hati yang terus diabaikan akhirnya akan berhenti menunggu.
Orang-orang tetap memanggil lelaki itu Ahli Sihir, bukan dalam arti sihir yang sebenarnya.
Mereka mengira keajaibannya adalah kemampuannya menyelesaikan masalah orang lain, padahal sihir terbesar yang dimilikinya adalah membuat banyak perempuan menyadari nilai seorang lelaki, hanya setelah mereka hampir kehilangan kesempatan untuk benar-benar mencintainya.