Gerimis musim gugur tidak pernah benar-benar selesai membasuh dinding batu Noctivale University. Di bawah bayang-bayang arsitektur gothic yang menjulang angkuh, udara selalu terasa membawa aroma tanah basah, lilin tua, dan rahasia yang terkunci rapat. Evelynn Hart merapatkan mantel wolnya, menatap nanar ke arah menara jam yang sebentar lagi akan membelah sunyi malam. Sebagai mahasiswi pindahan yang beruntung, atau mungkin sial, mendapatkan beasiswa penuh di kampus paling bergengsi di Eropa ini, ia segera menyadari satu hal. Noctivale bukan tempat untuk sekadar menuntut ilmu, melainkan sebuah labirin masa lalu yang hidup.
Insomnia kronis yang dideritanya sejak remaja menjadi kutukan sekaligus penuntun. Ketika seluruh asrama telah tenggelam dalam mimpi, Evelynn melangkah menyusuri koridor yang remang, menuju perpustakaan tua di ujung sayap barat. Tempat itu adalah suaka bagi jiwanya yang gelisah. Di antara ribuan aroma buku bersampul kulit dan deretan rak kayu ek yang menjulang hingga ke langit-langit, ia merasa aman. Setidaknya sampai jarum jam dinding berdentang dua belas kali.
Tepat pada detak terakhir tengah malam, keheningan perpustakaan itu pecah oleh langkah kaki yang lambat dan beraturan. Dari balik kegelapan barisan buku terlarang, muncul seorang pemuda. Lucien Devereux. Ketua organisasi akademik eksklusif yang penampilannya selalu tampak begitu anggun sekaligus mengintimidasi. Mantel hitamnya terpotong rapi, dan sepasang tangannya selalu terbungkus sarung tangan kulit hitam yang lekat. Semua orang di Noctivale mengenal namanya dalam bisikan penuh ketakutan. Ia adalah pewaris tunggal dinasti kuno yang mendanai universitas ini, seorang jenius manipulatif yang konon memegang kendali atas setiap jengkal tanah kampus.
Anehnya, Lucien tidak pernah mengusir Evelynn. Pria itu justru melangkah mendekat, lalu mengambil tempat duduk di seberang meja kayu tempat Evelynn biasa membaca. Sepasang mata gelap milik Lucien menatapnya, begitu dalam dan pekat, seolah pria itu tidak sedang melihat seorang asing, melainkan seseorang yang telah ia tunggu selama berabad-abad lamanya.
"Selamat malam, Evelynn," suara Lucien mengalun rendah, memecah kesunyian dengan intonasi yang begitu tenang namun sanggup menggetarkan udara di sekitar mereka. "Kau masih terjaga seperti biasa."
Evelynn menahan napas sejenak, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya yang sedang memegang pucuk selembar surat tua, salah satu dokumen kuno yang gemar ia koleksi dari sudut-sudut perpustakaan ini. "Mengapa kau selalu muncul tepat di tengah malam, Lucien?" tanyanya dengan keberanian yang dipaksakan.
Lucien hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang dingin tanpa menyentuh matanya. "Karena tengah malam adalah waktu di mana kebenaran tidak lagi bisa bersembunyi di balik riuh siang hari. Dan di tempat ini, kebenaran adalah komoditas yang sangat mahal."
Hari-hari berikutnya bergulir bagai kabut yang semakin tebal. Hubungan mereka berkembang dalam balutan keheningan malam yang intens. Lucien adalah sosok yang penuh teka-teki, posesif melalui caranya mengawasi Evelynn dari kejauhan, namun selalu menjaga jarak yang penuh kalkulasi saat mereka bertatapan langsung. Di balik pesonanya yang mematikan, Evelynn merasakan ada seikat trauma mendalam yang mengikat pundak pemuda itu, sebuah beban keluarga yang teramat berat.
Namun, rasa penasaran Evelynn yang keras kepala tidak bisa diredam. Di sela-sela waktu luangnya, ia mulai mendengar desas-desus kelam mengenai sebuah perkumpulan rahasia bernama The Obsidian Circle. Mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dikabarkan kerap menghilang secara misterius setiap beberapa tahun sekali, meninggalkan catatan akademis yang mendadak dihapus bersih dari sistem universitas. Kampus mengklaim mereka mengundurkan diri atau pindah secara mendadak, tetapi atmosfer Noctivale yang kian mencekam menyiratkan hal yang jauh lebih mengerikan.
Suatu malam, badai melanda kota kecil itu dengan ganas. Hujan deras menghantam jendela kaca patri perpustakaan, menciptakan simfoni yang selaras dengan musik klasik yang samar-samar terdengar dari gedung utama tempat pesta topeng tahunan universitas sedang berlangsung. Evelynn memilih tidak hadir. Ia berada di sana, di sudut terdalam perpustakaan, memegang sebuah petunjuk yang ia temukan dari untaian surat tua yang berhasil ia satukan selama berminggu-minggu.
Surat-surat itu menunjuk pada sebuah mekanisme tersembunyi di balik rak buku bagian teologi. Dengan tangan gemetar, Evelynn menarik sebuah tuas kayu yang menyamar sebagai ornamen dinding. Terdengar suara gesekan batu yang berat, dan sebuah pintu rahasia perlahan terbuka, menyingkap tangga batu yang melingkar turun ke dalam kegelapan lorong bawah tanah.
Didorong oleh rasa ingin tahu yang membakar, Evelynn menyalakan sebatang lilin kecil dan mulai melangkah turun. Udara di bawah sana terasa sangat dingin dan berbau apak khas ruang bawah tanah yang tidak pernah tersentuh matahari. Langkah kakinya menggema pelan saat ia menyusuri lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lambang lingkaran hitam berbahan batu obsidian asli.
Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan arsip kuno yang luas. Di tengah ruangan, sebuah meja altar batu berdiri dikelilingi oleh jubah-jubah hitam yang tergantung rapi. Evelynn mendekati deretan lemari kayu tempat dokumen-dokumen penting disimpan. Tangannya bergerak acak, hingga jemarinya menyentuh sebuah buku besar bersampul kulit buaya dengan lambang The Obsidian Circle di depannya. Itu adalah arsip kematian universitas.
Evelynn membuka halaman demi halaman dengan napas yang memburu. Di sana tercatat nama-nama mahasiswa beserta tanggal kematian mereka yang selalu bertepatan dengan malam titik balik matahari. Namun, jantungnya seakan berhenti berdetak ketika ia sampai pada halaman terakhir yang sudah terisi.
Di sana, tertulis dengan tinta merah yang telah mengering nama Evelynn Hart. Di bawah namanya, tertera tanggal lahir dan sebuah kolom tanggal kematian yang persis menunjuk pada malam ini, malam titik balik matahari musim gugur. Yang paling mengerikan adalah fakta bahwa dokumen itu telah dibuat dan ditandatangani puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum ia sendiri dilahirkan ke dunia.
"Kau seharusnya tidak turun ke sini, Evelynn."
Evelynn tersentak hebat hingga lilin di tangannya hampir terjatuh. Ia membalikkan badan dan menemukan Lucien sedang berdiri di ambang pintu kegelapan. Pemuda itu mengenakan setelan formal hitam lengkap dengan topeng beludru yang sengaja ia sangkutkan di sisi wajahnya. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi oleh kesedihan yang teramat dalam.
"Apa arti semua ini, Lucien? Mengapa namaku ada di sini?" tanya Evelynn dengan suara yang bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Lucien melangkah maju, melepaskan sarung tangan kulit hitamnya untuk pertama kali, memperlihatkan jemarinya yang pucat namun kokoh. Ia menyentuh lembut pipi Evelynn yang dingin. "Kau adalah keturunan langsung dari keluarga pendiri tempat ini, Evelynn. Garis darahmu mengalirkan hak istimewa yang sekaligus menjadi kutukan terbesar."