Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
7
Kuyang
Horor
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Tok… Tok… Tok…

Tepat tengah malam, sebuah ketukan terdengar di pintu depan sebuah rumah kayu. Pelan, namun ritmis.

Tak ada jawaban. Ketukan itu berubah dari pelan menjadi gedoran yang lebih keras dan terdengar tidak sabar. 

Di balik kegelapan teras rumah, berdirilah seorang wanita paruh baya tetangga sebelah desa. Wajahnya tampak biasa saja, mengenakan baju rumahan yang basah kuyup terkena tampias hujan. 

Namun, jika seseorang melihatnya lebih dekat, matanya merah bergerak liar dan napasnya memburu guna mengendus aroma darah segar dari bayi yang bahkan belum lahir.

“Dila, buka pintunya nak… Ibu mau mengantar jamu…” suaranya merayu, terdengar serak dan bergetar kelaparan.

Lidahnya yang panjang sesekali terjulur tanpa sadar, mengecap udara malam yang dingin. Karena tidak ada sahutan, wanita itu berjalan memutari rumah mencoba mengintip dari celah dinding kayu yang sempit. Kosong. Bau darah bayi itu mendadak menguap, berganti aroma debu rumah yang kosong ditinggal penghuninya.

Seharusnya ia terbang mencari mangsa dan tidak harus menggedor pintu rumah kosong. Namun malam ini, entah karena mendung yang terlalu pekat atau perlindungan magis di sekitar desa, ia terpaksa berjalan dengan wujud manusianya. Menyusuri tanah basah demi memburu aroma paling lezat di dalam rahim Dila.

12 jam perjalanan dari desa, Dila akhirnya merasakan kehangatan di ruang tamu ibu mertuanya.

“Minum dulu, Dila. Kamu aman di sini. Di kota tidak ada hal-hal aneh seperti di desa,” ujar sang mertua lembut sambil mengusap perut buncit menantunya.

Dila tersenyum menanggapi. Namun belum sempat menarik nafas lega, sebuah pesan singkat masuk di ponselnya. 

“Rumahmu kosong, Dila…. Tapi bau bayimu tertinggal di jok mobil suamimu. Tunggu kedatanganku…”

Tepat saat Dila selesai membaca pesan itu, lampu ruang tamu tiba-tiba berkedip kemudian mati total. Samar-samar dari arah halaman rumah depan sang mertua tercium bau busuk, disusul dengan suara ketukan pintu yang sangat pelan.

Tok… Tok… Tok…

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)