Sebuah jari telunjuk yang tampak putih pucat dan dingin sedang menekan tombol keyboard dengan sekuat tenaga, menimbulkan suara keras dan jelas di ruang kamar yang sempit dan remang. Sebuah tanda titik di akhir kata TAMAT, dengan tegas menggambarkan perasaan penulis yang pada akhirnya mampu menuturkan kisah yang panjang penuh luka di dadanya.
Perasaan lega dan puas memenuhi hati S, seorang pria muda yang mengurung diri berhari-hari demi untuk menyelesaikan memoar yang ditulisnya. Kisah yang awalnya sulit tak menemukan akhir cerita karena rasa sesak dan perih, kini mampu S tutup dengan ucapan terimakasih karena sudah mampir membaca bersama hilangnya bisikan-bisikan di kepalanya.
Kisah yang ia tulis tidak biasa, ada kisah nyata yang menyakitkan penuh trauma di dalamnya. S kecil yang tersisihkan keluarga, dihabisi mental dan raganya oleh teman sebayanya, dan jiwa laki-lakinya hilang lenyap oleh seseorang yang selama ini ia percaya.
S menghembuskan nafas pelan, seakan sebuah beban berat telah lepas dari pundaknya, tubuhnya tidak sakit lagi. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, bergerak beranjak ingin menyambut sang mentari yang hangat menyapa.
Tubuh S tiba-tiba membeku, namun terasa ringan seperti bulu. Matanya terbelalak terpaku, di sudut kamar yang kotor dan bau, tergeletak tubuh seseorang yang sudah terbujur kaku.
Lantai merah penuh genangan darah, sebuah belati tergeletak membisu di sebelahnya. Goresan luka di tangan pria kaku itu, sama dengan goresan luka di tangan S.
S menoleh pelan, menatap nanar pintu kamarnya yang digedor berkali-kali dari luar.
Terdengar sayup tangisan wanita, meraung-raung tanpa henti sambil memanggil namanya.