Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
11
Enam Menit Sebelum Tengah Malam
Thriller
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu seharusnya berjalan biasa.

Kota Amerta masih ramai. Kafe-kafe dipenuhi pelanggan, kendaraan memenuhi jalan utama, dan hujan tipis membuat aspal memantulkan cahaya lampu jalan.

Tepat pukul 23.54, semua telepon genggam di kota itu berbunyi bersamaan.

Bukan pesan dari aplikasi.

Bukan peringatan cuaca.

Melainkan notifikasi tanpa pengirim.

"Enam menit lagi seseorang akan mati. Jika ingin menyelamatkannya, temukan orang itu sebelum pukul 00.00."

Sebagian orang menganggapnya lelucon.

Sebagian menghapus pesannya.

Sebagian lagi mengunggah tangkapan layar ke media sosial.

Hanya sedikit yang benar-benar panik.

Di antara mereka adalah Dimas, seorang operator pusat panggilan darurat.

Dalam waktu kurang dari satu menit, ruang kerjanya dipenuhi telepon.

"Pak, ini benar tidak?"

"Ada ancaman bom?"

"Harus bagaimana?"

Tak ada jawaban.

Tidak ada informasi lain.

Hanya pesan itu.

---

Pukul 23.56.

Sistem kamera lalu lintas kota tiba-tiba mati.

Semua layar di ruang pemantauan berubah hitam.

Teknisi berusaha menghidupkannya kembali.

Gagal.

Seseorang seolah telah mengambil alih seluruh jaringan kota.

Kemudian layar-layar itu menyala lagi.

Namun bukan menampilkan jalan.

Melainkan hitungan mundur.

03:59

Tak ada suara.

Tak ada penjelasan.

Hanya angka yang terus berkurang.

---

Di sisi lain kota, jurnalis investigasi bernama Raina juga menerima pesan yang sama.

Nalurinya mengatakan ini bukan kebetulan.

Dua minggu sebelumnya ia sedang menyelidiki kelompok anonim yang gemar menciptakan permainan psikologis di internet.

Kelompok itu dikenal dengan nama Noktis.

Mereka tidak mencuri uang.

Tidak meminta tebusan.

Mereka hanya senang melihat manusia saling mencurigai ketika rasa takut mengambil alih.

Raina segera menghubungi Dimas.

Mereka pernah bekerja sama dalam sebuah kasus.

"Apa yang sedang terjadi?"

"Seluruh kota lumpuh."

"Pesan itu?"

"Masuk ke semua nomor."

"Ini bukan ulah orang iseng."

"Aku juga berpikir begitu."

---

Pukul 23.57.

Telepon baru masuk.

Suara pria.

Tenang.

Nyaris tanpa emosi.

"Kalian masih punya tiga menit."

"Siapa ini?"

"Bukan pertanyaan yang penting."

"Lalu apa yang penting?"

"Korban masih hidup."

Klik.

Sambungan terputus.

---

Dimas memperbesar rekaman suara.

Di belakang suara pria itu terdengar bunyi kereta melintas.

Lalu lonceng logam.

Dan suara burung.

Raina langsung mengenalinya.

"Itu kawasan stasiun tua."

"Malam-malam masih ada burung?"

"Bukan burung liar."

"Apa maksudmu?"

"Di dekat stasiun ada pasar burung malam."

Mereka segera berangkat.

---

Perjalanan hanya delapan menit.

Masalahnya...

Mereka hanya memiliki dua menit.

Mobil melaju menerobos hujan.

Sirene meraung.

Jalanan dipenuhi kendaraan yang berhenti sembarangan karena pengemudinya sibuk membaca pesan misterius.

Setiap detik terasa semakin berat.

---

Pukul 23.59.

Mereka tiba.

Pasar sudah tutup.

Stasiun tua tampak kosong.

Namun dari salah satu gudang terdengar suara benturan.

Dimas mendobrak pintu.

Gelap.

Bau besi.

Dan sebuah kursi.

Di atas kursi duduk seorang pria tua dengan tangan terikat.

Di dadanya terpasang alat penghitung waktu.

00:00:12

Sebelas detik.

Sepuluh.

Sembilan.

Raina mencari kabel.

Merah.

Biru.

Kuning.

Tidak ada petunjuk.

Pria tua itu hanya menggeleng sambil menangis.

---

Delapan detik.

Dimas memperhatikan alat itu.

Bukan bom.

Melainkan alat pemicu listrik.

Jika waktu habis, arus listrik bertegangan tinggi akan mengalir.

Tujuh detik.

Ia menemukan baterai utama.

Enam.

Lima.

Dengan obeng kecil dari gantungan kunci, ia mencabut penguncinya.

Empat.

Tiga.

Baterai terlepas.

Layar padam.

Gudang menjadi sunyi.

Pria tua itu selamat.

---

Mereka belum sempat bernapas lega ketika ponsel kembali berbunyi.

Pesan kedua muncul.

"Selamat. Kalian menyelamatkan yang pertama."

"Masih ada empat."

Raina menatap layar.

"Apa?"

Belum selesai membaca, notifikasi berikutnya datang.

Hitungan mundur baru.

Enam menit.

Lagi.

---

Kini seluruh kota panik.

Orang-orang mulai saling mencurigai.

Beberapa melaporkan anggota keluarganya hilang.

Sebagian lain mengira mereka sedang menjadi target.

Rumor menyebar lebih cepat daripada informasi resmi.

Rumah sakit dipenuhi orang yang ingin mencari perlindungan.

Jalanan macet total.

Ketakutan berubah menjadi kekacauan.

Dan itulah yang sebenarnya diinginkan pelaku.

---

Dimas dan Raina akhirnya menyadari pola tersebut.

Korban bukan dipilih secara acak.

Semuanya adalah mantan anggota tim penelitian keamanan digital yang pernah membongkar jaringan Noktis bertahun-tahun lalu.

Seseorang sedang membalas dendam.

Daftar korbannya ada lima orang.

Pria tua di gudang adalah yang pertama.

Empat lainnya masih hidup.

Tetapi waktu terus berjalan.

---

Mereka bekerja tanpa henti hingga menjelang fajar.

Korban kedua ditemukan di gedung parkir.

Korban ketiga di ruang bawah tanah perpustakaan lama.

Korban keempat berhasil diselamatkan di dalam lift yang sengaja dimatikan.

Setiap lokasi selalu menyisakan teka-teki baru.

Selalu ada hitungan mundur.

Selalu hanya enam menit.

Dan setiap keberhasilan selalu diikuti pesan berikutnya.

Seolah pelaku sedang menikmati permainan itu dari balik layar.

---

Korban terakhir adalah seorang perempuan bernama Siska.

Mantan ahli enkripsi.

Ia menghilang tanpa jejak.

Satu-satunya petunjuk adalah pesan terakhir di layar ponselnya.

"Kadang tempat paling aman justru berada tepat di depan mata."

Raina tiba-tiba berhenti.

"Dimas."

"Apa?"

"Ruang kendali."

"Maksudmu?"

"Selama ini kita mencari keluar."

"Padahal?"

"Pelakunya mungkin berada di pusat kendali kota."

Mereka berlari menuju gedung pengendali jaringan lalu lintas.

Benar saja.

Di ruang server, mereka menemukan Siska terikat.

Di depannya duduk seorang pria muda menghadap puluhan monitor.

Ia tidak melawan.

Ia bahkan tersenyum.

"Akhirnya."

"Kau Noktis?"

"Aku hanya penerusnya."

"Kenapa melakukan semua ini?"

Pria itu menatap layar yang memperlihatkan kepanikan seluruh kota.

"Karena rasa takut menyebar lebih cepat daripada virus."

"Kau hampir membunuh lima orang."

"Tidak."

"Kalian yang memilih siapa yang akan diselamatkan."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

---

Pelaku akhirnya ditangkap.

Seluruh jaringan dipulihkan.

Korban berhasil diselamatkan.

Media menyebut malam itu sebagai Malam Enam Menit.

Orang-orang perlahan kembali menjalani hidup seperti biasa.

Namun beberapa minggu kemudian, ketika semua mulai melupakan kejadian itu, Dimas menerima sebuah amplop tanpa nama.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas.

"Permainan pertama berhasil."

Di bawah tulisan itu terdapat gambar sederhana.

Jam analog.

Jarumnya menunjuk pukul 23.54.

Persis waktu ketika semua dimulai.

Di balik kertas terdapat satu kalimat yang ditulis dengan tinta merah.

"Yang tertangkap hanya pemain. Pembuat permainannya belum pernah kalian temukan."

Dimas menatap jam dinding di ruang kerjanya.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suara detik jam terdengar jauh lebih mengerikan daripada suara ledakan.

Karena ia sadar...

Ada seseorang di luar sana yang masih menghitung waktu.

Dan mungkin, suatu malam nanti, hitungan mundur itu akan dimulai lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi