Di suatu tempat yang aku sebut rumah, aku kerap melakukan hal yang tak disukai orang lain: mengamati dari balik jendela. Tenang suasananya, tanpa interupsi siapa pun. Hanya di waktu sore, sering terdengar denting mangkuk yang ritmis dari pedagang mi ayam.
Duniaku sangat berbeda dari tampilan luar. Orang-orang menyebutku kulkas Samsung dua pintu. Jangan lupa ada layar sentuhnya juga.
Mengapa saat mereka tahu bahwa aku ini seperti kulkas, bukannya dibuka dan dilihat isinya, aku justru dipaksa untuk membuka diri sendiri? Permintaan mereka untuk mengadakan fitur pintu buka-tutup otomatis sangatlah tak masuk akal.
Lagipula, bukankah kulkas diciptakan untuk diam di tempatnya? Orang-orang yang penasaran tinggal datang mendekat.
Aku menoleh ke jendela — bapak-bapak berkemeja cokelat muda yang biasa jaga di depan kompleks itu menjadi langganannya. Dua orang duduk di kursi plastik kecil seraya menunggu semangkuk mi. Lazim sekali orang-orang makan sore-sore dengan sesuatu yang hanya ada di depan mata.
Beberapa kucing berlarian seolah mengejar mangsa imajiner. Aku berharap kucing-kucing itu diberi makan nanti. Walau kupikir lagi, bapak-bapak itu bahkan belum selesai memberi makan diri sendiri.
Salah satu kucing berhenti di dekat pos, mengendus sandal seorang penjaga, lalu pergi begitu saja seolah kecewa. Mungkin ia juga tengah menunggu sesuatu.
Dari arah gerbang kompleks, spesimen berambut panjang dengan jas blazer mendekati gerobak mi ayam. Di belakangnya, kucing-kucing domestik memandangnya lugu. Fenomena menarik.
Aku tak perlu repot menaruh asa pada sekumpulan bapak-bapak itu untuk memberinya secuil daging ayam.
"Gadis yang menawan, ekhem," serak, anjir, lupa minum air putih.
***
Sore di esok hari, aku masih menunggu dan menatap jendelaku lagi. Kali ini aku membawa segelas air putih dingin. Aku tak sanggup meminumnya dulu, gigiku bisa-bisa berontak saat tersentuh air dingin.
Menit-menit berlalu, pedagang mi ayam belum datang dari penjuru.
Hening. Tak ada denting mangkuk, tak ada suara kucing. Yang jelas, belum ada yang membawa kucing-kucing itu kemari.
Sial, ke mana pedagang itu? Aku takkan bisa mengenali wajahnya yang menawan jika gerobak itu absen.
Beberapa pedagang hanya melintas, tak ada satu pun yang benar-benar berhenti menyetor muka di depan pos penjaga. Mungkin ini bukan harinya berjualan, atau ia sudah memiliki tempat yang lebih masuk akal secara ekonomi.
Tiba-tiba gadis berjas blazer kembali berdiri di depan pos, pandangannya melayang ke sana kemari. Lantas apa yang kau harapkan, jika pedagang itu tak jadi datang? Kucing-kucing mungkin kelaparan, begitu pula denganmu. Di sini, aku hanya bisa berdoa agar pedagang itu sudi menyetor muka di hadapanmu.
Tak kusangka, yang datang justru pedagang nasi goreng berkumis. Tak apa, walau selisih dua ribu masih lebih baik ketimbang tak makan sama sekali. Dengan jelas aku mengamati pedagang itu memotong-motong daging yang masih segar. Sepertinya gadis blazer itu membeli seporsi nasi goreng dengan suiran ayam.
Seekor kucing belang menggesekkan tubuhnya ke ujung sepatu gadis itu. Ia langsung berjongkok tanpa ragu, mengusap kepala si belang pelan-pelan.
Hmmm. Ternyata prosedur kepada semua makhluk hidup sama. Bisakah aku tahu warna matanya? Tentu saja mata kucing belang itu.
Mengamatinya dari dalam sini adalah batas aman yang masuk akal bagi seorang pengamat ahli. Meski setelah kupikir lagi, aku juga bukan ahli. Aku hanya kebetulan punya jendela.
Setelah selesai, rupanya ia memberi pedagang berkumis itu lebih lima ribu. Negosiasi yang masuk akal. Aku siap memberikan fitur pintu buka-tutup otomatis kalau begitu.
***
Hari ketiga aku berada di luar jendela, dinginnya angin menampar wajahku. Cuaca hari ini sedang bersahabat tentunya.
Tenang. Aku hanya sedang melakukan observasi ilmiah terhadap pola migrasi kucing domestik. Siapa tahu yang warna hitam lebih dulu mengendus sepatu cokelatnya itu.
Aku juga punya satu liter air hasil belanja di warung Madura satu jam lalu.
Aroma kuah dan tepung dari jauh sudah terasa — gerobak biru mi ayam itu kembali.
Saat pedagang itu mendekati pos, aku merogoh beberapa uang sisa belanja tadi di saku celana. Terdapat dua puluh ribu dalam genggaman, membuatku ingin membeli mi ayamnya.
Aku mendekati pos penjaga. Kali ini tiga penjaga kompleks siap menyerbu mi kuah hangat, serta mereka menyiapkan sebungkus kerupuk oranye di genggaman salah satu penjaga. Kerupuk? Sungguh?
Tanpa basa-basi aku menyela antrean bapak-bapak penjaga kompleks. "Bang, pesen satu, dibungkus."
"Pedes nggak?"
"Gausah..."
Lantas si Abang mi ayam membuka dandang, asap mengepul hangat menembus kulit, sekilas menutupi pandanganku dari dunia luar.
Saat aku melangkah mundur karena asap yang menusuk hidung, mataku menoleh ke arah gerbang kompleks. Si gadis blazer itu datang, duduk di sadel belakang motor mendekati gerobak ini.
Tapi... dengan siapa ia bersama?
Helm hitam asli pabrik motor, mengenakan jaket hijau, dan berhenti tepat di sebelah gerobak mi ayam.
Rupanya tukang ojek.
Gadis itu turun sambil menggendong anak kucing berwajah lugu — seolah kucing itu adalah bayi manusia.
Terlintas di benakku ingin menambah satu pintu kulkas hanya untuk kucing di pelukannya itu. Tidak, tidak. Terlalu mahal biaya perawatannya, aku tak siap membayar tagihan hanya karena engselnya berkarat dimakan usia—
"Bang, pesen satu bungkus, ya." sahut si gadis.
"Eh, Mbak yang kemarin ya. Dari mana aja?"
"Iya, Bang, abis dari kantor."
Aku juga hafal wajah-wajah kucing di sini, bukan hanya si Abang mi ayam saja. Tapi aku tak tahu persis di mana kantornya berada. Maksudku, kucing selalu punya teritori yang dikuasainya, bukan?
"Lucu banget kucingnya," ujarku sambil membuka tutup botol air mineral satu liter. "Namanya siapa kalau boleh tau?"
Percayalah, aku hanya melakukan pencatatan administratif terhadap populasi lokal.
"Belum punya, Mas, nemu di jalan tadi. Masnya mau kasih nama?"
"Sayang aja, gimana?" brengsek nih mulut.
Gadis berjas blazer tertawa kecil menatapku, tangannya menutupi mulut, pipinya berubah kemerahan. Tau-tau suhu di kulkas ini naik lima derajat, padahal yang tadi menembus kulitku hanya kepulan asap dari dandang mi ayam.
Anak kucing itu menguap kecil, lalu tertidur di pelukannya.
Beruntung sekali.
Maksudku...
Kucingnya.
Aku akhirnya tahu warna matanya. Tapi tetap saja aku tak bisa menjelaskan warnanya. Yang jelas, saat ia tertawa, warnanya ikut berubah.