Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
8
Mereka yang Menang Setiap Malam
Drama

Jam dua dini hari selalu terdengar seperti hujan yang lupa pulang.

Bukan karena ada air jatuh dari langit, melainkan bunyi jemari Aldi yang menari di layar ponselnya—cepat, gugup, penuh harap. Dari kamar sempit kontrakannya, cahaya biru memantul di matanya yang merah. Sesekali terdengar desahan kecil, kadang umpatan lirih, kadang tawa pendek yang dipaksa lahir.

“Ayo… sekali lagi.”

Kalimat itu sudah menjadi doa sekaligus kutukan.

Di luar, istrinya sedang tertidur di ruang depan bersama putri kecil mereka yang baru berusia lima tahun. Kasur tipis itu tak pernah cukup hangat sejak tagihan listrik mulai menunggak dan tabung gas harus dihemat. Namun Aldi merasa semuanya akan segera berubah. Ia hanya butuh satu kemenangan besar.

Satu saja.

Begitulah semuanya dimulai enam bulan lalu.

Awalnya sederhana. Seorang teman kantor memperlihatkan saldo rekening yang mendadak berisi belasan juta rupiah.

“Gampang, Di,” katanya sambil tertawa. “Main kecil dulu. Lama-lama ngerti polanya.”

Polanya.

Manusia memang makhluk yang rela percaya bahwa keberuntungan bisa dipelajari seperti rumus matematika.

Malam pertama, Aldi menang dua ratus ribu. Malam kedua, satu juta. Rasanya seperti menemukan pintu rahasia di tengah hidup yang seret. Ia mulai membayangkan cicilan lunas, rumah sederhana untuk istrinya, sepeda baru untuk putrinya.

Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia merasa lebih besar daripada nasibnya sendiri.

Ia mulai bermain diam-diam di toilet kantor, di warung kopi, bahkan ketika istrinya sedang bercerita tentang anak mereka yang mulai bisa membaca. Kepalanya selalu dipenuhi angka-angka berputar seperti roda takdir.

Dan judi online punya satu kemampuan yang tidak dimiliki narkoba ataupun alkohol.

Ia membuatmu merasa pintar saat sedang dihancurkan.

“Papa lihat aku gambar!” kata Nara suatu sore sambil menyerahkan kertas penuh crayon.

Aldi mengangguk tanpa benar-benar melihat.

Di layar ponselnya, simbol-simbol buah sedang berputar.

“Sebentar ya, Sayang.”

Anak kecil itu akhirnya duduk lagi di lantai, menggambar matahari sendirian.

Hal-hal besar tidak pernah langsung runtuh. Mereka retak perlahan, nyaris tanpa bunyi.

Pertama, Aldi mulai meminjam uang koperasi kantor.

Lalu menjual laptop.

Kemudian berbohong.

“Ada potongan gaji.”

“Motor rusak.”

“Ibu sakit.”

Kebohongan ternyata seperti benang kusut. Sekali ditarik, semuanya ikut berantakan.

Suatu malam, istrinya, Rina, menemukan notifikasi transfer pinjaman online di ponselnya.

Jumlahnya membuat napasnya tercekat.

“Ini apa?”

Aldi terdiam.

Rina menatapnya lama, seolah sedang melihat orang asing memakai wajah suaminya.

“Kamu judi?”

Pertanyaan itu melayang di udara seperti pisau.

Aldi ingin menyangkal. Namun matanya terlalu lelah untuk berbohong lagi.

“Aku bisa balikin.”

“Kapan?”

“Nanti.”

“Nanti itu kapan, Aldi?”

Tak ada jawaban.

Karena orang yang kecanduan judi selalu hidup di masa depan. Mereka percaya besok akan menyelamatkan hari ini.

Padahal besok sering datang membawa kehancuran yang lebih rapi.

Sejak malam itu, rumah mereka berubah dingin. Rina mulai menyimpan dompetnya sendiri. Uang belanja dipisah. Anak mereka mulai bertanya kenapa papa sering marah-marah sendiri.

Aldi pun semakin tenggelam.

Ia berhenti bermain untuk mencari uang.

Ia bermain untuk mengejar kekalahan.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Ada malam-malam ketika ia menang besar lalu menangis sendirian di kamar mandi. Bukan karena bahagia, melainkan karena merasa akhirnya bisa bernapas lagi. Namun anehnya, kemenangan tidak pernah membuatnya berhenti.

Justru membuatnya yakin bahwa kemenangan berikutnya pasti lebih besar.

Sampai suatu hari, ia mengambil uang tabungan sekolah Nara.

Jumlahnya tak seberapa. Hanya tiga juta rupiah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

“Aku pinjam dulu,” bisiknya pada diri sendiri.

Karena manusia selalu punya cara sopan untuk menyebut kehancurannya.

Malam itu ia bermain dengan tangan gemetar.

Satu putaran.

Kalah.

Dua putaran.

Kalah.

Tiga putaran.

Saldo habis.

Dunia terasa sunyi.

Ia memandangi layar kosong dengan dada sesak. Untuk pertama kali, ia tidak merasa marah. Hanya hampa. Seperti ada bagian dirinya yang diam-diam mati.

Lalu terdengar suara kecil dari belakang pintu.

“Papa belum tidur?”

Nara berdiri sambil memeluk boneka kelinci lusuhnya.

Aldi buru-buru menyeka wajah.

“Belum.”

Anak itu mendekat dan duduk di pangkuannya.

“Papa sedih?”

Pertanyaan sederhana itu justru menghancurkan pertahanan terakhirnya.

Aldi memeluk putrinya erat-erat.

“Kalau Papa nggak punya uang… Nara masih sayang Papa?”

Nara mengangguk cepat.

“Sayang.”

“Kalau Papa jahat?”

“Papa nggak jahat.”

Aldi menunduk. Tenggorokannya panas.

Anak kecil memang sering menjadi cermin paling kejam. Mereka memantulkan siapa diri kita sebelum dunia mengajari mereka untuk membenci.

Esok paginya, Rina pergi lebih awal mengantar Nara sekolah. Di meja makan ada secarik kertas.

Aku tidak tahu harus percaya apa lagi.

Hanya itu.

Tak ada ancaman cerai. Tak ada makian.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Hari itu Aldi tidak masuk kerja. Ia duduk sendirian di kontrakan sambil membuka aplikasi judinya untuk terakhir kali. Bonus harian muncul di layar, lengkap dengan warna-warna cerah dan suara kemenangan palsu.

Tiba-tiba ia sadar sesuatu.

Selama ini ia tidak pernah benar-benar bermain melawan mesin.

Ia bermain melawan dirinya sendiri.

Melawan rasa gagal sebagai suami.

Melawan takut miskin.

Melawan perasaan bahwa hidup orang lain selalu lebih mudah.

Dan setiap kali kalah, ia merasa harus menang agar harga dirinya kembali utuh.

Padahal harga diri bukan sesuatu yang bisa diputar seperti slot.

Tangannya gemetar ketika menekan tombol hapus aplikasi.

Sesederhana itu.

Namun ia menangis seperti baru menguburkan seseorang.

Karena memang ada yang mati hari itu—versi dirinya yang terus percaya bahwa keberuntungan bisa menggantikan ketulusan bekerja dan keberanian menerima hidup apa adanya.

Malamnya, Aldi berjalan kaki menjemput Nara di rumah ibunya Rina.

Anak kecil itu langsung berlari memeluknya.

“Papa!”

Rina berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah.

“Aku nggak minta kamu jadi kaya,” katanya pelan. “Aku cuma pengin kamu kembali.”

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada semua kekalahan yang pernah ia alami.

Aldi menatap istri dan anaknya lama sekali.

Lalu untuk pertama kali setelah berbulan-bulan, ia mematikan ponselnya sendiri.

Langit malam tampak gelap seperti biasa. Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada angka berkelip. Tidak ada janji menjadi kaya mendadak.

Hanya suara napas orang-orang yang masih memilih bertahan satu sama lain.

Dan kadang, itulah satu-satunya kemenangan yang benar-benar menyelamatkan manusia

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi