Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
15
Petrichor
Romantis

Ketika keluar ia menemukan langit gelap, bukan, bukan karena sudah malam melainkan langit sedang mendung dan hujan turun. Bau khas tanah yang basah akibat hujan seketika menyeruak di area penciumannya, perempuan kemudian itu memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam untuk mengecek apakah ada payung yang tersisa untuk ia gunakan, namun kosong.

Risa kembali ke depan. Tangannya menengadah, rasa dingin dari air hujan terasa di permukaan tangannya dan ia pun memilih untuk menerobosnya karena hujan tidak terlalu deras. Ia segera melepas tasnya bersiap menjadikannya tameng dari rintik hujan namun tiba-tiba seseorang meraih tangannya dan memberikan sebuah payung.

Ia menatap payung yang ada di tangannya kemudian kepada seorang siswa laki-laki yang berada di depannya sedang berlari di bawah rintik hujan. Dari punggungnya Risa langsung tahu kalau siswa itu adalah Taka.

"Cih, untuk apa dia memberikan payung ini lalu dia sendiri kehujanan?"

Risa menatap payung berwarna biru tua itu kemudian membukanya. "Sudahlah." Ia kemudian memakainya, setengah berlari di bawah rintik hujan untuk mengejar pemuda tersebut.

Tidak perlu bersusah payah karena Risa menemukan Taka sedang berteduh di halte bus sambil menepuk-nepuk tasnya yang basah. Perempuan itu ikut bergabung dengan pemuda yang selalu berhasil membuatnya kesal itu.

"Kenapa lari? Kau bisa menggunakan payung ini denganku," ucap Risa melirik ke arah pemuda tersebut kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, pada jalanan yang basah dan mulai sedikit tergenang oleh air hujan.

Taka yang terkejut akan kemunculan perempuan itu hanya terdiam sambil menatap Risa tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaannya.

"Kau memang kurang ajar ya, kalau ada orang bertanya setidaknya jawab meski hanya satu atau dua kata."

Perempuan itu sadar kalau Taka akan selalu membuatnya kesal, bahkan ketika laki-laki itu diam. Ia jadi berpikir, sepertinya segala sesuatu yang ada pada laki-laki itu akan selalu membuatnya naik darah.

"Sepertinya memang tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain memarahiku. Sama-sama."

Mendengar ucapan pemuda itu berhasil membuatnya memejamkan mata lalu menarik nafas panjang. Berusaha mengontrol emosinya, hari ini ia sudah cukup lelah dengan tugas dan mengurus buku-buku di perpustakan sekolah.

"Bagus, akan lebih baik jika kau tidak terlalu mengeluarkan sisa tenagamu hari ini untuk mengomeliku."

Tidak menjawab apa-apa, gantian perempuan itu yang diam. Dalam hati membenarkan ucapan Taka.

Hujan semakin deras dan bus yang akan mereka tumpangi belum memberikan tanda-tanda akan muncul. Cuaca yang dingin ditambah dengan aroma petrichor membuat Risa dengan mudahnya merasakan kantuk, kedua kelopak matanya tiba-tiba terasa berat hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi terduduk, kedua tangannya terlipat di depan dada.

Pemandangan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taka. Ia sendiri akan membangunkan perempuan itu ketika busnya datang.

Setelah dipikir-pikir ia tidak pernah ingat bagaimana mereka bisa menjadi dua orang yang bermusuhan seperti ini. Yang laki-laki itu ingat, mereka tidak benar-benar bermusuhan, tapi selalu ada saja yang mereka berdua perdebatkan. Dan-

"Astaga."

Pemuda itu mendapati Risa hampir saja menjatuhkan dirinya jika tidak segera sadar dan menahan tubuhnya.

"Kau baik-baik saja?"

Risa berdehem. "Busnya belum datang ya?"

"Belum."

Kemudian perempuan itu kembali melanjutkan tidurnya. Taka bangun dari tempatnya dan memutuskan untuk duduk di samping Risa, menyandarkan kepala perempuan itu pada pundaknya.

"Kalau tidak begini kau bisa melukai dirimu sendiri."

Risa hanya terdiam, matanya masih tertutup dan tidak membantah ataupun merubah posisi tubuhnya, membiarkan perlakuan pemuda itu yang entah kenapa jadi tiba-tiba manis seperti itu. Namun Risa tidak mengambil pusing dan mulai fokus beristirahat sebentar.

Taka melirik ke arah gadis yang selalu ia jahili tersebut, tidak pernah menyangka akan berada di posisi sedekat ini dengannya tanpa adegan kepalanya yang dipukul atau lengannya yang dicubit. Ia kembali menatap ke arah ujung jalan, berharap bus segera tiba agar perempuan yang sedang bersandar di bahunya ini bisa segera pulang ke rumah dan beristirahat dengan nyaman.

Taka tahu apa yang ialakukan ini akan menjadi bahan ejekan untuknya esok hari atau mungkin Risa akanmenganggapnya hanya angin lalu. Apapun itu ia tidak terlalu peduli. Dan tanpa ia sadari perhatiannya selalu tertuju pada perempuan yang selalu mengomelinya ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)