Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
15
Kalah Sebelum Start
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Memasuki masa-masa akhir di SMA alias kelas tiga, aroma kelulusan sudah mulai tercium. Di tengah hiruk-pikuk persiapan ujian, mataku seringkali tertuju pada seorang gadis yang duduk di pojok kelas. Entahlah, ada keinginan kuat untuk sekadar menyapa, tapi nyali ini selalu menciut.

Bukan hanya karena aku penakut, tapi Dinda—nama gadis itu—memang sosok yang sangat pendiam. Dia tidak dikucilkan; dia hanya memilih untuk menarik diri dari keramaian. Mungkin dia pemalu, atau mungkin dia punya dunianya sendiri. Aku tidak tahu pasti kapan rasa ini muncul, yang jelas, melihatnya saja sudah cukup membuat perasaan ini senang.

Suatu hari, guru Seni Budaya memberi tugas kelompok untuk membuat video bermain alat musik. Kami yang terdiri dari enam orang berkelompok sepakat berlatih di sekolah agar adil. Saat sesi pengambilan Video dimulai, takdir menempatkan Dinda tepat di sebelahku.

Temanku yang bertugas memegang kamera berseru, "Eh, itu yang di pojok nggak masuk frame. Agak geseran dong!"

Sambil mencoba bersikap gentleman, aku menoleh pelan. "Geser ke sini Din."

"Iya, tenang saja, Ridwan nggak gigit kok!" celetuk teman sekelompokku yang lain.

Dinda hanya tersenyum tipis—senyum yang sangat langka—lalu perlahan menggeser duduknya mendekat ke arahku. Jantungku berdegup kencang tak keruan, tapi aku mati-matian memasang wajah datar agar terlihat cool. Video pun dimulai, dan kami tenggelam dalam harmoni musik yang kami mainkan.

Menjelang kelulusan, rangkaian ujian praktik makin padat. Hari ini gilirannya lari jarak jauh 3,5 mil. Dengan napas yang hampir putus dan keringat bercucuran, aku segera menenggak air mineral dan mengipasi diri di dalam kelas.

Entah dorongan dari mana, mataku langsung mencari sosok Dinda. Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arahnya dan duduk di tepi mejanya dengan gaya sok santai. Seketika, seisi kelas meledak.

"CIEEEEEEEEEEE!"

"Din, si Ridwan naksir tuh!"

"Wan, kalau suka bilang aja kali!"

Aku hanya bisa menyeringai lebar mendengar sorakan mereka, meski sebenarnya aku sangat gugup. Tak tahan jadi pusat perhatian, aku segera turun dari meja dan melipir keluar kelas.

Saat di koridor, samar-samar aku mendengar bisikan teman-temanku dari dalam, "Ridwan kayaknya beneran suka Dinda, tapi kasihan ya, Dindanya nggak merespons."

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Aku sadar, bukannya Dinda yang tidak merespons, tapi aku yang terlalu pengecut untuk menyatakan perasaan.

Hingga hari kelulusan tiba, kata-kata yang sudah di ujung lidah itu tetap terkunci rapat. Aku tetap menjadi Ridwan yang sama; si pengecut yang lebih memilih menyimpan rasa daripada menanggung malu karena penolakan. Kami lulus begitu saja, tanpa salam perpisahan yang spesial, tanpa tukar nomor telepon, apalagi pernyataan cinta.

Waktu bergerak cepat seperti mesin yang tak punya perasaan. Aku melanjutkan kuliah di luar pulau, menyeberangi lautan untuk mencoba hidup baru. Sementara itu, dari kabar burung yang kudengar, Dinda tetap di sini, kuliah di salah satu kampus di kota kami.

Jarak ribuan kilometer ternyata tak cukup kuat untuk menghapus bayangannya. Di sela-sela tugas kuliah yang menumpuk, sesekali wajah diamnya di pojok kelas dulu masih sering melintas.

Enam bulan berlalu dan aku pulang kampung. Sore itu, udara kota terasa hangat. Aku dibonceng oleh teman lamaku naik motor, sekadar berkeliling menikmati suasana sore yang begitu ramai pengendara.

"Eh, Wan, itu bukannya Dinda?" celetuk temanku sambil menunjuk ke arah trotoar di depan sebuah toko buku.

Jantungku mencelos. Benar, itu dia.

Dinda berdiri di sana, menunggu angkutan atau mungkin jemputan. Rambutnya sedikit lebih panjang dari saat SMA dulu, tapi tatapan matanya masih sama—tenang dan menyendiri. Dia terlihat dewasa dengan pakaian santai mahasiswanya.

Motor yang kami kendarai melambat karena arus lalu lintas yang padat. Jarak kami hanya beberapa meter. Aku punya kesempatan untuk berteriak memanggil namanya, atau setidaknya melambaikan tangan dan meminta temanku berhenti sebentar.

Tapi, aku hanya diam.

Aku menatapnya dari balik kaca helm, memandangi wajah yang dulu selalu kucuri pandangannya di kelas. Ada rasa sesak yang aneh di dada—campuran antara rindu dan sadar diri. Dinda sempat menoleh ke arah jalanan, matanya menyapu kerumunan kendaraan, namun dia tidak mengenaliku yang terbungkus helm dan jaket.

Motor kembali melaju kencang saat jalanan mulai lengang. Aku tidak menoleh ke belakang lagi, tapi pikiranku tertinggal di trotoar tadi. Aku hanya memandang punggung jalanku dengan tatapan kosong, merutuki diriku sendiri yang lagi-lagi cuma bisa diam.

Dalam hati aku memaki, "Bego banget sih, Wan. Cuma manggil nama aja nggak berani."

Tiga tahun di SMA ternyata nggak cukup buat melatih nyaliku. Sekarang, setelah jarak antar pulau memisahkan kami, aku baru sadar kalau "diam" itu bukan cara main yang aman, tapi cara paling ampuh buat bikin penyesalan. Aku membiarkan sosok Dinda menghilang di balik tikungan, sama seperti aku membiarkan kesempatan-kesempatan dulu hilang begitu saja.

Aku merasa jadi manusia paling payah sore ini. Menatapnya dari jauh mungkin terasa puitis di film, tapi aslinya cuma bikin sesak. Ternyata rasa suka ini bakal tetap jadi rahasia yang tak pernah terucap—sebuah cerita yang tamat bahkan sebelum sempat aku mulai kalimat pertamanya.

Di balik kaca helm yang mulai berembun karena napas yang tidak teratur, aku hanya bisa menghela napas panjang. Lucu rasanya, aku sudah sejauh ini merantau ke luar pulau, merasa sudah jadi orang dewasa, tapi di depan Dinda—bahkan hanya melihat punggungnya—aku kembali jadi Ridwan si remaja pengecut yang cuma bisa duduk kaku di pojok kelas.

"Seandainya dulu aku lebih nekat pas tugas video musik itu..."

"Seandainya pas di meja kelas itu aku beneran bilang 'iya aku suka' bukannya malah kabur..."

"Seandainya tadi aku minta temen aku berhenti sebentar, cuma buat nanya 'apa kabar'..."

Kata-kata 'seandainya' itu berputar di kepala kayak kaset rusak. Aku sadar, penyesalan itu datangnya bukan karena aku ditolak, tapi karena aku bahkan nggak pernah memberi dia kesempatan untuk tahu kalau aku ada. Aku terlalu sibuk menjaga image dan takut malu, sampai lupa kalau waktu nggak bakal nungguin orang yang cuma diam di tempat.

Dinda makin jauh di belakang. Dan mungkin, setelah hari ini, kami nggak akan pernah ketemu lagi. Aku membiarkan dia tetap jadi "cewek pendiam di pojok kelas" dalam ingatanku, tanpa pernah tahu bagaimana rasanya memanggil namanya dan dia menoleh sambil tersenyum ke arahku.

Sore ini aku belajar satu hal: Diam memang emas, tapi dalam urusan perasaan, diam itu cuma cara lain untuk kehilangan secara perlahan.

Ya sudah lah. Memang begini akhirnya. Cerita ini selesai bahkan sebelum sempat ada kata 'kita'

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)