“Guys, cepat bangun.” teriak Bela yang berlari ke tendaku. Dia menepuk pinggangku, juga menggoyangkan badanku dan Alex yang masih mengeluarkan bunyi nyenyak pada tidurnya.
Semakin lama tepukannya, kesadaranku makin terkumpul, “Hmm, bentar,”
Aku menyalakan jam tanganku. Dan waktu menunjukan pukul 5.30. Mataku lalu terbelak, lalu terbangun dari tumpukan selimut berlapis.
“Waduh, kirain bisa kita bangun sebelum jam 5. Yang lain udah pada bangun Bel?”
Bela membuka tenda pintu aku dan Alex, “Tuh, Shani sama Alea baru selesai solat subuh.”
Laluku pergi keluar tenda sejenak, melihat bagaimana kondisi gunung Lawu dan langit sekitarnya. Dan sepertinya sebentar lagi, momentum yang ingin kami abadikan itu segera tiba.
“Ah, bentar lagi nih.” mengingat Alex yang sepertinya belum bangun, aku mengambil boto berisi air di pinggir tenda untuk aku cipratkan. Dan benar saja saatku masuk, Bela belum bisa membangunkannya.
Aku buka botol itu, lalu di ambilnya air sedikit untuk membangunkannya. “Lex woy, ayo cepetan bangun. Solat subuh dulu kita.”
Perlahan, Alex mulai beranjak dari tumpukan selimutnya. “Iye bentar. Sakit Bel ya ampun,”
Fani lalu tertawa, “Ahaha, ya lagian lu susah banget bangunnya. Cepet siap-siap. Kita ambil gambar yang bagus bentar lagi.” Lalu aku bergegas menyiapkan 2 sajadah di pinggir tenda, “Yuk lex, solat subuh dulu kita.”
Setelah kami berdua selesai solat subuh, semuanya berkumpul tepat pada pukul 6.
“Bismillah, mungkin dari sekarang sunrise bisa kita nikmati. Jangan lupa fotoin gue yang bagus yah.”
Lalu Alea menunjuk ke arah timur, “Tuh mataharinya!”
Dan benar saja, sebuah latar indah untuk kami berfoto telah Tuhan sediakan. “Yuk gas!” ucap Alex sambil berjalan dengan kamera SLR terbarunya. Begitu juga Shani yang mengeluarkan Iphone terbarunya.
Detik dan menit terus berlalu, kami silih berganti untuk di foto dan menjadi fotografer dadakan untuk satu sama lain. Sebuah perayaan kecil dari kemenangan kami di ajang Program Kreativitas Mahasiswa tingkat nasional ini tidak perlu dirayakan dengan mewah. Kami sepakat untuk mencapai puncak gunung Lawu ini untuk membangun keabadian dengan potret alam di pagi hari.
Tapi pagi ini bukan sekedar mencari sunrise, ini adalah momentum jiwa kami menanamkan semangat arunika. Sebuah semangat yang percaya bahwa pencapaian kami adalah awal dari hal besar lainnya yang ingin kami capai.~