Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
ILUSI
Misteri

Layar ponsel Acha menyala begitu ada pesan masuk, tepat setelah bel jam istirahat di sekolahnya berbunyi. Tangannya dengan sigap mengambil ponselnya di atas meja untuk membaca pesan tersebut. Wajahnya yang sumringah menunjukkan betapa cintanya Acha kepada pengirim pesan, Fando, yang sudah menjadi kekasihnya selama enam bulan. Acha segera membalas pesan itu. Dia lalu menoleh kepada Ghea yang sedang membaca buku.

“Sedih banget ya jadi kamu. Teman di kelas nggak punya, pacar nggak ada. Masa mudanya suram banget!” kata Acha mencibir dengan pedas kepada Ghea.

Ghea menoleh ke arah Acha dan tersenyum tipis, “Aku nggak merasa sedih. Aku juga nggak merasa suram. Tapi, makasih banget ya kamu udah peduli sama aku.”

Acha tertawa keras mendengar perkataan Ghea. Beberapa siswa yang masih di kelas pun menatap ke arah mereka berdua.

“Peduli? Siapa yang peduli sama kamu?” tanya Acha. Sepertinya Ghea tidak merasa kalau Acha sedang menghinanya.

Kini giliran Ghea yang tertawa dengan keras. Dia tertawa terbahak-bahak seolah ada hal yang sangat lucu di antara mereka. Tentu saja hal ini membuat Acha merasa keheranan. Begitu juga dengan teman sekelasnya yang lain.

“Kok kamu ketawa sih? Apa yang lucu coba?”

Tawa Ghea mulai mereda. Ghea hari ini terasa berbeda. Biasanya Ghea akan meringkuk dan menutupi dirinya dengan buku kalau Acha sudah berbicara padanya dengan kata-kata yang terasa tidak baik.

“Setiap hari kamu memperhatikan kalau nggak ada yang mau berteman sama aku di kelas ini, kan? Lalu, kamu juga memperhatikan kalau sepertinya aku juga nggak punya pacar. Hampir setiap hari lho kamu memberikan komentar dan mengatakan banyak hal tentang aku. Bukankah itu sebuah bentuk perhatian dan kepedulian?” tanya Ghea pada Acha.

“Itu namanya cibiran, bukan perhatian atau kepedulian! Dasar aneh!” balas Acha mulai tersulut emosinya.

“Bukankah kamu lebih aneh dan buruk? Setiap hari kamu membicarakan hal buruk tentangku dan teman-teman lainnya kepada pacarmu. Tapi kamu selalu bersikap baik pada yang lain seolah kamu ingin berteman, padahal kamu membenci mereka semua,” ucap Ghea.

Acha merasa tersentak. Dia sangat terkejut. “Dari mana kamu tahu semua itu?”

Ghea mengambil ponselnya, “Fando yang cerita sama aku. Asal kamu tahu ya, Fando itu pacarku selama dua tahun ini. Dia cuma berpura-pura pacaran sama kamu untuk mencari tahu gimana sikapmu yang sebenarnya.”

Sekali lagi Acha merasa tersentak dan sangat terkejut. Acha merasa ketakutan. Tidak, dia tidak ingin rahasianya terbongkar. Dia menatap semua teman sekelasnya. Mereka menatap Acha dengan penuh amarah. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik dan seolah ingin mendekati Acha untuk meluapkan emosi mereka. Acha pun segera berlutut dan meringkuk. Dia benar-benar ketakutan sekarang.

“Acha! Acha! Bangun!”

Acha pun sangat terkejut saat mendapati Ghea duduk di sampingnya penuh rasa khawatir. Beberapa teman lainnya pun melihatnya. Dia merasa kebingungan.

“Udah jam istirahat nih. Kamu dari tadi tidur. Mimpi apaan sih sampai ketakutan gitu?” Ghea bertanya pada Acha.

“Ayo bangun dulu! Kita beli makanan di kantin,” ajak temannya yang lain.

“Aku… aku nggak apa-apa. Kalian duluan aja,” kata Acha masih merasa sedikit bingung.

Ghea dan teman-temannya mengangguk.

Perlahan Acha menata napasnya. Dia kemudian mengambil air minum.

Ternyata semua ini hanya mimpi buruk, batin Acha.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)