Aku menatap layar ponsel untuk kesekian kalinya malam ini. Masih tidak ada balasan. Sudah dua jam sejak aku mengirim pesan terakhir, dan read receipt-nya bahkan tidak muncul. Mungkin dia sedang sibuk. Atau mungkin dia sudah bosan denganku.
Kami bertemu tiga bulan lalu di kafe yang sama dimana sekarang aku duduk sendirian. First date yang sempurna, katanya waktu itu. Dan aku percaya. Bagaimana aku tidak percaya ketika matanya berbinar setiap kali menatapku? Ketika tawanya begitu tulus setiap kali aku bercerita?
Tapi tiga bulan kemudian, semuanya berubah.
Pesannya semakin jarang. Teleponnya semakin singkat. Alasannya selalu sama: sibuk kerja, lelah, perlu waktu sendiri. Dan aku, seperti orang bodoh, selalu mengerti. Selalu memberikan ruang. Selalu menunggu.
"Mau pesan apa, Kak?" suara barista menarikku dari lamunan.
"Americano. Dua gelas," jawabku refleks. Kemudian aku sadar kebodohanku. "Eh, maksudnya satu gelas saja."
Barista itu tersenyum simpati. Mungkin dia sudah sering melihat orang seperti aku. Orang yang datang ke kafe untuk menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
Aku duduk di meja yang sama. Meja pojok dekat jendela dimana kami pertama kali berbicara selama berjam-jam. Dimana dia bilang aku adalah orang paling menarik yang pernah dia temui. Dimana aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Ponselku bergetar.
Jantungku berdebar. Aku mengangkat ponsel dengan tangan gemetar, berharap itu adalah pesannya. Tapi hanya notifikasi dari aplikasi belanja online.
Aku menghela napas panjang dan menatap keluar jendela. Hujan mulai turun, membasahi jalanan Jakarta yang ramai. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Pasangan-pasangan berbagi payung sambil tertawa.
Dan aku di sini. Sendirian. Menunggu.
"Kak, americano-nya."
"Terima kasih."
Aku menyesap kopi yang pahit. Persis seperti perasaanku malam ini.
Mungkin sudah waktunya aku berhenti berharap. Mungkin sudah waktunya aku menerima kenyataan bahwa kami tidak akan pernah kembali seperti dulu. Bahwa first date yang sempurna itu hanyalah awal dari akhir yang menyakitkan.
Aku membuka chat kami dan membaca ulang percakapan terakhir.
Aku: "Kangen kamu. Kapan bisa ketemu lagi?"
Dia: "Lagi banyak deadline. Nanti ya kalau udah agak longgar."
Sudah seminggu sejak pesan itu. Dan "nanti" tidak pernah datang.
Jari-jariku mengetik pesan baru. Pesan terakhir. Pesan perpisahan.
"Aku lelah menunggu. Aku lelah jadi opsi ketika kamu punya waktu. Aku pikir aku berarti untukmu, tapi sepertinya aku salah. Terima kasih untuk tiga bulan ini. Terima kasih untuk kenangan indah yang akan selalu kuingat. Tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus belajar melepasmu."
Jemariku melayang di atas tombol kirim. Sekali aku menekannya, semuanya akan berakhir. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi menunggu. Hanya kekosongan dan proses move on yang panjang.
Tapi bukankah itu lebih baik daripada terus tersiksa dalam ketidakpastian?
Aku menekan tombol kirim.
Pesan terkirim. Centang satu. Kemudian centang dua.
Aku menutup aplikasi chat dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Cukup sudah. Aku harus pulang dan mencoba melanjutkan hidup.
Saat aku berdiri dari kursi, pintu kafe terbuka.
Dan dia masuk. Basah kuyup kehujanan. Napasnya tersengal. Matanya mencari-cari sampai bertemu dengan mataku.
"Maaf! Maaf aku terlambat!" katanya sambil berlari menghampiriku. "Ponselku mati dari siang tadi. Charger rusak. Aku baru bisa nyalain di taksi tadi dan langsung lihat pesanmu yang bilang mau ke kafe ini. Aku langsung kesini secepat yang aku bisa."
Aku terdiam. Kata-kata tersangkut di tenggorokan.
"Aku tahu aku payah banget belakangan ini," lanjutnya. Suaranya bergetar. "Kerjaanku memang lagi gila-gilaan. Tapi itu bukan alasan untuk ngacangin kamu. Aku minta maaf."
Dia meraih tanganku. Hangat, meskipun basah oleh hujan.
"Tolong jangan menyerah dulu sama aku," pintanya. Air mata bercampur dengan air hujan di wajahnya. "Aku tahu aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu sekarang. Tapi aku janji akan lebih baik. Karena kamu... kamu itu penting banget buat aku."
Ponselku bergetar di dalam tas. Notifikasi pesan masuk.
Tapi aku tidak perlu melihatnya untuk tahu isi pesannya. Karena orang yang seharusnya membaca pesan perpisahanku, sekarang berdiri di hadapanku. Basah kuyup. Rapuh. Tapi nyata.
"Pesan terakhirku..." gumamku.
"Aku belum baca," katanya cepat. "Ponselku baru nyala di taksi, dan aku langsung kesini tanpa buka chat. Aku takut kalau aku baca dulu, aku akan terlambat."
Terlambat.
Dia datang tepat waktu. Tepat sebelum semuanya benar-benar berakhir.
"Kamu basah kuyup," kataku akhirnya.
"Aku nggak peduli. Yang penting aku sampai sebelum kamu pergi."
Aku menatap matanya. Mata yang sama yang berbinar di first date kami. Mata yang sempat kusangka sudah bosan menatapku.
"Duduk dulu. Aku pesanin kopi," kataku pelan.
Senyumnya mengembang. Senyum lega yang membuatku ikut tersenyum.
"Americano?"
"Kamu masih ingat?"
"Aku ingat semuanya tentang kamu."
Kami duduk kembali di meja yang sama. Meja dimana semuanya dimulai tiga bulan lalu. Meja dimana malam ini hampir semuanya berakhir.
Tapi tidak jadi.
Karena dia datang. Basah kuyup dan tersengal. Tepat waktu untuk menyelamatkan apa yang hampir hilang.
"Aku janji akan lebih baik," katanya sambil menggenggam tanganku di atas meja.
"Janji yang berat."
"Aku tahu. Tapi aku serius."
Aku menatap ponselku. Pesan perpisahan itu masih tersimpan di chat kami. Belum terbaca. Masih bisa kuhapus sebelum dia membukanya.
"Hapus pesannya," katanya tiba-tiba. "Apapun yang kamu tulis tadi, tolong hapus. Karena aku belum siap untuk baca goodbye dari kamu."
Aku membuka chat kami. Jemariku melayang di atas pesan terakhir. Pesan yang hampir mengakhiri segalanya.
Delete message.
Pesan terhapus.
"Sudah," kataku.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih udah belum menyerah."
Hujan di luar semakin deras. Tapi di dalam kafe yang hangat ini, kami duduk berdua. Seperti tiga bulan lalu. Dengan secangkir kopi dan harapan baru.
Mungkin tidak semua cerita berakhir seperti yang kita tulis. Mungkin kadang, pesan perpisahan tidak perlu terkirim. Karena orang yang kita cintai datang tepat waktu untuk menulis bab baru.
Bab dimana kami tidak menyerah.
Bab dimana kami mencoba lagi.
Bersama.