Menurut semua perhitungan, rumah itu seharusnya kokoh.
Pondasi ditanam cukup dalam, dinding dibangun dengan sudut sempurna, atap dirancang menahan hujan dan angin. Tak ada satu pun angka yang terlewat.
Setidaknya, itu yang ia yakini.
Ia mencentang daftar satu per satu, merasa aman dengan ketelitian. Angka selalu jujur, pikirnya. Angka tak pernah berkhianat. Rumah itu berdiri, tegak dan meyakinkan, seperti hidup yang telah ia rencanakan.
Retakan pertama muncul kecil, hampir tak terlihat. Ia mengabaikannya mungkin hanya kesalahan bahan. Retakan kedua menyusul, lebih panjang, lebih berani. Dinding mulai berbisik tentang sesuatu yang tak pernah ia hitung.
Ia kembali membuka catatan perhitungannya. Semua ada. Semua lengkap.
Lalu ia menyadari ruang kosong di antara baris-baris angka itu.
Ia tak pernah memasukkan kehilangan.
Kehilangan tak punya satuan ukur. Tak bisa dikonversi menjadi meter atau kilogram. Terlalu kecil untuk dicatat, terlalu sepele untuk dikhawatirkan. Tapi justru di sanalah kesalahan hitung itu bersembunyi.
Saat hujan besar datang, rumah itu tak langsung runtuh. Ia berdiri cukup lama untuk membuatnya berharap. Hingga akhirnya, satu dinding menyerah perlahan, tanpa suara dramatis.
Di puing-puing yang tersisa, ia berdiri diam. Bukan menyesali bangunan itu, melainkan keyakinannya bahwa hidup bisa diselesaikan dengan angka saja.
Ia menulis ulang catatan terakhirnya:
“Beberapa hal yang paling berat adalah yang tak pernah kita hitung.”