Ironis

Bila fajar tiba, terdengar kokok ayam yang bersahutan.

Burung-burung pun berkicau riang, memberi harmoni yang tak kau temui di antara gedung-gedung pencakar langit.

Embun-embun yang membasahi dedaunan.

Kabut tipis yang terlihat di ujung persawahan.

Udara segar yang membelai lembut.

Serta gemericik air sungai yang jernih.

Menyempurnakan nuansa di desamu.

Kau dan Ridho setiap hari bermain, menikmati setiap jengkal keindahannya.

Setelah dua puluh tahun berselang, keelokan itu tak ada lagi ....

Berganti kepulan debu tebal yang menyelimuti udara.

Terik matahari yang menyengat dan membakar kulit.

Juga tanah tandus serta sungai yang kotor.

Begitulah keadaannya kini.

Kau berdiri, memandangnya cukup dekat.

Melihat mesin-mesin berat menghancurkan perumahan warga desa.

Puluhan petugas berjaga di depan pembatas yang memisahkan area tersebut dengan penduduk yang memprotes aksi kejam itu.

Kau tersentak mendengar teriakan seorang warga yang berhasil menerobos.

Ridho, dialah yang meluapkan kemarahan padamu, sebelum beberapa petugas mengamankannya.

Sudut bibirmu terangkat lalu memanggil pimpinan proyek.

Kau memberi perintah untuk tetap melanjutkan pekerjaan itu sampai tuntas.

Setelah itu kau masuk ke dalam mobil mewah yang membawamu meninggalkan kampung halaman.

TAMAT

11 disukai 2 komentar 2.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Beberapa diambil dr opening atau isi novelku kak.
produktif sekali Kak. Kali ini sudut pandangnya beda.
Saran Flash Fiction