Belum diperbolehkan sayang

”Aku ingin menuliskan rindu yang tidak pernah sampai, ini tentang cinta yang masih tidak punya keberanian untuk maju sebab pernah dilarang untuk ada di posisi itu oleh si yang punya pesona. Aku pernah merasa senang ketika bertukar nomor ponselku dengannya, bertukar beberapa pesan singkat dengannya juga. Ia seseorang yang asik diajak bicara namun aku pernah diabaikannya meski ia online. Satu ketika aku nyaman dan kecarian akan hadirnya di kolom chatku. Namun saat itu ia melarangku untuk sayang padanya. Rindu boleh. Padahal aku juga bukan orang yang semudah itu jatuh hati, entah denganmu barangkali akan lebih mudah. Semenjak mendengar perkataan wujud narsisme itu, aku memilih untuk mundur, aku tidak ingin membiarkan diriku ada di posisi nyaman dengan manusia sepertimu. Alasan dari pertanyaan mengapa manusia sepertiku tidak suka chatingan adalah karena begitu banyak kutemukan orang-orang sepertimu. Ada tapi mengabaikan aku dengan sengaja. Ada tapi sengaja tidak membalasnya. Aku benci perasaan aku yang kadangkala merasa aku ini begitu hina sehingga pesanku kau abaikan begitu saja. Aku tidak suka sensasi pengabaian itu. Aku ingin merasa bahwa aku diinginkan juga. Aku suka kau yang dulu tapi aku benci mulutmu yang manis seperti mulut para pujangga. Tidakkah kau tahu orang yang paling berbahaya adalah orang yang berhasil membuat pujangga sepertiku jatuh cinta? Kaulah orang yang paling berbahaya itu. Aku tidak ingin mendekati sumber segala rasa yang membahayakan jiwaku. Aku tidak ingi merasakan aku hidup tapi seperti mati sebab aku ditikam oleh pesonamu jutaan kali banyaknya dan kau pada akhirnya melupa atas segala kata yang kau ucap secepat itu dulu. Aku pernah membenci Tuhan karena manusia sepertimu. Aku pernah merasa Tuhan jahat karena membiarkan kau masuk ke hidupku yang sudah terbiasa tidak tersentuh oleh wisatawan asing sepertimu. Hatiku seumpama pulau terpencil nan indah yang masih belum diketahui banyak orang bahwa pulau itu begitu penuh pesona. Dan kau serupa pengembara asing yang dengan iseng mampir lalu dengan segala kekuatanmu kau kotori aku dengan semua pesonamu yang tidak biasa itu. Kau tahu tidak bahwa aku ingin sekali mengatakan ini kepadamu. Bahwa aku ingin kau terdampar sekali lagi. Di Pulau yang dulu pernah dengan iseng kau singgahi namun kau tinggallah dengan ikhlas, bangunlah rumah disini dan jadilah penghuni pertama yang menganggap aku surga dunia meski di mata banyak orang aku hanya pulau kecil yang kian mengecil karena terus terkikis ombak.

KAU DATANG HANYA SEBATAS PENASARAN SEMENTARA AKU SUDAH MENGANGGAPMU BAIK DENGAN CARA YANG PALING SERIUS.

Apa kau pernah bicara pada Tuhan? Jika ya, apa jawabNya dari pertanyaan “Mengapa Ia mematahkan hati manusia jika Ia juga harus bersusah payah menyembuhkannya?”

Mungkin perihal menyembuhkan dan mematahkan Tuhan memang serba Maha, kuyakin itu hal yang sangat mudah dilakukanNya.

Semudah hal ini,

Kelak, kau akan berbalik mencari aku yang dulu kau abaikan hanya karena masa lalumu yang bangsat itu.

Sekarang, aku penasaran apakah aku sudah boleh sayang padamu? Jika sudah, harus kumulai dari angka berapa? Jika jawabannya belum boleh maka pertanyaanku adalah “mengapa tidak boleh dan kapan aku kau perbolehkan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dihatimu yang rongsokan itu?” Kuharap jawabanmu cukup bagus untuk memuaskanku aku.

1 komentar 4.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
chat gak dibales? mungkin sibuk. 😁
Saran Flash Fiction