Artis Papan Atas

Kutanggalkan sementara kaca mata hitam yang membingkai mataku sejak tadi. Cuaca hari ini sebenarnya cukup panas untuk berjemur santai di atas pasir pantai. Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi? Sebagai artis papan atas dengan jadwal shooting yang selalu padat membuat jadwal liburanku benar-benar tersendat. Kesempatan bersantai seperti saat ini tentu sangat kudambakan setelah lelah rasanya menimbun pundi-pundi rupiah dan menuntaskan kewajiban sebagai murid kuliah.

Kudendangkan sedikit lantunan lagu sembari melepas penat di bawah payung pantai yang sudah disediakan oleh kedai. Saat itu juga, seorang pria datang dan mengajakku berbicara, “Halo, Kak Ratih. Boleh minta foto?” pintanya sopan. Sebenarnya sejak tadi aku sudah memerhatikan laki-laki ini melirikku dengan tatapan yang cukup mencurigakan. “Boleh.” jawabku dengan masih menaruh rasa curiga terhadapnya. Mendengar permintaannya kuturuti pria ini terlihat sangat kegirangan, dengan sigap disiapkannya kamera beserta seperangkat antek-anteknya dan yang benar saja, hal yang aku curigakan pun terbukti. Seketika orang-orang berkerumun dengan aku sebagai pusat perhatian, “Aku bawa semua fans Kak Ratih se-Provinsi Bali, hehe ayo kita fotoan kak.” Melihat pemandangan saat ini senyumku pasti sudah tidak semanis gulali.

Glek…. Aku menelan ludahku sendiri. Dengan senyum yang dipaksakan aku yakin mukaku terlihat masam saat ini. “Kak Ratih… ayo kita fotoan.” pria itu mengguncangku dari lamunan, tapi rasanya aku masih enggan meresponsnya. “Kak Ratih…” kembali diguncangkannya lenganku dengan lebih keras. Ketika aku hendak menjawabnya, tiba-tiba mataku tertuju pada rak buku yang berjejer di depanku dan seorang adik tingkat dengan senyum yang sangat menyebalkan di sebelahku. Ternyata aku tidak sedang di pantai.

1.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction