Sendiri di Tengah Malam

Aku terbangun dari tidur, di tengah malam yang sunyi, sendirian. Rumah yang ramai siang tadi, kini sangat sunyi, atau hanya perasaanku saja. Kamar yang kecil, hanya ada kasur dan lemari, aku meringkuk. Ini terlalu sunyi dan aku terusik dengan kesunyian rumah ini.

Handphone yang selalu menemaniku kini hilang entah dimana, aku tidak berniat mencarinya. Detikan jam yang teratur membuatku merinding secara tiba-tiba. Disusul suara jangkrik dari luar rumah, Serta suara iklan rokok dari TV tengah yang entah sejak kapan menyala. Inilah mengapa aku benci sendiri di tengah malam.

Perasaan yang selalu meluap dengan imajinasi-imajinasi yang aneh membuat tubuhku kaku tak berani bergerak sama sekali. Inilah yang terjadi ketika terbangun sendiri di tengah malam. Selalu merasa ada yang mengamati intens, belum lagi bayang-bayang dari hantu yang pernah aku tonton dari film horor.

Suasana yang sunyi ini sangat mendukung imajinasi-imajinasi aneh dan konyolku ini.

Gawat, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Suara itu semakin besar dan mengintimidasi. Ini persis seperti scene film horor yang aku tonton siang tadi. Dan setelah ini akan terjadi jumpscare, tidak, aku tidak akan bergerak. Aku harap itu bundaku yang membangunkanku untuk sholat malam.

Suara itu berhenti.

Matilah aku, rumahku mati lampu.

"..."

"Dek? ayo sholat malam. Bunda ambilin lilinnya."

Aku terperanjat. Itu bunda!

Lega, itu yang rasakan. Tetapi senyumku yang mengembang kini hilang, mataku membelalak, detak jantungku berdetak semakin cepat, bulu kudukku merinding.

Aku lupa, bundaku tidak bisa bicara, beliau bisu sejak lahir.

1 disukai 961 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction