7 Hari Berlalu

Kata orang, ketika cinta sejati sudah pergi ia tak akan kembali. Tapi aku tidak percaya. Seperti halnya senja yang akan datang kembali pada langit kelabu. Cinta sejati pun sama.

“Hai namaku Adi. Aditya.” Katanya mengulurkan tangan kepadaku.

Aku hanya melirik tanpa berniat mengulurkan tanganku.

“Kamu aku beri kesempatan panggil aku Adi, artinya aku mau kenal sama kamu.”

Aku mengernyit bingung, lalu apa urusannya denganku. Entah Adi, Adit atau Tya sekalipun, aku tidak ingin berkenalan dengan dia.

“Kata orang, kamu setiap sore kesini ya? Mereka bilang ini tempat kamu mencari ketenangan dari kesedihanmu.”

Aku menatapnya sebentar, “tahu apa kamu?”

“Aku tidak tahu apa-apa. Kamu bisa menjadikan aku teman bercerita.”

“Aku tidak mengenalmu,”  

Aku teringat hari pertama ia datang mengajakku berkenalan, tapi tidak kutanggapi. Iya, namanya Adi.

Hari pertama ia memberiku payung, karena musim hujan sudah tiba. Payung hijau lumut yang tanpa dia tahu selalu kugunakan setiap hari.

Hari kedua ia memberiku bolpoin kepala bebek berwarna kuning. Katanya untukku menulis.

Hari ketiga ia memberiku buku harian. Katanya untuk di pasangkan dengan bolpoin darinya.

Hari keempat ia membawakanku minuman varian boba yang sedang banyak di minati orang. Katanya aku tidak boleh larut bersedih.

Hari itu aku sedikit melunak, aku bersedia menyapa dan berteman.

Hari kelima, aku bahkan sengaja menunggunya. Tidak lupa ia membawakanku sepasang kaos kaki warna putih tulang, tidak lupa aksen kucing di ujungnya.

Kita tertawa menunggu senja menghilang. Bahagia sesederhana ini.

Hari keenam, ia datang membawa sepatu untukku. Ukurannya pas di kakiku, “pakai berpasangan dengan kaos kakinya ya.” Katanya sore itu.

Hari ketujuh, sedikit berbeda. Ia datang dengan wajah pasinya, kutanyai apa yang terjadi. Adi menjawab, “tidak apa. Aku hanya bersedih tidak bisa bertemu denganmu lama.” Aku tertawa mendengarnya, “tidak apa. Kamu boleh pulang cepat sebelum matahari tenggelam. Masih ada hari esok.” Tetapi Adi menatapku sendu. Aku benar bukan, bukankah esok kita masih dapat berjumpa dan melihat senja bersama seperti biasa.

“Bisakah sedikit lebih lama lagi kita berada di sini?”

“Untuk apa?”

“Ah tidak, kamu harus segera pulang. Sebentar lagi hujan, kamu bisa sakit. Jangan lupa pakai payungnya.” Aku tersenyum mengangguk.

Hari kedelapan, aku sedikit gusar, matahari sudah benar-benar akan hilang tapi Adi tidak datang menemuiku seperti tujuh hari kemarin. Padahal aku menunggu. Pada akhirnya sore ini aku melihat senja menutup hari seorang diri. Tanpa Adi.

Hari terus berlalu, aku tetap berjalan bersama segenggam rasa yang masih terselip di tempatnya, duduk di bangku taman yang sudah kusam namun terlihat aesthetic, tidak lupa payung hijau lumut yang kau berikan di hari pertama. Aku mengambil pena berhias sebuah kepala bebek tersenyum berwarna kuning, padahal dulu aku menolak mentah-mentah bolpoin seperti kepala ayam yang ternyata kepala bebek ini.

Bersama senja, aku mendekap rindu yang tak terukur. Aku menunggu.

 

742 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction