Jam Tangan

Lelaki itu mendapat kiriman jam tangan dari kekasihnya yang berada di negeri seberang.

"Jam tangan itu tidak membutuhkan baterai," ujar kekasihnya di telepon. "Selama kamu masih mencintaiku, jam tangan itu tidak akan pernah mati sampai kapan pun."

Lelaki itu tertawa. "Maksudmu, jam tangan ini hanya akan mati jika aku tidak mencintaimu lagi?" tanyanya.

"Ya," kekasihnya menjawab. "Jam tangan itu dihidupi oleh perasaanmu kepadaku."

"Aku tidak tahu apakah kamu sedang bercanda atau tidak," ujar lelaki itu sambil masih tertawa kecil. "Tapi, percayalah, aku akan selalu mencintaimu."

"Aku senang mendengarnya," ujar kekasihnya sambil memberikan kecupan jarak jauh. "Aku ingin ketika aku kembali dan bertemu denganmu, jam tangan itu masih terus hidup. Masih terus berdetik. Sebab, itu tandanya kamu masih mencintaiku."

"Oh, Kekasihku, cintaku kepadamu adalah api pembakar matahari yang tidak akan mungkin pernah mati," ujar lelaki itu dengan nada bicara dibuat-buat.

Kekasihnya tertawa kencang sekali. "Dasar!" ujarnya.

Setelah itu, telepon ditutup.

Lelaki itu menghela napas panjang, meletakkan ponselnya di sofa, lalu mengenakan jam tangan itu di pergelangan tangan kirinya.

"Sepertinya dia benar," ujar lelaki itu sambil menatap jam tangannya. Jarum detiknya tidak bergerak sama sekali.[]

36 disukai 7 komentar 7.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
buaya mah gitu emang. bilangnya cinta padahal ah sudahlah...
Kereeeenn bro cirex.... Sukaaa ceritanya.... Sukses terus yaa
Sy baru baca dan ternyata bgs sekali ceritanya.
Selamat kakk
Hahhahahahhahahah
Saya prnah pinjam teman buku kumpulan FFnya mas Noor. Di sini ketemu lagi...
Saran Flash Fiction