Menggapai Mahkota

Ruang hampa dalam dada semakin terasa sejak mulai beranjak dewasa. Apa yang aku inginkan sederhana. Yaitu bisa keluar dari gua maksiat ini. Tak ada harapan untuk meraih cita-cita. Semua orang menertawakanku. Menganggapku sebagai lelaki muda tak berotak.

Menjadi seorang guru tentunya hal mudah di luar sana tetapi tidak di pulau ini. Pulau Mahkota dengan semua kebebasan yang diberikan oleh negara.

Tak seperti namanya, tempat ini benar-benar mengerikan untuk orang normal. Bukan berarti semua yang tinggal di tempat ini adalah orang gila. Atau mungkin mereka memang mempunyai gangguan kejiwaan?

Pemabuk berceceran di sepanjang jalan. Ke sekolah pun harus melewati beberapa preman jalanan. Memalak, merampok bahkan membunuh sudah jadi hal yang lumrah. Salahkah mereka? Atau negara yang salah karena membuat tempat terpencil ini? Mengumpulkan para pembuat onar, sampah-sampah masyarakat ke sebuah pulau yang tak memiliki aturan.

Para penghuni ibukota pasti bahagia. Tak ada lagi kekerasan, kecurangan, atau apapun yang merugikan. Semua orang itu ada di sini. Di tempat kelahiranku. Kota yang sangat ingin aku ubah sepenuhnya.

Namun apa dayaku? Aku hanya seorang lelaki muda yang sekolah menengah atas pun belum tamat. Pemuda seusiaku lebih tertarik untuk bermain cinta, berjudi atau berkelahi.

Tentu saja orang tuaku pun sama seperti mereka. Bagi ayah dan ibu, aku adalah anak dengan pikiran cacat. Anak yang ingin belajar menulis, membaca, berhitung merupakan aib keluarga. Yang paling benar menurut mereka adalah menghasilkan uang.

Aku tak membutuhkan itu! Aku hanya ingin segera keluar dari pulau sesat ini! Bagaimana caranya? Berteriak kepada Walikota? Yang benar saja! Bahkan mereka pun tak peduli dengan anak-anak mereka sendiri. Para pemimpin mengumpulkan pajak yang besar dari semua warga hanya untuk menggemukkan diri. Benar-benar gemuk sampai perut mereka menggelambir. Menjijikkan!

Namun para tikus-tikus pengerat itulah yang mempermudahku keluar dari sini. Asal aku mempunyai uang. Dan esok aku akan menemukan cahaya. Aku bebas!

 

***

 

Setelah mendapatkan gelar sarjana dan pengalaman mengajar selama lima tahun akhirnya aku kembali ke Pulau Mahkota. Banyak perubahan terjadi. Masyarakat semakin menjadi-jadi. Sampah di mana-mana. Baik sampah limbah ataupun sampah masyarakat.

Dan oh, bagus! Gedung sekolah sempit itu sudah berubah jadi tempat pesta muda-mudi. Botol minuman keras berserakan di halaman gedung. Anak-anak perempuan berpakaian hampir setengah telanjang bergelayutan di tubuh para pria.

Ketika aku mencoba mengusir mereka, seorang bocah ingusan membusungkan dada seolah tubuh kecilnya dapat merobohkanku.

“Mulai hari ini tidak ada kegiatan lain kecuali belajar di tempat ini!” bentakku.

“Kami adalah guru di sekolah ini. Mulai dari SD sampai SMA seperti seumuran kalian diwajibkan untuk belajar di sekolah!” Kata seorang perempuan yang suaranya sudah akrab di telingaku. Sontak aku menoleh ke belakang. 

Teman-teman sampai tak lama setelahku. Para pasukan guru yang mempunyai visi yang sama denganku. Tentu saja kami telah mengantongi peraturan baru yang telah disahkan pemimpin kota setelah melewati banyak hambatan.

“Nah, Randi. Kamu tidak harus berjuang sendirian lagi.” Laras menepuk bahuku. “Aku mengajak teman-teman yang lain juga dan mereka sangat antusias saat aku menceritakan impianmu!”

“Benar! Perubahan bisa terjadi dimulai dari diri sendiri. Tapi aku sendiri tidak akan mampu untuk mengubah segalanya! Terima kasih kawan. Mari berjuang bersama-sama!"

6 disukai 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction