Disukai
0
Dilihat
271
Terminal Patih Rumbih
Horor

Pukul 21.30. Kamis malam yang basah. Di luar jendela kamar, rintik gerimis jatuh dengan irama yang monoton, menciptakan simfoni sunyi yang menusuk tulang. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap tumpukan pakaian yang sudah rapi terlipat di dalam koper. Libur kuliahku telah mencapai ujungnya; besok pagi, rutinitas Palangkaraya yang membosankan dan tumpukan tugas kuliah sudah menanti untuk melahap waktuku kembali.

​Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah lamunanku. Rafka, adikku yang masih duduk di bangku SMA, menerobos masuk ke kamarku tanpa permisi. Dia selalu seperti itu—penuh energi dan cenderung mengganggu. Namun, malam ini ada kilat yang berbeda di matanya. Dia duduk di sudut tempat tidurku, mulai mengoceh tentang hal-hal yang paling dia cintai: cerita mistis, urban legend, dan segala sesuatu yang berada di luar jangkauan logika manusia.

​"Kau tahu, Kak? Malam Jumat ini terasa berbeda," katanya dengan nada yang dibuat-buat berat. Dia mulai menceritakan kisah tentang penunggu jembatan atau hantu yang mencari tumbal di persimpangan jalan.

​Aku hanya bisa menghela napas panjang, mencoba fokus pada resleting koperku.

"Rafka, tolonglah. Aku sedang lelah. Bagaimana mungkin hantu bisa terjebak di pohon jika dia adalah energi? Lagipula, itu hanya takhayul untuk menakut-nakuti orang agar tidak keluar rumah."

​Rafka memutar bola matanya, tampak frustrasi karena aku tidak termakan umpannya.

"Terserah Kakak. Tapi, Kakak mau berangkat naik apa ke Palangkaraya?"

​"Travel," jawabku singkat.

"Dari Terminal Patih Rumbih. Praktis, langsung sampai depan kos." Terminal Patih Rumbih adalah salah satu terminal di kotaku Sampit. Salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah, empat jam perjalanan jika ingin ke Ibu Kota Provinsi. Patih Rumbih adalah salah satu nama Pahlawan di Kota Sampit yang kemudian namanya di abadikan menjadi nama Terminal tertua di kota ini.

​Rafka seketika berdiri, wajahnya berubah serius.

"Jangan ke sana. Naik bus saja. Atau cari agen travel lain."

​"Kenapa lagi? Bus itu tidak bisa mengantarku langsung ke depan kos. Aku harus cari angkutan lagi dari terminal Palangkaraya. Itu membuang waktu dan tenaga," sanggahku.

​"Bukan masalah waktu, Kak!" suara Rafka meninggi.

"Terminal Patih Rumbih itu... ada sesuatu yang tidak beres di sana, apalagi kalau malam Jumat. Kakak pernah dengar legenda tentang kecelakaan tahun 1996?"

​Aku menggeleng acuh tak acuh. Rafka menarik napas dalam, wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

"Tahun 1996, ada seorang anak kecil yang tertabrak bus tepat di depan area tunggu. Tragis sekali. Tubuhnya hancur, dan yang paling mengerikan... ban bus itu menggencet kepalanya hingga bola mata kirinya keluar. Penduduk setempat bilang, arwahnya tidak pernah tenang. Dia selalu mencari 'pengganti' bola matanya yang hilang."

​Aku mendengus, apanya yang horor? Itu cerita laka. Bukan cerita horor .

"Itu kecelakaan tragis, Rafka, bukan horor. Itu tragedi kemanusiaan. Kau jangan mencampuradukkan duka dengan mitos picisan."

​Aku menutup koper dengan suara dentum yang final.

"Sudah, jangan menakut-nakuti aku. Aku berangkat."

​Perjalanan menuju Terminal Patih Rumbih terasa sunyi. Udara Sampit yang dingin menyapu wajahku melalui jendela mobil pengantar. Saat aku turun, terminal itu tampak seperti kuburan massal yang megah. Lampu-lampu neon yang berkedip-kedip di kejauhan hanya menambah kesan angker. Jarang ada yang memilih keberangkatan tengah malam, sehingga area tunggu terasa sangat hampa.

​Aku melirik jam tangan, 23.00. Travelku baru akan tiba pukul 00.00. Aku melangkah ke bangku timur, satu-satunya area yang masih memiliki pencahayaan cukup baik. Sambil menunggu, aku mengecek ponsel. Sebuah pesan WhatsApp dari agen travel membuatku mengumpat pelan. Travel terlambat, diperkirakan tiba pukul 01.00 dini hari.

​Satu jam lagi. Aku mengembuskan napas panjang. Keheningan ini mulai terasa menekan.

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar beradu dengan lantai beton. Aku menoleh. Seorang wanita seumuranku muncul dari balik bayang-bayang. Ia mengenakan blouse biru muda yang kontras dengan celana baggy jeans-nya. Ia membawa koper cokelat, dan sepasang earphone putih tersampir di telinganya. Wajahnya cantik, dengan kulit putih bersih khas gadis Dayak dan rambut hitam legam yang tergerai panjang sepinggang.

​Ia duduk tak jauh dariku, melemparkan senyum ramah yang membuatku merasa sedikit lebih lega karena tidak sendirian.

​"Mau ke Palangkaraya juga?" tanyanya lembut.

​Aku mengangguk.

"Iya, menunggu travel yang terlambat. Kamu?"

​"Sama," jawabnya. Namanya Ratih. Ia bercerita tentang tujuannya menjenguk tante yang sakit di Sampit dan sekarang harus segera kembali bekerja di Palangkaraya. Dia sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Kecanggunganku perlahan mencair. Dia cerdas, bicaranya terstruktur, dan wangi parfumnya—perpaduan melati dan vanila—terasa sangat menyegarkan di tengah bau apek terminal tua. Dia sedikit mengeluh karena ia mabuk darat jika naik travel.

​"Aku ke toilet sebentar ya," katanya setelah beberapa saat.

"Boleh titip koperku?"

​Aku mengangguk setuju. Ratih beranjak berdiri. Namun, sebelum ia melangkah jauh, dia berhenti tepat di depanku. Aroma melati dan vanila itu semakin kuat, hampir memabukkan.

​"Aku punya sesuatu untukmu," ucapnya dengan nada yang berubah menjadi datar, nyaris berbisik.

"Ulurkan tanganmu."

​Tanpa curiga, aku mengulurkan tanganku. Ratih meletakkan sebuah benda bulat, dingin, dan licin ke atas telapak tanganku. Benda itu berwarna putih porselen, mirip seperti bola bekel.

​"Apa ini?" tanyaku bingung.

​"Itu... bola mataku," jawabnya dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.

​Dunia seakan berhenti berputar. Bau wangi parfum yang tadi segar tiba-tiba menguap, digantikan oleh aroma amis darah yang busuk dan menyengat, menusuk hingga ke saraf otakku. Aku menunduk menatap benda di tanganku. Benda itu... bergerak, dan ada korneo di tengah benda putih bulat itu. Pupil di tengah bola putih itu bergetar, menatapku seolah-olah ia memiliki kehidupan sendiri.

​Aku memekik, refleks melempar benda itu jauh-jauh. Saat aku mendongak, sosok Ratih sudah berubah total. Dia tidak lagi secantik tadi. Wajahnya pucat pasi seperti mayat yang baru diangkat dari sungai. Mata kirinya berlubang, mengalirkan darah segar yang membasahi blouse birunya. Rambutnya yang indah kini kusut masai, berbau tanah dan bangkai.

​Wanita itu tertawa—suara lengkingan tinggi yang memecahkan keheningan terminal. Badanku membeku, lidahku kelu. Doa-doa yang kuhafal di luar kepala mendadak hilang tertelan ketakutan.

​Di balik tawa itu, aku teringat cerita Rafka. Tahun 1996. Anak kecil. Biji mata kiri.

​Logika yang selalu kubanggakan hancur berkeping-keping. Tidak ada cacat logika di cerita Rafka kali ini. Di sini, di terminal yang sepi ini, aku tidak sedang berhadapan dengan cerita fiksi. Aku sedang berhadapan dengan sisa-sisa trauma yang belum usai.

​Wanita itu melangkah mendekat, langkahnya terpincang-pincang.

"Aku... butuh... gantinya," rintihnya.

​Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan koper, meninggalkan tas, dan meninggalkan kewarasanku di balik dinding terminal yang dingin.

​Jika kau tidak percaya, datanglah ke sini. Saat gerimis turun di malam Jumat, mungkin kau bisa bertemu Ratih, di terminal Patih Rumbih.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi