“Tidak akan berkurang harta dengan bersedekah, dan seorang hamba yang pemaaf pasti Allah akan menambah kemuliaan baginya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)
Di bulan Ramadhan ini setiap orang pasti akan melakukan amalan yang mendatangkan pahala. Begitu juga yang dilakukan oleh Bahar–orang kaya dermawan sebagai julukannya di komplek perumahan Permata Indah. Setiap mendekati lebaran, orang-orang yang kurang mampu atau di bawah garis kemiskinan, berbondong-bondong memenuhi halaman rumahnya. Demi untuk mendapatkan sembako gratisan. Berbeda dengan Sukirman yang sejak tadi memperhatikan mereka. Ia tahu maksud dari Bahar. Ingin berbagi, tapi dengan jalan ingin mendapat pujian dari orang. Apakah itu sama saja dengan riya?
Sukirman dan keluarganya setiap hari selalu berkeliling komplek Permata Indah untuk memunguti sampah. Mereka adalah keluarga pemulung. Rumah pun tak ada. Mereka hanya mengandalkan gerobak dorong yang terbuat dari kayu. Dengan beralaskan kardus bekas, kedua putrinya duduk dalam gerobak. Sukirman dibantu istrinya mendorong gerobak itu, berkeliling sambil mencari cup botol air mineral atau dus bekas untuk ditukar dengan uang. Kadang pekerjaan itu dilakukan sampai larut malam.
Istri dan kedua anak perempuannya tidak pernah mengeluh dengan kondisi saat ini. Mereka berusaha untuk ikhlas–menerima bahwa tidak ada takdir yang jelek. Semua takdir dari Allah itu adalah ketetapan mutlak yang tidak bisa mengubah apa pun. Kecuali Allah yang berkehendak.
Hidup mereka memang sangat miskin. Namun, Sukirman tidak pernah lelah untuk mencari nafkah. Meskipun upah yang didapatkan hanya cukup membeli nasi satu bungkus. Mereka mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Kesederhanaan itu lebih indah dari sudut pandang mereka.
Berbeda dengan Kirun–pengusaha sukses yang tinggal di komplek bersebelahan dengan rumahnya Bahar. Mereka berdua sama-sama orang kaya. Yang satu dijuluki dermawan dan satu lagi dijuluki orang terpelit yang tidak pernah berbagi dengan siapa pun. Baik itu ke tetangga, termasuk keluarganya sendiri. Kirun lebih suka menumpuk hartanya.
Suatu hari teman Sukirman menemuinya. Ia mengatakan bahwa anaknya sedang sakit dan membutuhkan uang. Sukirman merogoh saku celananya. Uang yang ia kumpulkan dari hasil mencari cup botol air mineral, diberikannya pada Junaedi.
“Aku hanya punya uang 50.000. Apakah ini cukup untuk biaya berobat anakmu?” tanya Sukirman sambil memulas senyum.
Junaedi bergeming seketika. Dalam hati ia bertanya: ‘Apakah aku tidak berdosa meminjam uang pada orang yang sedang membutuhkan uang juga?’
Hatinya bergejolak antara menerima uang yang ditawarkan oleh Sukirman atau tidak. Kemudian ia menanyakan sesuatu pada sahabatnya itu.
“Apakah uang itu akan kamu pinjamkan untuk aku?” Pertanyaan Junaedi membuat Sukirman kembali memulas senyum.
“Aku ikhlas Jun, ambil ini untuk biaya berobat anakmu.”
“Kamu perlu menggunakan uang ini untuk membeli makan dan takjil berbuka puasa, Kir.”
“Jangan khawatir. Nanti kami berbuka di masjid saja. Dapat takjil gratis.”
Junaedi benar-benar merasa berat hati untuk menerima uang pemberian Sukirman. Namun, ia sangat membutuhkan. Akhirnya Junaedi menerima uang itu, berjanji secepatnya dikembalikan sebelum menjelang lebaran.
Dari balik dinding rumah, percakapan mereka didengar oleh Kirun. Lelaki berkepala plontos itu merasa tersentuh hatinya melihat kebaikan seorang pemulung yang sering ia lihat mengelilingi komplek. Meskipun tidak punya apa-apa, tapi Sukirman ikhlas untuk berbagi rezeki dengan orang lain. Satu pelajaran yang Kirun ambil dari seorang pemulung. Memberi tanpa pamrih. Kirun mulai berpikir dengan harta yang ia miliki sekarang. Ia menyadari bahwa dirinya pelit dan tidak mau berbagi dengan siapa pun. Sukirman sudah mengetuk ruang hati yang tertutup rapat.
Adzan Maghrib berkumandang. Sukirman dan keluarganya sudah berada di teras masjid. Mereka biasa berbuka dengan mendapatkan takjil gratis dari masjid. Kedua putrinya, Mala dan Aira merasa senang. Meskipun berbuka puasa hanya dengan makan takjil, perut mereka sudah merasa kenyang. Maryati menguraikan air mata setelah makan takjil yang disuguhkan oleh pengurus masjid, tandas tak bersisa. Sukirman menatap sendu wajah istrinya. Ia menyadari bahwa dirinya belum mampu membahagiakan keluarga. Terutama memberikan tempat paling nyaman, yaitu rumah sederhana. Sukirman selalu memanjatkan doa di bulan Ramadhan. Agar semua hajatnya terkabul. Allah pasti mendengar.
Selesai salat tarawih di masjid. Mereka pergi ke suatu tempat untuk beristirahat. Tampaknya Mala dan Aira sudah mengantuk. Mereka tertidur dalam gerobak yang beralaskan kardus tanpa memakai selimut. Udara malam sangat dingin. Tubuh kedua putrinya terlihat menggigil.
“Pak, kita cari tempat lain saja untuk beristirahat. Kasihan Mala dan Aira tubuhnya sudah kedinginan,” ucap Maryati.
Sukirman menyuruh istrinya untuk menunggu sebentar. Ia mau ke rumah pengurus masjid agar diizinkan bermalam di masjid. Maryati pun menyetujuinya. Lelaki itu pun bergegas dengan langkah cepat menuju tempat yang dituju.
Di persimpangan jalan, mobil yang dikendarai Kirun sangat pelan. Tak sengaja berpapasan dengan Sukirman yang tampak tergesa. Kemudian Kirun menghentikan mobilnya. Berteriak memanggil Sukirman yang sudah berjalan jauh dari tempat Kirun menghentikan mobilnya.
Pendengaran Sukirman masih tajam. Ia menoleh ke belakang. Tampak Kirun melambaikan tangannya agar Sukirman datang menemuinya. Lelaki itu pun bergegas ke arah Kirun yang sedang menunggu di depan mobil.
“Ada apa ya, Pak Kirun memanggil?”
“Kamu ngapain malam-malam jalan sendirian? Istri dan kedua anakmu dimana?
“Aku meninggalkan mereka dipinggir jalan.”
“Masuk ke dalam mobil.”
Kirun memerintahkan Sukirman untuk ikut dengannya menjemput istri dan anaknya.
Mobil yang dikendarai Kirun sudah berhenti di depan gerobak. Sukirman turun duluan dari mobil. Kirun meminta mereka untuk mengikutinya. Dan sampailah di depan gerbang pintu rumah Kirun yang menjulang tinggi.
Pintu gerbang itu terbuka otomatis. Mereka memasuki halaman rumah Kirun sangat luas sekali. Pepohonan hijau berjejer dan rumput sintetis yang diinjak begitu lembut.
“Ayo, kalian ikut masuk,” pinta Kirun kepada keluarga Sukirman.
Mala dan Aira digendong oleh Sukirman dan Maryati karena tidak mau membangunkan kedua putrinya yang sudah tertidur pulas.
“Kalian boleh beristirahat malam ini. Ada kamar tamu yang kosong. Aku mau beristirahat dulu. Nanti sahur ada yang membangunkan oleh Bi Narti.”
Mendengar permintaan Kirun. Sukirman tampak terkejut dan tidak percaya kalau orang yang dijuluki pelit ini. Hatinya sangat baik. Mereka pun bisa merasakan tidur dengan nyenyak di atas kasur empuk.
Selesai sahur, Kirun mengajak keluarga Sukirman untuk mengobrol di ruang tamu.
“Ternyata kamu orang yang baik dan mau berbagi dengan orang lain. Meskipun uang yang kamu punya hanya 50.000.”
Perkataan dari Kirun membuat Sukirman terkejut. Darimana lelaki yang sedang duduk bersamanya tahu kejadian itu?
“Kamu pasti bertanya-tanya. Kok, aku bisa tahu? Karena aku menguping pembicaraan kamu dengan Junaedi.”
Kirun mengatakan, apa yang dilakukan Sukirman telah membuka mata hatinya. Yang selama ini telah tertutup. Ia menyadari sudah berbuat salah. Terlalu pelit untuk menyisihkan sebagian hartanya. Meskipun Allah memberikan kelimpahan harta padanya. Jika, tidak mempergunakan dengan baik, ya, percuma. Kirun lebih suka menumpuk harta daripada berbagi dengan orang lain.
Setelah mendengarkan cerita Kirun. Sukirman memberikan pesan padanya. Bahwa harta yang sudah Allah titipkan pada kita, bukan hak milik kita sepenuhnya. Tetap saja kita harus mengembalikannya. Dengan cara apa kita melakukannya? Bersedekalah. Dengan cara membersihkan harta yang dimiliki karena dari harta tersebut ada sebagian milik orang tak mampu yang harus kita sedekahkan.
Nasehat itu menghujam ke dalam hati. Selama ini, Kirun hanya menikmati hartanya sendirian yang tak habis-habis.
“Tunggu sebentar, aku mau memberikan sesuatu untuk kalian.”
Sukirman dan Maryati saling memandang. Mereka tidak tahu apa yang akan Kirun berikan.
Kirun memberikan tas yang entah apa isinya. Sukirman menerimanya. Namun, Kirun berpesan jangan dibuka sekarang. Ia pun mengucapkan terima kasih pada Sukirman yang sudah membuatnya sadar.
Selesai menerima tas yang belum tahu isinya. Sukirman dan keluarganya berpamitan. Mereka harus berkeliling komplek lagi untuk mencari uang. Maryati sangat penasaran dengan isi tas tersebut. Meminta suaminya untuk membuka.
“Allahuakbar… isi tas ini ternyata uang, Bu.”
Sepucuk surat dalam tas mereka baca.
‘Teruntuk orang baik yang sudah mengajari indahnya berbagi untuk si orang pelit. Uang 50.000 yang sudah kamu pinjamkan dengan ikhlas. Aku ganti dengan uang berkali-lipat jumlahnya. Gunakan dengan baik untuk bisa membeli rumah agar kalian bisa merasakan tidur di tempat ternyaman tanpa harus kedinginan lagi.’
Usai membaca surat itu. Mereka berdua mengurai air mata. Betapa Allah itu Maha Baik untuk hamba-Nya.
Tamat