Disukai
0
Dilihat
5
Setelah Langit Runtuh
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ruangan itu cukup luas. Berukuran 10x10 m.

Dijejali rak-rak dan kardus-kardus yang kekenyangan oleh buku berbagai rasa. Ensiklopedia, motivasi, pengetahuan umum, sampai buku catatan anak-anak sekolah terdahulu. Meski sesesak itu, kardus-kardus baru terus berdatangan.

Catalina, nona penjaga tempat itu memandang tanpa minat gotong-royong orang-orang pembawa kardus. Toh, hal itu terlalu biasa. Bahwa motif pembawaan kardus tersebut tidak jauh berbeda dengan membuang sampah. Bahkan maksud-maksud klasik seperti mencerdaskan atau pendidikan pun telah ikut terbuang.

Setelah orang-orang berduyun pergi, Catalina menggerakkan kakinya mendekati kardus-kardus baru. Bersama lap di tangannya, ia membersihkan tiap-tiap kardus dan melihat sekilas isi di dalamnya. Kemudian, Catalina mendapati kardus itu.

Kardus itu sangat besar. Dengan buku teratas bertahktakan tulisan `Album Kenangan SMP HARAPAN ANGKATAN KE-15`.

Catalina mengangkat buku tersebut. SMP-nya dulu, angkatannya, dan ini sudah 15 tahun berlalu. Kebetulan, kah? Catalina tidak tahu.

Catalina menggegam buku itu ke meja dimana ia menobatkan dirinya sendiri sebagai pengawas. Bukan meja kebesaran dalam dunia lama. Hanya beberapa tumpuk buku di atas kain lusuh yang berlubang.

Catalina memperlakukan buku tersebut bagai barang antik limited edition. Sebab bagi Catalina, 15 tahun lalu ke atas itu bagai mimpi. Ia bahkan tidak pernah melihat serpihan yang menyuarakan bahwa 15 tahun lalu baginya itu nyata.

Jadi, dirinya membuka tiap lembar buku itu untuk sekadar menemukan bukti.

"Permisi!!" Ucap seorang laki-laki cukup keras hingga membuat Catalina reflek menutup telinganya. Bukannya memandang pembicara, Catalina malah menatap pintu masuk dengan takjub. Pendengaran Catalina memang berfungsi sebelah. Meski begitu, sebenarnya ia begitu sensitif dengan bunyi kecil. Apa sih yang dilakukan buku itu padanya?

Catalina menaikkan tangannya, memberi isyarat untuk jangan bicara keras-keras.

"Oh... maafkan saya." ucap si pengunjung membuat Catalina langsung memandangnya.

Diskripsi umum si pengunjung adalah ia berona pucat, kurus, berpenampilan kusam, tampak pemalu dan tidak percaya diri. Detik selanjutnya, Catalina sudah kembali menggiati buku album.

"Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Catalina terpaku pada album. Sekilas interaksi tersebut memang tidak sopan. Hanya saja, di masa sekarang hal itu sudah sangat baik. Toh, Catalina masih menanggapi orang itu dan tidak mengusirnya keluar.

"Saya dengar di sini ada buku-buku catatan anak-anak sekolah terdahulu," ucap si pengunjung membuat Catalina semakin terkejut. Setahunya, ini sudah 15 tahun berlalu sejak ia menemui perpaduan orang sopan dan berbahasa baku seperti itu. Oleh karenanya, Catalina rela mencampakkan buku album dari tangannya.

"Ngomong-ngomong, kau siapa dan terakhir kali bersekolah dimana?" tanya Catalina penasaran. "Kian. SMP Cita," ucapnya yang membuat Catalina bingung. Ada sesuatu dari orang ini yang terasa familiar. "Tapi saya belum sempat lulus. Langit keburu jatuh duluan saat saya kelas 8."

Catalina terdiam sebentar. Selama sesaat ia bagai dipaksa duduk pada panorama lama. Kemudian, pandangan Catalina jauh menelisik pada jendela tanpa kaca jauh dari punggung laki-laki tersebut. Tirai yang ia pasang sesekali berkibar menampilkan langit yang abu-abu, kusam, dan terasa rapuh.

"Benar," gumam Catalina. "Langit itu pernah runtuh."

***

Hidup yang benar-benar dinamakan hidup bagi Catalina dan ribuan orang lainnya dimulai ketika langit runtuh. Tanpa aba-aba atau peringatan, langit terjun menjatuhi mereka, menjelma menjadi Kotak Pandora yang dibuka dramatis.

Kotak Pandora yang berasal dari keingintahuan berlebihan dan kesombongan manusia yang merasa benar dan mengetahui segalanya. Padahal, kesalahan hal wajar bagi manusia dan Booooommmm!!! Seluruh dunia terkena dampaknya.

Kemudian, isi kotak itu berhamburan. Listrik punah, zaman modern mati, makanan langka, orang profesional tersisa segelintir, tidak ada keluarga untuk menjaga emosi, tidak ada teman untuk dipercaya, ataupun hal untuk untuk dikenal. Tidak heran jika masa kegelapan datang. Tiap manusia mencoba membuat zamannya sendiri. Membuat kemanusiaan sekarat di ujung peradaban.

"Hei, Ketel! Bocah sehina-dina dirimu hanya akan turun kasta jika bernapas bersama kambing-kambing bau itu. Kaki nistamu itu patut kupatahkan di sini, agar kau tidak menjelma menjadi simpanse biadab diantara para gorilla bejat."

Yah... Begitulah, hingga Catalina memilih membangun hidupnya di perpustakaan ini. Proses pewarisan perpustakaan yang sangat tidak elegan oleh pria tua antah berantah yang setelahnya hilang dalam kepulan kabut. Catalina tidak tahu nasib si pak tua itu. Barangkali, tersedak ucapan sendiri hingga tak bisa pulang. Toh, hal tersebut sudah biasa apalagi dengan keahlian bicaranya itu.

Lalu, 5 tahun berlalu dan Catalina bertemu orang ini. Normal sekaligus aneh di zaman yang gila. Kian, polisi patroli sukarela yang kurus dan tidak tinggi. Catalina heran, bagaimana Kian bisa tetap bertahan.

"Kau polisi tapi tidak..."

"Tidak mengerikan? Kuat? Atau seram?" ucap Kian. Catalina mengangguk. "Yah... saya, kan sukarela. Di TKP sendiri, saya lebih banyak berurusan dengan korban. Mudahnya saya ini seperti palang merah."

Catalina mengangkat alisnya. Variasi?

"Wah! Buku resep kue ini sangat bagus," ucap Kian bersemangat saat menemukan buku kue. "Sayang sekali, bahan-bahan lengkapnya sulit didapat."

Benar! Buku resep seperti itu pada zaman sekarang dianggap menyia-nyiakan. Dengan bahan pangan yang bahkan sering menjadi rebutan. Hal tersebut bisa memancing kemarahan tiap-tiap kalangan.

Catalina entah kenapa tergerak melihat antusiasme dari binar mata Kian. Jadinya, ia bangkit ke rak pojokan dan mengambil setoples gula. Gula yang kemudian ia sodorkan pada Kian.

Kian menatap gula beberapa detik. Lalu pada Catalina dan dia pun tersenyum. Catalina mengangkat alis.

"Saya dulu memang suka manis. Tapi sekarang saya sudah tidak bisa merasakannya," jelas Kian ringan.

Catalina mengernyit. Efek langit runtuh, ya?

"Tidak! tidak apa-apa!" ralat Kian cepat, mengoreksi "Sekarang saya ada di barisan asin-gurih. Setelah manis, asin-gurih pun datang. Hahaha."

Catalina tidak menyahut. Benar, tidak apa-apa. Itu frasa yang sederhana namun kuat untuk membuat siapapun tetap bernapas. Meski ada mata yang berbinar atau menitikkan air mata.

"Nona Catalina!" panggil Kian yang segera bangkit sejajar dengan Catalina. Kian memberikan secarik kertas pada Catalina.

Catalina berpikir sebentar setelah membaca kertas itu. "Beberapa novel ada di sini. Star Deus ex Machina paling tidak ada edisi lengkap, Ringing symphony yang terakhirnya, ada. Until We Write the Sea, ini belum, buku yang sangat bagus. Dan..." Catalina terdiam sebentar. "Seven Cry and Smile tidak ada sama sekali."

"Begitu?" Kian tampak kaget. "Padahal bukunya bagus."

Catalina tersenyum tipis. "Benar, sayang sekali. Bukan? Tapi mungkin aku bisa cerita sedikit-sedikit sampai buku kelima."

"Tidak sampai tujuh?" tanya Kian.

"Yah, langit keburu runtuh," jelas Catalina sedikit getir. Cukup lucu ya. Catalina yang biasanya dingin, getir hanya karena buku?.

Kian berpikir dan menimang-nimang. Ia lalu menatap Catalina tegas. "Bisa Anda ceritakan buku tersebut? Tapi besok. Bukan sekarang."

***

Catalina tengah menghadapi hidupnya seperti biasa ketika suara kertas halaman yang terbalik tiba-tiba dipenuhi suara tawa anak-anak.

Saat Catalina membungkam bukunya, Catalina mendapati beberapa ras umur mendekati perpustakaan. Banyak, tapi tidak terlalu. Ada demo kecil, kah?

"Di sinilah perpustakaan Nona Catalina!" bimbing Kian sembari membawa sekitar 10 anak-anak sampai remaja belasan tahun.

Catalina memiringkan kepala. Tidak mengerti apa yang Kian lakukan.

Kian dengan senyum lebar mendekati Catalina. "Anda kemarin bilang bisa bercerita tentang buku Seven Cry and Smile, bukan?"

Maka dari itu, Catalina mulai bercerita tentang kisah tersebut. Sesekali Catalina terdiam karena hal ini semakin tidak biasa baginya. Namun anak-anak yang tidak peka entah kenapa menjadi untung bagi Catalina. Mereka bertanya apapun yang mereka tidak ketahui.

"Apa itu permen karet?" tanya anak laki-laki berusia 10 tahun. "Kita makan karet bertabur gula, maksudnya?"

Catalina tidak kuasa menahan tawa mendengar pertanyaan sederhana itu. Yah, sederhana untuk masa kanak-kanaknya, sih. Jika Catalina kesulitan menjawab pertanyaan yang lucu, Kian dengan sigap mengambil alih. Tampaknya, Kian sudah terbiasa dengan pertanyaan unik tersebut.

"Hmmmm... menarik," renung anak perempuan 12 tahun setelah mendengar penuturan Kian. "Kalau begitu, aku akan membuat pasar permen karet!"

"Kau bercanda?" Anak laki-laki 15 tahun menyela. "Yang kita butuhkan adalah kertas, tinta, dan kacamata. Renal!"

"Itu urusanmu, Tama! Aku mau permen karet! Itu bisa membuat pikiran ringan," balas Rena.

"Sinta!" Tama mencari pembelaan.

"Kertas bagus, Tama. Tapi orang-orang juga butuh kain," tambah Sinta yang seumuran dengan Tama.

"Yang paling penting itu hutan, reboisasi," ucap yang paling tua. Ia sukses mendapat tatapan malas anak-anak lain. Tapi ia tidak peduli. "Kertas itu bahan bakunya pohon. Beberapa jenis kain butuh serat alam. Kita juga butuh pangan. Hutan dan kebun itu penting, bocah."

Anak paling muda mengangkat tangan. "Bagaimana listrik? Malam itu seram!"

"Jangan bilang itu. Langit akan runtuh lagi," sela Tama.

"Tidak runtuh jika ada peraturannya," sanggah yang paling tua. "Dan Tama! Dengan penggunaan yang baik. Listrik akan mempermudah pembuatan kertas maupun kain kalian."

"Permen karet!"

"Benar, permen juga."

Dan pada saat anak-anak itu menutup diskusi singkatnya dengan kembali menghadap Catalina. Catalina akhirnya sadar bahwa ia sudah terhenyak cukup lama.

Catalina bahkan ragu ia masih bisa menyusun kata setelah mendengar diskusi ini. Sekumpulan anak berbicara baik dan benar dengan tema pasar masa depan? Itu kombinasi ajaib nan langka yang entah darimana Kian dapatkan.

Catalina menoleh pada Kian yang hanya mengangguk-angguk setuju dengan mata terpejam. Tampaknya, ia begitu menikmati ide-ide anak-anak ini.

Catalina menarik keluarkan napasnya berkali-kali. Diam sebentar sambil memandangi anak-anak di depannya. Oke, mungkin susunan kata sudah bisa diterapkan lisannya kembali.

Tengah hari meski sepertiga buku belum tuntas, Kian menetapkan waktu istirahat bagi Catalina. Dan anak-anak disilahkan bermain. Yang ujung-ujungnya permainannya adalah eksplorasi buku.

Sore mengambang dan anak-anak memutuskan pulang. Sebenarnya, Kian yang mengambil keputusan itu secara sepihak.

"Terimakasih atas hari ini, Nona Catalina. Besok mungkin kami akan merepotkan Anda lagi," ucap Kian yang tidak langsung dijawab Catalina.

Catalina memang takjub dengan tutur kata sesuai kaidah lama mereka. Tapi ia masih saja terpukau akan cara bicara Kian yang super sopan itu. Catalina penasaran akan muasal dari cara bicara Kian. Dan entah darimana, pikirannya bilang seharusnya ia tahu akan alasan itu

"Mereka... sangat menarik," ucap Catalina pada akhirnya. "Kau yang mengajarinya?"

Kian menggeleng sambil tertawa. "Tidak, Nona Catalina. Mereka hanya suka banyak bertanya, dan saya hanya menjawab sebisa saya."

***

Kian menyalakan beberapa tumpuk kertas lama untuk menghasilkan abu. Di ufuk jauh, sorot merah masih terasa. Kian cukup yakin kalau puing-puing lama hampir tersisa bara. Seyakin kertas ulangan lama yang ia bakar adalah sortiran Nona Catalina.

Ada alasan kenapa Kian tidak pernah mengunjung perpustakaan selama ini. Setelah langit runtuh, ia bersama kakak perempuannya masih bisa hidup karena dua hal. Salah satunya buku. Dunia dimana keadaan baik-baik saja.

Bagi Kian, tindakan menjual atau membarter kertas untuk bakaran adalah kejahatan. Apalagi dilakukan perpustakaan, itu namanya korupsi.

Lalu setelah banyak hal berlalu. Kian baru menyadari bahwa pemilik perpustakaan yang sekarang tidak pernah turun di jalan.

"Napas sesakmu bahkan bertahan seperti si Ketel! Dan kepala cetekmu masih sekeras batu?!. Hal yang perlu kau telan adalah mengobati mata butamu itu, Kendil!. Hanya itu. Makanan busuk-busuk itu tidak berguna bagi kehinaanmu!"

Yah, begitulah serapah kata penjaga pertama dulu. Nasibnya seburuk gaya bicaranya. Tapi entah kenapa, ia tampak puas dengan itu.

Pada akhirnya, butuh beberapa tahun untuk Kian berkunjung ke perpustakaan. Yang mengherankan Kian. Buku-buku disana begitu banyak. Berbagai jenis. Dan tampaknya tidak ada yang sama. Kian sempat tak percaya bahwa Nona Catalina adalah penjual kertas.

"Wah! Pasti butuh puluhan tahun untuk dapat menghabiskan semua ini! Tidak ada buku yang sama!" celetuk Kian takjub setelah berkeliling pertama kali. Ia benar-benar kehilangan kewaspadaan.

"Yah, karena banyak buku itu mengganggu," ucap Catalina datar. Sementara Kian kembali waspada.

"Jamur, perawatan, keluwesan, dan lain-lain. Jadi, hanya perlu satu buku bagus terbaik dari jenisnya yang tersisa," lanjut Catalina.

"Bagaimana kalau tidak ada buku yang bagus?" tanya Kian.

"Akan kusalin dengan mesin tik. Tapi hanya inti-intinya saja," ucap Catalina.

"Anda punya mesin tik? Kertas? Tinta?"

Catalina mengangguk. "Pak Tua sebenarnya yang mempunyai itu. Tapi benda itu terbatas. Jadi gunakan baik-baik dengan ringkas. Koran-koran pun hanya ku salin intinya. Setelahnya, koran itu kujual untuk penghasilan."

"Oh... percetakan sendiri. Tapi... itu tampak merepotkan?" tanya Kian penasaran.

Catalina mengangkat bahunya. "Kebiasaan Pak Tua saja. Juga mencari remah bahwa masa lalu pernah ada!"

Kian terdiam. Masa lalu pernah ada?. Mimpi ketika ia dipinjami buku oleh kakaknya Seven Cry & Smile baru cetak. Belum dibaca karena ia sedang fokus ujian. Kemudian, dirinya yang membeli buku ke-7 sebagai hadiah graduation.

Saat langit runtuh, ke-2 buku itu selamat.

"Sebuah keajaiban besar," gumam kakaknya ketiku Kian menyerahkan buku itu pada kakaknya.

Buku ke-6 sering dibaca bergantian tapi buku ke-7 tidak pernah disentuh sekali pun. Saat Kian bertanya kakaknya hanya menjawab,"Terus saja berbicara formal sopan itu hingga buku ini terbuka."

Dari belakang tenda Kian duduk. Seorang pemuda 17 tahun merangkak mendekati sumber kertas terbakar. Pemuda reboisasi.

"Baru patroli, Kak?" tanyanya.

"Begitulah, walaupun rasanya panas tadi. Setelah beristirahat entah kenapa tiba-tiba dingin. Tapi Kalian juga kedinginan, kan, Fajar? Lalu Tama dan yang lain?"

"Tama dan lainnya makin pulas saja," lapor Fajar sambil nyengir. "Dan ya... rasanya hangat. Itulah kenapa aku bangun. Ironisnya... pembakaran ini membuat langit semakin kelabu. Itu mempersesak napas. Tapi kita juga butuh kehangatan ini agar tidak mati kedinginan."

Kian mengangguk pelan. Sekelumit pikiran dingin membayangi. Tapi Kian berusaha keras mengalihkannya pada hal yang hangat.

Seperti saat ia bertemu dengan kakaknya sehari setelah langit runtuh. Dan malamnya di puing-puing saat kakaknya tertatih mencari asal suara tangisan bayi.

Bayi laki-laki 1 tahun lebih yang belum bisa berjalan. Saat Kian bertanya orangtua si bayi. Kakaknya hanya menjawab bahwa ia si bayi sama dengan mereka.

Malam itu, Kian dan kakaknya berusaha menenangkan bayi itu. Menebak-nebak namanya. Kemudian, entah kenapa saat fajar cukup jelas. Bersamaan dengan itu, si bayi tertawa.

Tawa yang kontras dengan tangisan panjangnya. Tawa yang juga kontras dengan udara berat yang menerpa.

"Namanya Fajar," ucap kakak Kian waktu itu.

"Itu mungkin bukan nama aslinya. Tapi sekarang namanya itu saja. Fajar untuk dirinya. Juga untuk kita."

Kian yang sekarang mengusap wajahnya. Dibandingkan Tama atau yang 3 anak lainnya. Fajar yang paling lama menjadi keluarganya.

"Aku penasaran dengan akhir buku yang diceritakan Nona Catalina. Beberapa hari ini, rasanya bagus sekali," gumam Fajar. Karena benar, Setelah berhari-hari. Catalina akhirnya sukses menamatkan buku ke-5.

"Yah, pasti bagus," Kian memandang ke tenda. Ke karung goni miliknya. Dua buku itu masih di sana.

Kian jarang menampilkan buku itu di hadapan yang lain. Fajar mungkin cukup sering melihatnya dulu. Tapi itu sebelum ia belajar membaca.

"Suatu saat nanti. Kita akan menamatkannya."

"Atau buat tamat versi sendiri saja, Kak."

"Ide Anda bagus juga."

Fajar tertawa lalu memandang kertas-kertas terbakar. "Sebenarnya, Nona Catalina juga tidak suka pembakaran itu. Alasannya ia dulu pernah berharap langit akan kembali cerah. Sekarang, ia hanya bilang... Buku dan kata akan dibuat ulang generasi baru. Generasi tua sulit melihat ke depan karena lebih suka masa lalu."

Kian tercenung. "Nona Catalina berbicara seperti itu pada Anda?"

"Aku tidak sengaja melihat 7 jenis coretan di dinding. Nona bilang itu TTD. Salah satunya milik Nona."

"TTD lain?"

"Cuma masa lalu katanya".

Kian kembali memandang kertas terbakar kosong. Suka masa lalu ya? Itulah kenapa berangan-angan di pegang generasi baru.

Di sisi lain, ia teringat menjadi berpraduga kalau mungkin... Nona Catalina juga...

Ah, Kian merasa begitu merindukan kakaknya. Sudah bertahun-tahun dan Fajar bahkan tidak sempat mengingatnya.

Bencana langit itu membuat tiap yang selamat punya kecacatan fisik. Hanya Fajar yang entah bagaimana tumbuh dengan baik.

Meski begitu, bayi pun pasti akan terancam jika suhu begitu labil.

Masalahnya malam sangat dingin. Begitu berat untuk Fajar kecil dan kakaknya yang tidak kuat dingin sekecil apapun. Kian sendiri selamat karena kecacatannya yang membuat setengah badannya tidak bisa merasakan suhu.

Malam itu juga keputusan berat diambil. Mereka membakar beberapa kertas di buku 6 untuk kehangatan sementara. Fajar selamat dan Kian begitu benci kertas terbakar.

Kian memandang langit malam. Berandai-andai akan bintang yang cuti 15 tahunan. Ia lalu memandang pada tenda dimana bocah-bocah lain tertidur.

Kebencian, pilihan hidup, dan masa depan. Apapun itu, Kian harap ia tidak membakar buku itu.

***

Menurut Catalina itu pasti sudah tengah hari. Tapi tidak ada kunjungan dan entah kenapa ia termenung memandang 7 coretan di dinding.

Ia dulu dan 6 anak lain hidup mengekor pada pak tua. Mengumpulkan buku-buku dengan manual dan sukarela.

Pada masa itu hidup menjadi cukup ringan. Mereka masih bisa melukis masa depan. Buku, kertas, dan tinta adalah barang keramat yang tidak boleh disemena-menakan.

Tapi pikiran kolot pun tidak baik. Hanya Catalina yang tersisa ketika kesadaran itu terlambat. Sisanya ikut membeku pada waktu di bawah 0°C milik malam. Dan penjaga perpustakaan mulai membangun sistemnya sendiri. Yang berbeda jauh dari permulaannya dulu dan agak tidak waras walau efektif.

"Nona Catalina!" panggil Kian yang membuat Catalina terlonjak. Agaknya jika rajin menghitung, Catalina akan bosan dengan presentasi ia dibuat bingung dan takjub oleh Kian.

"Ada apa?" tanya Catalina pada akhirnya. "Mana yang lain?"

"Besok", jelas Kian menyerahkan 2 tumpuk buku pada Catalina.

Catalina menerima buku itu dengan gemetar. Kenangan demi kenangan yang jauh lebih tua dari langit kelabu berkelebat.

Masa dimana ia menabung dan menghemat uang saku gila-gilaan hanya untuk membeli novel di tangannya. Catalina sudah membeli buku ke-6. Tapi karena sudah kelas IX semester 2. Catalina mempersilahkan buku tersebut dipinjam adik teman sebangkunya.

"Nanti saat graduation ia akan mengembalikan buku itu. Kuncinya, ia akan berkata seperti Saya - Anda," janji temannya itu.

Catalina terhenyak. Ia memandang Kian lekat dan mengemukakan sebuah nama.

Kian membelalak. "Itu nama kakak saya".

Catalina diam sebentar. Membiarkan dirinya meresapi apa yang terjadi. Masa-masa itu benar-benar ada.

Kian yang sedikit bingung malah bercerita tentang kakaknya. Memastikan apakah orang yang dimaksud sama. Catalina ikut menambahi dan kesimpulannya ia adalah orang yang sama.

"Jadi, buku itu memang milik dan untuk Anda?! Itulah alasan kenapa kakak tidak membukanya!" ucap Kian terkejut.

Catalina tersenyum. "Jadi, Kian. Sekarang Anda sudah bebas dari kutukan Anda-Saya".

"Benar juga," pikir Kian. "Tapi mungkin Saya akan tetap bergaya Anda-Saya. Teman saya selama lima belas tahun itu Saya-Anda. Sangat berguna sekali dan juga bukti bahwa masa lalu ada."

"Tidak ada yang untuk masa depan?"

"Masa depan cerah tidak ada pada tangan saya. Tapi saya akan dengan senang hati membantu para pelukis ulung itu," ujar Kian.

Catalina mengangguk ringan. Masa depan cerah bagus juga. Dan hal itu memang digenggam bagi mereka yang siap melukis masa depan. Bukan seperti dirinya dan Kian yang masih sering terjebak mengejar masa lalu.

Meski begitu, bagi Catalina analogi yang pas untuk Kian adalah harapan. Memang bukan masa depan cerah. Tapi setidaknya ia bukanlah orang yang terjebak masa lalu secara ekstrem.

Di mulai ketika Catalina mendengar cara bicara Kian saat itu. Begitu juga ketika datang anak-anak seperti Fajar dan lainnya. Catalina rasa, dunia luar benar-benar akan ia tapaki nanti cepat atau lambat.

Catalina mengangkat buku ditangannya. "Jadi, Tuan Kian. Sesi saya bisa dilanjut?"

"Tentu. Saya dan lainnya tidak sabar untuk besok".

Ketika Kian sudah pergi keluar. Catalina pergi ke tempat membacanya dan mulai membaca halaman pertama buku itu. Setidaknya, ia harus mempersiapkan pada apa yang masih bisa ia jangkau. Yaitu adalah hari esok.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)