Disukai
1
Dilihat
4
Rumah Baru Ibu
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi itu, kami mengantar Ibu. Udara dingin menggantung rendah, menempel di kulit seperti perasaan yang tak ingin lepas. Jalan setapak terasa lembap, jejak kaki kami tercetak samar di tanah yang sedikit basah. Langkah kami cepat, seolah ingin segera sampai, tapi hati terasa tertinggal jauh di belakang—berat, ragu, seperti belum siap benar-benar melepas.

Tak banyak kata yang keluar. Beberapa orang memberi arahan, menanyakan jam, memastikan semuanya berjalan sesuai urutan. Sisanya diam. Namun diam itu terasa wajar, bah...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)