Di tengah gurun pasir yang terik, di mana matahari seperti membakar kulit dan meleburkannya menyerang bumi, tumbuh sebatang pohon apel yang besar. Kehadirannya aneh dan janggal. Pohon itu tidak sengaja tumbuh. Ia tidak ditanam tangan manusia. Kehadirannya tidak diharapkan dan sangat susah untuk hidup dan tumbuh.
Semua bermula dari seekor burung yang kelaparan iya terbang melintasi gurun . Ia menemukan sebuah apel yang kering dan hampir busuk. Ia mematuk buah apel busuk sisa pedagang yang lewat lalu memakan sampe habis dan kembali terbang. Biji kecil itu tersangkut di paruhnya. Saat terbang melintasi gurun, kering, haus, burung itu menjatuhkannya tanpa sengaja. Biji itu jatuh tepat di samping sebuah sumur tua yang hampir terkubur pasir. Sumur mati yang hampir tak terlihat. Diameternya tak lebih besar dari tempurung kelapa.
Di tanah gersang itu, pohon apel tumbuh dan bertahan hidup bergantung dari sumur kecil tersebut. Akar-akarnya yang halus, setipis rambut, meraba kedalam tanah mencari sumber air dan makanan. Ia merasakan tanah lembap dan segera menancapkan akarnya untuk Ia minum. Setetes demi setetes sampai pohon tersebut tumbuh rimbun dan berbuah.
Akar pohon yang semakin dalam membuat air yang mengalir tambah besar dan ukuran sumur bertambah satu sentimeter setiap hari. Pasir yang dulu menutupinya mulai tersingkap dan turun ke dasar sumur. Gurun yang mati perlahan ditumbuhi rerumputan hijau yang subur. Pertama hanya sejumput. Lalu sehamparan sampai memenuhi pingiran sumur.
Pohon apel terus tumbuh. Batangnya melebar san semakin tinggi mrnjulang ke langit, daunnya rimbun. Hingga suatu hari, ia berbuah untuk pertama kali. Tiga butir apel merah, ranum, bergelantung seperti lentera di antara dedaunan. Membangkitkan lapar para musafir yang lewat. Lewatlah Seorang musafir tua, punggungnya bungkuk digendong beban. Musafir tersebut berjalan kebawah pohon dan tanganya menyentuh pohon apel yang tumbuh subur.
Mustahil..." bisiknya pada angin. "Di tengah gurun pasir ini... ada pohon apel yang tumbuh subur."
Ia menengadah. Tepat di atasnya, sebuah apel jatuh. _Tuk_. Ia menangkapnya. Gigitan pertama membuatnya menangis. Manis dan renyah. Ia menjadi orang pertama yang mencuvipi apel tersebut. Musafir tersebut kehausan dan mengisi aur dan meminumnya kemuadian beristirahat di bawah pohon. Ia bersandar dan tertidur dibawah pohon apel.
Tak lama, para musafir lain datang bergantian ada juga pedagang rempah, dan pengembala yang tersesat. Mereka singgah untuk berteduh dan minum dan sesekali bersandar di pohon apel.
"Ini air terdingin yang pernah kurasa," kata seorang pedagang sambil mengisi gerabahnya dari sumur. Wajahnya basah oleh air dan keringat. "Air sumur ini terlihat semakin dalam dan sumur ini bertambah besar setiap aku lewat."
"Benar," sahut temannya. "Kemarin lingkarannya hanya segini." Ia membuat lingkaran dengan kedua lengannya. "Sekarang sudah begini."
Pohon itu menjadi peneduh. Ia menaungi sumur dan para manusia yang singgah untuk minum atau sekadar melepas lelah di bawah rindangnya dahan. Anak-anak mulai bermain kejar-kejaran di rumput. Kabar tentang pohon apel dan sumur itu tersebar dari mulut ke mulut. Perlahan, manusia mulai berdatangan.
Hingga suatu hari, datanglah seorang manusia yang tamak. Namanya Dgasat seorang yang paruh baya dengan sorban di kepalanya. Jari-jarinya penuh cincin. Ia tidak datang dengan kelelahan di wajah, tapi dengan peta di tangan.
"Di sini," katanya pada para pekerjanya, sambil menancapkan tongkat. "Kita bangun pemukiman di seberang sana dan mengambil air dari sumur ini untuk rumah karna Airnya melimpah."
Tanpa izin pada pohon, tanpa permisi pada sumur, tanpa tanya pada angin, ia menancapkan pipa-pipa besi langsung ke jantung sumur. _Dug. Dug. Dug._ Suaranya seperti detak ajal. Air disedot habis oleh mesin, dialirkan melalui pipa-pipa itu ke rumah-rumah beratap genteng yang baru berdiri.
Awalnya orang-orang bersorak.
"Air di rumah! Tak perlu lagi menimba!" teriak seorang ibu sambil menggendong anaknya.
Tapi perlahan, rerumputan di sekitar sumur kembali mati, kuning, lalu coklat dan menjadi debu lagi. Pohon apel mulai layu. Daunnya berguguran satu per satu. Seperti air mata. Sumur itu pun menyusut, tertutup pasir lagi. Tinggal lubang kecil yang batuk-batuk.
Dari kejauhan, dengan dahan yang meranggas, pohon apel melihat pemukiman itu. Ia melihat orang-orang menikmati air.
Di satu rumah, seorang saudagar kaya membuka keran sebesar-besarnya. "Biar adem," katanya pada istrinya. Air mengucur deras, membasahi pasir di depan rumahnya. Membuat air menguap dan terbuanh sia-sia dalam sekejap mata.
Di rumah lain, anak-anak Dgangsat bermain perang-perangan dengan menyemprotkan air dari selang. Tawa mereka pecah, sementara di luar, seekor pohon apel hampir mati kehausan.
Pohon apel sedih. Getahnya seperti kering. Ia hampir mati. Dunianya kembali menjadi kuning dan sunyi, tidak ada musafir dan pedagang yang singgah.
Lalu ia sadar. Dalam diamnya yang sekarat, ia merasa getaran. Akarnya dan pipa besi penyedot itu letaknya sangat berdekatan. Hanya sejengkal. Pipa itu dingin, tak bernyawa. Tapi di dalamnya, ia bisa merasakan air miliknya mengalir deras, dirampok.
Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari ingatan tentang tawa anak-anak dan doa musafir tua, pohon apel bangkit. Ia mengerahkan seluruh kehidupannya ke satu akar yang paling kuat. Akar itu menajam, mencoba menembus besi itu. _Kraak_.
Besi itu terlalu keras. Akarnya rusak, patah, berdarah getah yang kental dan lengket. Rasanya seperti ditusuk seribu jarum. Tapi pohon apel tidak putus asa. Di batangnya yang keriput, ia teringat buah pertamanya. Ia teringat tangis musafir itu.
"Jika tidak bisa menembus dan mendapatkan air maka iya akan mati sia-sia. Dari pada aku hanya pasrah dan mati sia-sia aku akan mencoba menembus walau akarku akan rusak dan bengkok. Aku akan menakhlukanya.
Akar-akarnya pun berbelok karna pipa besi yang kera. Kemudian iya diam sejenak dan tidak lagi menyerang. Tapi merayap, melata pelan, lalu melilit pipa besi itu erat-erat. Lilitan pertama. Kedua. Ketiga. Seperti pelukan seorang ibu yang putus asa, tenaganya habis. Ia berkata " kalau aku tidak bisa menembusnya maka aku akan mematahkannya " dengan tubuhnya yang ringkih, hampir tumbang iya melilit dengan sekuat tenaga dan hampir tidak berdaya. Kemudian daun terakhirnya pun jatuh. _Tuk_.
Dunia sunyi.
Tiba-tiba, angin gurun berembus kencang. Bukan angin biasa. Ini angin yang lahir dari kemarahan dan harapan seperti baday pasir. Ia memutar, menderu, menghantam pemukiman dan pohon tua itu.
_Krek._
Lilitan akar yang kuat, dibantu dorongan angin, membuat sambungan besi di dalam tanah itu sedikit... terbuka. Hanya celah kecil. Seukuran luka.
_Tes... tes..._
Air kembali merembes dari celah itu. Tidak banyak. Tapi ia jatuh, setetes demi setetes, tepat membasahi akar yang luka, yang patah, yang masih memeluk pipa.
Pohon apel merasakan getaran dan energi yang kembali mengalir. Dari akar yang basah itu, kehidupan merambat naik. Setetes air menjadi sejuta harapan.
Besoknya, seorang anak kecil dari pemukiman, yang dilarang ayahnya sigaranga mendekat ke pohon mati itu, diam-diam berlari ke sana. Ia terkejut.
"Ayyaah! Ibu!" teriaknya sambil berlari pulang. "Pohonnya! Pohonnya bertunas lagi! Ada daun kecil!"
Sigaranga keluar dengan wajah masam. Ia berjalan ke tempat pohon apel tumbuh dan melihat benar saja di ujung dahan yang kering, ada satu daun hijau kecil. Di bawahnya pohon aprl ia melihat pasir di sekitar sumur terlihat lembap.
Minggu depannya, pohon apel hidup lagi. Ia tidak sebesar dulu. Tapi ia mekar. Dan di antara dedaunannya, bergelantung dua buah apel. Kecil, tapi merah.
Sumur pun kembali bernyawa. Airnya krmbali terisi walau tidak sebanyak dulu, tapi cukup. Cukup untuk diminum bersama dan di aliri ke pemukiman.
Dan sekali lagi, di bawah rindangnya dahan pohon apel, manusia duduk beristirahat. Seorang dan para musafir baru berdatangan. Ia menatap pohon itu lama.
"Pohon ini..." katanya pada anak kecil tadi. "Kenapa batangnya seperti memeluk tanah?"
Anak itu tersenyum. Ia menyodorkan sepotong apel. "Karena ia sayang sama kita, Paman, dan mereka tersenyum." Musafir itu menerima dan musafir itu menggigit apelnya. Ia berbisik" sungguh berat perjuangan mu tumbuh di tengah gurun pasir, dan sungguh kuat keinginanmu untuk bertahan hidup sehingga akarmu memeluk dan mencengkram tanah dengan sangat kuat".
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa gurun yang tidak terlalu terik dan tampa takut kehausan dan kelaparan jika tersesat disana.
Tamat.