Gerimis kala petang terasa amat melankolis…, setidaknya begitulah bagi sebagian orang yang kukenal. Tiap rintiknya menurunkan kembali kenangan yang telah lama menguap ke langit. Kenangan tentang mantan, katanya. Kau juga merasa begitu? Bagiku, hujan rintik-rintik sore ini mendorong keinginan buat membunuh orang itu.
Meski masing-masing bekerja di perusahaan yang berbeda, kantor Ana Septiani dan Dewa Samudera menempati gedung yang sama di Jakarta Pusat. Sore itu, langkah mereka menuju halte bus Transjakarta untuk pulang, sama-sama terhenti oleh gerimis yang kian deras. Kaki-kaki keduanya membelok ke sebuah coffee shop mungil namun nyaman. Dalam kondisi saat itu, mereka hanyalah dua dari banyak pekerja yang mengunjungi tempat itu dengan alasan serupa, sejenak menunggu hujan reda. Saking ramainya, para pengunjung mesti rela berbagi meja. Duduk menghadap meja yang sama, dari situlah Ana dan Dewa berkenalan dan, seperti di lagu-lagu pop dan cerita-cerita picisan, mereka jatuh cinta.
Dari situ, setiap peringatan hari jadian, pasangan ini selalu menjalankan ‘ritual’ ngopi bareng buat mengenang awal perkenalan mereka. Baik itu di coffee shop yang baru buka ataupun sekadar di kamar kos Ana, ketika Dewa menyelinap ke dalam tanpa diketahui para penghuni kamar sebelah. Entah tidak diketahui atau mereka pura-pura tidak tahu.
Muda usia dan asmara hanyalah selemparan batu jaraknya dengan syahwat yang bergelora. Penuturan, “Aku hamil,” akhirnya keluar juga dari bibir tipis Ana yang sekaligus meminta tanggung jawab kekasihnya itu. “Baiklah, kita menikah,” jawab Dewa, “tapi karena terbilang dadakan, aku cuma bisa mengadakan resepsi yang sederhana. Kamu tahu tabunganku tidak seberapa.”
Setidaknya sikap bertanggung jawab dari Dewa melegakan perempuan itu. Dengan tambahan dana dari tabungan milik Ana, dalam waktu dekat keduanya berencana melangsungkan pernikahan yang sederhana seperti rencana mereka, namun intimate. Mereka merasa beruntung berasal dari generasi yang tidak lagi sungkan menghelat pernikahan hanya di sebuah coffee shop, dengan hanya mengundang teman-teman terdekat sehingga momennya terasa lebih mendalam. Rencananya seperti itu.
Namun kenyataan berucap lain.
Hingga saat penghulu sudah hadir, Dewa belum juga muncul. Deg-degan dan perasaan khawatir berkecamuk dalam benak Ana. Dewa, di mana kamu? Entah sudah berapa pesan instan dan panggilan telepon darinya kepada calon suaminya itu tak dijawab. Keringat dingin mengucur. Diiringi keputusasaan, sekali lagi ia berusaha menelepon Dewa.
Nihil.
Akhirnya, dengan amat terpaksa, pernikahan dibatalkan. Mau tidak mau, Ana harus menanggung malu.
Hari-hari setelahnya, ia tetap tidak menemukan Dewa; di tempat kosnya, di rumah keluarganya yang berkali-kali meminta maaf, begitu juga di kantornya. Di mana pun. ‘Sang Samudera’ seperti mengering oleh kemarau tiada ujung.
Dan yang paling getir, tanpa adanya pernikahan, lantas Ana bertanya, Apa poinnya harus mempertahankan jabang bayi ini? Ia tidak ingin anak dalam kandungannya lahir tanpa ayah. Dirinya pun tidak siap jika mesti menjadi ibu tanpa suami. Maka pada satu sore yang gerimis, Ana memberanikan diri mendatangi sebuah tempat yang sudah menjadi rahasia umum. Dari luar bangunan itu nampak seperti rumah sederhana. Di dalam sana, meski harus menanggung sakit fisik sekaligus batin, ia menggugurkan kandungannya.
***
Pengalaman pahit itu lima tahun yang lalu. Kini Ana sudah, atau setidaknya berusaha, menguburnya dalam-dalam - walau tentu saja tidak pernah bisa tertutup sempurna. Yang jelas, dirinya telah resign dari kantor, meninggalkan Jakarta untuk menempati rumah warisan orang tuanya di pinggiran kota Bandung. Rumah yang kemudian ia jadikan kafe kecil, tempatnya mulai menata ulang hidupnya.
Beberapa bulan berjalan, kafenya mulai dikenal, bahkan ada pengunjung yang beberapa kali kembali datang, meski belum banyak. Salah satunya seorang laki-laki berkacamata dengan bingkai tebal. Penampilannya kurang rapi, dan sejauh penglihatan Ana, rambut wajah laki-laki itu tidak pernah tercukur rapi. Ia beberapa kali datang sore hari memesan kopi, kadang berikut camilan kue.
Semakin diperhatikan, laki-laki itu makin mengingatkan Ana akan sosok Dewa. Ia memang tidak pernah melihat Dewa berpenampilan sekucel itu, tapi dirinya tidak lupa postur tubuh dan cara berjalan laki-laki yang hampir menjadi suaminya, meski kini nampak sedikit lebih kurus dan yah, agak terlalu tua dari usia seharusnya.
Apakah itu betul Dewa? Pada dasarnya ia tidak menyangka, dan tidak pernah berharap, bakal bertemu laki-laki itu lagi. Ditambah, kala pertama kali datang, laki-laki itu mengenakan windbreaker ber-capuchon guna melindungi tubuh dan kepalanya dari gerimis sore itu. Nampaknya ia lupa menurunkan penutup kepala itu saat sudah berada di dalam kafe, sehingga wajahnya kurang nampak jelas di balik rambut agak gondrong dan acak-acakan.
Tapi setelah Ana pikir-pikir…, sore, gerimis, dan kopi…, semua itu membawakan sosok Dewa kembali kepadanya.
“Dewa?” Ana memberanikan diri menyapa laki-laki itu ketika ia datang lagi di sore hari.
Yang disapa mengangkat wajah perlahan dan mengesampingkan rambut yang menutupi keningnya. “Kamu masih ingat aku rupanya,” ia menjawab. Ada senyum malu-malu sekaligus kesan sungkan di situ.
“Agak nebak-nebak juga sebetulnya. Apa kabar, Wa?”
Kebetulan sore itu pengunjung kafe sedang tidak ramai. Ana jadi punya kesempatan buat sejenak ngobrol dengan laki-laki yang seperti baru turun gunung itu di kursi teras.
“Jadi, kenapa?” Ana tidak ingin terlalu lama berbasa-basi. Bagaimanapun, persoalan lima tahun yang lalu bukan perkara sepele.
Dewa mengerti pertanyaan Ana. Ia menghela napas. Kemudian memandang kosong ke samping kanannya sambil mengatakan, “Ternyata aku belum siap, Na.” Tatapannya masih di situ, seperti tidak berani menatap mata perempuan di hadapannya. “Berumah tangga saja aku belum siap, apalagi tiba-tiba harus menjadi seorang ayah.” Sambungnya.
Kamu pikir aku siap? Ada percikan amarah dalam hati Ana ketika mendengar jawaban Dewa, seperti yang sempat berkobar dulu.
“Terus cara kamu menghadapinya dengan ngabur gitu aja?” balas Ana mencoba tetap tenang.
“Maaf, Na, aku pengecut.”
Betul, kamu pengecut.
Ternyata amarah itu meletup dan meletup lagi. Ana berusaha mengendalikan dirinya sebisa mungkin.
“Kamu tentu tahu, saat itu aku kecewa, marah, sedih banget, dan pastinya menanggung malu,” Ana merasa kedua matanya mulai panas, ada air mata yang mengambang di sana. Buru-buru ia mengambil tisu pada kotak di depannya dan menyeka mata.
“Sekali lagi aku minta maaf,” tangan Dewa berusaha meraih jemari Ana, tapi perempuan itu menepisnya.
“Sudahlah,” tutur Ana pelan, “itu sudah lama sekali. Lagi pula, aku pindah ke sini buat melupakan semua itu, bukan mengingat-ingat lagi.”
“Bagaimana dengan anak kita?” ragu-ragu Dewa bertanya.
Mendengar jawaban Ana, kepala Dewa menunduk dalam. Namun dalam jeda sepersekian detik, ada kilasan seringai di bibir Dewa. Sepersekian detik yang tidak terlewat oleh mata Ana.
Bangsat.
***
Sepertinya aku ingin membunuhnya. Bukan, bukan sepertinya, aku benar-benar ingin membunuhnya.
Sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya untuk membunuh seseorang, namun kali ini… ia mulai mencari-cari cara buat membunuh laki-laki itu.
Malam itu Ana terbaring di tempat tidurnya. Miring ke kiri, kemudian ke kanan. Diulang lagi. Akhirnya ia bangun menuju meja tulis di seberang ranjangnya, mulai menuliskan rencana yang ada di kepalanya. Dengan menuliskannya akan tergambar lebih jelas, termasuk jika ada lubang yang perlu ditutupi agar skenario pembunuhan tidak terbongkar.
Pertama, bagaimana Dewa akan mati? Memerhatikan penampilannya yang belakangan terlihat acak-acakan, akan cukup masuk akal jika dirinya mati bunuh diri akibat rasa bersalah meninggalkanku, calon istrinya yang saat itu tengah mengandung, di hari pernikahan kami.
Dengan cara apa aku membuat laki-laki itu tampak mati bunuh diri? Menggantung dirinya atau menjatuhkannya dari gedung tinggi? Ah, tidak.
Mmm…, ada cara yang lebih mudah untukku sekarang: ngopi. Apalagi ngopi adalah momen yang kami rayakan. Jika aku mengundangnya ngopi secara personal, kemudian kububuhkan racun pada kopinya, rasanya ia tidak akan menaruh curiga.
Selanjutnya menyiapkan saksi yang menguatkan bahwa Dewa memang bunuh diri, sekaligus mengalihkan kecurigaan jika aku meracuninya.
Beberapa kali Ana meminta tolong Dewa untuk membelikan obat antidepresan dan obat tidur dalam perjalanan sebelum mengunjungi kafenya lagi, di toko obat milik seorang tetangganya. Wanita tua pemilik toko, terlihat tak mungkin berbohong, akan menyaksikan seorang laki-laki berpenampilan acak-acakan dan nampak muram, membeli obat-obatan tersebut, kemudian ditemukan mati bunuh diri. Wajar. Kesaksiannya akan sangat berguna nanti.
“Jujur, sejak kejadian itu aku sempat menjalani terapi medis. Tapi aku bersyukur itu berjalan lancar, keadaanku semakin baik, meski aku masih membutuhkan obat-obatan tersebut,” karang Ana satu kali ketika Dewa membawakannya kantong plastik berisi titipannya.
“Ini uangnya,” tambah Ana menyodorkan uang pengganti pembelian obat.
“Nggak usah, Na, nggak apa-apa,” tolak Dewa sambil mendorong sodoran tangan Anda. “Toh, aku juga penyebabnya. Jadi, kalau ada sedikit yang bisa aku lakukan buat membantu kamu, kuharap kamu mau terima.”
“Oh, terima kasih kalau begitu, Wa.”
Yang pamungkas adalah membuat pesan kematian guna menegaskan keinginan bunuh diri Dewa. Ana masih ingat tulisan tangan laki-laki itu dengan membayangkan secarik puisi pemberian Dewa yang ditulis tangan, tapi mustahil menirunya sama persis. Maka dengan tangan disengaja gemetaran, sebagai cerminan kondisi jiwa seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri, ditulisnya: Cukup sampai di sini. Rasa bersalah ini terlalu berat.
Tiga kali sudah laki-laki itu mengantarkan obat-obatan untuk Ana, kini saatnya mengundang si brengsek itu ngopi-ngopi seperti dulu. Setiap hari Senin kafenya tutup. Itulah saat yang tepat buat mengajak Dewa ngopi-ngopi berdua saja.
“Sebetulnya masih ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal, Wa. Kamu keberatan nggak kalau kita ngobrol-ngobrol, Senin sore, gimana?” tawar Ana. “Kopinya gratis, kok,” sambungnya sambil nyengir.
“Tentu saja aku nggak keberatan.”
Lanjutan skenario Ana di hari eksekusi sederhana saja, ia akan menyajikan kopi yang mengandung obat antidepresan dan obat tidur dosis tinggi, terlampau tinggi sehingga sanggup mencabut nyawa manusia. Pahitnya kopi akan mengamuflase rasa pahit dari obat. Klop.
Setelah Dewa mati, saat malam telah sepi Ana akan mengendarai mobilnya untuk mengangkut dan membuang mayat Dewa ke satu tempat, meletakkan botol antidepresan dan obat tidur yang sudah kosong dekat mayat, serta memasukkan kertas berisi pesan kematian ke saku pakaian mayat.
***
Senin sore tiba. Ana tengah menyiapkan cangkir, sendok kecil, dan perangkat jamuan lain yang dibutuhkan, ketika bel ditekan dari luar pagar. Ia berjalan ke pintu, dan melalui keca di samping pitu melihat ke luar. Dewa ada di sana, berdiri sembari menutupi kepala dengan sebelah tangannya.
Ternyata di luar gerimis. Momen ini sedikit banyak bakal seperti suasana pertama kali kita duduk bersama menikmati kopi di sore hari dulu. Nampaknya semesta mendukung. Hanya saja kali ini bukan untuk memulai sesuatu, Wa, tapi mengakhiri nyawamu.
Bergegas Ana membuka pintu pagar dan mempersilakan laki-laki itu masuk. Ruangan ini sehari-harinya adalah area indoor kafe miliknya, yang sengaja didekor dengan suasana homey. Sehingga ketika kafe libur, tak perlu diapa-apakan lagi ruangan ini otomatis beralih fungsi menjadi layaknya ruang keluarga.
Tepat setelah melangkah ke dalam ruangan itu, pintu depan berada di belakangnya, Dewa menjulurkan sebelah tangannya yang lain, yang sedari tadi ya sembunyikan di balik badan. Ia menyodorkan sebuah bungkusan plastik.
“Aku bawakan ini.”
Ana membukanya. Ada sebuah kotak, nampaknya berisi makanan.
“Wah, brownies,” mata Ana berbinar melihat kue kesukaannya.
“Aku membuatnya sendiri, pakai dark chocolate. Mudah-mudahan enak buat teman ngopi.”
“Serius? Aku tahu kamu bisa masak untuk makanan sehari-hari, tapi nggak nyangka kamu bisa bikin kue juga,” timpal Ana, kemudian mempersilakan Dewa duduk dan pamit ke dapur buat menyiapkan kopi.
Di tempat itu ia menuangkan kopi dari teko ke cangkir masing-masing. Normalnya, tamu yang baru pertama kali berkunjung masuk ke rumah seseorang akan merasa sungkan dan dengan sopan duduk menunggu ketika tuan rumah menyiapkan jamuan. Tapi sebagai antisipasi seandainya laki-laki itu menyusul ke dapur, Ana telah melarutkan obat-obatan dengan air panas di dalam cangkir Dewa sebelum laki-laki itu datang. Cangkir yang digunakan untuk kopi masing-masing pun warnanya sedikit berbeda agar tidak tertukar.
Meski begitu tetap saja jantungnya berdebar kencang, kepala Ana menoleh ke sekeliling. Aman. Ia menenangkan diri sebentar sebelum mulai beranjak membawa kopi-kopi itu ke meja.
Saat itulah ia mendengar Dewa memanggilnya. Rupanya laki-laki itu menanyakan letak toilet.
“Sekalian merapikan diri sebentar,” ujarnya, “tadi, kan, di luar gerimis.”
Ana menghampiri, memberitahunya, sambil membawakan kopi yang telah siap diseruput, juga gula aren dalam wadah terpisah, piring-piring beserta sendok-garpu kecil dan pisau kue. Setelah semua rapi di atas meja, dirinya duduk menunggu Dewa.
Beberapa menit kemudian, Dewa melangkah keluar dari toilet dan menemukan Ana tergeletak di kursinya. Laki-laki itu memeriksanya. Sudah mati. Ia melihat pada meja ada sisa-sisa brownies di sebuah piring kecil.
Dewa menunggu sampai larut malam. Ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam sarung tangan karet untuk mencuci salah satu cangkir kopi yang nampaknya disediakan untuknya. Yah, tentu tidak cuma itu. Kemudian ia mengeluarkan botol obat antidepresan serta obat tidur dari saku jaketnya, melarutkan isinya ke dalam kopi Ana, dan meletakkan begitu saja botol-botol yang sudah kosong di meja, berikut secarik kertas berisi pesan bunuh diri yang telah disiapkannya.
Di luar sudah sepi, laki-laki itu membawa kembali brownies ketika melangkah keluar dari rumah.
Dewa Samudera, sehari sebelum hari pernikahan
Tumben-tumbenan, nih, Bara bela-belain dateng ke sini. Emangnya sepenting apa, sih, urusannya?
“Ada apa Bar, kok, tumben? Ke rumah gue, kan, jauh.”
“Mmm, gimana, ya? Sebetulnya gue nggak enak menyampaikan ini, tapi sebagai teman harus banget.” Kulihat wajah Bara kebingungan.
“Kalau harus, ya, sampaikan, dong.”
Ia mengeluarkan ponsel dari kantong celana panjangnya.
“Begini, Wa, gue nemuin video ini, dari sebuah website bawah tanah.”
Bara menyentuh tombol play dan menyodorkan ponselnya kepadaku.
Kuamati dengan seksama adegan di video itu. Seorang perempuan, bersama seorang laki-laki, mesra, apakah mereka pacaran? Tunggu, rasa-rasanya aku mengenal laki-laki itu, tapi di mana, ya? Ah, itu tidak terlalu penting. Justru perempuan itu yang penting. Wajahnya, rambutnya, postur tubuhnya, mirip Ana. Iya, Ana-ku.
ASTAGA!
Ini potongan video porno amatir.
Tapi apakah benar perempuan itu Ana?
Tidak. Bukan. Aku berusaha menyangkal.
Namun penyangkalanku berakhir ketika aku melihat tahi lalat di bagian samping payudara perempuan itu, dekat ketiak kirinya.
SIALAN.
***
Udara terasa sejuk, di luar langit oranye nampak samar tertutup mendung, dan gerimis masih merintik-rintik. Aku yakin bau tanah basah di taman kecil itu menyegarkan. Sementara aku di dalam sini duduk di sisi tubuhnya. Untuk terakhir kalinya, kulumat bibir tipis perempuan yang tidak lagi bernyawa ini. Besok atau lusa, saat gerimis turun lagi, mungkin aku juga akan teringat mantanku. Tidakkah itu syahdu?