Disukai
0
Dilihat
9
Novel Pembawa Mimpi Buruk
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Tolong!"

"Tolong aku!"

Seorang gadis berlari dengan wajah ketakutan di tengah hutan. Ia terus berteriak histeris, berharap ada orang yang bisa menolongnya. 

Di belakangnya ada sosok monster bertubuh tinggi besar, dengan mulut dipenuhi cairan merah darah dan gigi taring nan buas.

Makhluk itu mengejar sang gadis dengan penuh nafsu. Tubuh raksasanya menghancurkan pohon, bukit, dan benda apa pun disekitarnya hanya untuk menangkap mangsanya. 

Brakkk!

Benar-benar malang nasib gadis itu. Kakinya tanpa sengaja tersandung akar pohon besar yang melintang di tengah jalan. Tubuhnya pun terjerembab ke tanah, dan tak mampu lagi untuk berlari. 

Saat itulah, monster itu berdiri di depannya. Ia pun mencoba mencengkeram mangsanya yang sudah tak berdaya. 

Dengan putus asa, sang gadis pun meronta-ronta. 

"Kyaaaa!!"

 

                                                 *****

"Arrgggh!"

Aku membuka mata dan seketika terbangun dari tidur. Wajahku pucat dan keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh. 

Kulirik jam dinding, ternyata masih jam 3 pagi. 

"Mimpi buruk itu lagi," batinku dengan gemetar. 

Sudah seminggu terakhir aku tak bisa tidur nyenyak. 

Penyebabnya selalu sama; mimpi buruk. 

Aku yakin semuanya berawal saat aku berkunjung ke rumah Nenek akhir pekan lalu. 

Nenek baru saja wafat awal bulan ini, menyusul kakekku yang sudah tiada sejak delapan tahun lalu. 

Otomatis, rumah tua yang mewarnai sejarah keluarga kami pun kosong tak berpenghuni. 

Karena itu, aku datang untuk membersihkan debu dan merapikan barang-barang di sana. 

Saat menata rak di ruang baca, tiba-tiba aku menemukan sebuah buku catatan tua. 

Sampulnya terbuat dari kulit berwarna cokelat. Kertasnya telah berubah menjadi warna kekuningan, dan beberapa halaman mulai digerogoti rayap. 

Meski begitu, tulisan di dalamnya masih terbaca dengan jelas, dan ternyata isinya adalah draf novel yang ditulis tangan. 

Sepertinya nenekku yang menulis cerita ini. Waktu masih muda, ia adalah mahasiswa sastra yang aktif membuat tulisan. Karya-karyanya sering diterbitkan di surat kabar, majalah, sampai dijadikan buku. 

Aku pernah baca beberapa novel dan cerpennya. Isinya sangat menarik, bahkan untuk generasi muda sepertiku.

Makanya tak heran ia berhasil menyabet penghargaan tingkat nasional beberapa kali.

Akan tetapi setelah menikah, entah kenapa Nenek berhenti menulis, dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. 

Aku pernah bertanya soal itu, namun aku lupa apa jawaban Nenek karena saat itu aku baru kelas dua SD. Masih terlalu kecil untuk mengingat banyak hal. 

Dan ketika beranjak dewasa, aku tak pernah bertanya lagi. 

Aku kemudian membawa buku itu ke meja belajar di pojok ruangan, dan membacanya. 

Novel ini berkisah tentang gadis miskin yang jatuh cinta dengan seorang pangeran berkuda pada abad pertengahan.

Sang pangeran baru saja melarikan diri ke hutan setelah dikudeta, dan istananya direbut paksa oleh sepupunya yang licik. 

Cerita pun berkembang jadi kisah perjuangan pangeran dan pendukungnya untuk merebut kembali kerajaan. 

Sang gadis, yang telah menjadi kekasihnya, setia mendampinginya di setiap langkah perlawanan. 

Akhirnya, pangeran berhasil mengalahkan musuhnya, dan menduduki takhta kerajaan. 

Tak lama kemudian, ia melamar gadis pujaan hatinya. Mereka berdua pun menikah, dan hidup bahagia selamanya.....

 

 

*****

Aku menatap buku catatan itu setelah membaca seluruh isinya. Alurnya terdengar klise, tak seperti karya Nenek yang lain. 

Biasanya, Nenek selalu membuat cerita yang sulit ditebak, namun tanpa plot twist yang berlebihan. Itulah daya tarik yang membuat karya-karya Nenek digemari para pembaca. 

"Hmmm." Aku pun tertegun sejenak, sebelum akhirnya mendapat ide cemerlang. 

Bagaimana kalau kurombak saja ceritanya? 

Lagipula, draft novel ini ditulis dengan pensil. Aku bisa menghapus dan mengubah beberapa bagian tanpa merusak halaman. 

Aku memang sejak lama bercita-cita jadi pengarang. Sudah beberapa kali aku mengirim cerita ke platform online. Temanya seputar fantasi dan action, dua genre favoritku. 

Meski belum sehebat nenekku, sejauh ini jumlah pembacanya lumayan. Setidaknya aku bisa dapat uang saku tambahan dari tulisanku. 

Tanpa pikir panjang, aku mengambil pensil, dan mulai menulis. Kuhapus bagian yang tak kusukai, lalu diganti dengan karanganku sendiri. 

Tiga jam lebih kuhabiskan untuk merombak semuanya, hingga alurnya pun berubah drastis. 

Dalam cerita tambahan yang kubuat, sang pangeran yang baru saja merebut desa terakhir, tiba-tiba diserbu oleh monster haus darah yang dikerahkan oleh musuh. 

Pangeran itu pun terluka parah hingga sekarat karena serangan dadakan itu. Sementara kekasihnya harus lari menyelamatkan diri ke hutan dengan penuh ketakutan.

Sebenarnya aku ingin menulis lanjutan nya saat itu juga. Sayangnya, hari sudah larut malam, dan aku harus segera pulang. 

Alhasil, novel itu menggantung tanpa ending yang jelas. 

Awalnya kupikir tak ada masalah. Lagipula, aku merombaknya hanya karena iseng, walaupun bisa saja aku terbitkan cerita ini untuk mengenang warisan Nenek. 

Namun sejak saat itu, mimpi buruk terus menghantuiku. 

Seluruh adegan yang kubuat bermunculan mengusik tidurku. Termasuk adegan pangeran yang sekarat dan berlumuran darah, juga gadis yang nyaris dimangsa oleh monster buas. Dan ini sudah berlangsung delapan hari berturut-turut. 

Karena tak tahan lagi, aku memutuskan untuk mengecek buku itu kembali.

 

                   

*****

Hari Minggu jam 8 pagi, aku sudah tiba di rumah Nenek dan bergegas menuju ruang baca. 

Kuambil buku catatan itu dari rak baris kedua, dan langsung kubuka bagian yang telah diubah.

Kuperiksa satu per satu, lembar demi lembar. Siapa tahu ada petunjuk yang luput dari perhatianku. 

Mataku tiba-tiba tertuju pada gambar sketsa di halaman 213. 

Sebelumnya, gambar itu menampilkan adegan sang pangeran mengendarai kuda, membonceng kekasihnya yang memeluk dari belakang. 

Namun sekarang, gambar itu berubah jadi adegan sang gadis yang dicengkram oleh monster dan bersiap untuk dimangsa. 

Saat itulah baru aku sadar, draf yang kupegang ini bukan sekadar novel biasa. Melainkan dunia yang benar-benar hidup!

Makanya ketika aku mengubah alur ceritanya, otomatis seluruh adegan dan ilustrasi di dalamnya juga ikut berubah.

Sontak aku pun dilanda kebingungan. Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa dalam situasi begini. 

Untungnya, hal itu tak berlangsung lama. Sebab aku menemukan sebuah kertas berwarna kuning dengan karakter 化生 dan motif Cina tergambar di keempat sisinya. 

Anehnya, kertas itu menempel dengan kuat di halaman pertama buku, dan sulit dilepas. 

"H-Huàshēng?"

Aku terbata-bata saat mengejanya. Maklum, aku terakhir belajar bahasa Mandarin saat SD. Jadi sudah banyak Hanzi yang lupa dari ingatan. 

"Ah, benar!" Aku pun menjentikkan jari. 

Berkat kertas itu, perlahan aku mengingat semua yang pernah dikatakan Nenek.

 

*****

"Nek, kenapa dulu berhenti nulis novel setelah nikah dengan Kakek?" tanyaku saat kami duduk di sofa ruang keluarga, 12 tahun yang lalu. 

Nenek, yang sedang asyik nonton TV, melirikku. 

"Wah, kalo itu sih ceritanya panjang," katanya sembari tertawa kecil. 

"Apa karena tak punya waktu luang?"

"Hmm, nggak juga"

"Ayo cerita dong nek," pintaku setengah mendesak. 

"Kamu ini memang suka penasaran ya," ucap Nenek mengusap-usap rambutku. 

"Jelas dong." Aku pun tergelak. 

"Sebenarnya, beberapa minggu sebelum nikah, Nenek juga masih menulis novel..."

"Yang benar?" tanyaku kaget. 

"Iya," balasnya. 

"Malah waktu itu sibuk banget, karena Nenek mengejar penerbitan besar"

Aku pun bersemangat mendengarkannya. 

"Memangnya novel apa yang Nenek tulis?"

"Novel action," jawabnya. 

"Huh? Memangnya Nenek tertarik sama cerita action juga?" Aku pun mengernyitkan dahi. 

"Yah, sebenarnya itu juga pengalaman pertama Nenek," terangnya. 

"Waktu itu, minat terhadap novel perjuangan hidup dan hak-hak wanita memang sedang turun. Kalah pamor dengan cerita ksatria berkuda dan bela diri"

"Makanya, teman-teman pun menyarankan Nenek untuk coba menulis novel action juga."

"Oooh," sahutku takjub. “Kalo ceritanya bagaimana?”

"Ceritanya tentang seorang pangeran mahkota yang kehilangan takhtanya, dan diasingkan ke hutan oleh kerajaan," sambungnya. 

"Di tempat pengasingan itu, ia bertemu seorang gadis miskin yang tinggal di gubuk reyot. Ia hidup bersama ayahnya, seorang pemburu dan penebang kayu"

"Singkatnya, mereka akhirnya jatuh cinta dan berjuang bersama untuk bisa merebut kembali takhta kerajaan"

"Wah, kedengarannya menarik tuh," ucapku antusias. 

"Lalu, kenapa novel itu tidak dilanjutkan, Nek?"

Nenek pun melanjutkan ceritanya. 

"Waktu itu, novelnya sebenarnya sudah selesai. Cuma menurut Nenek, ceritanya terasa kurang hidup," katanya. 

"Nenek pun berusaha revisi berulang kali. Namun tetap saja masih ada yang kurang."

"Suatu hari, Nenek pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan. Di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang menjual jimat kertas Cina dan menawarkannya pada Nenek."

"Awalnya, Nenek tidak mau beli. Tapi setelah kasihan melihat tubuhnya yang kurus dan renta, akhirnya Nenek beli jimat dengan tulisan Huàshēng (化生)." 

"Kata wanita tua itu, jimat yang nenek pilih bisa 'membawa kehidupan bagi siapa pun dan apa pun.' Namun, ia juga berpesan agar tetap berhati-hati saat menggunakannya."

"Nenek pikir wanita tua itu sengaja bilang begitu biar orang lebih tertarik sama jimatnya. Makanya, Nenek santai saja membawanya pulang, dan menempelkannya di lembar pertama draf novel itu. Siapa tahu bisa membawa keberuntungan."

"Sayangnya...."

"Sayangnya?" tanyaku penasaran. 

"Setelah jimat itu ditempel, entah kenapa adegan dalam novel itu selalu muncul dalam mimpi"

"Bahkan, adegan pertarungan yang kejam dan berdarah-darah juga ikut terbawa. Sampai-sampai Nenek jadi susah tidur."

"Nenek coba melepaskan jimat itu dari lembar draf novel. Cuma lengket sekali hingga tak mau lepas. Jika dipaksa, malah bisa merusak bukunya. Sedangkan kalau menulis ulang dari awal bakal lelah."

"Akhirnya, Nenek coba menghapus adegan yang brutal, dan menggantinya dengan pertarungan yang lebih halus. Selain itu, adegan romansa antara pangeran dan sang gadis juga ditambah". 

 "Ternyata cara itu berhasil. Mimpi yang datang jadi lebih indah dan tak lagi menyeramkan, sesuai alur cerita novel yang sudah diubah.”

“Tapi entah kenapa, Nenek jadi kurang sreg. Revisi berulang kali malah bikin novel itu terkesan monoton, tak sesuai dengan gaya cerita Nenek.”

“Karena tak puas dengan hasilnya, Nenek pun menyimpan draf novel itu sementara waktu demi fokus ke urusan pernikahan. Nanti begitu semuanya beres, baru lanjut menulis lagi.” 

“Eh, ternyata kehidupan awal pernikahan sangat menyenangkan.” Wajah Nenek tiba-tiba memerah dan tersipu malu. 

“Kakekmu benar-benar memperlakukan Nenek seperti putri raja. Bulan madu di kapal pesiar, wisata menjelajahi Paris, sampai menikmati sunset di pantai Hawai’i. Benar-benar tur keliling dunia yang sangat romantis.”

“Lambat laun, semangat untuk menulis novel pun kian memudar. Ditambah lagi, Nenek mengandung pamanmu dua bulan kemudian. Sehingga tak punya waktu lagi untuk membuat cerita seperti dulu”

“Akhirnya, Nenek memutuskan untuk berhenti sebagai penulis novel, dan fokus mendampingi kakekmu yang berusaha keras mengembangkan bisnis kapalnya.”

Nenek pun mengakhiri kisahnya dengan wajah berseri-seri. Sepertinya ia ingin sekali bercerita tentang pengalaman masa mudanya kepada cucunya, dan baru kali ini kesampaian juga.

“Umm, jadi draf novel itu masih ada nggak, Nek?” Aku pun mencoba bertanya. 

“Wah, di mana ya? Sudah puluhan tahun Nenek tidak melihatnya,” jawabnya dengan jenaka. Senyum usilnya muncul begitu menatap wajahku yang tampak skeptis.

“Kau pasti tak percaya dengan cerita Nenek, ya?” goda Nenek. 

“Yah….sedikit,” kataku ragu-ragu. 

Nenek pun tertawa lepas.

“Hahaha. Kau mirip sekali dengan ibumu waktu masih kecil,” ucapnya sambil tergelak. 

“Tapi, jika sudah dewasa nanti, Nenek yakin kau pasti akan mengerti…” 

 

*****

Aku memeluk buku tua itu dengan penuh haru. Tanpa terasa, air mata mulai jatuh membasahi pipi. Sekarang, aku benar-benar sadar akan kesalahanku. 

Kuambil pensil dan penghapus dari kotak alat tulis, dan bersiap untuk menulis kembali. 

Aku tahu menghapus seluruh cerita yang kubuat hanya akan merusak buku itu lebih jauh. Jadi kuputuskan untuk memodifikasi cerita, dan menyusun ending yang lebih bahagia namun tetap menarik. 

Sama seperti yang dilakukan Nenek, aku mengubah adegan-adegan yang terasa “kejam” menjadi lebih manusiawi. 

Pada bagian pangeran yang sekarat dan berlumuran darah, misalnya, kuganti menjadi pertarungan melawan monster yang dimenangkan oleh sang pangeran. 

Sementara itu, gadis yang awalnya dikejar-kejar monster pun berhasil menyelamatkan diri. Bahkan, ia berperan besar membantu pangeran dalam mengalahkan monster dan pasukan musuh, beda dengan peran aslinya yang cenderung pasif. 

Delapan jam berlalu, dan aku masih belum selesai merevisi novel itu. Tanganku terasa pegal, dan keringat yang bercucuran membuat pakaianku basah kuyup. 

Jujur, rasanya memang sangat melelahkan. Namun, aku yakin novel ini akan menjadi cerita terbaik yang pernah kukerjakan seumur hidupku. 

Warisan terbaik Nenek yang takkan tergantikan sampai kapan pun….

 

*****

Teng! Teng! Teng!

“Lonceng istana terus berdentang tanpa henti. Suaranya menggema hingga terdengar ke seluruh kerajaan, menyebarkan kabar bahagia yang ditunggu-tunggu sejak lama.” 

“Ribuan warga, yang sudah berkumpul di alun-alun timur sejak pagi, bersorak-sorai ketika Pangeran Winter muncul di balkon istana bersama Lady Summer, yang baru saja dipersuntingnya.” 

“Keduanya tampak elegan dan begitu menawan dengan busana pengantin mereka.”

“Dengan setelan tuxedo berpadu dengan dasi kupu-kupu warna putih, Pangeran Winter memancarkan aura bangsawannya yang gagah dan perkasa. Sedangkan balutan gaun sutra dan lengan warna putih mutiara membuat keanggunan Lady Summer memukau siapa pun yang melihatnya.” 

“Setelah menyapa para hadirin yang riuh bergemuruh, Pangeran Winter meraih tangan Lady Summer. Begitu alunan musik perlahan terdengar, keduanya pun menggerakkan tubuh mengikuti irama, dan memulai ‘Royal Waltz’. Tarian bangsawan.” 

Dalam setiap langkahnya, pasangan yang dimabuk asmara ini memamerkan kemesraan mereka, yang lahir dari kisah cinta penuh perjuangan dan air mata. 



“Namun, gerakan yang serasi dan bergairah juga menjadi pertanda, bahwa kehidupan mereka yang penuh kebahagiaan akan segera dimulai…”

 

Aku pun terbangun dari tidurku. Untuk kesekian kalinya, adegan dalam novel itu kembali muncul dalam mimpiku. 

Namun kali ini, mimpi itu membuatku sangat lega…. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)