Disukai
2
Dilihat
1,758
Name
Horor

"Sudah ku bilang, jangan duduk di situ."

Seorang laki-laki dengan pakaian pasien berjalan kearah ku. Ya, ini memang tempat yang berisiko sekali salah langkah sesuatu seperti bertemu malaikat maut akan terjadi, tapi ini tempat kesukaan ku, tempat ku melepas penat setelah operasi panjang di ruang pengap dengan segala rupa organ dan darah yang ku lihat.

Aku memalingkan wajah memandang langit yang tampak sangat dekat.

"Kau tidak mendengar ku?" tanyanya sembari menarik lengan jas praktek ku.

"Kau mau memberi tahu nama mu?"

"Belum, sampai kau jatuh cinta padaku."

Entah kenapa aku merona.

Tampaknya dia senang menggoda ku.

Perlahan tangannya mendarat di pipi ku dan mencium bibir ku pelan, rasanya jantung ku hampir meledak dan entah, aku rasa aku harus memejamkan mata.

"Apa ini belum di sebut jatuh cinta?" tanya ku sembari turun dari pembatas atap gedung.

"Belum."

"Oh," aku hanya ber-oh ria, sebab masih mengatur napas serta mengkondisikan ekspresi wajah ku.

Hantu itu hanya tersenyum senang sembari berjalan di belakang mengikuti langkah ku menuju ruang pediatri. *

_____________________________________________*

Aku melihat ruangan ini seperti tidak bernyawa lagi, laki-laki dengan rambut yang selalu tertata rapi menatap ku juga bicara lambat, dari balik ventilatornya.

Aku hanya mencoba mendengarkan apa yang di bicarakan tetapi, hanya terdengar samar dan aku tidak tahu itu.

"Bagaimana rasanya mati?" tanyaku padanya yang juga duduk di ambang jendela balkon kamarku.

"Kau bisa mati jika jatuh dari sini."

Cih, jawaban yang membuatku kesal.

"Bagaimana rasanya sekarat?"

"Itu bukan hal yang menakutkan."

"Lalu, siapa nama mu?"

"Kenapa? Agar kau bisa menelpon keluargaku dan membiarkan ku terkubur di tanah?"

"Bukan, aku ... hanya ingin memanggil dengan namamu," jawab ku malu-malu.

Dia memeluk ku erat.

"Kenapa memeluk ku begitu erat?"

"Tapi, kau menyukainya kan?"

Lagi-lagi aku tersipu.

*_______*

2020.

Aku sesak, sekalipun dengan alat bantu napas ini. Aku tahu aku sekarat, kenapa dokter wanita ini masih membantu ku untuk hidup, ini sangat menyakitkan.

Dokter wanita itu menatap ku dengan berkaca-kaca, mata kami bertemu. Tetapi, pahamkah apa yang aku katakan.

Aku bangun dan melihat tubuh ku tertutup kain putih. Ya, aku mati, beginikah rasanya mati dan hanya sendirian.

Namun, Dokter wanita tersebut menatap ku seakan ia bisa melihat ku. Apakah dia betul-betul bisa melihat ku? Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya, matanya berkali-kali hingga raut wajah dokter terlihat kesal dan menahan tangan ku.

"Berhenti, aku bisa melihat mu," katanya kesal.

"Benarkah?"

"Jadi, siapa namamu? Aku akan menelpon keluarga mu."

Wajah berseri serta senyum dibibirnya membuat ku terdiam sejenak, apakah aku menyukainya.

"Katakan, siapa namamu?"

"Tidak, sampai kau jatuh cinta pada ku."

"Apa?" 

Wajah heran dan terkejutnya betul-betul menghiburku. Aku memutuskan untuk berada di sampingnya, ya, sampai dia tahu nama ku.

*____________________________________________*

Aku membiarkan hantu itu memainkan komputer dan membuka beberapa sns milikku, aku sangat lelah setelah melakukan dua operasi seharian ini, aku memutuskan untuk terlelap sejenak lagi pula hari ini aku shift malam.

"Hei, bangun."

Aku merasa mendapatkan hujan ciuman di kening dan pipiku, Aku mengerjapkan mata dan menggeliat sedikit, "ada apa?"

"Ada panggilan dari kamar 203, eum, kau kenal dengannya?"

"Oh, baiklah," jawab ku lesu, tanpa memberi tahu siapa pasien tersebut.

Sembari berjalan menuju ruang 203 aku melirik arloji yang ternyata sudah pukul 18:00, ah, aku tertidur 15 menit.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya ku kepada pasien laki-laki dengan pensil di tangannya, setelah berada di samping ranjangnya aku membuka catatan medisnya.

"Ah, tidak apa-apa. Itu terjadi karena aku terjatuh dari ranjang," jawabnya sembari meminta maaf.

"Tidak apa-apa, lagi pula infus ini sudah harus di ganti, apa kau berlatih melukis lagi?"

"Ya, sedikit-sedikit, apa ada yang mengganggu mu, Dok, akhir-akhir ini ku lihat kau tampak lelah."

Aku terdiam seakan ingin menceritakan semuanya.

"Dulu aku seorang konselor di sebuah yayasan, kalau dokter mau ceritakan mungkin saja aku bisa memberi solusi, baik pekerjaan, cinta atau apapun."

Dada ku mulai penuh bersamaan dengan langkah cepat ku menuju ruangan, tidak perasaan ini akan meledak.

"Kami sudah berciuman, tetapi dia menganggap ku belum mencintainya."

"Kalau begitu, pacar dokter serakah."

"Begitukah?"

"Apa dokter hanya melakukan ciuman tidak lebih?"

"Ya."

"Sesekali, sebuah hubungan membutuhkan sesuatu yang lebih."

"Seperti?"

"Sesuatu yang lebih dari ciuman itu."

BRAK!

Aku membuka pintu ruangan dan melihat dia duduk di kursi kerjaku, mengunci pintu dengan cepat berlari memeluknya, ini pertama kalinya aku memulai ciuman ini, aku mencoba menyakinkan dirinya kalau aku betul-betul jatuh cinta.

"Ada apa, apa terjadi sesuatu?" tanyanya sembari memegang pinggangku.

"Aku lelah."

"...."

"Maukah kau melakukan pemeriksaan?"

Tangan di pinggangku mulai mencengkram kuat dan menarik tubuh ku hingga terpangku diatas kedua pahanya, akh ... Pikiran ku hanya tertumpu padanya, tidak sensasi ini membuat ku menggeliat membuka setiap jenggkal leher dan dia mulai menyentuh dengan bibirnya.

"Apa ini belum dinamakan jatuh cinta?" tanyaku di sela desahan yang ku buat.

"Sudah."

Senyum itu, senyum yang membuat ku semakin dalam merengkuhnya, "jadi, siapa namamu?"

"Kau belum memberi ku satu hal lagi."

*____*

"Aku sudah bilang, jangan duduk di sana bukan?"

Aku hanya diam menatap langit sesekali menyeruput kopi hangat dan mencium aromanya dalam-dalam, bagaimana pun aku suka atap gedung rumah sakit ini.

"Kau lelah?" tanyanya sembari membetulkan letak nametag di baju praktek ku.

Aku sedikit mengangguk, "Aku suka sensasinya, angin bersemilir dan tanganku seakan bisa menggapai langit."

Dia hanya ikut menatap langit.

"Baiklah, ayo masuk," aku beranjak dengan perlahan, memulai dengan kaki kanan perpijak di tembok pagar dan kedua tangan menopang tubuh ku, tetapi keseimbangan ku hilang membuatku dengan cepat terpeleset, aku melayang. Tangan ku mencoba menggapainya dan dia hanya melihat ku hingga tubuhku membentur aspal pelataran rumah sakit.

"Kau ...."

"Aku sengaja tidak menangkapmu, apa kau kesal?"

"Tidak."

"Kau orang terakhir yang ku lihat sebelum mati, juga orang terakhir yang ku ajak bicara. Jadi, aku ingin aku orang terakhir yang kau lihat dan berbicara pada mu."

"Siapa namamu?"

"Pejamkanlah mata mu, begitu kau membuka mata kau akan berada di sisi ku selamanya," bisiknya, tangan dinginnya mengusap mataku yang mulai terpejam.

*____*

Genangan darah di pelataran rumah sakit serta beberapa perawat yang menggotong dan melakukan cpr terhadap tubuhku, teriakan mereka memanggil nama ku dan beberapa pasien yang menangisiku, aku mati.

"Kau menyesal?"

Entah, aku hanya tersenyum, "siapa namamu?"

Dia tersenyum sambil menarik lenganku agar pergi dari sana , ia berkata dengan jelas, "kau tidak butuh nama untuk memanggilku dan aku tidak tahu siapa namaku."

*___*

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar