Disukai
0
Dilihat
8
Meja Terang
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pasar Subuh ini tidak pernah berubah sejak aku pertama kali menggelar terpal belasan tahun lalu. Kalau hujan turun lebih dari dua jam, air selokan yang tersumbat lemak ayam dan jeroan ikan akan meluap, menggenangi gang-gang sempit di antara lapak. Tingginya bisa semata kaki.

 

Bau lumpur busuk bercampur sisa sayuran membusuk adalah parfum harian yang menempel di urat nadi kami. Lapakku sendiri tidak mewah. Hanya berukuran dua kali dua meter, disekat tripleks tipis yang sudah melengkung karena lembap.

 

Di atas meja kayu yang salah satu kakinya diganjal potongan sandal jepit, aku menjual plastik kiloan, tali rafia, dan kertas bungkus nasi.

 

Namun, di atas meja reyot itulah keajaiban kecil sering terjadi.

 

Di pasar ini, aku dikenal bukan karena daganganku yang lengkap, melainkan karena sebuah mesin tik tua bermerek Brother dan satu unit laptop jinjing bekas keluaran tahun 2012 yang baterainya sudah kembung.

 

Aku punya keahlian yang aneh untuk ukuran seorang pedagang pasar becek: aku bisa merangkai angka-angka kaku menjadi untaian kalimat penawaran yang punya daya hipnotis. Di duniaku yang kumal ini, aku tahu cara berbicara dengan orang-orang kantoran yang duduk di ruangan ber-AC, memakai bahasa mereka yang wangi, tertata, dan penuh dengan istilah seperti term of payment, technical specification, atau feasibility study.

 

Sudah belasan kali proposal yang lahir dari ketukan jemariku yang kasar—yang sering terkena sayatan pisau tali rafia—berakhir dengan tanda tangan kontrak bernilai puluhan hingga ratusan juta. Tetangga lapak sering meminta bantuanku untuk membuat surat sanggahan pajak, surat izin usaha ke kecamatan, hingga proposal pengadaan barang ke instansi pemerintah.

 

Aku tidak pernah mematok tarif resmi. Kadang dibayar sekeranjang mangga, kadang hanya segelas kopi hitam dan sebungkus rokok. Aku tidak sombong, aku hanya menikmati perasaan ketika kata-kata yang kurangkai mampu menembus dinding-dinding kaca gedung pencakar langit di pusat kota, tempat orang-orang sepertiku biasanya diusir oleh satpam di gerbang depan.

 

Suatu sore, langit di atas pasar berwarna kelabu tua, menggantung rendah seolah siap tumpah kapan saja. Lapak-lapak mulai sepi, meninggalkan aroma sisa pasar yang anyir. Pak Dimas datang ke lapakku. Dia menuntun motor bebek tua miliknya yang rantainya berbunyi berisik.

 

Wajahnya kusut, lebih kusut dari kain pel yang biasa dipakai membersihkan meja lapak. Di tangan kanannya, ada sebuah map cokelat yang sudah lecek di bagian ujung-ujungnya, seolah sudah diremas berulang kali dalam keputusasaan.

 

Dimas adalah teman seperjuanganku. Lapaknya hanya berjarak tiga blok dari lapakku, menjual minyak goreng curah dan sembako. Kalau pasar sedang sepi, kami sering duduk di warung kopi Mak Sum, mengeluhkan harga barang yang naik atau cicilan koperasi yang menc...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi