Hai, aku Natasya, hari itu pertama kali melihat senyumnya setelah 7 tahun lalu dia pergi ke USA. Raka Bumi Koesuma, Aku menatapmu dengan penuh cinta saat kau ucapkan Ijab Kabul tepat dihadapan Ayah dan kedua saksi. Jantungku berdebar saat kalu sematkan cicin di jari manisku, dan mencium keningku dengan senyum yang hangat dihadapan ratusan orang.
Bagiku ini hari istimewa, meski kenyataannya, pernikahan ini hanya sebuah penerus perusahaan yang sudah di atur oleh kedua orang tuaku dan Raka. Mereka pemegang saham JB Group, salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Raka tak pernah menginginkanku, apalagi cinta. 6 bulan pernikahan, bahkan dia masih sering tidur di apartemen pacarnya. Apakah aku hancur, terpuruk? Sepertinya aku sudah terbiasa dengan keadaan itu. Untung ada Reno, sahabat kecilku yang tak pernah pergi, sesekali aku merasa ada cinta dimatanya, tapi ahh, aku mencintai Raka, meski ku tak pernah tau pernikahan ini akan berujung seperti apa?
***
Hari itu, 2 bulan sebelum pernikahanku dan Raka.
"Raka, setahun sebelum papamu meninggal , om dan almarhum Jefri, sudah sepakat akan menikahkan kalian, perusahaan ini harus ada penerus, dan om yakin jika kalian menikah, kalian akan lebih leluasa menjalankan perusahan ini," kata Ayahku.
"Om, Jb grup hanya butuh penerus perusahaan kan? Bukan pernikahan, aku dan Tasya tetap bisa sama sama meneruskan Jb Grup tanpa harus menikah," jawab Raka.
"Raka, Tasya belum punya belum punya pengalaman memegang perusahaan, om juga lebih leluasa menitipkan Tasya kepadamu sebelum om menetap di US, jadi om harap kamu bisa menjalankan amanat papamu sebelum meninggal," kata Ayah.
"Om Bima benar, Mama, dan almarhum Ibu Tasyapun jadi saksi, bahwa kita sepakat untuk menikahkan kalian, bukan hanya demi perusahaan tapi demi kebahagiaan kalian," tutur Bu Ranti, Ibunda Raka.
"MAAHH ..." Raka berusaha memotong.
"Raka, kalian sudah mengenal dari kecil, kamu harus mengenal Tasya lebih dalam, mungkin selama ini kalian memang tidak dekat, tetapi mama tau Tasya wanita istimewa buat kamu,"tegas Bu Ranti.
Orang tua kami memang bersahabat sejak dulu, bahkan sebelum kami lahir kedunia, tetapi aku tak pernah bisa dekat dengan Raka, mungkin karena selisih usia kami yang cukup jauh 7 tahun, aku tidak pernah jadi teman bermain Raka, meski orang tua kami bersahabat sangat dekat.
Dua bulan berlalu, Rakapun mengikuti keinginan orang tuanya, akupun begitu, jika bukan karena permintaan Almarhum Ibu, mungkin akan kutolak pernikahan ini, bukan karena aku tak mau, tapi karena Raka tak menginginkanku.
***
Ini tepat dihari pernikahanku dan Raka, semua rangkaian pernikahan kami lewati dengan penuh suka cita. Aku melihat senyum kebahagiaan dari semua orang terdekatku, Ayah, Ibu Ranti, Ibu Nadia, ya Bu Nadia dia Ibu tiriku.
Akupun melihat senyuman hangat dan ikhlas dari wajah Raka, menyapa tamu undangan sambil menggandeng tanganku. Hari itu sangat melelahkan, melihat kerumunan orang ballroom hotel lebih dari 1000 undangan, rasanya energiku terkuras. Aku ingin tidur, melepas semua riasan make up yang orang bilang sangat cantik di wajahku.
***
Dikamar pengantin ini, aku melepas semua topeng riasan diwajah. Menyalakan shower, menikmati kucuran air hangat, merasakan tiap tetes air yang membersihkan seluruh tubuhku. Sepertinya lelah ini terbayarkan, aku merasa terlahir kembali dengan status baruku sebagai seorang istri.
Ini kali pertama aku bersolek dimalam hari sebelum ku terlelap, merapihkan rambut panjangku, mengoles lipbalm dibibir tipisku, dan seprotan wewangian untuk tubuhku.
"Kamu tahu aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, aku tidak pernah mencintaimu, bahkan aku masih berhubungan baik dengan pacarku."
Kalimat itu sudah puluhan kali kudengar dari mulut Raka, malam ini terasa mengagetkan karena ia mengucapkannya dimalam pertama kami. Bahkan saat aku sibuk bersolek untuknya.
"Iya, aku tau, lalu?" jawabku sedikit ketus.
"Aku takkan menyentuhmu, meski kita satu ranjang, jalani hidupmu dengan baik, demi perusahaan orang tua kita."
Raut wajahnya masih tak berubah seperti sebelum menikah, dia selalu ketus, tetapi aku salut, dia tak pernah melawan orang tuanya.
Akupun terlelap tanpa memikirkan perasaan suamiku, kami tertidur saling membelakangi, mungkin ini tak wajar, tetapi akan kujalani. Pernikahan ini menyedihkan, tetapi tak lebih sedih dari melihat pemakaman Ibuku.
***
Pagi ini aku terbangun lebih dahulu, mungkin mereka yang tak paham, akan mengira ini malam yang menyenangkan. Bagiku, ini malam sama seperti saat aku gadis, hanya statusku yang berbeda, aku Natasya Ayu Wijaya istri dari Raka Bumi Koesuma, akan tetap memperlakukannya sebagai seorang suami. Menyiapkan sarapan, makan malam, menyiapkan keperluan kantornya, jika ia mau.
Seperti biasa, aku berdiri lama menatap lemariku yang kosong, bingung memilih baju yang harus kupakai hari ini. Bu, kalau ada ibu semua ibu yang bantu pilihkan, baju warna apa yang harus kupakai hari ini. 30 menit berdiri didepan lemari , memilih, menatap, mungkin ini sebabnya Tuhan tak pernah kasih pilihan untuk hidupku, memilih baju saja sulit bagiku.
Raka terbangun, keluar dari selimutnya dan menghampiriku. Membuka lebar pintu lemari yang awalnya hanya terbuka seluas kepalaku.
"Kamu butuh ini ?" ia mengambilkan kaus lengan panjang dan celana kulot untukku.
"Makasih."
Aku sedikit gugup karena malu, canggung karena handuk kimono yang masih menempel di tubuhku selama 30 menit. Raka kembali masuk keselimut dan menatapku sambil bergumam
"Cewek aneh."
Aku memang tidak bisa memilih baju sendirian, itu saja, kamu tidak perlu tau. Gumamku dalam hati. Kurang dari 60 detik ia menatapku, lalu kembali menutup kepalanya dengan selimut dan tertidur. Ahh syukurlah dia tak perlu lihat ekspresiku.
***
Pukul 08.00 Wib, meja makan sudah kupenuhi dengan menu sarapan, toast bread, scramble egg, salad , healty juice, aku kira ini cukup sarapan kami berdua. Tidak lama Raka turun dari tangga dengan pakaian yang sudah rapih dan wangi. Ia selalu terlihat tampan, begitu alasannya kenapa ku jatuh hati saat dia mengucapkan ijab kabul. Sesekali aku merasa janji itu benar benar terucap dari hatinya kepada Tuhan.
"Aku mau pergi dulu, mungkin sampai malam, kamu gak usah tunggu aku," kata Raka sambil meluruskan jam tangan yang sudah terpasang.
"Kemana?" tanyaku sambil berdiri dari kursi meja makan.
"Kamupun boleh pergi tanpa seizinku, bersenang senanglah!" bukankan kalimat itu berarti ia tak mau ditanya saat pergi? baiklah.
"Aku sudah siapkan sarapan," ajakku pada Raka.
"Aku tidak biasa makan pagi," Raka bergegas pergi, tanpa sedikitpun menoleh meja makan ku.
"Pak Raka ko ga makan non?" tanya Bude Narti, asisten rumah tangga yang sudah 20th bekerja dirumahku.
"Entahlah Bude, katanya tidak biasa makan pagi, tapi aku baru tau, ya sudah, Bude makan aja ya, habisin, buat Pa Anto juga."
***
Malam ini terasa panjang, pukul 23.00 Wib Raka belum pulang, padahal dia menyuruhku untuk tidak menunggu, lalu untuk apa aku memikirkannya.
Triing ... suara ponselku berbunyi, Reno.
"Kenapa belum tidur?" tanya Reno pada sebuah pesan Whatsapp.
"Tau dari mana aku belum tidur?" balasku di whatsapp.
"Kamu tak perlu menunggu bajingan itu pulang, aku melihat dia di Tocofee bersama pacarnya, apakah dia pantas menjadi suamimu? Harusnya kalian sedang honeymoon, rasanya ingin kubunuh bajingan itu."
Tak lama Reno menelponku. Ia tak mau aku jatuh cinta pada Raka, baginya Raka seorang bajingan! Pendusta! keluarga pembunuh! begitu ia sangat membenci Raka.
Renopun bilang, Ia akan selalu ada kapanpun aku butuh bantuan. Kamu terlambat Ren, rasa cinta ini sudah mulai ada, meski aku tak tau apakah cinta ini akan terus tumbuh atau mati perlahan.
Reno selalu jadi orang pertama yang membelaku, kami sudah bersahabat dari kecil, bahkan duduk di SMP-SMA satu sekolah. Dia selalu ingin membuatku bahagia. Dulu, om David ayah Reno, Om Jefri Papa Raka dan Ayahku, mereka bersahabat sangat dengat dan membangun perusahaan bersama bernama Trigaskara Group, dan menjadi salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia, tapi saat kami SMA, persahabatan mereka pecah, karena ayah reno membuka perusahaan judi dan miras ilegal.
Trigaskara pecah kongsi, tapi om Jefri dan Ayah tetap melanjutkan perusahaan properti mereka yang berganti nama menjadi JB Group, JB yang merupakan singkatan Jefri & Bima.
Selama ini, aku selalu jadi princess kecilnya Ayah, sanking protektifnya Ayah dia tak pernah mau melibatkanku dalam urusan apapun yang menurutnya rumit, salah satunya tentang perusahaan, aku dibuat buat buta tentang bisnis properti, diapun tak pernah memaksaku mengambil sekolah bisnis, makannya aku sekolah hukum dan mengambil sertifikasi Advokat, meski gelar pengacaraku tak pernah aku gunakan.
Sesekali aku berpikir, apakah ini pola didik yang baik untukku yah? Ayah tak pernah melibatkanku dalam hal apapun, apakah aku bodoh? Aku selalu dibiarkan menjadi princess kecil yang tak tau apa apa, wajar saja ayah lebih percaya Raka untuk memegang perusahaan. Hari ini aku sudah menjadi istri orang lain, ayah menyerahkanku begitu saja pada Raka, lalu pergi, ya ... Ayah pergi bersama tante Nadia istri baru ayah, dan menetap di US. Semoga Ayah bahagia, meski tak pernah bertanya apakah aku bahagia?
Pukul 01.00 Wib, aku mendengar suara mobil dari dalam kamar, mungkin itu Raka, biarkan saja. Aku memaksakan diri untuk menutup mata, dan terlelap.
***
Pagi ini aku memutuskan untuk tidak membuatkan Raka sarapan. Ini hari pertamanya berangkat ke kantor sebagai CEO JB Group, aku bingung, jadi apa yang harus kusiapkan, memilih pakaianku sendiri saja aku bingung.
"Kamu tidak perlu repot siapkan sarapan untukku, apalagi memilih pakaian untukku, bukankah memilih baju untukmu sendiri saja tak bisa?" kata Raka yang sedang berdiri memilih baju didepan lemari, sial kenapa dia tau.
"Aku bukan gak bisa, aku hanya bingung," aku membela sambil berdiri dibelakangnya.
"Aku mau latihan menembak hari ini, bareng Reno, mungkin ini tak penting buatmu, tapi aku akan tetap izin kemanapun aku pergi, meski kamu tak mau mendengarnya," kataku dengan wajah sedikit sinis.
"Hemm ... oke, kalu begitu aku akan pilihkan outfit menembak yang bagus buat kamu."
Whaaat, dia memilihkanku baju lagi, aku sedikit kaget, tapi aku memang butuh itu.
"Tunggu, kamu pergi menembak sama Reno, si kurcil bajingan itu? Kamu masih berhubungan baik dengan dia?"
"Dari dulu hubungan kami selalu baik, aku tidak punya banyak teman, dan hanya dia yang selalu ada saat aku butuh," kataku pada Raka.
"Tasya, suatu saat kamu akan paham kenapa dia selalu ada buat kamu, dia itu licik dan munafik," jawab Raka sinis.
"Kalau ada orang yang licik padaku, tentu saja tak akan jadi urusanmu bukan?" jawabku juga sedikit sinis.
"Kamu benar, tapi aku senang bisa memilihkan baju untukmu, pakailah ini, Natasya Ayu Wijaya harus tetap terlihat cantik sebagai istri CEO JB Group, paham? aku pergi dulu, tak usah menungguku pulang," katanya sambil memberikan pakaian dengan tatapan penuh senyum ke wajahku, lalu dia bergegas pergi.
Aaahh Pria aneh, bukankah kamupun tak kan peduli jika terjadi sesuatu padaku? Seperti apapun latar belakang keluarga Reno, setidaknya dia tidak selingkuh sepertimu. Tetapi aku senang, hari ini ada yang memilihkan baju untukku.
***
"Kamu terlihat fashionable hari ini, siapa yang memilihkan baju? Bude narti? Pa Anto?" Reno menatapku dari atas sampai bawah, memuji pakaianku setelah hampir 1 jam kita latihan menembak.
"Raka yang pilihkan baju, sebelum ia berangkat kerja," jawabku sambil melepas atribut menembak.
"Whaat, sejak kapan bajingan itu mulai perhatian?" Reno terkejut.
"Ren, dia hanya memilihkan kaus simple, jeans, sepatu boots, aku rasa ini hal biasa, aku gak mau ke-geeran, anggap aja dia penggati ibu yang suka bantuin aku pilih baju," ucapku.
"Wait, have u started having a sexs?" tanya Reno penasaran.
"Ren, are u crazy? Gak semua harus gue ceritain ke lo!" jawabku sedikit emosi, sambil bergegas pergi.
"Tasyaa, tasyaa tunggu!" Reno menarik tanganku.
"Maksudku bukan gitu, aku cuma aneh, kenapa tiba tiba dia perhatian, aku melihat kelakuan busuknya semalam, dia sangat romantis dengan pacaranya, jadi aku cuma mau bilang kamu jangan tertipu, tipe tipe badboy kayak dia sangat pintar mentreatment wanita."
Aku terdiam, bisa jadi, dari caranya menatap dia bisa merubah perasaan wanita, akupun begitu, kenapa sangat cepat kujatuh cinta, padahal mulutnya setajam pisau.
Reno masih menggengam tanganku, dia masih menatapku, melambaikan tangannya karena sejenak aku melamun. Memikirkan perkataan Reno.
"Tasya, Tasya, hei ... kita makan yu, di tempat biasa," ajak Reno sambil menarik tanganku menuju mobil mewahnya. Membukakan pintu mobil, dan memakaikan seatbelt. Begitulah cara Reno memperlakukanku setiap kali bertemu.
***
Kami pergi ke restoran chiness food langganan. Duduk berdua, bertukar cerita, tertawa, mengingat masa kecil dan sekolah,sesekali aku mendengarkan planning bisnisnya. Empat tahun pasca ayahnya meninggal Reno menutup semua tempat perjudian yang dibangun ayahnya, meski berkedok hotel dan resto tapi semua itu ilegal, terlebih ayah Reno juga pemasok miras ilegal. Dia memulai kembali perusahaannya dibidang properti, membangun apartemen , mall, dan mengembalikan citra perusahaan yang dulu pernah besar bersama Trigaskara Grup.
Mungkin Om David licik, berhianat, tetapi aku tidak melihat itu di diri Reno, dia selalu jadi satu satunya tempat kubercerita, meski kadang ceritaku membosankan.
Hari ini aku mengahabiskan waktu seharian bersama Reno, dari mulai menembak, makan siang, menemaninya meeting, sampai makan malam. Hari hari seperti itu sudah sering kulalui bersamaanya. Entah apa yang dipikiran Reno, masih berani mengajak jalan istri orang.
"Ren, kita gak bisa sering sering pergi berdua begini sekarang, aku sudah jadi istri orang," ucapku pada Reno.
"Tasya, kamu pikir aku seneng ngeliat kamu nikah sama bajingan picik itu? Kamu pikir aku seperti orang lain yang tulus memberikan selamat dipernikahan kamu? Kamu mengorbankan hidup kamu hanya demi JB Grup yang bahkan kamu gak tau bagus bobroknya perusahaan kamu, apa menurutmu itu adil? Sekarang kamu bahagia? Bahkan dia masih berhubungan dengan pacarnya," jawab Reno yang selalu emosi jika kubicarakan tentang Raka.
Kamu gak tau Ren, aku menikahi Raka karena aku mencintainya, bahkan aku gak peduli sekalipum JB Grup hancur. Gumamku dalam hati.
Reno benar, secara logika ini tidak adil bagiku, wanita mana yang bisa terima saat suaminya masih berhubungan dengan pacarnya.
****
Reno mengantarkanku pulang sampai depan rumah, membukakan pintu mobil. Aku bahkan tidak peduli jika Raka memperhatikanku dari atas balkon. Bukankah memang tidak penting baginya dengan siapa dan kemana aku hari ini.
Aku naik ke atas menuju kamar yang belum dikunci.
"Hati-hati sama kurcil itu, dia itu suka sama kamu, makannya dia perhatian banget sama kamu," Raka berkata dari depan balkon sambil menghisap rokonya. Aku tau kamu memperhatikanku semenjak aku pulang, apa kamu sengaja menunggu?
"Kalau dia suka sama aku, apa itu harus jadi urusanku? atau jadi urusanmu?" kataku dengan muka datar sambil menyimpan tas.
"Tasya, ini bukan masalah kamu suka dia atau tidak, tapi laki laki akan melakukan apapun jika dia belum mendapatkan apa yang dia suka, aku tau betapa piciknya dia."
Kenapa Raka jadi snewon, akupun gak perna ikut campur urusan dia dengan pacarnya, gumamku dalam hati
"Kamu gak kenal Reno, jadi gak perlu ngejudge," kataku sedikit membela Reno.
"Aku kenal Reno," jawabnya tegas.
"Kamu hanya kenal Om David itupun...," ahhh astagaa, bicara apa aku ini, Raka terdiam saat aku sebut nama ayah Reno, akupun terdiam, sedikit menghela nafas karena jika aku teruskan ini akan jadi obrolan dengan amarah, sudahlah.
"Kamu gak perlu khawatir, aku bisa jaga diri, kita sudah sepakat untuk masing masing kan?" Raka masih terdiam menatapku tanpa kata.
Ahh Tuhan hampir saja aku salah bicara, bagaimana bisa aku hidup bersama laki laki yang orang tuanya penuh dendam, aku berusahan menenangkan diri dengan kucuran air, masih memikirkan obrolan tadi, apakah Raka tersinggung, marah atau? ahh sudahlah.
Aku keluar toilet dengan kimono handukku, menghampiri lemari dengan penuh kebingungan.
"Aku udah siapkan piyamamu, gak usah lama didepan lemari," Reno nyiapin piyama aku?
"Hhmm... kamu gak perlu repot repot nyiapin piyama buat aku, aku bisa pilih sendiri," kataku dengan nada rendah.
"Aku gak repot, kamu yang pura pura gak mau, pake baju! gak usah banyak komen!" Raka menyodorkan piyama ke bahuku.
Dia sebenernya kenapa sih? Yang lama didepan lemarinkan gue, masalah nya apa? Heraan! akupun terpaksa memakai piyama pilihan dia, meski kesal, tapi tetap kupakai.
***
Pagi ini, Raka bangun lebih dulu daripada aku, dia sudah siap dengan kemeja dan jas nya. Wangi, tampan, kenapa pemandangan pagi ini indah sekali, ahhh sadar sadar Tasya, he's not born for you!
"Cepet mandi, kamu mau latihan taekwondo kan hari ini, aku udah siapin baju buat kamu," whaaaat, Raka nyiapin baju? again?
"Ga usah kaget, barusan Bude Narti bilang kalau hari Rabu jadwal kamu taekwondo, selasa menembak, kamis golf, jumat sabtu minggu kamu di rumah, atau sesekali pergi ngopi kalau ada yang ngajak, kayak gitu terus kan ritme hidup kamu?" gaya bicaranya itu loh menyebalkan, aku emang gak punya temen selain Reno, mungkin hari inipun bakal di antar Reno.
"Kamu ga mau sarapan dulu, biar aku siapin," kataku mencoba dengan nada pelan.
"Gak usah, aku kan udah bilang gak biasa makan pagi, gak perlu di ulang ulang kan, kalau aku mau pasti aku bilang," kata Raka selalu dengan nada ketus dan so cool nya.
"Hari ini aku...," belum sempat kuselesaikan kalimatku ...
"Diantar Reno? pergi aja, aku udah ngingetin kamu berkali kali, kalau ada apa apa gak usah nyalahin aku," katanya ketus.
Raka pergi meleos, tanpa pamit, atau cium kening seperti suami istri lainnya.
***
-3 Bulan Kemudian-
Saat itu, aku didalam sebuah mall, menyelesaikan meeting dengan teman teman SMA ku untuk acara Reuni, tentunya bersama Reno. Tak sengaja aku melihat pria tampan yang tak asing dimataku, mengandeng mesra wanita cantik, tinggi, putih berambut pirang, seperti wanita Udzbekistan.
Mungkin pria itu sedang membelikan hadiah terbaik untuk pacarnya, aku iri, pasti ia membelikan berlian mahal untuk pacarnya. Mataku tidak berhenti menatap punggung indah yang tidak asing itu, ternyata dia Raka dan Tania pacarnya. Aku memberanikan diri menghampiri mereka meski Reno melarangku.
"Sepertinya kalung berlian ini lebih cocok di leher mu."
Aku mengambil kalung berlian paling mahal dan menyodorkan ke leher kosong Tania yang indah.
"Berlian itu dibuat dibawah tekanan, sampai akhirnya dia bersinar, tapi sinar itu akan tetap jadi milikku, karena selama ini aku yang tertekan, berlian ini boleh jadi milikmu, tetapi kebahagiaan tak akan pernah jadi milikmu, karena kamu merebut yang bukan haknya," kataku sinis.
"Tasya...," Raka bergumam dan terkaget. Aku pun pergi, hanya itu yang ingin aku ucapkan pada wanita jelita itu. Parasnya sungguh menggoda, aku paham kenapa Raka tak mau melepasnya.
"Tunggu!" Tania menarik tangganku yang sudah membalikan badan.
"Bukankah kamu yang merebut Raka dariku, jika pernikahanmu tak berjalan bahagia, itu bukan salahku, tapi orang tuamu yang melihat pernikahan seperti sebuah bisnis," aku menatapnya, sambil berkaca kaca, perkataanmu benar Tania, aku dan Raka berada dalam pernikahan yang tidak saling menginginkan, tapi kenapa aku sesakit ini melihat kalian begitu mesra.
Aku harus pergi, sebelum air mata ini terjatuh. Dengan kesal aku membanting pegangan tangannya. Semua yang ada ruangan itu terdiam, terutama Raka, sepertinya dia tak menyangka dengan reaksiku saat ini.
***
"Kamu cemburu?" Reno bertanya sambil menyalakan mobilnya. Tatapanku masih kosong, air mata ini sudah membendung.
"Aku sudah berusaha tegar, tapi tetap sakit, aku berusaha tidak mencintainya," air mataku jatuh.
"Are you loving him?" Kenapa aku tak bisa menjawab pertanyaan Reno.
"Tasya, Raka tidak akan pernah mencintaimu, dia harus pergi dari hidupmu, kalau kamu bertahan hanya karena JB Group, aku akan beli itu untukmu, kita kembalikan saham Raka dan om Jefri."
Reno menggengam tanganku, menatapku, sementara air mataku tak berhenti menetes. Ren, bukan itu yang aku inginkan, aku percaya semua bisa kamu beli dengan uang. Jika aku boleh meminta, aku ingin Raka meninggalkan Tania. Gumamku dalam hati sambil menatap Reno.
****
Enam bulan pasca pernikahan, kehidupanku dan Raka masih sama. Dingin, tanpa canda dan tawa, meski begitu, setiap pagi malam dia tetap menyiapkan baju untukku. Aku? Tidak pernah menyiapkan apapun untuknya. Hidupku? tidak ada yang berubah. Menembak, taekwondo, golf dan rumah yang membosankan.
Raka selalu pulang lebih dulu jika aku pergi, tetapi jika aku dirumah, dia selalu pulang larut, bahkan pernah tak pulang saat weekend, aku tau dia menginap di apartemen Tania. Mereka berdua seperti tak pernah melihatku, apalagi merasa bersalah. Aku gak tau, sampai kapan pernikahan toxic ini akan bertahan.
Mauku, Ayah menanyakan kabar, meski hanya satu kalimat, apakah aku bahagia? Kalau saja Ayah tak membiarkanku jadi princess yang hanya menikmati uang, mungkin aku sudah jadi pengusaha hebat, atau pengacara handal sesuai dengan profesi Advokat yang sudah ku ambil, tapi Ayah tak pernah mengijinkanku berkarir seperti anak anak lain.
Sekarang aku ditinggalkan dan dititipkan pada Raka. Lalu ayah pergi? hahaha lucu sekali, Ayah sibuk dengan istri barunya, hidup tenang dan bahagia di US, katanya sambil menjalankan bisnis. Mungkin dia kira pernikahan ini bahagia.
Sementara Reno, masih jadi teman setiaku yang tidak pernah menghilang, sampai kapan aku bergantung padanya. Ren, kamu harus cepat mencari pendamping, biar gak ngurusin aku terus. Apalagi sekarang ada rencana reuni SMA, kita jadi sering ketemu sebagai penyelenggara dan donatur utama.
***
Malam itu, Raka pulang tengah malam dengan keadaan mabuk, Baju lusuh compang camping. wajah bonyok seperti habis dipukul, baru saja mataku hendak terlelap, dia membuka pintu kamar dan
Braaaaaakkkk...
Badannya terjatuh ke lemari, tangannya memegang kedua kepalanya yang mungkin pusing
"Raka ... Raka bangun! kamu mabuk, aku bantu ke kasur ya," Aku menggandeng tangannya ke bahuku dan menutur langkahnya ke tempat tidur.
"Im oke, aku masih sadar," Katanya setengah sadar.
Aku membukakan sepatunya, dan menaruh kakinya ke atas tempat tidur. Mencopot dasinya, dan membuka dua kancing bajunya.
"Kamu telalu banyak minum, istirahat saja," kataku sambil membukakan kancing lehernya.
"Wajahmu. Kenapa bengkak, berdarah," Aku memegang pelipis matanya, bengkak, seperti terkena pukulan kencang.
"Tasya...," Raka menggenggam tanganku, menurunkan tanganku yang memegang wajahnya.
"Aku tau rasa sakitmu seperti apa, i know i am not a good man for u. Tapi aku janji, akan mengakhiri ini semua," Raka bicara seperti setengah sadar.
"Aku gak paham maksudmu, kamu habis dipukuli? aku ambil p3k biar ku bersikan lukamu," Dia menahanku, menarik kembali tanganku untuk tetap duduk di sampingnya.
"Aku bertahan dengan Tania karena 6th yang sudah kita lewati bersama itu tidak mudah, aku sangat bisa setia pada wanita, tapi aku bisa sangat tega meninggalkan seseorang jika dia bangsat."
Aku masih belum paham apa maksudnya, Raka bicara dengan nada tersenggal senggal, antara pengaruh alkohol atau di benar benar habis berkelahi.
"Enam bulan ini aku masih bertahan dengan tania, mungkin itu bentuk setiaku, tapi aku menyakitimu. Sekarang semua sudah berakhir, aku hampir saja membunuh laki laki pilihannya."
Tania selingkuh? Dia memilih laki laki lain, aku kaget akhirnya hubungaan mereka berakhir. Aku harus bicara apa? Aku hanya diam menatap wajahnya yang penuh luka.
"Aku bersihkan dulu lukamu."
Aku mengambil kotak obat, membersihkan seluruh luka di wajahnya, ternyata seluruh badannya pun memar. Sepertinya sudah terjadi pertengkaran hebat dengan pria itu. Raka tertidur, aku masih membersikan lukanya dengan alkohol dan kasa di tanganku.
Bagaimana bisa ini terjadi, aku bahkan tidak menyangka Tania akan menghianati Raka. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Biarkan itu jadi urusan Raka, walau aku senang mendengarnya
***
Pagi ini aku membiarkan Raka tetap tertidur, tidak perlu pergi ke kantor, tubuhnya masih memar.
Tiba tiba Raka terbangun.
"Jangan dulu bangun, tubuhmu masih memar," dia tetap memaksa untuk bangun.
"Are you oke?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Im oke, aku gak mabuk, aku sadar apa yang aku lakuin dan aku katakan semalam," aku menatapnya dan menghela nafas, ia membalas menatapku, lalu kupalingkan pandanganku.
"Maafin aku," suaranya pelan, matanya berkaca kaca seperti penuh penyesalan.
"For what?" Kataku juga berkaca kaca
"For everything, aku tidak akan memaksamu untuk jadi baik padaku, setidaknya kamu mendengar kata maaf dan penyesalan dari mulutku," kata Raka menggengap tanganku.
"Kenapa Tania melakukan itu?" tanyaku lancang.
"Seharusnya aku tidak berhak marah ketika dia memilih pria lain, apa hakku? Aku hanya laki laki egois yang mempertahankan sesuatu yang sudah tidak mungkin, but its still hurt, dan setiap rasa sakit yang aku rasakan, yang ku ingat cuma kamu. Entah kamu mencintaiku atau tidak, aku sadar sikapku selalu menyakitkanmu, maaf...," tatapannya penuh penyesalan, aku masih diam dan berkaca kaca. Harusnya kamu tau, kalau aku mencintaimu dari semenjak kita menikah.
"Aku udah siapkan sarapan buat kamu, aku bawakan dulu."
Aku beranjak ke meja makan, menyiapkan sarapan untuk Raka. Tuhan, sebenarnya apa perasaanku? Senang, sedih, terluka? Aku hanya kaget melihat sikap Raka hari ini, harusnya aku tersenyum saat mendengar kata maaf darinya.
Tiba tiba ku mendengar suara langkah kaki dan membuka pintu depan.
"Reno?"
Astaga, aku lupa hari ini aku ada meeting untuk acara reuni SMA.
"Good morning," Reno menghampiriku dan duduk di meja makan mengambil sehelai roti.
"Kita janjian jam 11 kan, ini baru jam 8 Ren," tanyaku kaget dengan nada sedikit naik.
"Kamu harus temenin aku pilihkan jas, setelah itu kita lanjut meeting dengan vendor," Kata Reno yang selalu dominan mengatur jadwalku.
"Itukan bisa kita lakuin besok Ren," kataku menyela.
"Tasya, semua jadwal sudah aku atur, kamu tinggal ikut, duduk manis, aku mau kamu tetep di samping aku wherever i go," ucap Reno sedikit memaksa.
"Sejak kapan Tasya jadi asisten lo buat pilih jas?" sela Raka yang tiba tiba turun dari kamar, menghampiri kami ke meja makan.
"Wow, tuan Raka, are u oke? whats going on? Sejak kapan lo ikut campur dengan jadwal Tasya? Sejak lu ditinggal Tania, diselingkuhin, sejak itu lu taubat, menyesal, dan bertingkah baik dengan Tasya, hah?" jawab Reno menantang Raka.
"Bangsaaaatt!" Raka menarik kerah Reno hendak memukulnya.
"Kenapa? Gue rasa harusnya lo berterimakasih sama gue, cuma gue yang selalu ada saat Tasya terpuruk, lo? Tidur samaa Tania?" ucap Reno semakin menantang.
"Anjiingg! jaga mulut lo!" Raka mengepalkan tangannya hendak memukul Reno.
"Tingkah laku lo lebih anjing dari gw," Reno mengucapnya dengan penuh amarah sambil mendorong Raka melepas tarikan kerahnya.
"Ikut aku!" Reno menarik tanganku.
"Reno lepas, reno...lepas!" aku membanting tanganku, tapi dia tetap memaksaku masuk kedalam mobil
"Kamu keterlaluan!" ucapku sambil terisak
"Apaa, setelah apa yang dia lakuin kamu masih membelanya, Tasya SADAR! siapa yang selama ini menjaga kamu, menemani kamu, menghibur kamu?" Ucap Reno dengan nada tinggi.
"KAMU! Aku sadar, lalu kenapa?" tegasku dengan nada tinggi.
"Kamu pikir kenapa selama ini aku terus disamping kamu, 10th aku berusaha memendam perasaan ini, semua seperti terhalang tembok konflik orang tua kita, aku tau semua kesalahan berawal dari Papaku, kamu pikir aku ga marah? Karena ulahnya semua jadi hancur, termasuk aku, yang gak bisa miliki kamu. Harusnya aku yang jadi suami kamu, BUKAN RAKAAA!" Reno semakin marah memukul setirnya, aku terisak.
"Lantas kamu mau apa, gak ada yang bisa mengubah keadaan!" Ucapku menatap Reno sambil terisak, dadaku semakin sesak melihat Reno meradang penuh amara.
***
Raka pergi kerumah Ibunya, berdiri didepan pintu mewah , memencet bel yang tidak jauh dari tangannya.
"Mah..." Raka bergumam memanggil mamahnya, dengan wajah penuh luka.
"Anak nakal mamah, penjahat mana lagi yang kamu pukulin nak?" Bu Ranti memeluk Raka sambil memegang pipinya yang masih bengkak lalu menariknya duduk di sofa.
"Masalah apa yang kamu bawa hari ini?" Bu Ranti membersihkan luka Raka sambil mengompresnya.
"Aw...pelan pelan mah," Raka meringis kesakitan.
"Hubungan aku dengan Tania sudah berakhir, aku berkelahi dengan selingkuhannya," Raka menceritakan semua kejadian yang dia alami.
"Mamah sudah feeling, kamu gak akan bisa bertahan sama dia, lalu kamu apakan pria itu, dia mati?" tanya Bu Ranti meledek.
"Mah, aku bukan mafia lagi, aku gak akan bunuh siapapun kecuali dia menyakiti orang yang aku cintai," Raka menjawab dengan serius, bu Ranti menatapnya dengan penuh kasih.
"Mamah kenapa ga marah? aku pantas dihakimi," ucap Raka dengan nada bersalah.
"Raka, kamu pernah jadi tahanan di US pun apa Mamah pernah marah? Kamu tahu itu salah, tapi kamu terus menggenggamnya sampai genggaman itu balik memukulmu. Sampai memar, baru kamu bisa sadar. Selama ini mamah selalu berdoa, semoga kamu bisa menjalankan pernikahan yang bahagia dengan Tasya," ucap Bu Ranti dengan bijak.
"Aku tidak terlalu berharap Tasya bisa memberi maaf, tapi aku akan ikutin kata Mamah, aku akan menjaga Tasya," Bu Ranti menatap Raka penuh kasih sayang sambil berkaca kaca, lalu memeluknya.
"Anak brandal Mamah, Mamah selalu yakin kamu akan kembali, bahagia itu kita yang ciptakan nak, jika kamu terus berharap pada masalalu, masa depanmu juga akan meninggalkanmu. Hiduplah lebih baik, Mamah selalu bangga sama kamu," ucap Bu Ranti yang pelukannya semakin erat.
***
Dua minggu kemudian
Pukul 23.00 Wib, aku baru pulang dari meeting untuk persiapan acara reuni besok, seperti biasa Raka memperhatikanku dari balkon sampai tak terlihat lagi mobil mewah Reno. Aku masuk perlahan dan membuka pintu kamar yang belum di kunci.
"Kamu belum tidur?" tanyaku pada Raka.
"Sejak kapan aku tidur jika kamu belum pulang," jawab Raka sambil menghisap rokoknya di balkon.
"Besok aku pergi sama Reno, acara Reuni SMA," kataku pada Raka.
"Oke, sampaikan pada Reno, dia tidak usah lagi mengantarmu pulang, aku akan menjemputmu setelah selesai meeting, jangan pulang sebelum aku datang."
****
Pukul 18.30 Wib, Reno menjemputku di rumah, Raka mengantarkanku sampai ke mobil Reno. Dia mengomentari gaunku yang dibelikan Reno untuk acara Galla Dinner .
"Beginikah gaunmu untuk acara Reuni Mewah? Seleramu tampak buruk," Raka menghina gaun pilihan Reno.
"Hiisshh .. mungkin suaminya mendadak miskin, sampai tidak mampu membelikan istrinya gaun, apalagi berlian," jawab Reno mulai kesal.
"Gak usah antar Tasya pulang, gue yang bakal jemput, kalau terjadi apa apa sama dia, lo yang gue bunuh," Reno tersenyum sinis, menabrakan bahunya ke bahu Raka, menarik tanganku, masuk ke mobil.
Aku pergi ke Reuni Galla Dinner, Rakapun pergi meeting bersama klien nya.
***
Suasana Reuni begitu mewah dengan konsep Galla Dinner, semua teman seangkatanku tidak ada yang gagal, mereka semua memang bukan terlahir miskin, hingga dewasapun harta orang tuanya takkan habis sampai 7 turunan.
Aku sungguh terbawa suasana malam itu, bertemu teman lama, yang pernah membuliku, hahaha, aku abaikan saja fokus menikmati hidangan mewah, sampai tak terasa waktu begitu cepat karena penampilan bintang tamu kelas atas. Suara musik yang begitu keras membuatku lupa bahwa hidupku pernah sakit, sepi. Tapi sekarang ada Raka. Oh ya, apakah dia benar benar berubah untukku?
***
Malam sudah larut, pukul 01.00 malam, Raka belum datang menjemput, apakah dia hanya lelucon ingin menjemputku, jika iya, aku tak akan memaafkannya.
"Raka tak akan datang, aku antar kamu pulang saja, ini udah larut," Reno menghampiriku turun dari mobilnya, membuka jasnya, dan menutup bahuku yang terbuka.
"Aku akan menunggunya," Aku tetap kekeuh menunggu.
"Kamu pikir saja meeting apa sampai selarut ini?" Reno menariku masuk ke mobilnya, akhir akhir ini dia sering kasar padaku.
"Reno lepas, SAKIIIIIT!" Aku membanting tanganku yang dia genggam keras.
"Aku bisa naik sendiri," Aku memutuskan pulang bersmaa Reno. Baru 5 menit berjalan, aku melihat mobil Raka dari spion.
"Reno berhenti! itu mobil Raka," Raka menelponku, aku mengangkatnya, tapi Reno merebut hpku.
"Tasya maaf , tadi masalah di kantor," Suara Raka terdengar dari telpon.
"Gue rasa Tasya ga akan bisa lagi percaya sama lo," Reno menjawab telponku dan menancapkan gas mobil nya, kecepatannya hampir 200km. Aku marah sekali.
"Reno BERHENTI! RENO STOP!"
Sesekali aku menengok ke spion tapi sudah tak melihat mobil Raka, berkali kali aku berteriak ingin berhenti tapi Reno tak menurutiku, dan
Bruuuuuuukkk ...!
Mobil Reno menambrak tiang listrik, kepalaku terbentur, ya Tuhan gimana ini, Reno sepertinya pingsan terbanting stir. Aku melihat asap dari mesin mobil, tidak! aku harus keluar mobil. Aku keluar dari mobil dengan kepala pusing. Berusaha membukakan pintu mobil Reno tapi sulit. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menolong Reno tapi...
BRAAAKKKK...! Tubuhku terserempet motor dan terlempar lalu...
KREEEKKK....BRAAAAKK...!
Truk mobil itu melindas kakiku
"Tasyaaaaaaa ..." Samar samar aku mendengar suara Raka tapi...
****
Tasya sudah tak sadarkan diri, tubuhnya penuh darah, detak jantungnya berdetak lemah, dengan panik Raka membawanya ke IGD
"Tasya.. tasya.. tahan.. pliss.. kamu harus bangun," Raka terus bergumam dan mendorong roda brangkar di lorong IGD. Ia pun terhenti saat Tasya harus memasuki ruang tindakan.
***
Raka masih setia menunggu di lorong rumah sakit, wajahnya masih panik, tangannya masih terus mengepal menahan dahinya
"Pak Raka," Dokter memanggil Raka ke ruangan.
"Kami sudah sudah memeriksa seluruh lukanya, cukup parah, Ibu Tasya terkena Cereda Saraf Perifer, kemungkinan kakinya akan lumpuh," Ucap dokter.
"Lumpuh?" Gumam Raka lirih, hampir tak terdengar, tatapan matanya masih kosong karena syook
"Apakah bisa sembuh dok?" tanya Raka dengan mata berkaca kaca.
"Saya tidak bisa pastikan Pak Raka, biasanya Cedera Saraf Perifer itu butuh waktu lama untuk sembuh, mungkin 1-2 th atau bisa lebih, tergantung seberapa parah dan motivasi bu Tasya untuk sembuh dan melakukan terapi
"Lakukan apa saja dok, agar istri saya sembuh," Ucap Raka sedikit memohon dan memaksa.
****
20 jam setelah kecelakaan, Tasya masih terbaring di Ruangan VIP yang masih hening, mata indah Tasya masih tertutup rapat, tangan Raka masih menggenggam erat jari jari Tasya. Tatapannya kosong penuh sesal
"Kalau saja aku gak terlambat malam itu, maaf... aku bahkan tak kan sanggup jujur atas keadaanmu," gumam Raka lirih.
Jari jari Tasya bergerak, matanya perlahan membuka, menatap sekeliling ruangan yang asing.
"Tasya... kamu sudah bangun, jangan banyak bergerak," ucap Raka siaga.
"Aaaaku tak percaya masih bisa hidup," gumam Tasya yang masih lemas.
"Iya, kamu masih hidup, aku d sini menunggumu sadar."
"Reno?" dengan nada lemah Tasya menanyakan kabar Reno.
"Reno baik, bahkan dia lebih cepat sadar, tak ada luka yang terlalu parah, jangan telalu memikirkannyaa, kondisimu lebih penting," tegas Raka.
"Apa aku terluka parah ? Seluruh tubuhku seperti tidak bisa bergerak," tanya Tasya masih dengan nada lemas.
"Kamu baik baik saja, pasti masih lemas, tidak usah terburu buru bangun," Kata Raka sambil menaikan posisi ranjang lebih tegak.
Tok tok tok... creeekk , suster membuka pintu ruang rawat
"Pasien Natasya," kata suster.
"Silahkah masuk sus," Raka mempersilahkan suster dan Dokter masuk ke ruangan.
"Bu Natasya, sudah sadar? Coba di gerakan jari tangan dan kakinya," perintah Dokter.
"Kaki saya tidak bisa di gerakan dok," Tasya terus berusaha menggerakan kakinya namun tak bisa, Raka dan Dokter menatapnya penuh iba.
"Kaki saya kenapa dok? Ada masalah?" tanya Tasya penasaran.
"Kami sudah memeriksa hasil lab dan ronten, kaki Bu Tasya terkena Cedera Saraf Perifer yang menyebabkan kelumpuhan," Jawab dokter sambil menghela nafas.
"Apaaah ... lumpuh, ga mungkin dok," Tasya bergumam kaget, suasana ruangan mendadak sunyi, semua terdiam, menatap tasya penuh rasa iba dan berkaca kaca, tatapan Tasya semakin kosong, air matanya tak tertahan, tubuh nya masih bergetar, seolah masih belum menerima kenyataan dirinya lumpuh.
"Tasya..." Raka mendekati Tasya sambil memegang tangannya. Perlahan Tasya melepas genggaman Raka, seolah ingin menghindar dari kenyataan
"Aku tak akan bisa berjalan, lalu aku bisa apa?" Suara Tasya semakin tersenggal, sesak. Air matanya semakin tak tertahan.
"Bu Tasya, Cedera Perifer ini bisa sembuh walau butuh waktu lama, kami akan berusaha yang terbaik, semua sudah saya jelaskan kepada Pak Raka, pesan saya Bu Tasya jangan menyerah, harapan itu masih ada, saya pamit dulu."
Dokter memalingkan badanya dengan penuh sesal. Raka tak berhenti menatap Tasya, air matanya tak terbendung, tapi masih menitikan harapan. Tak ada pilihan, kenyataan harus tetap di ungkapkan, meski pahit.
****
Ini hari pertamaku duduk di kursi roda tanpa harapan, Raka mendorongku dari lorong rumah sakit, menggendongku naik ke mobil, mendorongku kembali setelah turun dari mobil, sampai tiba di kamarku, ia masih menggendongku ke atas kasur. Apakah hidupku akan terus seperti ini?
Dunia ini terasa sempit, aku tidak bisa lagi berkeliaran memegang stik golf, berdiri tegak menembak sasaran, apalagi menendang sasak saat taekwondo. Bukankah dunia ini terasa hidup saat kita bisa berjalan mengelilinginya? Seketika aku lupa, bagaimana nikmatnya berjalan, apalagi berlari, semua terasa mati.
"Kalau butuh apa apa panggil aku, aku udah pasang alarm dan CCTV, kapanpun kamu butuh, pencet alarm ini, Bude Narti dan Pa Antopun bisa dengar."
Aku menarik tangan Raka yang hendak keluar kamar
"Kapan aku bisa kembali berjalan?" tanya Tasya murung, Raka terdiam, memikirkan jawaban yang belum ada.
"Tasya, hidup itu bukan hanya tentang berjalan, tapi tentang harapan, kalau kamu ingin cepat kembali berjalan, kamu harus punya harapan, aku akan tumbuhkan terus harapan itu, sampai kita bisa berjalan beriringan."
"Apa kamu tau rasanya lumpuh?" ucap Tasya berkaca kaca.
"Tidak tau, tetapi aku tau rasanya hidup sendirian, jadi aku tak akan membiarkanmu sendiri, meski kamu tidak bisa berjalan. Aku tak bisa merasakan kelumpuhan, tetapi aku bisa membuat hidupmu akan terus berjalan. Dunia ini belum mati, jadi tetaplah hidup, dengan harapan."
Kata Raka dengan tatapan penuh harapan, aku menangis terisak, masih tak bisa menerima keadaan yang sulit ini. Aku kira dunia ini akan berhenti, tapi Raka terus memberiku harapan, ia mengusap air mataku, memelukku, mengusap punggungku yang lemas bersandar tanpa tenaga.
****
Enam bulan berlalu, aku semakin bisa menerima keadaan. Mungkin kaki ini tak bisa berjalan, tapi hikmahnya, aku bisa semakin dekat dengan Raka. Kadang aku tidak paham kenapa dia bisa berubah 180°, apa mungkin dia kasian dengan wanita cacat ini? Ah entahlah, aku hanya berpikir, aku tak akan mampu jika tak ada dia di disampingku.
"Apa kamu beri tahu ayah tentang keadaanku?" Raka yang sedang mensletingkan gaunku sejenak terdiam.
"Aku pernah memberitahunya saat kamu di rumah sakit, tetapi mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sempat membalas lagi," aku menyesal menanyakannya.
"Harusnya aku tak menanyakan Ayah, mungkin dia pikir aku sudah mati," Ucapku sedikit kesal.
"Tak usah merusak suasana hati dengan membahas ayahmu, ini pertama kali aku mengajakmu dinner, anniversary pernikahan kita, aku mau hari ini kamu bahagia," kata Raka menghiburku.
"Kamu benar. Kenapa tiba tiba mengajaku dinner? Bukankah ini akan merepotkanmu, kamu harus menggendongku setiap naik dan turun mobil."
"Karena belum pernah aku lakukan, kamu pikir menggendongmu jadi masalah buatku? Bahkan setiap hari aku telat pergi ke kantor karena harus menggosok punggungmu dan mengeringkan rambutmu. Aku tak pernah keberatan," jelas Raka.
"But why? Kenapa kamu lakukan itu semua?" tanyaku penasaran, katakan karena aku mencintaimu, aku terus bergumam dalam hati, tapi dia malah terus menatapku.
"Semakin telaten kamu merawatku, terkadang aku merasa jadi wanita paling tidak berdaya, apa aku tak bisa lagi melakukan sesuatu?" tatapannya semakin tajam, sesekali ia menelan ludahnya.
"Kita harus berangkat, sebelum larut," Raka memutuskan tak menjawab pertanyaanku, akan ku ikuti alurnya.
***
Malam itu terasa hangat, dihadapkan genangan air danau yang tenang, cahaya lilin yang indah, dan tiupan angin yang sejuk, membuat makan malam ini semakin intim, ternyata Raka seromantis ini.
"Aku sudah booking tempat ini dari sebulan lalu."
"O yaa?" ucapku sedikit kaget.
"Ya, Aku sangat ingin merayakan hari pernikahan kita," aku tersenyum sipu, bahkan akupun tak terpikir merayakan anniversary. Tiba tiba ...
"Tasyaaa ...," suara itu tak asing di telingaku, aku melihat sekeliling.
"Reno," sudah lama aku tak melihatnya.
"Tasya, aku benar benar sulit menghubungi kamu, bajingan ini menutup semua akses tentang kamu, maafin aku, are you oke?" ucap Reno dengan tergesa dan terkejut melihatku.
"Jangan ngerusak dinner gue, ga ada yang ngundang lo, pergi atau gue buat keributan di sini," Raka menarik kerah Reno.
"Bangsaaaatt!!! Braaaakkkkk!! Reno membanting Raka ke lantai menarik kerah kemejanya.
"Lo gak berhak melarang gue nemuin Tasya, setelah apa yang lo perbuat sama dia," Reno terus mendorongnya ke lantai.
"Dan setelah apa yang lo perbuat ke Om Bima, gue rasa lo gak pantes berhubungan lagi dengan Tasya, lo lebih bangsat dari nyokap lo!" ucap Raka sambil meringkih
"ANJIIIIIING .. Bugghh, duuk, plak, braaakk, kraaaakk, gedebukk!!! Pukulan Raka dan Reno semakin keras, perkelahian itu semakin menjadi, semua orang menatap kami, apa yang harus aku kulakukan.
"RAKAAAA ... Raka Stoopp! Kita pulang!" Aku menarik kerahnya dan hampir terjatuh. Akhirnya emosi merekà meledak juga, kukira sudah tak ada dendam antara mereka. Yang aku tau Reno akan emosi saat Raka menghina orang tuanya. Yaa.. Om David -ayah Reno dan Om Jefri-Papa Raka, mereka pernah berkelahi, dan saling bunuh.
Tuhan, suara tembakan itu masih terngiang ditelingaku, betapa dendam antara keluarga itu sangat membara, masa lalu itu mungkin tak kan bisa terlupakan oleh Raka dan Reno saat Om Jefri dan Tante Lisa selingkuh, ya tante Lisa-Ibunda Reno dan Om Jefri mereka berselingkuh. Sejak saat itu, Ayah menutup akses ku untuk terjun ke perusahaan, aku tak perlu tau apa yang terjadi karena selalu berakhir dengan darah, kehidupan keluarga, bisnis dan pertemanan kadang mengerikan, aku tak perlu tau hal hal pahit, itu pesan ayahku.
***
Raka mendorong kursi rodaku sampai kekamar dengan wajah lebam. Membuka jasnya dan membatingkan badannya ke atas kasur sambil menanggalkan kepalan tangan ke dahinya.
"Aku bersihkan dulu lukamu," Aku mendorong kursi rodaku ke arah Raka yang sudah terkapar, iapun terbangun dan duduk menyandar.
"Ku kira semuanya sudah berakhir, dendam itu," kataku sambil membersihkan luka lebamnya.
"Apa kamu tak pernah mengerti kenapa aku selalu melarangmu dekat dengan Anjing itu," kata Raka kesal.
"Aku paham, aku hanya berusaha melupakan kejadian mengerikan itu," ucapku.
"Sampai matipun aku tak kan lupa, kejadian yang menghancurkan hati Mamah," Aku terdiam, membayangkan sakit nya Mamah Ranti.
"Apa yang Reno lakukan pada Ayahku?" tanyaku penasaran mendengarkan dialog mereka saat berkelahi.
"Heemmmhh," Raka menghela nafas dan menurunkan tanganku yang mengobati luka lebabnya.
"Om Bima terjerat sindikat narkoba di US, Reno menjebaknya, sekarang Om Bima ditahan di US, tapi kamu ga perlu khawatir, aku sudah menyewa pengacara untuk Om Bima."
"Apaaahhh.. Reno sindikat narkoba di US, lalu kenapa harus Ayah, kenapa kamu ga pernah cerita, kamu memperlakukanku seperti ratu dan membiarkan aku tak tau apa apa, kamu sama seperti Ayah, apa kamu pikir caramu itu baik untukku. Caramu hanya membuatku terlihat seperti orang lemah, lalu untuk apa aku hidup? Haaah untuk apa?" aku menangis terisak, sesak, kesal, selama ini aku marah pada Ayah, kupikir dia sudah lupa pada anaknya.
"Tasya, tenang... tenang dulu plis, kejadian ini berbarengan saat kamu kecelakaan, aku terlambat menjemputmu malam itu karena harus mengurus Om Bima yang di tangkap di US, akupun sempat memberi tahu Om Bima tentang keadaanmu, tapi setelah itu tak bisa di hubungi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara sama kamu, 6 bulan belakangan ini aku hanya fokus dengan kesembuhan dan mentalmu, kurasa saat itu kesehatanmu lebih penting, karena masalah Om Bima sudah kuserahkan pada pengacara," Raka menjelaskan panjang lebar tentang kejadian yang sebenarnya.
"Kenapa Reno setega itu," Gumamku lirih sambil menangis.
"Reno belum sepenuhnya menutup bisnis miras dan narkoba Ayahnya, mungkin di Indonesia iya, tapi dia menjalankannya di US, saat itu bisnis narkobanya sudah tercium polisi, tapi diam diam dia memindahkan semua barangnya ke gudang Ayahmu, aku rasa dia kerjasama dengan tante Nadia. Tante Nadia menghilang pasca ayahmu ditangkap," jelas Raka dengan rinci.
"Tante Nadia, kukira dia benar mencintai Ayahku," bibirku masih bergetar menyebut nama Nadia.
"Dan kamu harus tau ini," Reno mengambil sebuah berkas dari dalam lemari.
"Aku menemukan ini di ruangan Pa Jordi, mantan pengacara perusahaan kita dulu."
Aku membuka berkas itu, dan benar benar membuatku kaget. Laporan Dugaan Tindak Pidana Pembunuhan Vania Wijaya, Nadia Mustika. Apaah ... Tante Nadia Merencanakan Pembunuhan Ibu. Aku semakin gak kuasa menahan tangis, kenapa semua orang jahat pada keluargaku.
"Cepat atau lambat aku pasti memberitahumu tentang ini, aku hanya menunggu waktu yang tepat, maafin aku," Raka memegang tanganku erat. Matanya berkaca kaca penuh rasa sesal.
"Aku yang akan mengurus sendiri kasus Ibuku, kamu harus izinkan aku jadi pengacara, mungkin kakiku lumpuh, tapi otakku tak lumpuh," Raka kembali menatapku, akupun menatanya penuh keyakinan
"Baik, lakukan semaumu, aku akan selalu mensupport,demi Almarhum Ibu."
***
Pukul 03.00 pagi, aku tiba tiba terbangun, Tuhan, aku mimpi buruk tentang Ayah. Kutengok sebelah kanan Raka masih menghisap Rokoknya di balkon, aku menaiki kursi rodaku dan menghampirinya.
Kupandangi pria gagah itu dari belakang, sesekali ku berpikir, apa jadi nya aku jika tak ada Raka, aku terus mendekat, dan kupeluk erat pinggangnya dari belakang.
Sesekali kumenelan ludah, ingin menahan air mata tapi aku tak bisa, Raka memegang erat tanganku, membalikan badanya, dan membungkuk di hadapanku
"Hei, kenapa terbangun?" tanya Raka.
"kalau aku sudah sembuh, dan bisa berjalan lagi, kamu mau pergi?" mataku berkaca kaca , ia menatapku tajam.
"Tidak."
"Kenapa bertahan?" tanyaku kembali, ia hanya terdiam, tak mau menjawab.
"Sudah larut, kita tidur, aku temani," Raka mengalihkan pembicaraan, menggendongku ke atas tempat tidur. Kami masih tidur saling membelakangi, tapi malam itu dia menyender di kasur lebih dekat denganku
"Kalau aku mati, kamu bisa lakukan semua sendiri?" pertanyaan Raka mengagetkanku.
"Kalau gitu kamu jangan dulu mati, sampai aku bisa berjalan," tegasku, Raka tersenyum meledekku.
"Hissshh..., tapi Tuhan tetap ingin aku mati, kamu bisa apa?" dia semakin menekanku.
"Kalau begitu tinggalkan aku sekarang, biar aku terbiasa menjanda," kataku lebih tegas.
"Tidak mau, aku tak akan membiarkanmu menjanda," ucap Raka.
"Kenapa? Sakitnya sama," ucapku pelan, sedih membayangkan ditinggal suami.
"Karena itu sakit juga buatku, jangan pernah tanya lagi kenapa aku bertahan," tegas Raka.
"Aku akan terus bertanya karena kamu tak pernah menjawabnya, kalau tidak, aku akan terus berpikir karena kamu kasihan dengan wanita cacat."
"Aku mencintaimu, puas?" hahaha aku tertawa puas dalam hati, tersanjung, ingin tersenyum tapi masih kutahan.
"Sejak kapan?" tanyaku sambil menatapnya, mukanya tertunduk, ia salah tingkah, hahaha
"Entahlah," ia mengalihkan pandangannya.
"Gak mungkin," tegasku sambil terus mendekat ke wajahnya.
"Sejak Tania pergi," katanya masih tak mau menatapku
"Kalau begitu kamu kalah, karena aku lebih dulu mencintaimu," kataku tegas ke hadapan wajahnya.
"Oh ya?" Raka kaget, baru berani menagahkan wajahnya.
"Ijab kabul saat itu, membuat hatiku bergetar, aku rasa itu cinta," sekarang aku yang salah tingkah.
"Benarkah?" Gumamnya lirih sambil terus mendekati wajahnya ke wajahku. Hidung mancungnya semakin menempel ke hidungku, akupun tak mampu menghindar, jantungku berdegup kencang, bibir tipisnya mencium bibirku. Sesekali aku mendesah, dan menelan ludah. Malam ini, malam pertamaku sebagai suami istri.
Satu tahun berlalu baru kali ini hidupku merasa sempurna sebagai seorang istri, akhirnya tak ada lagi drama tidur saling membelakangi, tak ada lagi rasa canggung untuk memeluk, mencium, bahkan bercumbu sebagai suami istri.
***
9 bulan kemudian
Hari hariku semakin indah, meski harus mengurus masalah Ayah dan Tante Nadia, tapi semua terasa ringan karena ada Raka disampingku.
Perutku semakin membesar, 8 bulan terakhir ini aku menikmati hari hari sebagai ibu hamil. Ya.. pasca malam pertamaku waktu itu, sebulan kemudian aku hamil, sungguh kabar yang indah, aku tak pernah terbayang akan sebahagia ini menjadi istri dan sebentar lagi akan menjadi ibu.
"Tasya, jangan terlalu keras, aku bisa bantukan carikan pengacara untuk kasus Ibumu," kata Raka yang selalu bawel jika aku sibuk mengurus kasus ibuku.
"Apakah kamu tak percaya karena ini kasus perdanaku, Tante Nadia harus tertangkap, kita harus berhasil mencarinya," kataku sambil memilah milah berkas.
"Pengacaraku di US sudah menemukan tempat tinggalnya, kamu tak perlu kawatir, kita hanya butuh waktu untuk membuat dia kembali ke Indonesia, ada yang lebih penting yang perlu kamu tau," jelas Raka.
"Apa?" tanyaku.
"Aku meretas semua keuangan perusahaan Reno," aku menoleh ke belakang, kaget.
"Apaahh, bukankah itu kriminal, apa yang kamu lakukan?"
"Gak ada yang bisa menghentikan Reno kecuali kemiskinan, akan ku rampas semua hartanya."
9 bulan terakhir ini Reno benar benar keterlaluan. Pasca Ayahku ditangkap di US, Raka sempat membongkar bisnis gelapnya, tapi Reno lolos dari jerat polisi, dia benar benar kuat. Tapi ia membalas dendam dengan menghacurkan JB Group, semua izin pembangunan ia buat ilegal, terakhir ia membakar pembangunan Mall yang sudah 60% terbangun. Dia benar benar tak ingin melihat keluargaku bahagia.
Hari ini Raka meretas sebagian keuangan perusahaan Raka, dan perlahan uangnya akan terkuras. Ini sudah kriminal, aku akui. Raka dahulu pernah menjadi peretas keuangan saat di US, menjadi tangan kanan seorang mafia sampai akhirnya di menjadi tahanan di US, tapi kemudian ia bebas dan kembali ke Indonesia.
"Apa rencana kamu selanjutnya?"tanyaku pada Raka.
"Aku akan meretas semua keuangannya, sampai dia miskin, hingga dia tak kan bisa menyogok aparat manapun, baru setelah itu ku bongkar semua bisnis gelapnya.
Kriiing kriiiing... hanphone Raka berdering.
"Kalau ga ada masalah kamu pasti ga akan ke rumah mamah, kayak gitu kan?" suara Mamah Raka mengomel.
"Maahh, bukannya gitu, aku benar benar lagi banyak urusan, Tasya kan juga lagi hamil besar, jadi aku ga bisa sering ninggalin dia, aku suruh Pa Anto jemput Mamah kesini ya,"jawab Raka.
"Mamah udah siapkan makan malam, pokonya kalian harus ke rumah Mamah, lagian kapan mamah minta kamu traktir direstoran mahal, mamah cuma mau makan malam bareng," kata Mamah Ranti dengan gaya cerewetnya.
"Tapi maaah, malam ini ...," Aku merebut hp Raka.
"Tasya bakal kesana mah, nanti Raka anter Tasya ke rumah Mamah, sampai ketemu nanti malam," jawab ku di telpon.
"Apa susahnya sih jawab gitu, Mamah kan cuma ajak kita makan malam."
"Aku harus ngejemput Mr.Tom ke bandara Tasyaaa...," kata Raka gemas.
"Kamu bisa antar aku dulu ke rumah Mamah, abis itu kamu ke bandara, beres kan, jangan nyuruh Pan Anto yang antar," pintaku.
*****
Aku sudah berada di depan rumah mewah Mamah Ranti.
"Nah ... gak sulit kan mampir kesini setiap minggu, rumah mamah masih di Jakarta ko," aku tersenyum, mamah langsung menarik kusri rodaku.
"Mamah kan juga mau cucu Mamah tau rumah Eyangnya," kata Mamah.
"Nanti kalau udah lahiran juga bakal sering kesini ko Mah."
"Ahh...kalian tuh kalau bukan Mamah yang paksa juga susah mampir kesini kan," kata Mamah kesal.
"Mah, aku gak akan ikut makan malam ya, aku harus jemput Mr.Tom, pengcara Om Bima di US, aku menyuruhnya datang kesini, jadi ga enak kalau aku ga jemput," izin Raka.
"Oh ya, gimana Bima? Sudah selesai urusannya?" tanya Mamah.
"Nanti aku ceritakan ya, aku pamit, byee," Raka pamit sambil mencium pipi Mamah Ranti.
"Titip Tasya ya mah, kalau mau lahiran Mamah telpon ambulan aja," pesan Raka.
"Dasar brandal, ini kan baru 8 bulan," ucap Mamah sambil tertawa.
"Byeee semuanya," Rakapun pamit. Aku makan malam hanya berdua dengan Mamah Ranti, tapi semua terasa hangat, aku ingat Ibu, dulu betapa dekatnya mereka, dari aku kecil Mamah Ranti sering menggendongku, dia tau betul seperti apa masa kecilku. Bahkan dia jadi saksi kematian Ibuku. Mamah sudah tak sabar ingin menimang cucu, ditengah kericuhan bisnis JB Group aku tetap bersyukur Allah hadirkan cinta melalui Raka, Mamah, dan calon anakku, semoga masalah ini cepat selesai. Aku mau lahiran tanpa beban.
****
Masalah Ayah di US bisa selesai, dari perbincangan Mr.Tom dan Raka, dia jamin ayah bisa bebas, karena tak terbukti bersalah, semoga saat cucunya lahir, Ayah sudah kembali. Sementara Tante Nadia hanya tinggal menunggu waktu, akan ku jebloskan ke penjara.
Kriiingg kriiing... Mamah Ranti Telpon
"Menantu Mamah ini baik banget siih, makasih ya kiriman makan malamnya," kata Mama
"Makan malam, Tasya ga kirim makanan mah," kataku heran.
"Ohh bukan dari kamu, lalu siapa yang kirim makanan sebanyak ini ?" tanya Mamah.
"Oh mungkin Raka mah, kamarin dia sempat bilang sih, dia janji bakal ganti waktu makan malam yang kemarin, biar bisa makan malam sama Mamah, nanti Tasya telpon Raka ya."
"Oh gituu...oke, makasi ya sayang, nanti mamah telpon Raka juga," jawab Mamah dan menutup telpon.
*****
"Loh kamu ko udah pulang, gak jd makan malam sama mamah?" tanyaku pada Raka yang pukul 20.00Wib sudah pulang.
"Makan malam? Aku gak janji makan malam sama mamah."
"Tadi sore kamu kirim makanan ke rumah Mamah kan."
"Engga," tegas Raka.
Kriiiingg kriiing.... hp Raka berbunyi
"Paaaa... Rrraka.. ibu sesek nafas pa, muntah muntah, ini saya di rumah sakit di IGD," Pak Adang supir Mamah memberi kabar. Raka langsung mengambil kunci mobilnya meluncur ke RS. Makanan itu? Apa mungkin Mamah Keracunan.
****
Raka berlari melewati lorong RS
"Dok, gimana ibu saya, atas nama Ranti," Raka bertanya dengan tersenggal senggal.
"Pa Raka ibu anda keracunan, hasil lab menemukan ada racun Arsenik dalam tubuh Bu Ranti, racun ini sangat berbahaya bisa mematikan," Raka terdiam, kaget, ada yang mengirim racun ke Mamah.
****
Pukul 05.00 pagi Raka masih setia menunggu Mamahnya di ICU. Kondisi bu Ranti semakin memburuk, racunnya menyebar menyebabkan lemah jantung, dia koma.
Kriing..... kriiingg, HP Raka berdering
"Halo Bude Nar."
"Pa... Ny Tasyaa ... pendarahaan, sepertinya mau melahirkan," Bude Narti menelpon panik
"Melahirkan, bukannya masih 32 minggu? Ya udah tenang dulu bude, suruh Pa Anto bawa ke rumah sakit!" jawab Raka menenangkan.
****
Tasya didorong dengan bingkar melalui lorong rumah sakit.
"Pa Raka, ketubannya sudah pecah, bayinya terlilit tali pusar, kita harus segera lakukan operasi secar," kata dokter dengan sigap.
"Baik dok , lakukan saja."
Raka memasuki ruang operasi menemani istrinya, Tasya terkujur lemas karena pendarahan yang dialaminya. Ruang operasi terasa begitu tegang, pikiran Raka terpecah dengan memikirkan keadaan Mamahnya yang koma. Dan ...
Oaaa oaaa oaaaa , suara bayi terdengar dari jarak 2 meter, Raka dan Tasya meneteskan air mata, tak menyangka bayi cantik mungil kini hadir di kehidupan mereka. Tapi kondisi Tasya melemah, ia pingsan.
***
"Aku ingin melihat bayiku," pinta Tasya yang baru sadar pada Raka.
"Kamu sudah sadar, 2 jam lagi perawat akan membawanya kesini, ia harus dimasukan dulu ke inkubator penghangat," jelas Raka.
"Bagaimana? wajahnya mirip aku, atau kamu?" tanyaku penasaran.
"Cantik, mirip kamu," Jawab Raka sambil tersenyum akupun tak sabar melihat malaikat kecilku.
"Gimana kabar Mamah?"
"Masih di ICU, racunnya terus menyebar, jantungnya melemah, perasaanku campur aduk, antara khawatir dan bahagia," perasaankupun sama seperti Raka, antara Bahagia dan penuh khawatir, siapa yang mengirim makanan berisikan racun itu.
***
"Ibu Natasya, ini bayi Asyila, waktunya mengasihi ya bu," waaahhh, akhirnya aku bisa melihat wajah imut anakku.
"Sayang, lihat, cantik banget ya," kataku pada Raka. Aku menyusuinya dengan penuh kasih, menatapnya saat dia fokus menyusu. Begini ya rasanya jadi Ibu, Bu, Tasya kangen, kalau ibu masih ada pasti ibu yang paling repot. Buat Mamah, cepet bangun ya Mah, Asyila pingin di gendong sama Eyang.
"Ohoookk wueee ...," tiba tiba bayiku muntah, mukanya pucat, apa ini yang dinamakan gumoh.
"Sus ini kenapa sus," tanyaku panik pada suster.
"Oh ini, gumoh bu, tepuk tepuk aja punggungnya," suster mengambil Asyila. Tapi mulutnya terus mengeluarkan busa, mukanya membiru.
"Sus, Panggil Dokter Saturasi turun drastis! Bayinya kejang ringan!” kata suster.
Kepanikan menyergap seluruh ruangan yang tadinya hangat. Rasa bahagiaku berubah jadi jeritan pelan, panik, Tuhan.. anakku kenapa?
****
Dokter datang dengan wajah tegang. “Dugaan awal, keracunan. Kita harus bawa ke NICU. Sekarang.”
Tak ada waktu. Selang oksigen, inkubator, suntikan-suntikan kecil—semuanya datang bersamaan. Tubuh sekecil itu kini terbungkus alat, dibawa pergi dengan tempat tidur dorong. Rodanya berdecit. Sreeet… klak… klak… suara yang entah mengantar harapan atau perpisahan.
Waktu seolah berhenti di dalam ruang NICU. Di dalamnya, tubuh mungil itu terbaring diam di bawah cahaya hangat radiant warmer. Selang-selang kecil menempel di lengan dan hidungnya, detak jantungnya dipantau oleh layar monitor yang terus berbunyi lirih—bip... bip... bip...
Tapi kemudian, suara itu berubah.
Bip... bip...
...bip...
............
Alarm berbunyi. Suara panjang dan nyaring, menyayat. Dokter bergegas. Suster menekan dada mungil itu pelan tapi cepat, mencoba membujuk jantung yang terlalu lemah untuk bertahan.
****
Beberapa menit kemudian pintu terbuka, dokter menghampiri ruang inap Tasya dan Raka.
"Pa Raka, Bu Tasya, Maafkan kami, kami sudah mencoba segalanya, bayi anda tidak bisa diselamatkan."
Tangis Tasya meledak. Raka terdiam seperti kosong, kakinya bergetar putus asa.
"Dokter salah diagnosa kan, satu jam lalu istri saya masih menyusui dok."
"Pa Raka, kami sudah memastikan semuanya tapi bayi anda sudah tidak bernyawa, maafkan kami."
****
-Kediaman Reno dan Bu Lisa-
"Tak sampai 24 jam, racun itu akan terus menyebar, dan mereka akan mati," kata Reno kepada Mamahnya Lisa.
"Sesuai dengan permintaan Mamah, Bu Ranti akan mati, dan Raka akan kehilangan sumber kebahagiaannya," kata Reno dengan penuh dendam.
"Anak pintar, dia harus tau siapa yang sedang dia hadapi, jika kita sudah kehilangan harta, maka Raka harus kehilangan nyawa, peretas bajingan itu tidak boleh bahagia. Bayinya pun harus mati," ucap Bu Lisa dengan amarah terpendam.
Amarah Reno dan Bu Lisa tak tertahan, mereka membalas dendam karena semua keuangan perusahannya di retas oleh Raka.
***
Int : Rumah Sakit
Belum kering air mata untuk jasad Asyila, berita kedua datang seperti palu godam yang menghantam dada mereka tanpa ampun.
“Maaf, Pa… kondisi Bu Ranti memburuk.”
Raka berlari ke ruang ICU, tempat Mamahnya —Bu Ranti—sudah dirawat sejak kemarin karena muntah hebat dan kejang. Tubuhnya terkujur kaku, kakinya dingin, wajanya membiru pucat.
Dokter berdiri dengan wajah muram.
"Arsenik," katanya pendek. "Racun itu terus menyebar dan membunuh, sama seperti yang kami temukan pada tubuh bayi anda."
Dunia benar-benar runtuh.
Dua nyawa.
Dua generasi.
Dihabisi oleh racun yang sama.
Raka terduduk lemas di lantai rumah sakit. Tubuhnya lunglai, matanya kosong menatap lantai seolah berharap semuanya hanya mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia membuka mata. Tapi ini bukan MIMPI, Bu Ranti dan Asyila kini sudah tak bernyawa terbalut kain kafan.
Isak tangis pecah kembali saat Raka memberi tau Tasya. Tapi kali ini, ada bara yang menyala di dalam dada. Kesedihan sudah tak cukup.Ia harus tahu siapa yang membunuh darah dagingnya dengan racun.
"Tak kan kubiarkan pembunuh itu hidup," ucap Raka lirih sambil memeluk Tasya. Matanya memerah dengan kucuran airmata, dan kepalan tangan yang memendam amarah.
****
Hari ketiga, pasca kematian Bu Ranti dan Asyila , investigasipun dilakukan, semua CCTV rumah Bu Ranti dan Rumah sakitpun diperiksa, dari situ rahasia demi rahasia mulai terbongkar, termasuk satu nama yang mengirim racun arsenik.
***
Hari itu Raka bergegas mengambil pistol dan peluru di kamarku, ia benar benar marah setelah tau pelaku racun arsenik itu adalah Reno
"Raka tunggu! kamu mau kemana?" Aku berusaha menahannya tapi tak bisa. Dengan penuh keyakinan aku berusaha mencakram tongkat dari samping ranjang, lututku bergetar, kakiku belum sepenuhnya pulih, tapi sekarang tak ada waktu pelan pelan, aku harus berjalan, mengangkat tubuhku, meski tulang panggulku sakit. Demi anakku, Mamah, Yang sekarang sudah mati, kamu harus terima pembalasan kami RENO!
***
Braaakkk.....
Raka mendobrak pintu rumah Reno, aku berusaha mengejar Reno meski tertatih dengan tongkatku
"Bangsaaat! Kenapa harus anakku yang kau bunuh?"
Reno menoleh pelan. Senyum miring di wajahnya seperti luka yang terbuka.
"Agar kamu tau rasanya kehilangan orang yang paling di sayang, jika aku kehilangan papah, dan tak bisa memiliki Tasya, apa itu adil jika kamu memiliki semuanya? Apa menurutmu sekarang aku sudah miskin? Sepertinya kamu lebih miskin karena tak punya anak dan ibu, hahaha."
BRAK!
Raka melompat dan menghantam wajah Reno. Tinju mendarat di pipi, suara tulang beradu seperti piring retak—plek!
Reno terhuyung, tapi membalas. Tendangannya menghantam perut Raka—duggh!
Mereka bergumul. Kursi terbalik. Jendela hampir pecah.
"KAU PEMBUNUH!" Raka berteriak sambil menghantam kepala Reno ke lantai.
Lalu, klik.
Raka mengeluarkan pistol. Tangan kirinya gemetar. Matanya penuh air, tapi sorotnya dingin.
"Sekarang, ganti nyawa dengan nyawa," kata Raka penuh amarah.
Reno tertawa—pendek, gila. Lalu merogoh balik jaketnya dan menarik pistol juga.
Klik.
Mereka saling menodong pistol ke kepala. Napas memburu. Pelatuk sudah di jari.
Hanya perlu satu detik untuk mengakhiri segalanya. dan
Duaaaarrrrrrr ... peluru itu menembus kepala Reno, 1x 2x Raka menembakkannya hingga 3x. Matanya memerah penuh amarah , dendamnya terbalaskan
Aku menyaksikannya dari balik pintu , suaraku lemah lirih.
"Raka… hentikan…!" Tapi itu terlambat.
Aku Berdiri dengan tongkat, tubuhku nyaris roboh, lututku bergetar kembali menyaksikan tumpah darah karena dendam, ini seperti dejafu saat melihat orang tua mereka saling menodong pelatuk.
Bu Lisa berlutut lemas memeluk Reno yang sudah tak bernyawa, tangisnya pecah dan terus berteriak memanggil nama Reno. Aku puas, tapi akupun menyesal melihat pembunuhan itu.
Raka, suamiku, dendam kita terbalaskan.
Sirine polisi menggema di luar. Raka tak lari. Ia menjatuhkan pistolnya pelan ke lantai.
Clak!
Dua polisi masuk. Raka menatap mereka dengan tenang dan menyerahkan tangannya. Reno memang pantas mati, tapi aku bisa apa.
"Raka...," bisiku lirih, tangisku semakin pecah saat 2 borgol terpasang di tangan Raka. Ia pasrah, matanya penuh sesal tapi juga penuh dengan kepuasan. Semua sudah berakhir.
****
-5 tahun kemudian-
Aku menjemput Raka saat pertama kali bebas dari jeruji besi. 5 tahun berlalu, aku sudah bisa berlari, meski menjalani hidup tanpa Raka, tapi Ayah sudah kembali menemani. Tante Nadia sudah ku jembloskan kepenjara, begitupun Tante Lisa.
Aku kangen suamiku...
Dari dalam, langkah kaki terdengar. Tegas. Pelan.Raka keluar, mengenakan baju biasa, ransel kecil di punggung, dan senyum tipis yang nyaris tak percaya bahwa dunia di luar belum sepenuhnya meninggalkannya.
Aku tersenyum. Mataku berkaca-kaca. Tak bisa berkata-kata. Langkahku tertatih mendekat. Tanpa tongkat, dan kursi roda.
Raka berhenti di depanku. Tak ada pelukan langsung. Tak ada drama berlebihan. Hanya dua manusia yang pernah terluka, kini bertemu kembali—masih saling mencintai, meski waktu telah menguji habis-habisan.
“Aku pulang,” kata Raka pelan, nyaris berbisik.
Aku mengangguk.
“Dan aku masih di sini. Menunggumu.”
Air mataku jatuh, Tak perlu banyak kata.Tanganku meraih tangan Raka. Menggenggamnya.
Langit terasa lebih terang. Dunia mungkin belum sembuh, tetapi hari itu, cinta menang meski setelah luka panjang. Aku mencintaimu suamiku, dari pertama kali kau ucapkan ijab kabul.
--Tamat ---
.