Disukai
2
Dilihat
941
In The Middle of The Night
Romantis

Felicia kembali membuka matanya setelah beberapa saat lalu dia terbangun dari tidurnya. Saat ini masih pukul tiga lewat 10 menit, fajar pagi bahkan belum terlihat. Langit masih gelap gulita, hanya diterangi bulan sabit yang sedikit tertutup awan. Namun, gadis itu sudah terbangun.

Dia berusaha untuk menutup matanya sekali lagi, berharap bisa kembali beristirahat karena hari ini jadwalnya cukup padat. Namun, usahanya itu sia-sia. Mata dan tubuhnya tidak mau menurut.

Untuk kesekian kalinya, Felicia mengubah posisi berbaringnya dan berakhir dengan posisi telentang menghadap langit-langit kamarnya. Kedua tangannya meraih selimut yang menutupi tubuhnya, lalu kembali menariknya sampai dada.

Sunyinya malam membuat perasaan gelisah yang aneh tiba-tiba menghampirinya, membuatnya merasa tidak nyaman—sangat tidak nyaman. Gadis itu semakin kesulitan untuk kembali terlelap.

Sudah cukup lama sejak Felicia tidak mengalami hal ini. Terbangun di tengah malam, merasakan perasaan aneh yang tidak nyaman, seperti gelisah dan cemas tanpa sebab, lalu tidak bisa tidur kembali sampai matahari terbit menyapa bumi.

Baru kali ini dia mengalaminya lagi setelah beberapa bulan terakhir, terutama setelah Axel hadir di hidupnya. Gadis itu tidak yakin apa penyebabnya dan selalu tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat hal ini terjadi selain berusaha untuk kembali tidur—walau kenyataannya itu tidak akan berhasil.

Felicia kembali mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan menemukan kekasihnya yang masih terlelap dengan tenang di sampingnya. Dia baru ingat bahwa Axel memilih untuk menginap setelah mereka mengerjakan tugas kuliah di rumah Felicia.

“Aku mau menginap saja malam ini,” ucap Axel tadi, setelah mereka selesai mengerjakan tugas. “Jadwal kita besok pagi berdekatan, jadi kita bisa berangkat bersama,” tambahnya.

Felicia tidak segera menjawab dan malah memikirkan sesuatu yang lain. “Tapi, jadwalmu lebih pagi. Kalau kita berangkat bersama, berarti aku harus menunggu satu sesi lagi sebelum kelasku dimulai,” keluh Felicia. Namun, kekasihnya itu hanya tertawa kecil, tahu bahwa dia bercanda.

Kali ini, perasaan bersalah menyelimuti tubuh Felicia. Dia baru sadar bahwa kekasihnya itu masih terlelap di sampingnya, sedangkan dia terlalu banyak bergerak sejak terbangun tadi. Felicia takut dia mengganggu tidur lelap Axel dan dia benci hal itu. Hanya memikirkan bahwa dia mengganggu tidur kekasihnya—walau belum tentu terjadi—membuatnya membenci dirinya sendiri.

Felicia tahu bahwa dia tidak perlu melakukan hal itu; tidak perlu sampai membenci dirinya sendiri saat melakukan kesalahan kecil, tetapi alam bawah sadarnya tetap melakukannya. Tetap membenci dan menyalahkan dirinya.

Perasaan aneh yang tidak nyaman itu semakin menggerogoti Felicia, membuatnya merasa semakin tidak nyaman. Ingin hati membangunkan Axel, mungkin meminta kekasihnya itu membantu menenangkannya, memeluknya, atau sekedar menepuk-nepuk pelan punggungnya, seperti yang selalu Axel lakukan. Namun, Felicia urung. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat kekasihnya yang hampir selalu kurang itu.

Maka Felicia hanya diam, menatap kekasihnya yang masih terlelap. Perasaan tidak nyaman yang dirasakannya mereda perlahan hanya dengan memperhatikan Axel yang tertidur dengan tenang. Dan dengan tidak sadar, senyum kecil terulas dari bibir gadis itu.

“Mau sampai kapan kau melihatiku yang sedang tidur?” celetuk Axel tiba-tiba yang membuat jantung Felicia mencelos. Kekasihnya itu sudah tidak lagi tertidur, entah sejak kapan.

Perasaan tidak nyaman kembali menyelimuti Felicia. Dia takut jika penyebab Axel terbangun adalah dirinya. Dia sudah siap menyalahkan dirinya sendiri jika memang itu yang terjadi. Bahkan jika bukan itu yang terjadi, Felicia akan tetap menyalahkan dirinya sendiri.

Axel yang sebelumnya tertidur dengan posisi telentang itu kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping agar dia bisa balas menatap kekasihnya. Tangannya yang berada di dalam selimut bergerak keluar, meraih ujung kepala Felicia, lalu mengusapnya perlahan. Matanya masih setengah tertutup, dia masih sangat mengantuk, tetapi dia tetap tersenyum.

“Kau terbangun?” tanya Axel dengan suara serak khas bangun tidur dan dia bisa merasakan Felicia sedang mengangguk dari tangannya yang masih mengusap-usap lembut kepala kekasihnya itu.

“Tidak bisa tidur kembali?” Dan anggukan kecil kembali diterima Axel.

Axel memaksa matanya untuk terbuka, melawan rasa kantuknya karena dia ingin sekali menatap kekasihnya. Yang ditemukannya pertama kali setelah membuka mata adalah sepasang manik indah kekasihnya yang sedang menatapnya, memperhatikannya yang sedari tadi tertidur.

Perasaan hangat dan bersalah menyelimuti dirinya di saat yang bersamaan. Axel tahu bahwa Felicia terbangun dan tidak bisa kembali tidur, tetapi dia tidak segera bangun untuk menenangkannya.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Axel lagi.

Dia tahu alasan kenapa Felicia tidak membangunkannya, tetapi dia ingin kekasihnya itu mengucapkannya sendiri. Axel selalu ingin Felicia mengekspresikan apa yang dia rasakan, bahkan jika itu hal negatif sekalipun. Axel tidak ingin kekasihnya itu memendam semua perasaannya sendirian, seperti yang selama ini dilakukan Felicia.

Yang ditanya tidak segera menjawab. Felicia hanya terdiam selama beberapa saat, sedangkan Axel juga tidak mengucapkan apa pun selain mengusap lembut kepala kekasihnya itu.

Axel tidak ingin memaksa Felicia untuk segera bicara, tetapi dia tetap ingin kekasihnya itu mengutarakan apa yang dia rasakan. Senyuman kecil masih merekah indah pada bibir Axel, dengan sabar menunggu Felicia bicara.

“Entahlah.” Felicia akhirnya bersuara setelah hanya diam selama beberapa saat. Tidak ingin membicarakan apa yang dirasakannya, dia mengalihkan wajahnya dari Axel dan memendamnya ke bantal. “Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku,” tambahnya lagi dengan suara teredam.

Kekehan kecil yang terdengar sedikit serak keluar dari mulut Axel. Dia merasa gemas karena kekasihnya itu sedang frustrasi, tidak tahu bagaimana harus mengutarakan apa yang dia rasakan. Dia tahu Felicia selalu kesulitan menjelaskan emosi atau perasaannya, tetapi dia selalu siap menunggu hingga gadis itu mau bicara.

“Kemarilah,” pinta Axel lembut. Dia membenarkan posisinya agar Felicia bisa masuk ke dekapannya. Pelukan hangat mungkin bisa membuatnya merasa sedikit lebih tenang dan mau bicara, pikirnya.

Felicia menoleh sedikit ke arah kekasihnya yang sudah siap memeluknya itu. Awalnya dia ragu, haruskah dia menerima pelukan itu? Namun, akhirnya gadis itu beringsut masuk ke dekapan Axel.

Tidak mau menunjukkan wajah, Felicia menyembunyikannya di ceruk leher sang kekasih sambil membenarkan posisi mereka agar sama-sama merasa nyaman.

Dengan jarak sedekat ini, Felicia bisa mencium aroma tubuh serta degup jantung Axel. Dia juga bisa merasakan tubuh kekasihnya yang langsing itu. Mungkin terdengar aneh, tetapi aroma tubuh dan degup jantung Axel yang tenang itu selalu berhasil membuat Felicia merasa lebih baik.

Sekarang keduanya hanya terdiam. Axel dengan sabar menunggu kekasihnya itu mau bicara sambil menepuk-nepuk pelan punggung Felicia. Axel tidak yakin, tetapi dia merasa bahwa dengan cara ini, secara tidak langsung dia memberi tahu Felicia bahwa dia tetap di sini. Bahwa dia siap menunggu, menemani, dan tidak akan meninggalkannya.

Felicia, dalam pelukan kekasihnya, masih diam. Dia bingung dengan apa yang dia rasakan. Dia bingung bagaimana dia harus mengutarakan perasaan anehnya itu.

Yang Felicia tahu, dia yakin bahwa kekasihnya itu sedang menunggunya untuk bicara, dan Felicia yakin bahwa Axel tidak akan meninggalkannya. Kekasihnya itu akan dengan sabar menunggunya, bahkan meladeni tingkahnya yang kadang kekanakan, seperti saat ini.

Felicia, sekali lagi, kembali merasa benci pada dirinya sendiri karena harus membuat Axel melakukan banyak hal untuknya. Dia merasa telah membuat kekasihnya itu melakukan hal-hal yang tidak perlu dia lakukan, menyita waktu berharganya, padahal Axel punya banyak hal yang harus dia lakukan.

Felicia ingin dan selalu berusaha untuk menjadi mandiri, tidak bergantung pada siapa pun, bahkan pada kekasihnya sekalipun. Dia tidak mau menyulitkan siapa pun, bersikap kekanakan, dan meminta orang lain meladeninya saat sedang seperti ini. Dia benci mengakui bahwa dia ingin diperhatikan.

“Berhenti memikirkan apa pun yang sedang kau pikirkan sekarang,” celetuk Axel tiba-tiba—terdengar tegas dan sedikit memaksa—saat dia merasakan Felicia sedang bergerak gelisah dalam pelukannya. Dia tahu bahwa kekasihnya itu sedang memikirkan sesuatu yang hanya akan membuatnya semakin terganggu.

Beberapa menit hanya terdiam sambil memeluk erat kekasihnya, Felicia akhirnya bersuara. “Maaf,” lirihnya teredam.

Axel tersenyum hanya karena satu kata yang terlontar dari mulut Felicia. Kekasihnya itu akhirnya mau bicara.

“Kenapa?” tanya Axel kemudian. “Kenapa kau meminta maaf?” tanyanya lagi.

Felicia kembali terdiam. Merasa bingung dengan pertanyaan kekasihnya itu karena dia sendiri tidak tahu kenapa dia meminta maaf.

“Karena aku telah membangunkanmu,” jawab Felicia akhirnya, walau dia tidak begitu yakin apakah itu alasannya meminta maaf.

“Hanya itu saja?” tanya Axel kesekian kalinya, berusaha memancing Felicia agar mau terus bicara. Dia tahu ada hal lain yang mengganggu pikiran kekasihnya itu, maka dia berusaha membantu Felicia untuk mengutarakannya.

Felicia kembali ragu, dia tidak yakin apa dia harus mengatakan hal ini. Axel tidak pernah merasa senang saat Felicia menyalahkan dirinya sendiri. Walau begitu, kekasihnya itu tetap akan mendengarkan apa yang dirasakannya, lalu memberikan sepatah dua patah kata, berharap agar Felicia merasa lebih baik. Axel selalu mengerti dirinya, selalu sabar menghadapi segala suasana hatinya, dan selalu ada untuknya.

“Maaf karena aku selalu menyulitkanmu,” aku Felicia akhirnya. Walau awalnya ragu, dia akhirnya berhasil mengutarakannya dan hal itu membuat perasaannya menjadi jauh lebih lega. Dia merasa beban yang amat berat yang sedari tadi dirasakannya itu telah diangkat dari pundaknya.

Mendengar pengakuan dari kekasihnya membuat Axel merasa tenang, walau dia tidak begitu senang dengan pernyataan tersebut. Dia merasa begitu bangga pada kekasihnya yang berhasil mengutarakan apa yang dia rasakan itu.

“Felicia,” panggil Axel lembut, memulai pembicaraan. Sedangkan yang dipanggil merasa takut karena namanya dipanggil.

Axel jarang memanggil Felicia dengan nama aslinya. Dia lebih suka dan sering memanggil kekasihnya itu dengan nama yang dibuatnya sendiri, Fey, yang akhirnya menjadi nama panggilan Felicia sejak SMP. Toh, Felicia juga tidak keberatan, dia malah lebih suka dipanggil seperti itu oleh Axel. Panggilan kesayangan, kata Felicia.

Maka saat Axel memanggilnya dengan nama aslinya, Felicia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Entah Axel sedang marah, kesal, atau sedang membicarakan sesuatu yang serius.

“Aku sudah bilang ini berulang kali,” lanjut Axel setelah diam selama beberapa saat, “aku tidak pernah suka jika kau menyalahkan diri sendiri seperti itu.”

Axel bisa merasakan Felicia memeluknya lebih erat karena ucapannya barusan. Dia sebenarnya benci harus membuat Felicia merasa disalahkan seperti ini. Namun, dia selalu ingin kekasihnya itu tahu bahwa melakukan kesalahan kecil itu bukanlah sebuah masalah yang besar, bahwa itu bukan sebuah dosa besar yang tidak dapat diampuni.

“Kau hanya melakukan kesalahan kecil. Sejujurnya, aku bahkan tidak merasa bahwa kau melalukan kesalahan apa pun.” Axel menarik napas sebelum melanjutkan. “Sekalipun kau membuat kesalahan, aku tidak masalah dengan hal tersebut karena seperti itulah kita.”

Pemuda itu berusaha menjelaskan dengan tenang, memberikan kekasihnya itu pengertian. Mengingatkannya bahwa dia boleh melakukan kesalahan kecil karena dia juga manusia.

“Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?” tanya Axel lembut sekali lagi. Tangannya yang lebar itu masih menepuk pelan punggung kekasihnya, berusaha menyalurkan afeksi dan rasa tenang.

“Karena aku sudah membangunkanmu,” jawab Felicia, masih sambil memeluk erat Axel. “Karena aku menyita waktu istirahat kekasihku, membuatnya harus mengurusku padahal dia bisa dapat waktu istirahat lebih banyak,” lanjutnya.

Axel merasa begitu bangga karena Felicia mau mengucapkannya, karena dia mau mengutarakan perasaannya. Tidak seperti sebelumnya, kekasihnya itu hanya akan diam dan menggelengkan kepalanya; tidak pernah mau bicara atas perasaannya sendiri.

“Kenapa kau berpikir bahwa aku bangun karenamu?” tanya Axel lagi, yang lama-lama terdengar seperti sedang menuntun Felicia agar dia bisa bicara.

“Karena aku bergerak terlalu banyak setelah terbangun tadi.” Jawaban Felicia barusan membuat Axel tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya. Karena sekali lagi, Felicia berhasil mengucapkan apa yang ada di pikirannya alih-alih hanya diam.

“Tidak apa-apa, Sayang,” ucap Axel menenangkan, “kau hanya berusaha untuk tidur kembali, kan? Mencari posisi nyaman agar kau bisa tidur lagi setelah terbangun? Aku tidak akan marah hanya karena itu.”

Pemuda itu berusaha mengucapkan kalimatnya pelan-pelan, menjelaskan dengan hati-hati agar kekasihnya itu tidak salah paham dan mengerti bahwa dia baik-baik saja akan apa yang tadi Felicia lakukan.

“Maaf,” lirih Felicia lagi, masih berpikir bahwa dia yang salah di sini.

Hush …. ” Axel kembali berusaha menenangkan kekasihnya yang masih takut dan terus menyalahkan dirinya itu. “Berhenti minta maaf, oke? Tidak ada yang salah di sini.” Tangan lebarnya itu kembali mengusap punggung Felicia pelan.

Axel kemudian tersenyum saat anggukan kecil didapatnya. Membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecupi puncak kepala sang kekasih. Aroma segar sampo yang digunakan Felicia menyapa cuping hidungnya.

“Aku tiba-tiba terbangun dan tidak bisa tidur lagi,” celetuk Felicia setelah beberapa saat mereka berdua hanya diam. “Aku tiba-tiba merasa gelisah dan cemas tanpa sebab, seperti yang sebelumnya terjadi.” Gadis itu berusaha menjelaskan apa yang dirasakannya.

“Mungkin anxiety-ku kambuh,” tambah Felicia lagi, menebak apa yang mungkin saja sedang terjadi padanya. Dan tanpa Axel duga, pengakuan kekasihnya barusan berhasil membuatnya terkejut.

Dia harusnya ingat bahwa kekasihnya itu punya masalah ini sejak dulu. Axel harusnya sadar lebih awal bahwa penyebab Felicia terbangun dan tidak bisa kembali tidur adalah gangguan kecemasan berlebih yang kekasihnya derita.

Pemuda itu kemudian memeluk Felicia lebih erat. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Axel memeriksa keadaan sang kekasih. “Merasa lebih baik?”

Felicia mengangguk sambil bergumam kecil. “Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang,” jawabnya. “Apalagi ada kau di sini,” tambah gadis itu lagi sungguh-sungguh dan Axel bisa mendengar senyuman di suara kekasihnya.

Hati Axel menghangat hanya karena ucapan Felicia barusan. Dia paham jika kekasihnya itu tidak mau terlihat lemah di depan orang lain, bahkan di hadapannya yang merupakan kekasihnya sendiri.

Baik Axel maupun Felicia sendiri tahu bahwa Felicia begitu rapuh, begitu lemah, memiliki banyak kekurangan, dan begitu mudah tersakiti. Namun, gadis itu tidak ingin memperlihatkannya pada siapa pun.

Felicia akan berusaha terlihat kuat. Dia ingin orang lain melihatnya bahwa dia tidak selemah itu. Dia ingin orang lain menganggapnya kuat, mandiri, dan bisa melakukan apa pun yang ingin dia lakukan.

Padahal sebenarnya itu hanya sebuah mekanisme pertahanan diri yang dibuat Felicia untuk menutupi segala kekurangannya. Menolak kenyataan bahwa dia juga punya kelemahan dan kekurangan; bahwa dia tidak sempurna.

Sebagai kekasihnya, Axel tidak ingin Felicia melakukan itu pada dirinya sendiri. Dia ingin gadis itu menjadi dirinya sendiri, apa adanya, bahkan jika dia sosok manusia lemah sekalipun.

Axel ingin tahu segala sisi Felicia. Bukan hanya sisinya yang ingin terlihat kuat, tetapi juga sisi terburuk dan terlemahnya. Axel tidak ingin Felicia menjadi orang lain di hadapannya, berpura-pura menutupi segala kekurangan dan kelemahannya itu.

Itulah alasan Axel selalu ingin mendengar setiap emosi yang dirasakan Felicia. Dia ingin gadis itu mengutarakan dan mengekspresikan perasaan dan emosinya, mengucapkan apa yang sedang dia pikirkan. Membuat kekasihnya itu menerima dirinya sendiri, sekalipun jika dia tidak sempurna.

Axel kembali mengecupi puncak kepala Felicia, menyalurkan rasa sayangnya yang begitu meluap pada gadis tersebut. “Kau sudah tidak lagi sendirian, kau punya aku.” Axel tidak ingin membahas sisi lemah Felicia, dia sama sekali tidak ingin menyinggung kekasihnya.

“Kalau hal ini terjadi lagi, segera bangunkan aku. Tidak perlu merasa bersalah atau berpikir bahwa kau menggangguku. Bangunkan saja aku bahkan jika aku baru tidur sebentar.” Dalam dekapannya, Felicia mendengarkan dengan saksama. “Aku tidak mau kau sendirian lagi, terutama di saat seperti ini,” tambah Axel kemudian.

Merasa siap untuk menatap kekasihnya lagi, Felicia bergerak dalam dekapan Axel. Dia menjauhkan tubuh mereka sedikit agar dia bisa melihat wajah sang kekasih. Felicia bisa melihat mata Axel yang terlihat begitu mengantuk, tetapi tetap menatapnya dengan lembut, penuh akan kasih sayang.

“Jika aku tidak sedang di sini, tidak sedang di rumah bersamamu, telepon saja. Telepon sampai aku bangun,” tambah Axel sebelum Felicia sempat mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Melihat bagaimana sifat Felicia selama ini, dia yakin jika kekasihnya itu akan menanyakan sesuatu atas pernyataannya tadi.

“Tapi kita selalu tidur bersama belakangan ini,” celetuk Felicia, sesuai dengan dugaan Axel. “Atau setidaknya kita tidur serumah,” lanjutnya lagi, terdengar lucu karena berbagai alasan.

“Maka kau tahu apa yang harus kau lakukan,” jawab Axel santai, yakin jika kekasihnya paham apa yang dia maksud.

Felicia kembali memeluk Axel, menempelkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya selagi pemuda itu mulai bicara lagi. “Aku tidak akan meninggalkanmu, dan kau tahu itu.” Dan sebuah cengkeraman yang cukup kuat bisa dirasakan Axel pada punggungnya.

Felicia tidak mau sendirian lagi, dia tidak mau ditinggalkan lagi oleh orang-orang yang disayanginya. Maka ucapan barusan membuat alarm di kepala gadis itu menyala. Tiba-tiba membuatnya takut jika kekasihnya itu—mungkin saja—akan meninggalkannya.

“Aku tidak akan ke mana-mana, tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Aku akan di sini bersamamu,” lanjut Axel lagi, “selalu,” tambahnya dan membuat ucapannya tadi terdengar seperti sebuah janji atau sumpah yang harus dia tepati pada Felicia.

Tidak ada yang bicara sampai lirihan kecil yang teredam terdengar dari mulut Felicia. “Janji?”

“Janji,” jawab Axel mantap, tidak ada sedikit pun keraguan pada jawabannya. “Cukup sekali saja aku jauh darimu dan melihat perubahan yang begitu banyak, aku tidak mau hal itu terjadi lagi.” Mengucapkan kalimat barusan membuat Axel ngeri sendiri. Memikirkan apa yang pernah terjadi sebelumnya membuat pemuda itu bahkan tidak ingin mengingatnya kembali.

Dengan posisi ini, Felicia bisa mendengar detak jantung sang kekasih yang teratur. Dan untuk kesekian kalinya, Felicia dibuat begitu tenang dan nyaman akan sosok Axel. Semua tentang kekasihnya itu bisa membuatnya merasa jauh lebih baik. Aroma tubuhnya, suara beratnya yang tetap terdengar lembut, sorot matanya yang tegas tetapi juga ceria, senyumannya yang begitu cerah, bahkan bunyi detak jantungnya yang terdengar seperti melodi indah di telinga Felicia.

Di sisi lain, Axel mulai bisa merasakan napas Felicia yang jauh lebih teratur, begitu juga degup jantungnya. Dia tahu bahwa kekasihnya itu jauh merasa lebih tenang sekarang. Dia juga berharap Felicia mulai kembali merasa mengantuk karena mereka butuh istirahat.

“Sekarang, pejamkan matamu dan coba untuk tidur,” pinta Axel lembut, sambil mengusap punggung Felicia lagi. “Walau sebentar, coba untuk tidur lagi, oke? Kita harus berangkat pagi nanti.”

Dan tidak lama setelah itu, sepasang kekasih itu mulai terlelap setelah Axel mengecup puncak kepala Felicia untuk kesekian kalinya. Keduanya tertidur bersama, masih dengan posisi saling berpelukan. Berbagi kehangatan di tengah malam yang sunyi.

Di pagi harinya, Felicia terbangun dengan kekasihnya yang sedang mengusap kepalanya lembut, sudah bangun sedikit lebih awal darinya dan berusaha membangunkannya. Sebuah kecupan kecil di pipi didapat Felicia sebelum kekasihnya turun dari ranjang yang mereka tiduri. Ajakan untuk segera bangun, mandi, dan sarapan didapatnya kemudian.

Tidak butuh perintah kedua bagi Felicia untuk segera bangun, atau Axel akan mengomelinya. Dan dia tidak ingin cinta dalam hidupnya itu marah-marah di pagi hari. [*]

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kurang panjang kak 😆