Disukai
0
Dilihat
29
I Just Wanna be Part of Your Harmony
Romantis

Boys Love

Fan Service-AU One-shot

Rate: 15+

"Kita ulangi koreo yang kemarin. Pentasnya tinggal menghitung hari dan aku mau memastikan semua sudah sesuai."

Firman-pria jangkung berambut hitam legam-memasang sebuah kaset pita tua ke dalam pemutar. Setelah menutup case-nya, dia menekan tombol play dan bersiap di posisi dengan pasangan dansanya, Riko-pemuda berambut cokelat.

"Mulai," gumamnya, lalu perlahan mengayunkan lengan ke samping saat melodi Swan Lake mulai mengisi ruangan dan ditiru rekannya setelah dua signature.

Berikutnya, mereka saling mengaitkan jemari. Lalu Riko melakukan piruet dengan sebelah tangannya yang terangkat ke atas, masih dipegangi oleh Firman untuk beberapa durasi, berlanjut mereka saling mengulur tangan dan Riko menjatuhkan diri sambil merentangkan sebelah kakinya setinggi pundak Firman.

Dia kembali berdiri tegak, melonggarkan genggamannya, lalu berjalan dalam lingkaran sambil berjingkat diikuti Firman di belakangnya. Detik berikutnya, Riko langsung melepaskan diri, melangkah dengan setengah melompat namun tetap anggun menuju ke seberang ruangan.

Firman mengejar dengan beberapa lompatan besar, mengadang dari depan dan membuat Riko memutar balik, diikuti dengan langkah lebar yang diselingi piruet dan diakhiri dengan split.

Firman mengubah arahnya diiringi gerakan melangkah di ujung kedua kaki, berusaha menangkap Riko yang sedang terjatuh. Sebelum Firman sampai, Riko segera berlutut dan bangkit, berjalan mundur menjauh dengan ujung kaki sambil menggerakan tangan seperti kepakan sayap.

Dia kembali melakukan piruet ke sisi lain ruangan mengikuti irama, sambil Firman terus membuntutinya dalam hitungan langkah satu per empat.

Firman segera meraih tangan kanan Riko dari belakang, membuatnya melayang dengan dada terbusung ke atas, tangan kiri direntangkan ke samping dan satu kaki diangkat tinggi-tinggi. Firman mendekat selangkah maju, menegakkan kembali tubuh Riko, lalu menarik punggungnya ke dalam dekapannya.

Riko memutar tubuhnya, membuat dirinya bertatap muka dengan Firman yang juga sudah mulai berkeringat, melepaskan diri dan kembali tertangkap. Kali ini Firman memegang pinggang Riko dari belakang, lalu mengangkatnya ke udara selama beberapa detik sembari dia melakukan split untuk kedua kalinya.

Riko akhirnya diturunkan dan langsung melakukan piruet sekali lagi. Detik-detik terakhir durasi ditutup dengan mereka saling berhadapan-satu tangan Firman memeluk pinggang Riko sementara tangan lainnya memegang kepala Riko sambil membungkukkan diri dengan sebelah kaki terentang lurus ke belakang.

Riko yang terperangah, memegang kedua pundak Firman sambil kembali mengangkat satu kakinya ke depan. Musik merendah, lalu berhenti, menyisakan keduanya saling bertatapan dalam lelah dan napas yang terengah.

"Bagus, Riko..." sahut Firman, membuka percakapan. Riko hanya bisa bergeming sambil mengerjap, dadanya naik turun dengan cepat. Firman pun segera membantunya menegakkan diri kembali, melepaskannya, lalu beranjak ke pemutar kaset untuk mematikannya.

"Jadi, Firman... Menurutmu, bagaimana latihanku hari ini...? Apakah sudah sesuai ekspektasimu...?" Riko mengambil botol air minumnya yang diletakkan di sisi kanan pemutar, lalu duduk sembarangan sambil meneguk pelan isinya sampai sekitar sepertiga bagian.

Firman ikut beristirahat, mengambil tempat di samping Riko sambil minum. Kakinya terulur sebelah ke depan, masih terbalut sepatu balet.

"Performamu maksimal hari ini. Aku suka. Tetap pertahankan sampai waktu pementasan nanti, ya."

Riko mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. Dia memegangi botol minumnya, menatap lurus ke depan. Keduanya tidak mengatakan apa-apa dan hanya bergeming untuk beberapa saat.

"Aku jadi teringat saat pertama kali bertemu denganmu dulu. Gerakanmu sudah natural, tapi tubuhmu masih kaku. Kau mati-matian berlatih kelenturan sampai cedera karena terlalu memaksakan diri," papar Firman, memecah kesunyian.

Riko beralih menatap Firman sejenak. Dia selalu mengagumi Firman sejak mereka masih berlatih di sanggar milik sebuah asosiasi balet lokal. Pria yang dulu menjadi gurunya itu, memutuskan untuk berhenti dan sejak hari itu, fokus menjadi rekan duetnya.

Firman juga terkesan karena Riko bisa dengan cepat mengejar level baletnya yang sudah masuk tingkatan senior hanya dalam waktu tiga tahun. Padahal dirinya butuh setidaknya tujuh tahun untuk bisa menguasai teknik balet yang paling mendasar sampai menjadi profesional.

Tidak heran, dia betah berlama-lama, menghabiskan waktu di studio untuk berlatih atau sekedar mengobrol dengan Riko. Meskipun sebenarnya, hubungan mereka sudah lebih dalam dari sekadar rekan duet.

"Dan kau melindungiku dari murid-murid yang menindasku. Kalau tidak begitu, aku pasti sudah trauma dan mungkin tidak akan pernah melanjutkan baletku sampai hari ini... Sebenarnya aku masih sedih karena kau sampai harus meninggalkan asosiasi demi menyelamatkanku dari tekanan mereka..."

Suara Riko sedikit bergetar. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Tapi aku juga senang karena kita bisa bersinar bersama, menikmati setiap tepuk tangan untuk koreo hasil kerja sama kita di atas berbagai macam panggung dan acara..."

Riko menarik kedua lutut ke dalam pelukannya, meringkuk sambil meredam isakan yang mulai memuncak.

GREB...

"Tenang saja. Pengunduran diriku bukan kesalahanmu. Aku pikir, kalau itu semua tidak terjadi, kita tidak akan bersama di sini. Kehidupan kita akan berbeda, dan mungkin, tidak akan seindah sekarang... Aku sangat berterima kasih atas kehadiranmu, Riko. Kau tidak perlu menyesali apapun lagi..."

Sambil mendekap Riko erat, dia mengusap lembut rambut cokelat rekan dansa kesayangannya itu. Wangi lavender menguar dari helaiannya yang sedikit mengembang.

"Iya... Aku juga... senang bisa bertemu denganmu..."

Firman melepas pelukannya, menatap Riko sejenak dan segera menyeka air mata yang sudah semakin berlinang. Dengan bersambut senyuman, Firman segera bangkit, lalu mengulurkan tangannya pada Riko.

"Kau mau menari lagi?" tawarnya dengan gaya ala gentleman. Riko mengangguk dan segera meraih tangan Firman-yang sempat memilih-milih trek di kasetnya-sebelum mengambil posisi dan menari waltz agak tidak overworked karena latihan.

Blumenwalzer menjadi pilihan kali ini. Terkesan mellow namun tetap gembira. Riko dan Firman bergerak bebas mengikuti irama dengan berbagai gerakan yang meskipun bagi mereka mudah, namun tetap mengagumkan.

Mereka menari seperti boneka di menara jam yang berjalan dalam rel, saling mengikuti satu sama lain. Perlahan dengan langkah berjingkat, lalu sesekali diselingi gerakan berputar dengan kaki yang tertekuk ke dalam atau salah satunya terulur lurus keluar.

Sampai di puncak musiknya, mereka kembali berduet. Namun kali ini, mereka melakukan gerakan seperti cermin, dalam waktu dan langkah yang bersamaan.

Mereka saling berhadapan, menempelkan kedua telapak tangan, mendorong ke belakang dan kembali mendekat sambil mengaitkan jemari kedua tangan, berjingkat ke arah samping dan melakukan dua putaran terakhir sebelum diakhiri dengan Firman yang tanpa diduga langsung menarik Riko ke dalam pelukannya, memberinya sebuah kecupan kilat di bibir, bersamaan dengan berhentinya musik di not terakhir.

"...Hh..." Terkejut, Riko hanya diam dengan mulut yang masih agak terbuka.

"Mari kita terus menari bersama, Riko." Firman memberinya sebuah senyuman penuh makna, yang sejenak membuat jantung Riko berdebar lebih kencang.

"Iya," jawabnya singkat. Lalu mereka kembali berciuman dalam keheningan studio tari pribadi milik Firman.

Will you hold me tight and not let go?

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi