Disukai
1
Dilihat
2,007
Hedonisme Bos Cendol
Komedi

Pernah gak sih dalam hidup kalian terpikir sejenak cita-citanya yang sederhana aja gitu, jadi tukang cendol misal. Bisa ngasih kesegaran di tengah gersangnya kerongkongan dengan harga murah pula. Goceng bikin ces pleng. Rasa manis gula merah berpadu dengan santan gurih ditambah kenyalnya cendol warna hijau apalagi pas siang bulan puasa. Aduhai, sungguh menggoda dahaga. Cita-cita sederhana yang bikin hidup lo semua gak terbebani ekspektasi yang datang dari orang lain maupun diri lo sendiri.

 

Oke sebelum cerita lebih lanjut, kenalin gue Dany. Dany Gamara.

 

Nama yang hampir mirip dengan salah satu aktor papan atas di negeri ini. Donny Damara. Tapi sayangnya beda nasib. Dia menjadi aktor dibayar atas kerja kerasnya, sementara gue menjadi aktor sukarela alias sering berpura-pura selalu bahagia di kehidupan ini. Dalem.

 

Suatu hari pas masih SMA, gue pernah iseng nanya ke bokap. Kenapa mereka kasih nama itu bukan nama-nama jawa atau ketimurtengahan pada umumnya. Yang biasanya suka bikin repot petugas catatan sipil kalau sudah urus dokumen atau bikin report diri sendiri pas ujian sekolah yang masih isi bulatan dengan pensil 2B.

 

Bokab jawab, “Dany itu gabungan dari nama Bapak sama Ibu. Darto dan Nyai.”

“Oke terus kalau Gamaranya apa, Pak?”

“Ya, Gak Boleh Marah.”

Tiga kata. Singkat padat jelas.

 

Gue sampai bengong. Karena sudah berandai-andai ini pasti nama dari para raja-raja. Ternyata sesederhana itu Bapak sama Ibu gue ngasih nama. Kata orang kebanyakan, nama adalah doa. Tapi jujur gue malah terbebani dengan doa itu. Karena orang tua berharap gue gak suka marah-marah apapun yang terjadi.

 

Misal suatu hari pas lagi asik main berlarian dalam rumah tiba-tiba ujung jari kaki kepentok meja rasa sakitnya sungguh luar biasa ingin mengumpat. Bapak sama Ibu sudah nunggu ngintip dari balik pintu kamar menunggu reaksi gue. Apakah bakal memarahi kaki meja yang tak bersalah itu. Tapi yang keluar dari mulut gue cuma kata, “Aw.”

Ingat, Nama adalah doa. Petuah itu mendadak muncul terngiang di kepala

Lalu pernah saat asik manjat pohon mangga punya tetangga dengan teman, tiba-tiba yang punya keluar dan marah-marah. Gue yang panik langsung loncat dengan posisi tangan lebih dahulu sampai terkilir. Bapak sama Ibu sudah memantau dari balik pagar rumah. Apakah gue bakal marah balik ke teman yang gak becus kasih kode kalau si empunya rumah sudah berdiri lama melihat aksi kami berdua atau hanya menerima pasrah menahan rasa sakit. Karena takut gue lebih milih opsi kedua.

Ingat, nama adalah doa.

Tapi selain yang sudah gue ceritain sebelumnya, banyak hal di dunia ini yang membuat kita gak berhenti marah-marah. Pemerintah gak becus kerja, artis bikin konten ngeprank polisi di youtube dan pelanggan yang masih berprinsip pembeli adalah raja. Raja yang banyak maunya. Raja mana yang beli cendol coba. Nggak mungkin banget Alexander The Great memerintahkan prajuritnya berangkat cuma buat jajan cendol dawet. 

Oh, iya. Gue belum cerita ke kalian kenapa sampai terlibat menjadi tukang cendol di usia belia yang harusnya punya karir lebih baik dan bisa berkembang ini. Asal muasal ingin menjadi tukang cendol sesimpel karena Andika Kangen Band sama forum kaskus. Dua hal itu yang melatarbelakangi sepak terjang gue di dunia percendolan. Muncul circa 2005 Kangen Band dengan vokalis Andika sukses meraih perhatian seluruh para remaja indonesia, dari seorang tukang cendol bisa menembus dapur rekaman. Salah satu inspirasi gue yang tak terlupakan. Gue berprinsip ini hanya sebagai batu loncatan, Andika aja bisa kenapa gue nggak?

Kehadiran Kaskus juga berperan andil dalam mendoktrin cita-cita gue karena saat pas dulu masih aktif forum dan bikin thread sering dikasih Cendol Gan! Bagaimana dari Cendol menjadi sebuah simbol penghargaan dan hal itu memotivasi banyak orang untuk berkarya. Terdengar konyol tapi yang terjadi benar adanya. Berangkat dari hal itulah gue yakin cendol adalah jalan ninjaku menuju kesuksesan.

Dalam menjalani karir sebagai tukang cendol dawet, suatu hari tepatnya siang Kamis Kliwon datang pesanan dari salah satu pelanggan dengan permintaan paling absurd yang pernah gue siapkan seumur hidup. Wanita muda ini menghampiri gerobak gue dengan motor maticnya yang berwarna pink.

 

“Bang, beli cendol 3 porsi Porsi pertama jumlah bulir cendolnya harus ganjil 111, porsi kedua harus genap 222, porsi ketiga ganjil lagi 333. Jumlahnya harus pas, gak boleh lebih gak boleh kurang.” pinta si wanita pelanggan itu dengan wajah datar persis Suzanna pas lagi minta sate 200 tusuk tanpa ragu

 

 Gue sampai heran apa ini lagi nyiapin sajen pesugihan atau cuma orang mau bikin konten youtube ngerjain pedagang polos kayak kami. Gue sampai celingak celinguk memastikan tidak ada kamera yang tersembunyi.Karena angle terbaik gue sebelah kiri, jadi gue nyiapin pesanannya badan sambil miring menghadap ke kiri. Ngehitung bulir cendol kayak orang lagi nakar bahan praktik kimia, hati-hati takut meledak.

 

Omong omong tentang pelanggan, tentulah sudah bertakdir dengan sang penjual dan sudah pasti biasanya ada bosnya juga dong. Bos yang baik adalah bos yang bisa membawa perubahan terhadap apa yang ia kerjakan menjadi sesuai visi dengan cara yang sehat. Bos yang buruk adalah bos yang hanya bisa marah tak menentu, tidak memberi solusi dan menganggap semua yang dikerjakan sumber kegagalan.

 

Namun yang paling ultimate dari segala bos yang pernah ada tentu saja bos gue sendiri. Pemicu kemarahan yang berada di posisi puncak bagaikan rank 1 di tangga lagu. Lagu yang gak pengen pernah gue dengerin. 

 

Namanya Jupri Unggul. Singkat hanya dua kata.

 

Konon namanya gabungan dari kata jujur, pribadi, dan unggul. Kayak visi sekolah negeri. Tapi dia gak pernah mau sama sekali dipanggil dengan nama aslinya. Bahkan nama akun facebooknya pun, walaupun sebenarnya sudah gue block dan report tapi gue masih bisa stalk pakai second account, dia kasih nama akunnya pakai ejaan luar negeri. JoeFree First. Isi postingannya selalu dengan caption “If You Rich Great, You Success” alias kalau kamu kaya raya, kamu sukses. Apapun fotonya. Mulai dari dia kuliah, wisuda sampai jadi bos kami sekarang. Sebuah kenarsisan hakiki.

 

Semua penjual cendol bawahannya yang ada 20 orang ini harus patuh dan taat memanggilnya dengan sebutan Pak Jo. Atau kalau dieja dalam bahasa inggris jadi F**k Joe. Usianya baru 38 tahun, memang lagi lucu-lucunya. Badannya kurus tapi perut agak buncit, warna kulitnya bagai kulit sawo mau busuk. Rambutnya ikal, jenggot 3 helai menghias dagunya yang lancip kayak fir’aun. 

 

Bos gue ini hidupnya serba hedon. Lebih foya-foya dibanding lirik lagunya bruno mars yang Grenade, Foyah..(dinyanyikan dengan gaya Fatin masih ABG di audisi X Factor). Dia tentu saja bertentangan dengan paham minimalism seperti yang dianut salah satu publik figur tanah air, Raditya Dika. Kerjaannya makan tiap hari di restoran, tiap malam ke diskotik, belanja fashion item branded dan memamerkan semua hal itu di jejaring sosialnya.

 

Usaha cendol dawet kami ini sudah mainstream layaknya cendol yang dijajakan dengan gerobak dorong dengan hiasan wayang dan gentong dari tanah liat. Namanya Cendol Dawet Tamvan. Pemberian langsung dari si Pak Jo saat mulai mengurus usaha ini. Karena nama yang lama katanya old school. Menurut gue sih lebih memenuhi hasrat kenarsisannya aja.

 

Sampai di suatu pagi awal bulan September di mana status-status cringe Wake Me Up When September End berseliweran di jejaring sosial, kami yang sedang menyiapkan bahan dan peralatan di halaman dengan gerobak masing-masing dihebohkan oleh teriakan Pak Jo di depan markas RCM. Republik Cendol Management. Semua orang tahu dia fans berat Dewa 19 sampai kasih nama kantornya sendiri pun terinspirasi dari band legend sudah berumur 30 tahun tersebut. Lebih tua 4 tahun dari gue. Pak Jo memanggil semua anak buahnya untuk berkumpul. Akupun ikut berjalan menuju ke arahnya bersama dengan Ramli. Salah satu rekan kerja terdekatku.

 

Si Bos ini minta sales kita harus naik terus setiap harinya sementara market saat ini sudah mulai digeser oleh kehadiran boba sama es krim. Doi tipikal yang gak mau tahu dengan kesulitan bawahan di lapangan, yang penting tiap hari harus cuan.

 

“Dany, gue pengen gerobak lo ngehasilin 150% profit hari ini. Apapun caranya. Mau lo sambil nyanyi atau joget kek. Gue gak mau tau.” ujar Pak Jo setengah berteriak ke gue sambil menunjuk-nunjuk dengan jari berhias batu akik warna biru telur asin.

 

Saat itu ingin rasanya ubun-ubunnya gue siram pake kuah cendol. Biar dirubungin semut tuh kepala. Namun partner kerja gue, Ramli mencegah. Menahan tangan gue yang sudah di posisi menyiduk kuah cendol dengan centong. Ramli menatap gue dan menggeleng perlahan. Aku hanya melengos kecewa, merasa tidak didukung.

 

“Ramli! Kasih gue ide sekarang gimana cara buat naikin semua omset penjualan. Karena selama ini penjualan lo yang paling rendah daripada yang lain.” ucap Pak Jo membuat Ramli terkejut dan melepaskan tangan gue. Dia langsung berkeringat gugup dan saling menatap dengan Pak Jo. Dengan sedikit terbata-bata dan setengah berbisik Ramli menyampaikan idenya, “Gimana kalau kita daftar jualan di ojek onlen aja, Pak”

 

“Apa,apa? Kurang keras ngomongnya. Lo belum sarapan ya? Atau cuman sarapan pakai obat maag doang, lemes banget.” sahut Pak Jo sambil memiringkan kepala dan mengarahkan telinga ke Ramli

 

“SIAP! GIMANA KALAU KITA DAFTAR JUALAN OJEK ONLEN AJA PAK” Ramli menjawab bagaikan siswa taruna yang sedang pendidikan dan tebar pesona jurus Halo Dek nya.

 

           “Hmm, ide bagus. Kenapa gue gak kepikiran dari dulu, ya? Untung ada kalian semua yang bantu saya mikir. Besok mulai lo urus itu Ramli pendaftarannya” Pak Jo terlihat tersenyum puas dan bangga memerintah.

 

           “Ya pasti gak kepikiran lah. Soalnya dari dulu kayaknya otaknya gak pernah dipake. Nyusahin orang tua dan sekarang nyusahin bawahan.” kesal gue dalam hati dengan wajah senyum penuh kepalsuan

 

Bos gue ini sebenarnya gak bodoh-bodoh banget, doi sebenarnya lulusan manajemen bisnis tapi hampir gak lulus karena ambil cuti kuliah lebih dari aturan. Hanya saja setelah lulus wisuda, doi gak dibolehin orang tuanya untuk kerja di perusahaan yang dia mau. Dia harus melanjutkan usaha turun temurun dari generasi 1 keluarganya. Cendol Dawet. Gue kadang mikir hebat juga ini orang bikin dan mempertahanin usaha konsisten dari zaman penjajahan dulu sampai zaman penuh jajan.

 

“Terus ada ide lain yang bisa kalian kasih demi kemajuan usaha kita?” tanya Pak Jo kali ini matanya tidak fokus kepada kami karena sambil nonton live tiktok orang yang dikasih gift terus ngelakuin sesuai instruksi yang ditulis. Pak Jo tersenyum senang, memang jiwa feodalismenya mendarah daging sampai era digitalisasi.

Mang Cecep salah satu senior kami buka suara, “Gimana kalau kita pakai seragam, Bos? Warna coklat hijau biar representative branding cendol yang kita jual. Orang orang bakal mengingat Cendol Dawet Tamvan.” usulnya dengan bahasa anak marketing banget. Tidak heran, dia dulu memang kuliah pemasaran tapi di Drop Out karena lebih sering nongkrong dan kerja di pasar kebablasan saat magang dulu. Mang cecep akhrinya didapuk mengurusi persoalan seragam. Dia dikasih deadline satu minggu harus sudah selesai.

“Terus ada ide apa lagi yang bisa kalian kasih. Jangan cuma bisanya numpang hidup doang kalian di sini.” Pak Jo bertanya sambil marah. Semua penjual tertunduk kecuali gue.

Gue langsung menyambar dengan usulan, “Gimana kalau orang bisa bayar bayar pakai QR Code aja, jadi tinggal scan udah beres. Cashless.”

“Hah keset?” Pak Jo heran karena tidak fokus. Doi masih nonton live tiktok tadi dan riang gembira habis kasih gift singa. Gue tahu karena ada suara mengaum dan dia tersenyum lebar habis menyuruh si tiktoker nyelupin muka ke baskom penuh kuah soto.

“Cashless, pak. Non tunai.” jawab gue

“Oh. Lo urus itu sampai bisa”

Mang Cecep kemudian bersuara kembali, “Kami sudah bisa bubar kan pak? Takut pelanggan kecarian kalau kami telat.”

“Bentar.. bentar.. gimana kalau kalian sambil jualan di tiktok kayak gini nih.” Pak Jo menunjukkan ke kami sepintas orang yang lagi live tiktok jualan. Ada yang jualan gorden, jualan elektronik sampai jualan rasa iba.

Kami semua memilih mendiamkan dan bubar mulai bergerak seolah-olah tidak ada ide bodoh lainnya yang bikin kami susah besok hari.

Pak Jo pun terdiam dan melengos pergi karena tidak ditanggapi. Doi males ribut karena sudah waktunya dia makan siang di restoran mewah langganannya.

Kebiasaan menyebalkan dari Si Pak Jo ini adalah memanfaatkan keberadaan kami di lapangan seperti mesin ATM drive thru tinggal datang langsung minta setoran. Padahal belum dihitung untung ruginya berapa, langsung ambil yang ada di pegangan kami. Doi biasanya selalu bawa perempuan yang diklaim sebagai kekasihnya. Mbak Mirna. Badan langsing, rambut panjang, kalau tertawa hihihihi kayak kunti. Mereka berdua melaju dengan mobil baru atap terbuka. Heran kan kalian darimana duitnya si Pak Jo ini bermewah-mewah tapi Cuma dari usaha cendol. Gue berprasangka jeleknya mungkin doi melihara tuyul atau jadi babi ngepet dan Mbak Mirna tukang jaga lilinnya.

Sudah dua tahun lebih menemani Pak Jo tapi tak kunjung dinikahi. Kasihan. Tapi bucinnya minta ampun sama Mbak Mirna. Apa-apa dituruti,. Liburan ke luar negeri diajak, walau cuma singapura. Minta tas mewah dibelikan merk Gutsi. Biaya ke salon tiap minggu, Pak Jo yang tanggung semua. Tapi setiap ditanya kapan mau nikahin. Jawabannya selalu sama. Mau fokus dengan bisnis dan karir dulu. Padahal emang alasan si Pak Jo nya aja yang masih gak mau terikat. Bayangan istri yang mengekang cukup bikin doi trauma dari contoh Ayah dan Mamah nya sendiri. Kenapa gue tahu hal ini karena dia pernah curhat di depan markas RCM. Pas lagi keadaan mabuk berat.

*****

 

Seminggu kemudian terjadi perubahan yang drastis dalam tim kami.

Kami sudah memakai seragam. Kemeja hijau muda ombre putih dan celana bawahan coklat lebih tepat celana pramuka. Perlambang es cendol dawet banget. Bawah gula merah atas santan dan cendol saat belum diaduk. Logo di dada sebelah kanan kemeja pun terpampang wajah karikatur Pak Jo yang tersenyum menyeringai di sampingnya tertulis Cendol Dawet Tamvan dengan pilihan font meliuk-liuk bagai judul kaset dangdut. Mang Cecep gembira dengan idenya yang terwujud.

Kemudian ada logo kode QR yang terpasang di setiap gerobak di pasang dalam acrylic agar tahan hujan dan panas dan tentu saja di hape kami semua sudah terinstall berbagai macam aplikasi online food service. Siap sedia mulai jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Kami pun berangkat meninggalkan Republik Cendol Management dengan semangat baru.

Saat itu gue mangkal kebetulan dekat dengan rumah. Sambil bisa sekalian ngawasin Bapak dan Ibu. Aplikasi mulai diaktifkan pesanan pun bermunculan dari pelanggan. Sampai pesanan ke gelas 300 akhirnya ada waktu buat rehat sebentar. Di tengah kedamaian itulah si Pak Jo datang. Mengklakson sampai telinga berdenging.

“Dan, bagi gue semua duit yang ada di lo.” pintanya sambil membenarkan kacamata hitamnya padahal cuaca lagi mendung gelap untuk gak nabrak aja

“Jangan semuanya lah pak, kan buat kembalian gimana?” Gue sedikit menolak

“Oke fine. 1 juta aja.”

“Lah pak, ini aja baru laku 700 ribu. Belum sampe sejuta.”

“Udah tombokin aja lah 300 ribunya. Masih ada duit lo kan, makan jarang, ngerokok kagak. Harusnya duit lo kemarinan masih ada pasti.”

“Nggak ada pak.”

“Halah.” Pak Jo turun dari mobil dan berusaha merebut uang dagangan dan dompet gue

“Bapak jangan maksa dong nanti gue teriakin jambret nih.”

“Heh, nyolot lo ya.” Pak Jo marah

Ingat, nama adala doa. Gak boleh marah.

Tiba-tiba Bokap gue datang menghampiri, karena lokasi gue berjualan cuma 60 meter dari rumah. Sepertinya Bokap melihat kami berdua.

“Eh ada apa ini kok keliatannya ribut-ribut?”

Si Pak Jo tiba-tiba merangkul sok asik. Seperti tidak terjadi apa-apa. Fake banget orangnya. Tapi entah kenapa tingkah laku si Pak Jo selalu kalem jika berada di depan Bapak gue seolah-olah ada sesuatu yang dia rahasiakan. Gue pun berpikir jangan jangan selama ini gue anak pungut atau anak titipan kali ya, dan dia tahu hal itu. Tapi gue tepis pemahaman konyol ini.

“Eh gak apa-apa Om. Sehat tante? Mau beli es cendolnya ya?” ujar Pak Jo sok akrab

“Sehat-sehat. Nak Jo sehat? Ayahmu gimana? Masih sering kumat vertigonya?”

“Ayah sehat, udah jarang kumat. Udah rutin bekam soalnya, om.”

Gue berusaha melepas rangkulan sok asik Pak Jo. Tapi malah tambah dicengkeramnya kuat.Aroma parfumnya menyeruak hidung bercampur aroma keteknya.

“Wah bekam ya. Om belum pernah. Kalian ga ada apa-apa kan?”

“Oh nggak, ini cuma ngecek Dany doang kok om. Biasalah crosscheck and monitoring.” Pak Jo berkilah dengan bangga menunjukan istilah kata bahasa inggris yang tak seberapanya itu

“Okelah, kamu harus rajin-rajin, Dany. Apalagi punya bos baik kayak gini.”

Cuih. Dalam hati gue meludah.

Gue pun menyiapkan es cendol buat Bokap seperti biasanya.

Setelah Bokap membawa dua bungkus cendol pergi, Pak Jo tetap berdiri di dekatku melambaikan tangan ke Bokap sambil tersenyum. Sebelum doi pergi langsung merampas duit 700 ribu tadi di atas meja gerobak.

Sudah setahun berjalan, penjualan kami mengalami peningkatan namun kelakuan si Pak Jo dengan hedonismenya itu tidak memperlihatkan penurunan. Sampai suatu hari seminggu sebelum lebaran, Ayah Pak Jo memanggil kami berdua ke ruangan kantor di RCM. Kami berdua pun masuk ke dalam ruang 3 x 4 m yang hanya berisi meja dan kursi serta sebuah lemari di pojok ruangan.

“Sengaja saya panggil kalian berdua ke sini. Untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting mengenai-”

Telfon tiba-tiba berdering dari sang istri.

“Halo, aku lagi meeting ini.”

“Halah matang miting opo tho. Usaha cendol dawet kayak ngurus minyak sawit ae.” cerocos sang istri kebetulan mode loudspeaker jadi kami bisa mendengarkan.

           “Mau minta apa sih. To the point aja.”

           “Transfer 5 juta ke Mamah. Buat bayar biaya salon dan spa hari ini.”

           “Iya.”

           Klik. Panggilan terputus tidak ada kata penutup, salam maupun ucapan romantis perpisahan suami istri harmonis kayak di sinetron beribu-ribu episode

“Sebelum lebih jauh saya berbicara silahkan baca surat ini dulu ya.” Ayah Pak Jo mengeluarkan dua lembar kertas dari laci dan menyerahkan ke gue.

Gue baca perlahan semua huruf isi surat tersebut yang isinya adalah surat pernyataan adopsi anak dari Bokap Gue ke Ayah Pak Jo. Benar pemikiran konyol gue selama ini. Ternyata selama ini gue dititip oleh Ayah Pak Jo ke Bapak karena selama ini belum bisa mendapat keturunan. Bapak dan Ayah Pak Jo termasuk bersahabat sejak lama. Seketika kehidupan gue kayak headset dalam saku. Tiba tiba kusut runyam aja. Berarti yang barusan tadi nelfon adalah Nyokap gue. Yang terkenal sosialita itu dan sering menindas suami.

Lalu gue melanjutkan ke lembar ke dua ada surat ahli waris yang tercantum nama gue seorang di dalamnya. Kemudian Pak Jo merebut lembar ke dua itu dari tangan gue.

“Sudah selesai dibaca?" tanya si Ayah Pak Jo alias bokap gue yang asli

Gue terdiam mematung. Yang keluar dari mulut setelahnya hanya, “Jadi selama ini lo tau gue ini adik kandung lo.” sambil memandang ke Pak Jo

“Gue bingung harus sedih atau bangga. Semua karena kelakuan lo yang menyebalkan itu bikin gue gak percaya.” lanjut gue sedikit gemetar

“Dan, gue begini ini nih karena gue gak bahagia. Gue gak bisa ngikutin apa yang gue mau. Gue gak bebas dan harus selalu nurut sama orang tua yang ternyata malah milih elo jadi ahli warisnya.”

Gue hanya diam tak menanggapi.

“Memang anjing ya lo!”

Pak Jo menyumpah dan meninggalkan gue dengan ayahnya berdua. Desing mesin pendingin ruangan dan detak jam dinding sampai terdengar saking heningnya. Tak dinyana Ayah Pak Jo mengejarnya keluar dan terjadi keributan di antara mereka berdua.

Si Ayah menarik bahu Pak Jo sampai ia berbalik badan.

“Apa sih yah! Lepasin gak!” Pak Jo menepis tangan ayahnya

“Berani ngelawan ya, diam di tempat kamu Jo!” bentak balik si Ayah

Pak Jo tetap berusaha kabur, baru beberapa langkah. Dari belakang mendadak si ayah mentackling layaknya Kapten Tsubasa sampai Pak Jo jatuh terjerembab.

Pak Jo mengaduh, meringis kesakitan. Lalu berdiri bangkit dan mulai berdebat.

“Selama ini Jo gak pernah dapat kepercayaan lebih dari Ayah sama Mamah. Gak pernah mau tahu apa yang anaknya mau dan hanya menganggap anak umur 38 tahunnya ini beban terus-terusan. Padahal aku sudah banyak mengalah”

Si Ayah berdiri perlahan dan mengatur nafasnya.

“Mengalah apanya? Dengan tindakan kamu yang gak jelasan begajulan begitu!” jawab Si Ayah keras

           “Apa yang bikin bangga dari kamu yang kelakuannya tiap hari ngabisin duit gak jelas.” sambungnya lagi

           “Gak ada yang salah dari tindakan Jo. Itu semua uang yang dihasilkan dari usaha Jo.”

           “Usaha apa? Itu usaha sudah ada dari zaman kamu lahir.”

“Ya tapi usaha ini yang Ayah wariskan ke Jo selama ini tapi kenapa malah si kunyuk satu itu. Yang dapat.”

“Kamu gak bisa dipercaya dan manja.”

“Siapa yang memanjakan? Ayah sendiri kan”

Ayah Pak Jo terdiam tidak melanjutkan

Bunyi kumbang kumbang di halaman memecah keheningan.

Gue berjalan melewati mereka berdua dan memilih keluar dari RCM. Membiarkan dua orang itu menyelesaikan masalah yang mereka buat sendiri.

“Tunggu, Dany.” Ayah asli mencegah gue pergi

Gue menghentikan langkah.

Dia berlari kecil ke dalam dan mengambil dua lembar kertas itu, menyerahkannya ke gue. Gue terima dan lembar ke dua tentang ahli waris gue sobek di depan mereka berdua.

Money can’t buy me and i’m not worthy enough.” ujar gue spontan, uhuy, sok inggris

Mereka berdua hanya melongo melihat gue yang mungkin mereka berdua nggak paham artinya

 

Kisah ini mungkin berakhir secara picisan dan aneh seperti penutup pada umumnya tapi semua tetap ada hikmahnya. Tipikal Indonesia banget, di tengah kesulitan pun selalu ada untungnya. Gue menyadari kesempatan yang diberikan ke gue ini adalah rasa sakit bagi orang lain. Gue percaya hal ini tidak menjadi berkah karena ada doa yang tersakiti di dalamnya.

Akhirnya gue meninggalkan Cendol Dawet Tamvan selamanya. Membiarkan Pak Jo yang ternyata adalah abang gue sendiri itu tetap mengelola usahanya itu walaupun dia gak pernah suka dengan kehadiran gue. Gue tetap pulang ke rumah Bapak dan Ibu. Sesekali mengunjungi Ayah dan Mamah yang asli. Karena gue sedang sibuk mencari beasiswa gratis untuk lanjut kuliah kuliner. Passion percendolan tidak padam, justru gue harus bisa mengupgrade diri dan mengeskalasi minuman nusantara ini menjadi beragam bentuk olahan nantinya dengan brand gue sendiri.

Keripik cendol, mie cendol atau martabak cendol. Tunggu saja inovasi gue.

Cendol gan!

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi