Disukai
3
Dilihat
824
Gadis Lembah Tsang Po
Sejarah

Tibet, 1975

Gadis belia itu bernama Tritsun. Gadis dengan bola mata berkabut yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan berkelana di Dataran Tinggi Tibet. Ayahnya baru saja meninggal beberapa hari lalu akibat sakit paru-paru yang diidapnya. Ayah yang selalu mendampingi hari-harinya meskipun tanpa seorang ibu. Ya, ibu adalah sosok yang belum pernah ia temui seumur hidup.

Tritsun masih ingat saat potongan-potongan tubuh ayahnya diantarkan ke pegunungan, beberapa kilometer dari tempat mereka menetap. Lalu tubuh ayahnya yang sudah jadi mayat itu disantap oleh sekawanan burung pemakan bangkai. Memang begitulah tradisi mereka.

"Kek, kenapa orang yang mati harus diperlakukan begitu buruk dan menyakitkan?" tanya Tritsun lirih.

Kakek Congka yang duduk di sampingnya menoleh. Ada luka pada raut wajah cucunya itu. Ah, gadis belia dengan bola mata berkabut itu sangat sering membuatnya bingung.

Sejenak lelaki tua itu menarik napas berat. "Kenapa kamu bicara begitu, Tritsun? Bukankah itu sudah biasa kita saksikan? Setiap orang yang mati memang harus begitu sebab itu kemuliaan bagi kita, kecuali mayat para Dalai Lama, Panchen Lama dan kaum bangsawan. Itu adalah tradisi nenek moyang kita."

Tritsun menelan ludah. Ia memang sudah biasa melihat hal tersebut. Namun, ketika itu terjadi pada orang yang dicintainya, hatinya seakan tersayat. Ya, ia memang berduka atas semua itu.

Namun luka atas kematian ayahnya itu belum sepedih saat ia merindukan sosok ibunya. Ibunya kini telah tenang di nirwana, begitu kata Kakek Congka.

Sejenak, ditatapnya wajah Kakek Congka yang penuh keriput. Kakek yang sangat dekat dengannya, juga sangat sayang. Entah sudah berapa umurnya kini, Tritsun sendiri tidak pernah menanyakan. Kalaupun ia bertanya, lelaki sepuh itu pasti tidak tahu jawabannya.

Tritsun bangkit dari duduk, berdiri mematung sambil menatap hamparan ladang sorghum yang luas, tetap dengan bola mata berkabut. Agak jauh dari sana, tampak para gembala menghalau ternak mereka. Sungguh senang melihat puluhan kambing dan domba itu berlarian seolah saling bercanda. Tritsun menatapnya penuh rasa iri. Binatang saja bisa begitu bahagia, kenapa dirinya tidak?

Kakek Congka yang sedang mengaduk panci berisi tsampa menatap getir padanya. Cucu semata wayangnya itu selalu membuat hati Kakek Congka risau. Meski selalu tampak murung tapi belum sekalipun ia melihat gadis belianya itu menangis. Inilah yang membuatnya tak habis pikir.

Bahkan ketika ayahnya meninggal beberapa hari yang lalu, Tritsun hanya menatapnya terpaku dengan mulut membisu. Tak ada air mata yang menetes di pipinya. Entah apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Namun lelaki tua itu cukup memahami, kehilangan sosok ibunya pastilah sangat mengusik batinnya.

Angin bertiup cukup kencang menggoyangkan daun-daun pohon liang liu yang rimbun. Bau khasnya sekilas menusuk hidung. Tritsun menyandarkan tubuhnya ke dinding gerobak. Pandangannya menerawang jauh menyapu puncak-puncak Pegunungan Himalaya di kejauhan.

Puncak yang senantiasa diselimuti salju itu seakan mengejek dirinya. Hei, Tritsun! Kau tidak berbeda dengan aku! Murung, berkabut, sepi, dan dingin!

Tritsun merasa semakin tidak bergairah membayangkan hal itu. la semakin tidak ingin bergaul dengan teman-teman sebayanya dan semakin hanyut dalam arus pikirannya. Ya, Tritsun memang seorang gadis yang tak pernah mampu membuka diri. Ia selalu terkurung dalam bayang-bayangnya sendiri.

"Tritsun, musim dingin sudah dekat. Besok kita berangkat ke lembah," kata kakeknya mengingatkan.

Tritsun tak menoleh. Ia sudah tahu itu. Memang begitulah mereka sejak dulu. Jika musim dingin tiba, mereka dan beberapa rombongan yang lainnya akan berbondong-bondong ke selatan, menuju lembah. Lalu bila musim panas datang, maka mereka akan kembali ke utara.

Harta dan segala kebutuhan mereka sudah ada dalam gerobak. Gerobak yang juga berfungsi sebagai rumah itu ditarik oleh seekor yak yang bertubuh cukup besar. Yak itu adalah sapi berbulu lebat peliharaan Kakek Congka yang paling disayanginya di samping dua ekor domba.

Jika mereka sudah menemukan tempat bermukim, maka di sanalah tenda didirikan. Tenda itu terbuat dari kulit yak yang tebal, hingga cukup kuat menahan hawa dingin atau panas. Ya, begitulah kehidupan mereka, etnis asli Tibet yang percaya bahwa mereka adalah suku mulia karena dari negeri merekalah mengalirnya sungai-sungai besar dunia.

Mulai dari Sungai Mekong yang mengalir menuju Vietnam, Sungai Indus yang mengalir menuju Pakistan serta Sungai Tsangpo yang mengalir ke India dan dikenal sebagai Sungai Brahmaputra.

"Kek, apakah kehidupan kita hanya begini saja?" Tritsun tiba-tiba kembali bertanya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai melambai ditiup angin pegunungan.

Lelaki tua itu bangkit, berdiri di samping cucunya. "Tritsun, apa kamu merasa bosan, Nak?"

Gadis belia itu tak menjawab, sebab ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.

"Kalau kamu mau, pergilah jalan-jalan ke Lhasa. Tapi jaga dirimu baik-baik," pesan lelaki itu sebelum duduk kembali di dekat tungku yang menyala. "Dan sebelum pergi, kamu harus makan dulu. Daging yang kemarin masih ada, juga keju. Kamu bisa memakannya dengan tsampa panas ini."

Tritsun hanya menoleh sekilas, melihat Kakek Congka mengangkat panci berisi tsampa yang sudah matang. Kadang ia sangat terharu melihat cara Kakek Congka memperlaku-kannya. Beliau sangat perhatian dan selalu berusaha menye-nangkan hatinya. Jika Tritsun sedang malas memasak, maka Kakek Congka tak akan banyak bicara, beliau akan melaku-kannya sendiri.

Namun semua itu tetap tak mampu menyemarakkan hatinya. "Aku ingin bertemu dengan ibuku, Kek," katanya setengah bergumam.

Kakek Congka menatapnya tertegun. Lagi-lagi gadis itu berkata demikian. Kini, lelaki tua itu seperti kehilangan kata-kata. Lima belas tahun sudah ia berusaha menghibur agar cucunya tidak terus-terusan mengungkit hal itu.

Dan sudah berkali-kali pula ia mengatakan bahwa ibunya sudah tenang di nirwana. Belasan tahun sudah menantunya, Bhasundara, menghilang setelah terjadi kekacauan di Kota Lhasa. Banyak yang menduga ia telah mati terbunuh dalam kerusuhan dengan tentara Tiongkok yang menguasai kota waktu itu.

"Sudahlah. Lebih baik kamu pergi ke wihara. Berdoalah untuk ibumu."

Tritsun terdiam, menyapu Pegunungan Himalaya dengan pandangan hambar. "Baiklah. Besok aku akan ke wihara saja. Sudah lama aku tidak ke sana."

"Itu bagus. Kamu memang harus sering-sering berdoa agar hatimu tenang. Agar kamu merasa bahagia."

Gadis itu hanya mengamati paras senang Kakek Congka yang tengah menuangkan tsampa ke piring miliknya, tetap dengan raut wajah yang murung dan beku.

@@@

Tritsun mematut pakaiannya. Baju lengan panjang dan celana panjang yang luarnya dilapisi chuba. Rambut panjangnya dikepang dan diberi hiasan benang sutra tujuh warna yang dililitkan di rambut gadis itu.

Kulitnya yang agak gelap dengan mata sedikit sipit, memberi kesan klasik. Penampilan yang sangat khas perempuan Tibet.

"Jangan pulang terlalu sore," pesan Kakek Congka seraya menyerahkan seuntai tasbih dan kincir doa. Tritsun mengangguk. Perlahan ia melangkah, meninggalkan gerobak dan tenda menuju Lhasa.

Kota ini terbagi dua sejak kedatangan para tentara Tiongkok, yakni Kota Baru dan Kota Tua, yang dibatasi oleh sebuah tembok tinggi dan dijaga ketat oleh tentara. Kota Tua lebih menggambarkan kehidupan penduduk asli Tibet, sementara Kota Baru tampak lebih maju dan banyak dihuni oleh suku Han dan suku Tibet yang sudah modern.

Ketika semakin dekat ke Lhasa, Tritsun sempat tertegun menatap puncak Istana Potala, tempat disemayamkannya stupa para Dalai Lama yang pernah memimpin Tibet selama berabad-abad, sebelum kemudian tergusur oleh kedatangan penguasa Tiongkok. Istana Potala merupakan pusat Kota Baru.

Tritsun sering bertanya-tanya dalam hati, kapankah ia bisa masuk ke istana tersebut dan melihat stupa para Dalai Lama yang selalu diceritakan Kakek Congka dengan penuh semangat. Istana dengan ketinggian 300 meter itu tampak menjulang tinggi di puncak Bukit Putuo. Menara istana itu dapat dilihat dari jarak puluhan kilometer di luar Lhasa.

Kata Kakek Congka, itu adalah istana tertinggi di dunia yang didirikan oleh raja pertama mereka, Songzan Ganbu, raja yang telah menyatukan rakyat Tibet. Ia memiliki dua orang istri. Salah satu istrinya bernama Tritsun, seorang putri cantik asal Nepal. Inilah yang membuatnya sangat terkesan. Ayahnya memberi nama seperti nama seorang ratu yang diagungkan di Tibet.

"Kau cantik seperti Ratu Tritsun," begitu kata Kakek Congka, yang tentu hanya melihat raut wajah Ratu Tritsun melalui patungnya yang terdapat dalam Wihara Jokhang yang terletak di pusat Kota Tua.

Gadis itu kembali melangkah dengan cepat. Matanya menangkap kibaran pita berwarna-warni berisi tulisan doa dan mantra-mantra yang direntangkan di sepanjang jalan menuju Lhasa. Tritsun menarik napas lega. Puncak Wihara Jokhang sudah kelihatan jelas.

Ada sepasang genta besar yang mengapit roda doa dengan patung dua ekor kambing di sebelah kiri dan kanannya. Warnanya yang dilapisi emas tampak berkilau diterpa matahari pagi. Dan Tritsun melangkah mantap menuju ke sana.

Setengah jam kemudian, Tritsun sudah duduk di hadapan patung Sakyamuni setinggi dua meter yang berdiri megah di hadapannya. Patung yang diletakkan di atas singgasana dari perak murni itu telah berkali-kali diusap dan diciumnya sambil mengucapkan doa-doa.

Telah dilemparkannya butiran sorghum di sekitar patung tersebut, namun kenapa tak jua hadir kedamaian seperti yang ia harapkan? Apakah karena ia tak bisa menghilangkan kerinduan yang mendalam terhadap ibunya? Ataukah karena ia tak pernah yakin bahwa ibunya ada di nirwana seperti kata Kakek Congka?

Ditatapnya patung Sakyamuni itu tak berkedip. Entah sudah berapa ratus kali ia berdoa di sini, namun tetap saja tak ada yang berubah dalam dirinya. la tetap merasa sunyi. Seolah-olah ruang hatinya selalu kosong dan tanpa warna. Ruang itu selalu ia siapkan untuk satu sosok. Ibunya!

Meskipun Kakek Congka selalu mengatakan bahwa ibunya ada di nirwana, tapi kenapa ia tak bisa berhenti berharap? Seolah-olah wanita yang telah melahirkannya itu akan datang suatu saat kelak. Tapi entah kapan.

Setelah berkeliling wihara, memutar roda doa besar di depan wihara, Tritsun tergesa memutar tubuh, melangkah cepat keluar halaman wihara yang dipenuhi oleh puluhan manusia yang tengah berdoa dan bersujud.

Ia ingin segera meninggalkan tempat itu, tempat yang membuatnya tiba-tiba jadi bosan dan kecewa karena tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tapi tiba-tiba...

Bruk!

"Oh, maaf, saya tidak sengaja!" seru Tritsun tertahan. la tak sengaja telah menabrak seorang perempuan di depan wihara. Gadis belia itu nyaris terjatuh. Untunglah perempuan yang ditabraknya cepat menangkap tangan Tritsun.

"Tidak apa-apa. Saya yang berdiri terlalu ke tengah," jawab wanita itu sambil tersenyum.

Tritsun tertegun sejenak. Wanita itu berpakaian seperti orang-orang Kache yang beragama Islam. Ia tak melihat perempuan itu memegang sesuatu untuk dibawa berdoa. Namun ia tak berani bertanya lebih jauh. Ia ingin segera pulang.

Perempuan itu juga terdiam. Matanya tampak ber-pendar menatap Tritsun yang melangkah cepat meninggalkan halaman wihara.

@@@

Musim dingin mulai merajai Dataran Tinggi Tibet yang terletak di ketinggian 4500 meter dari permukaan laut itu. Suhu daerah yang dikelilingi pegunungan tertinggi di dunia itu semakin menggigit tulang.

Barisan Pegunungan Kwen Lun di utara, Pegunungan Karakorum di barat, sampai Pegunungan Himalaya di selatan seakan ingin membekukan wilayah tersebut dengan hamparan salju yang menutupi puncak-puncaknya.

"Kek," panggil Tritsun pelan saat mereka sudah mulai menuju ke selatan. Tangan kirinya asyik mengusap-usap kepala yak berbulu lebat yang berjalan di sampingnya.

"Ada apa?" tanya Kakek Congka dari atas gerobak.

Tritsun terdiam, ia ragu untuk bicara.

Lelaki tua itu hanya memandang cucunya dengan helaan napas dalam.

"Kenapa, Tritsun?"

"Kek, apakah orang-orang Kache juga suka berdoa di wihara? Aku menabrak seorang Kache di wihara tadi. Tapi aku sudah minta maaf."

Lelaki tua itu memandang cucunya heran. Kache?

β€œTidak. Mereka beribadah di masjid.” Kakek Congka memandang cucunya dengan perasaan yang tiba-tiba berge-tar. Apakah benar firasatnya selama ini bahwa menantunya itu masih hidup? Firasat yang selalu ia nafikan agar Tritsun tak terus berharap bertemu dengan ibunya. Sementara harapan itu belum tentu akan terwujud.

Benarkah informasi yang ia dapat bahwa menantunya diselamatkan oleh orang-orang Kache yang kemudian mengajaknya mengungsi ke India? Kakek Congka tak tahu kepastiannya.

Kondisi Tibet, khususnya Kota Lhasa waktu itu sangat menyeramkan akibat perlawanan rakyat terhadap pemerintah Tiongkok yang ingin menguasai Tibet. Sungguh Kakek Congka masih merinding mengingat semua peristiwa itu.

Kabut semakin tebal menyambut datangnya musim dingin di daerah yang terkenal sebagai Negeri Atap Dunia itu. Namun, Tritsun seakan tak peduli ketika angin bertiup semakin kencang, mengibarkan chuba yang dipakainya. Juga melambaikan bangdian warna-warni yang terlilit di pinggang.

Rambutnya yang dikepang, ia tarik hingga tergerai panjang menutupi punggung. Tritsun paling suka jika angin memainkan rambut panjangnya, terasa sejuk dan romantis bagi jiwanya yang hampa. Sekilas tampak tanda lahir berwarna hitam di kulit kepalanya saat rambut Tritsun terbelah oleh tiupan angin.

Sementara jauh di Kota Lhasa, di pinggir halaman Wihara Jokhang, seorang perempuan sibuk mengedarkan pandangan. Ia mencari satu sosok yang membuat perasaannya begitu gelisah semalaman. Ia harus kembali bertemu dengan gadis belia itu.

Kerinduannya kini benar-benar sudah membuncah. Kerinduan yang kadang-kadang membuat hatinya guncang dan menyesali. Andai dulu ia tidak memilih mengungsi keluar dari Tibet saat penyerangan dan intimidasi besar-besaran oleh Pemerintah Tiongkok yang ingin menguasai Tibet. Andai saat itu ia bisa menembus barisan para tentara Tiongkok untuk kembali ke Lembah Tsang Po. Andai saja...

Ribuan penyesalan kadang mengoyak hatinya. Kondisi Tibet belasan tahun lalu begitu kacau. Dalai Lama sebagai pemimpin spiritual di Tibet diungsikan ke India oleh pasukan gerilyawan. Dan itu menyebabkan kemarahan Pemerintah Tiongkok hingga Kota Lhasa dijadikan sasaran kehancuran. Saat itulah Bhasundara yakin orang tuanya yang tengah sakit jadi korban peperangan.

Bhasundara, nama perempuan yang kini masih berdiri di dekat wihara itu, terus mencari satu sosok gadis yang kemarin menabraknya. Entah kenapa, firasatnya sebagai perempuan dan sebagai seorang ibu, merasa bahwa gadis itu adalah putrinya yang telah lama tak bertemu.

Bhasundara ingin menjelaskan pada putrinya, bahwa ia pergi bukan karena ingin meninggalkan. Namun keadaan saat itu sangat buruk. Mereka terpisahkan oleh kerusuhan hebat. Putrinya sedang berada di Lembah Tsang Po bersama ayah dan kakeknya, sementara Bhasundara sendiri tengah berada di Kota Lhasa untuk menjenguk orang tuanya yang dirawat di rumah sakit.

Kota Lhasa memang dalam kondisi darurat saat itu. Bhasundara yang bermaksud melintasi perbatasan untuk kembali ke keluarganya, dihadang dan diancam tembak oleh para tentara jika ia tetap melintas.

Jika tak buru-buru ditarik dan diselamatkan oleh beberapa orang Kache yang juga tengah menyelamatkan diri, mungkin nyawanya sudah melayang. Saat itu rakyat yang jadi korban penembakan sangat banyak berjatuhan. Baik di kalangan pendemo maupun perempuan dan anak-anak.

Keadaan tak semakin membaik. Ia akhirnya terpaksa ikut mengungsi ke India bersama keluarga Kache yang menyelamatkannya. Sungguh peperangan dan kerusuhan di Kota Lhasa waktu itu telah membuat kocar-kacir rakyat Tibet.

Dan yang membuat Bhasundara selalu menangis adalah terpisah dari suami dan anaknya. Beban pikiran dan juga fisik yang melemah membuatnya sakit-sakitan dalam waktu cukup lama di pengungsian.

Kini, setelah kondisi Tibet cukup aman dan ia punya kemampuan untuk kembali ke negeri asalnya, ternyata semua tak semudah yang ia kira. Banyak yang berubah. Ia sudah tak tahu di mana suami, anak dan mertuanya.

Bahkan orangtuanya sendiri ia yakini sudah meninggal sebagai korban saat terjadi penghancuran rumah sakit oleh tentara Tiongkok belasan tahun lalu.

Kehidupan nomaden yang biasa mereka jalani membuat Bhasundara makin sulit menemukan mereka semua. Entah seperti apa wajah anaknya sekarang karena sudah tumbuh remaja. Masihkah mereka semua hidup, atau sudah mati seperti kedua orang tuanya?

Bhasundara masih berdiri di pinggir halaman wihara. Berharap segera menemukan sosok gadis belia itu. Entah kenapa ia benar-benar seperti menatap putrinya saat melihat gadis itu. Putri yang ia tinggalkan saat berusia dua tahun, kini pasti sudah seusia gadis itu.

Ah, Bhasundara menyesal sendiri. Andai saja ia punya keberanian untuk menahan gadis itu barang sejenak, untuk meyakinkan apakah gadis itu anaknya atau bukan. Setidaknya ia bisa minta izin untuk mengurai kepang rambutnya, hingga bisa melihat apakah di puncak kepala gadis itu ada tanda lahir hitam atau tidak.

β€œJika dalam seminggu ini dia tak datang ke sini, aku akan mencarinya ke Lembah Tsang Po!” gumam Bhasundara penuh tekad. (NSR)

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@kanayaputi : Iya dulu ada di rubrik Epik Majalah Annida hehe
@darmalooooo : :-)
Drngan senang hati kk.
@darmalooooo : Makasih sdh mampir yaaa
πŸŒΉπŸ‘
Pernah baca cerpen ini dulu di majalah, epik banget.
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi