Disukai
0
Dilihat
22
Dunia Malam
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku terbangun dari lelap. Masih gelap. Kamar kecil kos yang ku tempati terasa dingin kelu.

”Ah, lupa lagi.“ ucapku seketika. Padahal baru saja kemarin Bapak itu menuntunku menghafalkannya. Mataku masih sangat berat, aku berusaha untuk turun dari kasur meski kain sprei itu terseret-seret. Aku mengusap mata sekali lagi. Setengah sadar, tanganku meraba-raba bawah bantal. Menarik secarik kertas catatan yang sudah kusut. Dengan penerangan lampu seadanya, aku bisa melihat dengan jelas catatan yang kemarin diberikan Bapak itu. Pelan-pelan aku membacanya.

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdu lillahilladzi ahyana ba'dama amatana wa ilaihi nusyur.

Bahkan dengan tulisan latin seperti itu saja aku masih terbata-bata. Aku mengulang lima kali membacanya.

Lalu beranjak ke kamar mandi kos. Pada jam seperti itu dunia begitu senyap. Ini kali pertama aku menikmati kesenyapan itu dengan tenang. Meski begitu, dingin dini hari sangat menusuk. Ditambah dengan air keran yang, baru ku sadari, terlalu dingin untuk menyentuh kulit. Dengan ingatan seadanya, aku membasuh kedua tangan di keran itu untuk bersuci. Sejujurnya, aku belum lancar berwudu. Namun tetap melakukannya sambil mencoba mengembalikan kelebat tuntunan wudu yang diajarkan Bapak itu di kepala.

Sajadah yang terbentang itu masih meninggalkan harum khas rumah si Bapak. Tengah malam ini, aku menangis. Cairan hangat ini sudah menembus dengan telak tebing dingin keangkuhanku selama ini. Sambil berusaha mengingat setiap gerakan yang sudah diajari Bapak itu. Sedikit sekali bacaan yang kuhafal. Itupun belum yakin benar. Tapi maknanya bertelau-telau di hamparan benak dan terlanjur membuatku luluh dalam sujud, gerakan yang paling ku idamkan. Sebab menangis dan menumpahkan segalanya terasa sangat nyaman.

***

Pandanganku awang. Aku masih duduk bersama teman-temanku yang masih kuat menenggak minuman alkohol. Sementara aku sudah muntah di tenggakan gelas kelima. Tetap begitu di setiap kali kami minum bersama.

Rasa melayang sudah hampir hilang. Berganti dengan pusing yang menyiksa pandangan. Aku yakin saat itu diriku seperti mayat hidup. Terhuyung-huyung di kursi tempatku duduk. Hingga aku muntah sekali lagi, dan akhirnya terkapar di atas meja kecil bundar itu. Kedua temanku satu per satu juga ikut tumbang.

Kami semua akhirnya tertidur kecuali satu orang. Waktu sudah dini hari. Menunggu pagi tidak akan terasa. Atau bahkan terlalu singkat. Biasanya, aku dan yang lain akan diantar bergantian oleh rekan kami yang sudah kami pilih di awal untuk menahan hasrat mabuk. Dan orang itu adalah Delon yang sibuk bermain game online dengan sebatang rokok di bibir.

Tapi, pagi itu sungguh berbeda. Mataku pelan-pelan membuka. Kepalaku bergerak-gerak gelisah. Ada yang terasa ganjal. Aku merasa sedang berbaring di atas kasur empuk. Seketika kepalaku sakit. Normal saja karena aku baru tersadar dari mabuk semalam. Di mana Tio? Di mana Delon? Ini rumah Tio atau Delon? Setahuku seharusnya Delon yang mengantarkan aku dan Tio pulang. Tapi di mana ini sekarang?

***

Dengan khusyuk dalam setiap gerakan, aku menikmati rangkaian gerakan salat pada dini hari itu. Lupa-lupa ingat sebenarnya. Bahkan nama salatnya saja hampir ku lupa. Namanya itu…kalau tidak salah…hah! Tahajud! Dini hari ini, aku sudah menuntaskan pencapaian terbesar setelah mengenal Bapak itu. Katanya, salat inilah yang membuatnya hampir tidak pernah menyesali hidup.

Dan ketika kepalaku menoleh kiri dan kanan, menutup tahajud dengan gerakan salam, kedua mataku sempurna sudah basah. Sambil menengadah dan meninggikan tangan untuk berdoa.

“Ya Allah, untuk Tio, temanku…”

***

Harum. Cuping hidungku menyesapnya dengan sungguh-sungguh. Belum pernah aku mencium harum semacam ini. Kepalaku masih terasa pusing. Namun harum ini membuat benakku nyaris mengabaikannya.

“Sudah sadar, ya? Alhamdulillah.“

Seorang bapak paruh baya mengucapkannya. Suara berat dan halusnya memanggil kesadaranku. Sementara tanganku masih menutup wajah dengan tarikan napas berat mencoba mengurangi rasa sakit di kepala. Bentukanku sama sekali kelihatan tidak nyaman.

“Kalau kamu mau istirahat dulu, gak apa, Nak. Tapi istri saya sudah bikin sarapan. Kamu sebaiknya makan dulu.“

Perutku bereaksi mendengarnya. Tiba-tiba saja gelegak kecil terdengar. Tanganku refleks meremas perut. Aku memang hanya minum-minum didampingi sebungkus rokok, jadi tidak ada makanan yang masuk.

Bapak itu terkekeh. Sementara aku tidak melihatnya.

“Kamu memang sedang lapar, Nak, heheh.“

Aku tersenyum kecut mendengarnya.

“Ayo, Nak. Sama Bapak ke meja makan.“

Tangannya terulur menawarkan bantuan. Aku menyambutnya dan perlahan bangkit dari kasur sederhana itu.

“Pak, ini harum apa, ya? Saya belum pernah mencium harum seperti ini.“ Aku langsung bertanya saking penasarannya.

“Oh, ini bau pengharum ruangan, bau kasturi.“

Mendengar jawabannya malah membuatku semakin bingung. Tapi aku hanya mengangguk-angguk karena perutku sudah sangat tidak tahan untuk ke meja makan. Betapa beruntungnya diriku ini. Selesai dengan dunia malam aku malah terbangun di rumah orang yang sangat baik. Entah di mana teman-temanku yang lain semalam.

Di meja makan, mataku gelagapan mengambil bermacam-macam lauk yang ada di atas meja. Jumlahnya empat kali lebih banyak daripada masakan ibuku biasanya. Bapak itu makan di hadapanku. Melihat kondisiku ia hanya membiarkan saja. Hingga isi piringku tandas begitu cepat. Padahal makanku lebih banyak.

“Namamu siapa, Nak?“ Bapak itu tersenyum. Ia menatapku langsung.

“Namaku Hamid, Pak.“ Aku masih sibuk menjilati sisa makanan di jari-jemariku.

“Namamu bagus, Nak. Kamu tinggal di mana?“

“Kebetulan saya mahasiswa di Universitas kota sini, Pak. Saya tinggal di kosan kecil samping minimarket di kota.“

Bapak itu mengangguk sambil mulutnya membulat dan menggumam tanda mengerti. Di usianya sekarang, melihat kelakuan anak-anak di zaman ini membuat hatinya yang lembut ingin menyelamatkan mereka dari keterpurukan. Jalan yang ditempuh pemuda di hadapannya belum seberapa jauh, tapi sudah membuat hatinya gelisah. Keterpanggilan jiwanya hanyalah buah masa lalu yang tak bisa pudar dari memori tuanya.

Semalam, ketika dirinya pulang naik motor di malam yang dingin, ia tak sengaja melihat pemuda ini, Hamid ini, yang tertidur dengan posisi tidak karuan. Tidak, bukan iba. Dirinya hanya melihat apa yang dulu ia nikmati. Botol-botol kaca, bau alkohol, dan puntung-puntung rokok. Itulah dunia malam yang senantiasa menemani malam-malam panjangnya dulu.

Teguk demi teguk bagai penghantar menuju surga kenikmatan tiada dua. Hampir saja semuanya terlambat. Hingga dirinya bertemu dengan seseorang.

“Nak Hamid, kamu mau, ya. Sebelum kembali, ikut dulu sama saya ke suatu tempat, ada yang ingin saya tunjukkan ke kamu.“ Bapak itu tersenyum lembut. Menatap dengan penuh harap.

Sementara diriku setengah terkejut di seberang meja makan. Mendengar permintaan ini, aku hanya mengangguk. Toh, tidak ada ruginya. Bapak ini baik.

***

“Sudah sampai, Nak.“ Bapak itu menunjuk sebuah masjid.

Hamid bingung. Memangnya mereka mau bertemu siapa?

Saat masuk ke dalam masjid, ada sekumpulan bapak-bapak yang duduk melingkar. Mereka sedang kajian bersama dengan seorang Ustad yang ada di tengah.

Hamid tentu canggung melihat hal ini. Bapak itu mengucap salam. Dijawab serempak oleh bapak-bapak di situ. Jadilah Hamid mendengarkan kajian itu hingga selesai. Ditengah kajian yang menurutnya membosankan itu, ia tertarik dengan satu pernyataan si Ustad. Ia menyebutkan bahwa ibadah itu bukan hanya kewajiban, tapi juga kebutuhan kita sebagai manusia. Hanya itu, yang lainnya menguap entah kemana. Memang ia benar-benar tidak berbakat ikut kajian-kajian semacam ini.

Setelah seluruhnya bubar, Hamid belum tahu siapa yang ingin mereka temui.

Bapak itu dan si Ustad berjabatan. Dia meminta waktu sebentar. Di sinilah Hamid mulai merasa tidak enak. Kenapa harus bertemu dengan Ustad? Walaupun muslim, mana pernah dia dengan sengaja menemui Ustad untuk diajak mengobrol?

Serentetan keluhan bercecaran dikepala. Sementara tangannya mengulur untuk saliman dengan Ustad itu.

“Kenalkan, Pak Ustad, namanya Hamid.“

Hamid yang disebut tersenyum gelagapan mendengarnya. Tidak sempat berkenalan, malah dikenalkan.

Sambil duduk bersila, Hamid hanya bisa tersenyum canggung dengan telapak tangan yang terus-menerus bergosokan karena gugup. Dia merasa mestinya tak di sini sekarang. Untungnya masih ada pendingin ruangan, jadi kulitnya tidak sampai berkeringat dingin.

“Pak Ustad, saya melihat hal yang sama dengan saya dulu.“ Wajah bapak itu tampak sangat yakin dengan perkataannya sendiri. Ustad itu tersenyum lembut, lalu melempar pandangan kepada Hamid.

“Memangnya apa yang terjadi, Nak?“ Nada Ustad itu lembut.

Wajah Hamid menegang. Agak bingung dia sebenarnya dengan percakapan dua bapak-bapak yang jauh lebih berumur daripada dirinya ini. Tapi entah apa maksud pertanyaan ini, ia hanya ingin urusan ini cepat berakhir.

“Saya cuma tahunya terbangun di kamar rumah Bapak ini, Pak Ustad.“

“Sebelum itu apa yang kamu lakukan?“ Ustad bertanya balik.

Hamid tercekat. Dirinya ragu mengungkapkan. Baginya itu 'rahasia'. Tapi perawakan Ustad di hadapannya ini justru membuatnya enggan untuk berbohong.

“Sa-saya…sa-sa…” Kepala Hamid jatuh tertunduk. Mulutnya nyaris tidak sanggup melanjutkan. Ia menarik napas panjang. Mencoba menghilangkan ketegangan yang masih terasa. Kepalanya berusaha merangkai kalimat demi kalimat yang hendak dikeluarkan.

Dengan mendongak, matanya setengah menatap Ustad di hadapannya. “Sa-saya… berdosa, Pak Ustad.“ Usai berkutat dengan dirinya sendiri, akhirnya kalimat itu yang terpilih.

Dahi Pak Ustad mengerinyit. “Kenapa begitu, Nak?“

“Malam sebelum saya tersadar, saya bersama teman-teman saya sedang nongkrong di depan minimarket sampai larut.“

“Tapi nongkrong bukan dosa itu, Nak.“

“Eh, belum selesai, Pak Ustad.“

“Oh, kalau begitu, lanjutkan.“

“Saya tidak sanggup, Pak Ustad.“

Pak Ustad itu tersenyum. “Kalau begitu, Pak,” tatapannya beralih ke si Bapak, “saya tidak perlu tahu lebih jauh, Pak. Sekarang, giliran Bapak saja.“ Tangan Pak Ustad menepuk-nepuk pundak si Bapak. Tatapannya berusaha meyakinkan.

Bapak itu sekilas terkesiap. Meski dirinya paham sekali maksud Pak Ustad, rasa ragu masih hinggap. Dirinya merasa tidak mampu untuk melakukannya.

“Tapi…” Kalimatnya terputus oleh gelengan Pak Ustad.

“Saya yakin Bapak bisa.“

Hamid sedari tadi hanya menunduk sambil kebingungan menguping. Percakapan apa ini?

“Baik, kalau begitu saya coba dulu.“ Itulah percakapan terakhir sebelum mereka kembali ke rumah si Bapak.

Wajah Hamid tertekuk sepanjang kakinya menyusuri jalan.

“Maaf, Pak. Tadi saya gak bisa jujur.“ Ucap Hamid sepintas.

Bapak di sampingnya hanya menyeringai tipis. Teringat sesuatu yang sudah lampau.

“Gak apa, kok, Nak.“

Mereka berdua menyusuri tepi jalan dengan pelan.

“Nak, kamu lihat itu.“ Bapak itu menunjuk sesuatu.

Hamid kebingungan. Apa yang harus dia lihat? Tidak ada hal apapun di situ kecuali rerumputan di tepi trotoar yang sekarang disusuri olehnya dan juga bapak itu.

Melihat raut wajah Hamid, Bapak itu terkekeh. Tangannya mencoba menunjuk lebih spesifik. Mata Hamid menyipit mencoba mencari titik yang dimaksud.

Ternyata seonggok mayat burung yang sudah mati.

“Ih, apa sih, Pak. Saya kira apaan.“ Hamid tampak kesal.

Bapak itu tertawa singkat. Rumah Bapak itu sudah dekat.

“Ayo, kita ke rumah dulu. Saya ingin ngobrol dulu sama kamu, Nak. Sebelum kamu balik ke tempatmu.“

Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai rumah.

Bapak itu mengajak Hamid untuk duduk bersamanya di atas sofa di ruang tamu.

“Kenapa, Pak?“ Tanya Hamid sambil ikut duduk di atas sofa.

“Kamu ingat burung tadi?“ Bapak itu malah bertanya balik.

Tentu. Baru saja mereka melewatinya. Bagaimana mungkin dirinya lupa. Meski dirinya sangat bingung kenapa si Bapak mau sekali untuk membahas perkara burung itu. Hamid mengangguk.

“Menurutmu kenapa burung itu bisa mati?“

Hamid memikirkan jawaban yang pas. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin dirinya bisa tahu persis apa penyebab matinya burung itu. Akhirnya ia hanya menjawab asal.

“Mungkin karena takdir.“ Hamid tersenyum. Nyaris tertawa kecil. Baginya, itu hanya candaan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

“Benar, Nak. Takdir.“

Hamid terdiam seketika melihat respon si Bapak. Antara heran, bingung, dan tidak menyangka.

“Asal kamu tahu, Nak. Burung yang kita saksikan itu, dan kita yang menyaksikannya, semuanya berada dalam satu jalur yang sama, takdir.“ Lanjut si Bapak.

Hamid terpaksa menyimak. Raut wajahnya jelas saja muak. Tidak bisakah membiarkan dirinya langsung pulang? Mentang-mentang hari libur, huh. Gerutunya.

Meski begitu, antara membiarkan atau memang tidak menyadarinya, si Bapak malah terus melanjutkan kalimatnya. “Sama seperti saya yang semalam tidak sengaja melihat kamu, Nak. Dan takdir menarik saya untuk menolongmu dan membawamu ke rumah saya.“ Terang si Bapak.

Hamid malah makin penasaran. “Kok, Bapak bisa bilang begitu?“

“Ya, kan semuanya takdir, Nak. Heheh.“ Bapak itu terkekeh kecil, “lebih tepatnya saya yang menjemput takdirnya. Kalau semalam saya tidak mau mengangkut kamu ke mobil saya, mungkin jadi lain, heheh.“

“Terus, kenapa Bapak mau jemput takdirnya?“

Bapak itu termenung sejenak. Kepalanya menoleh ke arah jendela yang terbuka. Berusaha mencari celah untuk bisa leluasa bercerita. “Saya melihat diri saya yang dulu, Nak.“ Kepalanya mengangguk pelan dan kecil. Menikmati ingatan yang melintas di kepalanya.

Dahi Hamid mengerinyit. “Maksudnya, Pak?“

“Dulu saya persis kayak kamu pas masih seumuran. Malam-malam sering kelayapan sama teman-teman saya. Sampai waktu itu saya ketemu teman yang ngubah saya. Heheh.“

“Siapa, Pak?“ Hamid jadi ikut penasaran.

“Ya… Pak Ustad itu. Heheh.“

Mendengar jawaban itu, Hamid antara heran dan tidak, merasa semuanya cukup masuk akal.

Nalarnya yang sulit diajak kompromi itu kini bisa mencerna semua kejadian yang dialaminya bersama Bapak yang masih asing baginya.

***

Hamid teringat ponselnya yang ia tinggal pagi tadi. Dayanya sudah terisi penuh. Selang beberapa menit setelah menekan tombol daya, dengung lembut terdengar. Layar utama pun terlihat. Ia terkejut dengan notifikasi yang membanjiri beranda ponselnya. Rentetan panggilan tak terjawab dari Delon, teman mabuknya semalam. Heran, jarinya dengan cekatan membuka pesan masuk. Apa iya mereka panik karena dirinya tiba-tiba hilang? Sangat tidak mungkin. Hamid mengenalnya sebagai orang yang sangat jarang untuk menghubungi orang lain lewat telepon kecuali dalam keadaan sangat genting. Dahinya berkeringat.

Matanya terpaku pada pesan dengan nada berulang pada laman percakapan. Napasnya menjadi dalam dan panjang. Hatinya berusaha menenangkan emosi yang meluap-luap di kepalanya. Ia tidak mempercayai semua itu. Apa mungkin mereka mengerjainya karena kejadian semalam?

Buru-buru ia mengusir pikiran sialan itu. Tanpa pikir panjang, dia mengemas barang-barangnya. Meninggalkan rumah si Bapak tanpa pamit sama sekali. Terdengar suara Bapak itu memanggil dirinya dari depan rumah. Tetap dia tinggal tidak peduli. Urusan ini lebih penting, batinnya. Raut paniknya gagal ia sembunyikan. Di depan pagar rumah itu, ia berlari sekencang-kencangnya. Takut sekali semuanya terlambat.

***

Wajah Hamid kebas. Kepalanya menoleh bolak-balik melihat layar ponsel dan koridor rumah sakit. Hari libur menjadi pilihan banyak warga untuk memeriksakan keluhan yang dialami. Alhasil Hamid harus gesit menyelipkan tubuhnya di antara ramainya orang-orang yang meleret antre di rumah sakit. Sesekali berhenti, melihat cabang-cabang lorong, bertanya kepada petugas yang menjaga tiap simpang koridor rumah sakit. Pandangannya nyaris awang. Hingga pandangannya jatuh pada papan petunjuk tempat sesuai yang dimaksud Delon. Awalnya masih maju-mundur. Takut, terkejut, hingga perasaan bersalah campur-aduk jadi satu dalam pikirannya. Napasnya menderu.

Apalagi setelah pemandangan bergeser ke dalam bangsal yang disesaki mesin-mesin, para perawat dan dokter yang berjibaku berharap Tuhan masih punya sisa-sisa takdir untuk Tio di atas saksi bisu matras Unit Gawat Darurat.

Hamid mematung di hadapan pintu bilik tersebut. Hanya mengintip semua kejadian dari kaca tipis transparan di pintu.

Di sisi lain koridor, ada Delon yang sedari tadi terdiam duduk di atas kursi tunggu. Mereka tidak tahu harus bersikap apa di keadaan seperti ini.

Hamid melangkah dan ikut menyambar kursi itu, duduk di sebelah Delon.

Meski persekitaran mereka banyak lalu-lalang petugas, tapi isi pikiran dan hati mereka saat ini kosong.

“Memangnya, kenapa bisa sampai kayak gini, Del?“ Tatapan Hamid kosong ke lantai. Sepersekiandetik setelah pertanyaan itu, kedua matanya memejam erat-erat. Ingin menutup telinga sebenarnya, agar tidak mendengar jawaban satu hurufpun dari Delon. Namun, malah matanya yang menggantikan tugas tersebut.

Alhasil, dengan diselingi isakan sisa-sisa tangis, Delon mengatakan bahwa ini kedua kalinya dokter-dokter itu menyesaki bilik Tio. Beberapa saat sebelumnya Tio sudah siuman dan bercakap-cakap santai dengannya.

Hamid terkesiap mendengar itu. Bertanya apa saja yang mereka obrolkan.

Aku menggenggam tangannya, kulitnya dingin, kata Delon. Dan belum pernah dirinya melihat Tio mengobrol sesumringah itu sebelumnya. Meskipun seluruh percakapan itu mengarah ke satu hal, takdir. Dia bilang ini adalah takdir yang dirinya sengaja pilih tanpa sadar.

Kemudian aku menerangkan tentang orangtuanya yang sejam lagi sampai, namun tiba-tiba saja waktu berkasak-kusuk tidak memberi kesempatan kepada Tio untuk melihat orangtuanya.

Hamid hanya terpaku mendengarkan. Semuanya seperti ada yang mengatur. Menurutnya ini sangat tidak alami.

Hingga Delon menceritakan apa yang membawa mereka berdua kemari.

***

Malam itu sangat gelap. Lampu jalanan dipasang menjarang di jalan kecil ini. Mengakibatkan banyak sela-sela yang dikuasai kegelapan.

Aku dan Tio bergandengan menyusuri tepi jalan. Untungnya malam ini giliran diriku yang bertugas untuk mengantar teman-temanku pulang. Jadi aku menahan hasrat untuk mabuk berat. Seharusnya aku hanya perlu memapah Tio sampai ujung jalan, di tepi jalan yang lebih besar, lalu memesankan taksi online, sebab jalan kecil ini satu arah, sehingga lebih pendek kalau dari jalan besar itu saja. Selanjutnya kembali lagi untuk melakukan hal yang sama kepada Hamid.

Melihat Tio yang pulas, aku melepaskan rangkulanku dan membiarkannya tanpa pengawasan. Di sinilah semuanya bermula. Jalanan memang sepi sekali malam itu. Nyaris bisu. Tiba-tiba Tio berjalan tergopoh ke tengah jalan. Aku belum menyadarinya. Hingga ada suara klakson dari mobil sedan hitam yang melaju kencang dari jalan tempat Tio tergopoh. Kejadiannya begitu cepat. Tio terhempas lebih dari tiga meter di atas aspal kasar dengan keadaan telentang. Kepalanya banjir darah. Ternyata pria pengemudi mobil itu juga sedang dikejar-kejar begal. Untungnya pria itu masih meminta maaf dan mengantarkan Tio dan aku ke rumah sakit terdekat. Saking paniknya, aku lupa untuk menjemput kau, Hamid. Hingga sampailah kami di sini.

***

Pintu bilik Tio terbuka. Hamid menatap tepat di mata dokter itu. Dirinya tak paham bahasa tubuh. Tapi Hamid tahu kalau raut wajah dokter yang tertutup masker medis itu menyimpan rapat-rapat sebuah kabar penting.

Dari ujung koridor terdengar hentakan sepatu-sepatu kulit. Berbarengan dengan dokter yang mendekat ke mereka berdua, seorang Ibu berkaus katun abu dengan rok panjang memanggil-manggil si dokter.

“Saya keluarga Prasetyo, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?“ Wajah Ibu itu campuran sedih dan marah. Tangannya terus mengguncangkan badan dokter dan mulutnya tidak berhenti menanyakan tentang anaknya.

Dokter itu setengah mati melepaskan jeratan Ibu itu lalu melepas maskernya.

“Mohon maaf, Ibu…”

Belum sempat Dokter menyelesaikan kalimatnya. Ibu itu sudah terjun terduduk di atas lantai dingin koridor rumah sakit.

“…kami sudah berusaha sebaik mungkin. Anak Ibu…sudah mendahu

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi