Disukai
0
Dilihat
14
Drama Tiga Babak
Drama

 

Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum tenggat tengah malam ini, dan tidak ada cara lain selain mengerjakannya di luar rumah. Tidak mungkin kuselesaikan di rumahku yang sudah berhari-hari berteriak minta diperhatikan. Sudah hampir sebulan aku tidak mengepel lantai. Bak cuci piring tak semakin berkurang tumpukannya. Belum lagi tumpukan pakaian yang mengantre untuk diseterika, atau setidaknya dilipat dan dimasukkan ke lemari pakaian.

Aku menyerah.

Dengan berat hati kutinggalkan Giza bersama ibuku lagi. Mata sedihnya menatap pilu saat aku melepas pelukannya dan beranjak pergi. Berjanji akan pulang sebelum malam.

Selama berminggu-minggu aku melawan keinginan untuk bekerja di kafe, demi menghemat. Tapi aku tidak bisa tidak terdistraksi dengan segala urusan rumah, juga setiap Giza menggelendot atau memanggilku. Laptop di pangkuanku selalu kalah, dan kutinggalkan untuk menemani Giza.

Memilih untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tapi harus mengeluarkan uang di kafe dan meninggalkan Giza memang keputusan yang sulit, tapi akhirnya kusadari memang begitu cara kerja yang efektif untukku. Bisa saja memilih untuk tidak pesan makanan, tapi hal sepele ini sulit untuk kutahan. Konflik bagiku tidak pernah berakhir. Selalu ada.

Aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan ini hari ini juga. Kalau tidak, bisa-bisa aku tidak akan dipercaya oleh penerbit lagi untuk mengerjakan penerjemahan dan penyuntingan lagi. Uang di tabungan semakin menipis. Sudah kucoba melamar ke penerbit sana-sini untuk menjadi editor tetap, dengan resiko harus banyak meninggalkan Giza jika lolos. Tapi nihil. Jadi kupegang teguh rezeki pekerjaan lepas yang ada sekarang. Meskipun kalau harus memikirkan biaya-biaya jangka panjang, ulu hatiku serasa ditekan hebat dan dadaku mendadak sesak.

Ada sebuah kafe yang sangat kusuka. Bukan karena kopinya atau makanannya. Aku pecinta kopi, tapi bukan yang berkelas. Aku tidak tahu jenis-jenis biji kopi, dan masih minum kopi susu instan. Aku suka tempat ini karena interiornya nyaman, dan yang paling penting: sepi. Diam-diam aku berharap kafe ini selalu sepi.

Setelah memesan cappuccino, pesananku di kafe mana pun, dan fried mushroom, lebih karena tidak enak hati kalau hanya memesan minum, tahu aku akan ada di sini berjam-jam, aku memilih tempat duduk di sudut. Kursi yang biasa kupilih karena dekat colokan listrik dan tinggi meja dan kursinya nyaman untuk bekerja berjam-jam. Hatiku bersorak riang ketika mendapati ruangan itu kosong.

Sial. Aku lupa membawa earphone-ku. Musik yang terdengar di kafe tidak terlalu keras, dan pilihan lagu-lagunya oke saja. Selama hanya aku yang ada di ruangan ini, tidak jadi masalah.

Seorang perempuan datang dan duduk di sofa seberang meja yang kutempati. Ia memilih sofa dua seat yang diapit dua kursi yang sama rendah di kanan dan kirinya. Aku merasa terganggu, kenapa dia harus memilih duduk di sofa, padahal datang sendirian? Lebih dari itu, kenapa dia memilih duduk di dekatku, padahal kafe begini kosong. Aku merasa area pribadiku diterobos.

Setelah mengatai sikap sok-ku dalam hati, aku mencoba fokus kembali pada deretan kalimat yang harus kuterjemahkan di layar laptop. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk memperhatikan perempuan itu. Penampilannya klasik. Aku bayangkan dia selalu keluar rumah dalam keadaan siap jadi cover majalah. Rambut cepaknya tidak asal disisir begitu saja, aku yakin itu hasil blow salon. Kemeja putih tangan pendeknya terselip sebagian di balik lingkar pinggang celana kulot yang jatuh apik di tubuh langsingnya, yang pasti banyak dipuji untuk usianya yang mungkin sudah memasuki usia lima puluhan. Di dadanya, menggantung scarf yang ia lilitkan sedemikian rupa hingga tampak keren, membuatku jatuh cinta pada penampilannya. Aku tidak tahu banyak soal fashion, tapi aku tahu tas yang ditentengnya adalah Hermes. Dan aku cukup tahu bahwa harga tas itu cukup untuk membayar uang pendaftaran masuk Giza ke SD tahun ini, memperbaiki titik-titik bocor di rumah, merenovasi dapur mungil kami, sekaligus mengecat ulang seluruh tembok rumah.

“Hai,” ujarnya tiba-tiba.

Aku tersentak dan mengangkat kepalaku ke arahnya.

Si Madam tengah tersenyum sambil menempelkan telepon genggamnya ke telinganya. “Maaf, tadi lagi di jalan,” lanjutnya sambil tertawa ringan. Jenis suara tawa yang keluar dari mulut kita saat bertemu kenalan jauh di acara resmi.

Aku kembali pada rangkaian kalimat di hadapanku. Dengan hati-hati mengadaptasinya dari Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia. Si Madam lanjut mengobrol dengan teman di teleponnya. Aku semakin menyesal lupa membawa earphone. Aku sama sekali tidak mau tahu tentang kesibukan-kesibukan terbaru Si Madam, seperti yang tengah ia tuturkan pada kawannya. Konsentrasiku buyar. Cerita terus bergulir dari mulut Si Madam, sampai pada titik bahwa ternyata kondisi ekonomi keluarga dan bisnis miliknya sedang tidak baik-baik saja.

Sorry, yah… Makanya belum bisa kembaliin yang dua ratus lima puluh itu… Iya… Paling tiga sampai enam bulan ke depan saya bisa mulai cicil… Iya…”

Aku tak bisa menahan rasa penasaranku. Dua ratus lima puluh? Ribu? Juta? Masa iya perempuan berpenampilan seklasik dan berkelas itu pinjam duaratus lima puluh ribu dari kenalannya? Apa tasnya palsu? Kulirik Hermes yang duduk di sisinya. Aku tidak cukup wawasan untuk menilai hal-hal semacam ini, tapi kalaupun palsu, harganya pasti di atas sepuluh juta.

Kutarik paksa tatapanku kembali ke layar monitor sebelum Madam menengok ke arahku gara-gara menyadari aku tengah memperhatikannya.

Dengan tas seperti itu, dua ratus lima puluh juta mungkin hanya receh baginya. Begitu pikirku. Tanpa bisa kukendalikan, pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku berpacu. Kenapa tidak jual saja tasnya? Pasti dia punya banyak barang berharga lain yang bisa dijual.

Sambil mengutuk diri, kupaksa pikiranku untuk kembali pada layar laptop dan kalimat apa yang tadi sedang kuperiksa.

Setelah Madam mengakhiri percakapannya di telepon dengan janji akan segera mengembalikan uang yang dipinjamnya setelah kondisi membaik. Aku bertanya-tanya bagaimana caranya orang mengembalikan pinjaman sebanyak itu. Dan orang seperti apa yang begitu mudah meminjamkan uang sebanyak itu? Dalam hati aku menertawakan diriku sendiri, mengolok-olok diriku yang begitu jauh dari lingkar sosial semacam itu.

Aku kembali pada pekerjaanku. Berkomitmen untuk tidak terdistraksi lagi. Kusadari waktuku tinggal satu setengah jam lagi sebelum jam pulangku tiba. Tapi tak lama seorang laki-laki, kira-kira sebaya dengan Madam, datang. Ia membawa bungkusan berlabel nama supermarket yang ada di seberang kafe.

“Wah,” Madam tergelak, “Belanja apa?”

Laki-laki itu terkekeh, sambil duduk di sebelah Madam. Jemariku berhenti mengetik, tak tahan untuk melirik ke samping layar laptop-ku. Laki-laki itu mengeluarkan isi bungkusan plastik.

“Ternyata di supermarket biasa juga ada golden kiwi. Kaya yang biasa kita beli kan ini?” kata laki-laki itu sambil membuka perekat bungkusan. Ia mengeluarkan satu dari isinya memperlihatkannya pada Madam.

“Oh, iya!” seru Madam. “Lebih murah nggak di situ?”

“Sama-sama aja, sih,” jawab laki-laki itu, yang kini kuasumsikan adalah suami si Madam.

“Terus ini… lagi promo, nih.” Suami Madam memperlihatkan sesuatu yang tak dikeluarkannya dari plastik belanjanya.

“Saikoro?” tanya Madam saat melihat isi lain dalam bungkusan itu.

“Iya! Cuma delapan puluh setengah kilo. Murah, kan? Yang biasa kita beli seperempatnya aja udah tujuh puluh, kan.”

“Emang bagus itu kualitasnya?” tanya Madam meragukan.

“Ya, kita coba aja. Penasaran, sih. Semurah ini,” jawab si suami sambil terkekeh. “Senang ada bisa belanja promo.”

Aku belum pernah membeli daging-daging sapi mahal seperti itu. Harga promo tetap saja melebihi jatah belanja ke pasar. Aku juga tidak pernah berbelanja bahan makanan di supermarket, karena meskipun banyak promo, biasanya pembeli tidak bisa membeli sedikit sedangkan di warung sayur dekat rumah, aku bisa minta dibungkuskan bawang merah seharga dua ribu saja. Di supermarket tidak bisa begitu.

Aku bertanya-tanya apakah suami Madam tahu bahwa Madam punya pinjaman sebesar duaratus lima puluh juta? Kalau ya, bagaimana bisa dia belanja sambil tertawa senang? Kalau tidak, apakah mereka memisahkan urusan finansial mereka masing-masing dan tidak saling tahu berapa banyak yang yang dimiliki satu sama lain? Apakah Madam meminjam uang sebesar itu supaya bisa terus menjalankan standar gaya hidupnya? Aku jelas berasumsi terlalu banyak dan mencampuri terlalu jauh dalam benakku.

Mereka lanjut mengobrol. Si Suami membandingkan barang-barang di “supermarket biasa” dengan yang ada di supermarket tempat mereka biasa berbelanja. Sebuah supermarket yang pernah aku kunjungi tanpa membeli apapun. Kebanyakan barangnya adalah produk impor. Dan supermarket yang mereka bilang “biasa” itu adalah tempat aku biasa membeli popok untuk Giza karena harga di sana paling terjangkau.

Harus kuakui aku suka sekali gaya pasangan di hadapanku ini. Tipe orang kaya yang tidak berlebihan dengan apa yang mereka pakai, tapi kau bisa langsung tahu semua yang mereka pakai barang mahal. Si suami memakai baju kaus polo berwarna krem, dipadukan dengan celana bahan katun model baggy dan sepatu Adidas. Kacamata bingkai tebalnya lebar, membuatnya kelihatan seperti anak muda dari jauh, kalau saja rambutnya tidak dipenuhi warna putih. Bagiku gaya mereka terlihat keren. Tipe berpakaian yang kira-kira akan jadi gayaku jika aku sekaya mereka. Kemudian kucoret kalimat ini dalam kepalaku. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar kaya atau pura-pura kaya.

Aku kembali mengangkat kepalaku dari balik laptop saat kudengar keduanya serentak menyapa seseorang.

Seorang gadis cantik, bertubuh ramping, dan rambut lurus kecoklatan sebahu muncul di hadapan mereka. Senyum lebar merekah di wajah ketiganya. Seperti laki-laki tadi, gadis ini juga membawa bungkusan belanjaan, tapi bukan dari supermarket biasa. Tas belanja besar dengan label merk yang tak kukenal.

“Wah, abis belanja juga anak Mami,” komentar Madam.

Si gadis tertawa manis. “Lagi sale! Lumayan, ini lucu-lucu banget. Bisa dipakai buat kuliah.”

“Mana, mana? Mami mau lihat. Belanja apa aja kamu?”

Gadis itu duduk dan membongkar isi tas belanjanya. Ia mengambil sehelai cardigan putih sambil berdiri dan memakainya.

“Ah iya lucu… dapet harga berapa itu?”

“Lucu, kan? Dari lima ratus berapa gitu… jadi tiga ratus aja… Best buy!”

Dia lanjut mengeluarkan dua potong pakaian lainnya. Sebuah blus tanpa lengan dan celana pendek.

“Total-total cuma lima ratusan lho, Mi. Tiga potong!” gadis itu berseri bangga pada ibunya. “Ini bisa buat ke mal, ngafe, jalan santai…”

Mami-Papinya memuji betapa ia pandai berbelanja.

Kuakui, seperti kedua orangtuanya, selera gadis itu bagus. Aku diam-diam suka dengan pilihan baju-baju yang dibelinya. Juga dengan apa yang dikenakannya sekarang. Kemeja putih berukuran besar, tiga kali ukuran untuk tubuhnya yang kecil, yang ia gulung di bagian lengannya. Celana jins pendeknya nyaris tak terlihat saat ia berdiri. Sepatunya rata tanpa hak dan menutup pergelangan kakinya.

Percakapan mereka berikutnya membuatku bisa membayangkan kehidupan mereka lebih jelas. Bahwa harga makanan dan minuman di kafe ini murah sekali bagi mereka, sehingga mereka memesan beberapa cemilan sekaligus untuk dicicipi. Bahwa setiap tahun mereka berlibur ke luar negeri. Kota-kota besar di Eropa sudah semua pernah mereka datangi, bingung harus ke mana lagi kalau tahun ini liburan ke Eropa lagi. Putrinya mengusulkan Korea. Madam mengeluh, tidak terlalu menikmati Korea saat ke sana tiga tahun lalu. Anaknya mengusulkan area lain di Korea, aku tak pernah dengar nama tempat itu sebelumnya. Ayahnya mengusulkan Rusia, yang segera ditepis oleh istri dan anaknya. Madam mengusulkan ke daerah selatan Jepang, karena seperti Eropa, kota-kota besar di sana sudah pernah mereka kunjungi.

Pikiran usilku tak bisa kulawan lagi, apa si Madam meminjam uang hanya untuk berlibur ke luar negeri? Dengan gaya hidup seperti mereka, bisa saja dua ratus lima puluh juta habis untuk sekali liburan sekeluarga. Aku membayangkan apa saja yang bisa kulakukan dengan uang dua ratus lima puluh juta. Mungkin liburan. Lalu cuti kerja satu dua tahun.

Madam dan suaminya pergi meninggalkan kafe lebih dulu setelah menyuruh anaknya menghabiskan makanan pesanan mereka. Bi langsung keberatan harus menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian.

Aku lega karena suasana kembali hening. Tapi tidak lama.

Tak lama, gadis itu berbicara sendiri. Oh, tidak. Dia menelepon seseorang. Dia menyalakan pengeras suara telepon genggamnya. Aku curiga dia sadar bahwa aku sedari tadi menyimak pembicaraan keluarganya. Dan sekarang kepalang tanggung, dia sengaja memberikan suguhan untukku. Aku segera menoyor kepalaku sendiri dalam imajinasiku.

“Hai, Vin… Apa kabar? Gimana Sydney?” sapa si gadis pada lawan bicaranya.

“Eh, Bi! Haii… baik-baik… Sydney lagi dingiiin…” seorang perempuan menjawab panggilannya.

Oh, jadi nama panggilannya Bi. Mami dan Papinya juga tadi memanggilnya Bi. Entah kependekan dari apa.

“Maaf ganggu, ya… ini gue lagi bosen aja di kafe, nih…”

“Nggak, nggak ganggu, kok. Gimana-gimana? Gimana kabar lu? Gimana Ray? Eh, lu masih sama Ray, kan?”

“Masih… masih… Dia sekarang di UK.”

“Di UK? Ngapain? Kerja di sana sekarang?”

“Nggak… gua suruh dia sekolah lagi,” jawab Bi disambung gelak tawa di akhir kalimatnya.

“Oh… gitu. Terakhir yang gue tahu kan dia udah kerja ya… di… perusahaan tekstil kalau nggak salah kan?”

“Iya... Jadi...”

Bi berbisik di telepon, aku tak bisa menangkap apa pekerjaan pacarnya.

“... Tapi gajinya cuma tiga juta sebulan. Mau jadi apa? Buat beli alat mandi juga nggak cukup.”

Aku berhenti mengetik.

Tiga juta adalah pengeluaranku per bulan, kurang lebih. Apa dia tahu ibunya meminjam uang ratusan juta demi mereka bisa lanjut hidup seperti itu? Aku mengutuk diriku. Aku tidak tahu pasti untuk apa uang itu. Mungkin itu uang untuk bisnisnya, bukan untuk keperluan pribadi sehari-hari. Tahu apa aku tentang bisnis-bisnis besar. Tahu apa aku tentang bagaimana orang berada menjalani hidup mereka. Tidak sampai di otakku. Mungkin aku hanya akan paham jika aku sudah punya uang sebanyak Madam.

Bi lanjut membicarakan hasil belanjaannya hari ini dan menanyakan apa saja yang terakhir jadi hasil belanja si temannya itu di Sydney. Mereka lanjut video call karena Bi bersikeras ingin melihat pakaian-pakaian baru temannya, sambil berdecak sedih ingin segera bisa menyusulnya ke Sydney usai kuliahnya di sini selesai.

Aku menutup laptopku. Waktunya pulang.

Saat beranjak, mataku sempat bersirobok dengan mata Bi. Dia langsung memalingkan pandangannya kembali ke layar telepon genggamnya. Ingin rasanya kubentak dia. Ingin rasanya kubeberkan bagaimana ibunya tengah kesulitan uang. Mengatakan padanya bahwa sikapnya pada pacarnya sungguh brengsek.

Malamnya, aku tak berhenti memikirkan keluarga Madam.

Mungkinkah Bi, meski terkesan keji, dia sebenarnya tahu apa yang layak untuknya.

Tiga juta buat beli alat mandi aja nggak cukup.

Mungkinkah sikapnya pada pacarnya bukan brengsek seperti yang kutuduhkan? Melainkan karena dia tahu cara mendorong pacarnya untuk mencapai apa yang sebenarnya mampu dicapainya? Kuputar kembali interaksi antara mereka bertiga di kafe tadi. Hangat, dengan kebahagiaan yang mungkin bukan cara bahagia dalam duniaku. Mungkinkah Madam tahu cara untuk tetap gembira bersama keluarganya meskipun ia sedang kesulitan uang? Tidak seperti aku yang setiap hari penuh kekhawatiran sebagai orang tua tunggal, dan ketakutan bagaimana harus membayar ini dan itu bulan depan, dan bulan-bulan berikutnya?

Aku menghembuskan napas panjang di samping Giza yang sudah pulas sejak tadi. Kuusap kepalanya, lembut. Aku tidak tahu pasti sebenarnya latar belakang keluarga Madam. Apakah ia meminjam ratusan juta untuk tetap bisa bergaya hidup mewah atau untuk menyelamatkan bisnisnya. Mencuri dengar mereka hari ini membuatku banyak bertanya pada diriku sendiri. Madam tahu cara menyingkirkan sejenak kesulitannya demi bisa mengobrol santai dan tertawa bersama keluarganya. Bi tahu betul dalam kehidupan seperti apa ia bisa hidup bersama calon pasangannya, meski bagiku Bi tetap saja gadis yang arogan dan manja. Tapi dia tahu apa yang dicarinya. Dia tahu standar hidupnya. 

Kutatap langit-langit gelap di kamarku.

Lain waktu, saat aku bekerja dari kafe lagi, aku akan memesan makanan yang memang ingin kucicipi.

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)