“Aku mau tokoh novelku itu ganteng, putih, poninya panjang. Kalau bisa ada lesung pipitnya,” Muyi terus menerocos di telepon, dan May mendengarkan dengan sabar.
Pintu kafe tiba-tiba terbuka, dan seseorang yang ciri-cirinya disebut Muyi kini sedang berjalan ke counter memesan sesuatu.
Muyi membeku dengan gadget masih menempel di telinganya, sementara ia tak bisa mengendalikan bibirnya yang menganga.
May mengerutkan dahi di ujung telepon.
“Halo?” katanya.
Tak ada jawaban.
“Muyi?”
Sunyi.
May menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, menatap layar, lalu menempelkannya lagi.
“Halo! Muyi!”
Muyi masih berdiri membeku, matanya mengikuti laki-laki yang baru masuk itu berjalan menuju counter.
“Muyi, kamu masih di sana?” suara May mulai meninggi.
Tak ada respon.
“Jangan bilang sinyalmu putus.”
May mengetuk-ngetuk ponselnya.
“Halo! Halo! MUYI!”
Muyi tetap diam, bibirnya masih sedikit terbuka. Laki-laki itu kini berdiri di depan counter, menunduk membaca menu.
“MUYI!” teriak May dari seberang telepon.
“Kenapa tiba-tiba diam?! Kamu habis jatuh atau apa?”
Muyi nyaris tidak berkedip.
“Kalau kamu pingsan, batuk dua kali!”
Tetap tak ada jawaban.
May mulai panik.
“Jangan bercanda deh! Muyi!”
Sementara itu laki-laki tadi menerima minumannya, lalu berbalik perlahan.
Muyi menelan ludah.
Lesung pipit.
Benar-benar ada.
“MUYI!” teriak May lagi. “Aku serius ini! Kamu bikin aku takut!”
Akhirnya Muyi bergerak sedikit.
Namun bukan menjawab.
Ia hanya berbisik sangat pelan ke ponselnya, hampir seperti orang yang sedang melihat keajaiban.
“May…”
“IYA?!”
“Aku baru saja melihat tokoh utama novelku.”
“Hah?”
Muyi menatap laki-laki itu yang kini berjalan menuju meja di depannya.
“Dia, nyata!.”
***
Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah Muyi, memilih kursi di meja depan persis di seberangnya, lalu membuka tablet dan mulai mengetik.
Muyi bangkit menuju counter, menemui seorang waiter di sana. “Hai, nona cantik,” ujarnya membuka obrolan. “Apakah laki-laki yang duduk di sana sering datang ke kafe ini?”
“Ia pelanggan di sini, setiap hari ke sini,” ujarnya ramah, yang dijawab dengan anggukan oleh Muyi.
Tiba-tiba matanya tertumbuk pada selebaran di sisi meja mesin kasir.
DIBUTUHKAN WAITER.
Ia baru saja resign karena bertengkar dengan bosnya yang ganjen dan centil. Ia merasa ini seperti mukjizat baginya, tak hanya punya kesempatan menjadi waiter, setidaknya ia tak langsung menganggur, dan bonusnya, laki-laki impian seperti tokoh utama dalam novelnya.
“Ini amazing!” Muyi setengah berteriak, lalu tersadar, karena laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan rona terkejut.
Misi berikutnya, merebut hatinya.
***
Hari pertama bekerja, Muyi sudah menyusun strategi.
Ia memakai lipstik warna peach, mengikat rambutnya sedikit longgar, dan berlatih tersenyum di kaca dapur kafe.
Masalahnya hanya satu.
Laki-laki itu selalu datang.
Dan selalu dingin.
“Americano tanpa gula,” katanya setiap hari.
Tak pernah lebih dari tiga kata.
Namun Muyi tetap senang. Setidaknya ia tahu suara laki-laki itu. Suaranya rendah dan tenang, seperti seseorang yang terlalu sibuk berpikir.
Kadang ia mencuri pandang dari balik rak buku. Laki-laki itu selalu duduk di meja yang sama, mengetik di tabletnya, sesekali mengerutkan dahi.
“Penulis mungkin,” bisik Muyi pada dirinya sendiri.
Hari demi hari berlalu.
Sampai suatu sore sesuatu berubah.
Pintu kafe terbuka, dan seorang perempuan muda masuk.
Cantik.
Sangat cantik.
Kulitnya cerah, rambut panjang bergelombang, dan senyumnya lebar seperti iklan pasta gigi.
Muyi langsung curiga.
Perempuan itu berjalan lurus ke meja laki-laki itu.
Dan tanpa ragu menarik kursi sangat dekat dengannya.
“Terlambat lagi,” kata laki-laki itu.
“Macet,” jawab perempuan itu manja sambil memukul lengannya pelan.
Muyi yang sedang membawa dua cangkir latte hampir menjatuhkannya.
Mereka tertawa.
Perempuan itu bahkan mengambil sendok dari cangkirnya dan mencicipi kopi laki-laki itu.
Muyi merasa seperti hatinya jatuh dari lantai dua.
Oh.
Jadi dia punya pacar.
Hari-hari berikutnya menjadi siksaan.
Perempuan itu sering datang.
Kadang menggandeng lengannya.
Kadang menyandarkan kepala di bahunya.
Kadang tertawa terlalu keras sampai Muyi di dapur bisa mendengarnya.
“Gula tambahan,” kata perempuan itu suatu hari pada Muyi.
Muyi menyerahkan gula tanpa menatap.
Ia bahkan menulis di catatan kecilnya malam itu:
"Tokoh laki-laki dalam novelku ternyata bajingan."
***
Suatu malam ia menangis di kamar kos.
May di telepon hanya berkata, “Kamu bahkan belum kenal dia.”
“Tapi aku sudah patah hati,” jawab Muyi dramatis.
***
Suatu sore hujan deras turun.
Kafe hampir kosong.
Muyi sedang menyapu ketika pintu terbuka.
Laki-laki itu masuk.
Sendirian.
Ia duduk seperti biasa.
Namun hari itu ia tidak membuka tablet.
Ia hanya menatap Muyi.
“Americano tanpa gula?” tanya Muyi kaku.
“Seperti biasa.”
Muyi membuat kopi dengan perasaan campur aduk.
Ketika ia meletakkan cangkir di meja, laki-laki itu tiba-tiba bertanya,
“Kamu baru kerja di sini, ya?”
Muyi hampir menjatuhkan nampan.
Ini pertama kalinya dia mengajaknya bicara lebih dari tiga kata.
“Iya.”
“Hm.”
Sunyi lagi.
Muyi hendak pergi ketika pintu kafe kembali terbuka.
Perempuan itu datang lagi.
“Kaak!” katanya ceria.
Muyi membeku.
Ia menoleh.
“Maaf telat. Tadi mama nyuruh aku jemput dia dulu.”
Muyi berkedip.
Perempuan itu duduk dan berkata, “Kak, nanti malam kita jadi makan di rumah nenek, kan?”
Kak?
Muyi menoleh pelan.
Laki-laki itu menyesap kopi.
“Jadi.”
Perempuan itu lalu menatap Muyi.
“Kak, ini waiter baru ya?”
“Iya,” jawab laki-laki itu.
“Kenalin, ini adikku, Lira.”
Muyi merasa seluruh organ tubuhnya berhenti bekerja.
Adik.
ADIK.
Perempuan itu tersenyum ramah.
“Halo! Aku sering ke sini nemenin kakakku kerja.”
Muyi menatap mereka bergantian.
Jadi…
Semua kemesraan itu…
Selama ini…
Adik.
Ia ingin menghilang.
Benar-benar menghilang.
***
Beberapa hari kemudian, situasi malah semakin aneh.
Karena sejak hari itu, laki-laki itu mulai sering berbicara dengannya.
“Namamu Muyi, ya?”
“Iya.”
“Kamu suka buku?”
“Banget.”
Ia bahkan mulai duduk lebih lama.
Kadang mereka membahas novel.
Kadang karakter cerita.
Kadang ide plot.
Suatu malam, ketika kafe hampir tutup, laki-laki itu berkata pelan,
“Aku sebenarnya tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu sering mengamati aku dari balik rak buku.”
Muyi tersedak udara.
“Dan hari pertama kamu di sini,” lanjutnya santai, “kamu berkata di telepon kalau kamu ingin tokoh novelmu ganteng, putih, poni panjang, dan ada lesung pipit.”
Muyi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia ingin mati saja.
Laki-laki itu tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Muyi melihat lesung pipitnya.
“Jadi,” kata laki-laki itu, “aku penasaran.”
“Penasaran apa?”
“Apakah di novelmu, tokoh laki-lakinya aku?"
Tablet itu masih terbuka.
Muyi berdiri membeku di samping meja mereka, masih memegang nampan kosong seperti patung yang lupa cara bergerak.
Di layar tablet itu jelas tertulis:
“Novel: Waitress yang Terlalu Sering Mengamatiku.”
Muyi menatap tulisan itu.
Lalu menatap laki-laki itu.
Lalu menatap Lira.
Lalu kembali menatap tablet.
“Oke,” katanya akhirnya pelan. “Aku ingin percaya ini kebetulan.”
Lira sudah menutup mulutnya menahan tawa.
“Sayangnya bukan,” katanya ceria.
Muyi menatap laki-laki itu dengan mata menyipit.
“Kamu… menulis tentang aku?”
Laki-laki itu mengangkat bahu santai. “Sedikit.”
“Sedikit?”
“Sekitar dua puluh halaman.”
Muyi hampir menjatuhkan nampannya lagi.
“DUA PULUH HALAMAN?!”
Beberapa pengunjung yang masih tersisa di kafe menoleh.
Muyi langsung menutup mulutnya sendiri.
“Maaf.”
Laki-laki itu tertawa kecil lagi. Lesung pipitnya muncul. Sialnya, itu membuatnya semakin tampan.
“Tenang saja,” katanya. “Namamu tidak disebut.”
“Oh, bagus,” kata Muyi lega.
“Di novel itu kamu bernama M.”
Muyi menatap kosong.
“Itu, sama saja.”
Lira sekarang benar-benar tertawa.
“Ini bahkan belum bagian paling serunya,” katanya.
Muyi menatapnya curiga. “Masih ada?”
Lira menunjuk tablet kakaknya.
“Kakak sebenarnya bukan cuma pelanggan kafe.”
Muyi mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
Laki-laki itu menghela napas kecil, seperti seseorang yang akhirnya harus membuka rahasia.
“Aku pemilik kafe ini.”
Muyi merasa dunia berhenti.
“Apa...?”
Lira mengangguk senang.
“Iya. Kakakku yang punya Kafe Buku Ini.”
Muyi memproses kalimat itu selama tiga detik.
Empat detik.
Lima detik.
Lalu matanya melebar.
“Tunggu.”
Ia menunjuk laki-laki itu.
“KAMU PEMILIKNYA?”
“Iya.”
Muyi menoleh ke sekeliling kafe.
Lalu kembali menatapnya.
“Berarti… berarti… berarti kamu bosku?”
“Iya.”
Muyi menutup wajahnya lagi.
“Tuhan, aku pernah mengutukmu dalam catatan harian.”
Lira hampir jatuh dari kursinya karena tertawa.
“Aku juga pernah menulis kamu bajingan,” tambah Muyi dari balik tangannya.
“Tidak masalah,” kata laki-laki itu santai. “Aku juga pernah menulis kamu stalker profesional.”
Muyi menurunkan tangannya perlahan.
“Baik. Kita impas.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Namun kemudian Muyi tiba-tiba berhenti.
Ia menatap laki-laki itu lagi dengan mata curiga.
“Tunggu.”
“Apa lagi?”
“Kamu tahu aku memperhatikanmu sejak hari pertama?”
“Iya.”
“Kamu tahu aku suka lesung pipitmu?”
“Iya.”
“Kamu tahu aku mengira Lira pacarmu?”
Lira langsung mengangkat tangan.
“Dia bahkan menatapku seperti ingin membuangku ke sungai.”
Muyi memejamkan mata.
“Ya Tuhan.”
Laki-laki itu mencondongkan badan sedikit.
“Jadi sebenarnya aku penasaran,” katanya.
“Penasaran apa?”
“Kamu bekerja di sini, karena butuh pekerjaan?”
Muyi membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Kemudian berkata pelan,
“Awalnya, iya.”
“Awalnya?”
Muyi menghela napas.
“Lalu karena kamu.”
Sunyi satu detik.
Lira menatap mereka berdua dengan ekspresi seperti menonton drama favorit.
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Jadi kita sama.”
Muyi mengerutkan dahi. “Sama?”
“Iya.”
“Aku juga sering datang ke sini, karena kamu.”
Muyi berkedip.
“Sejak kamu duduk di meja itu hari pertama sambil berbicara di telepon.”
“Yang mana?”
“Yang kamu bilang ingin tokoh novelmu ganteng, putih, poni panjang, dan ada lesung pipit.”
Muyi memukul meja pelan.
“Aku harus berhenti berbicara keras di tempat umum.”
Lira mengangguk serius. “Sangat disarankan.”
Hujan di luar mulai reda.
Kafe menjadi semakin sepi.
Muyi akhirnya duduk di kursi depan mereka.
Untuk pertama kalinya.
Sebagai seseorang yang tidak sedang berpura-pura menyapu atau mengelap meja.
“Jadi,” kata Muyi.
“Jadi?” kata laki-laki itu.
“Kamu menulis novel.”
“Iya.”
“Dan aku tokohnya.”
“Setengahnya.”
“Setengah?”
“Karena setengah lagi belum aku tulis.”
Muyi menyilangkan tangan.
“Kenapa?”
Laki-laki itu menatapnya dengan senyum kecil.
“Karena aku belum tahu akhirnya.”
Muyi mengangkat alis.
“Kenapa tidak?”
“Karena akhir cerita itu,” katanya pelan, “tergantung apakah waitress itu bersedia pergi makan malam denganku atau tidak.”
Lira langsung berdiri.
“Oke! Aku pergi!”
“Kamu ke mana?” tanya kakaknya.
“Aku memberi ruang romantis!”
Ia berjalan cepat menuju pintu, lalu berhenti sebentar.
“Oh ya, Muyi!”
“Apa?”
Lira menyeringai nakal.
“Kalau kamu nolak kakakku, aku tetap akan datang ke kafe ini setiap hari.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah suka kamu.”
Lalu ia keluar.
Pintu kafe menutup pelan.
Sekarang hanya ada mereka berdua.
Muyi menatap laki-laki itu.
“Jadi, ini bagian novel?”
“Mungkin.”
Muyi menunjuk tablet.
“Kalau aku bilang tidak?”
Laki-laki itu mengangkat bahu.
“Berarti novelku jadi tragedi.”
Muyi menatapnya lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka ending tragis.”
Laki-laki itu menunggu.
Muyi akhirnya berdiri.
Mengambil jaketnya dari gantungan.
Lalu berkata santai,
“Jam kerjaku selesai lima menit lagi.”
“Lalu?”
Muyi menoleh ke arahnya dengan senyum kecil.
“Kalau kamu masih di sini, kita bisa mulai menulis akhir ceritanya.”
Laki-laki itu menutup tablet.
Lesung pipitnya muncul lagi.
“Deal.”
Namun tepat ketika mereka hendak keluar dari kafe—
Waiter senior tiba-tiba berteriak dari dapur.
“MUYI!”
“Iya?!”
“Kamu tahu tidak siapa yang memutuskan kamu diterima kerja di sini?”
Muyi mengerutkan dahi.
“Manajer?”
“Bukan!”
Ia menunjuk laki-laki itu.
“Dia!”
Muyi membeku.
“Apa...?”
Waiter itu tertawa.
“Dia yang bilang: 'Terima saja yang cerewet di telepon itu.'”
Muyi menatap laki-laki itu dengan mata melebar.
“Kamu sudah merencanakan ini sejak awal?”
Laki-laki itu berdiri.
“Tidak semuanya.”
“Sebagian?”
“Sebagian.”
Muyi menyipitkan mata.
“Ini manipulasi.”
“Ini riset karakter,” jawabnya santai.
Muyi terdiam dua detik.
Lalu berkata pelan,
“Baik.”
“Apa?”
“Kalau begitu aku juga punya plot twist.”
Laki-laki itu mengangkat alis.
“Apa?”
Muyi tersenyum licik.
“Aku juga sedang menulis novel.”
“Serius?”
Muyi mengangguk.
“Judulnya?”
Muyi menatapnya tepat di mata.
Lalu berkata,
“Bos Kafe yang Diam-Diam Jatuh Cinta pada Waitress yang Menguntitnya.”
Sunyi dua detik.
Kemudian mereka berdua tertawa.
Dan untuk pertama kalinya, mereka keluar dari kafe itu bersama.
Sementara di dalam tablet yang tertinggal di meja, kursor masih berkedip di akhir kalimat:
“Bab terakhir belum ditulis.”
***
Hujan sudah benar-benar berhenti ketika mereka keluar dari kafe.
Lampu jalan memantulkan genangan air di trotoar seperti serpihan kaca. Muyi berjalan sedikit di depan, masih memikirkan banyak hal sekaligus.
Tentang kafe.
Tentang novel.
Tentang fakta bahwa laki-laki yang diam-diam ia kagumi ternyata adalah bosnya sendiri.
Dan tentang satu hal lain yang lebih mengganggu.
“Eh,” kata Muyi tiba-tiba.
“Apa?” laki-laki itu menoleh.
“Kamu belum bilang namamu.”
Laki-laki itu berhenti melangkah.
Lalu tersenyum kecil, seolah baru menyadari sesuatu yang lucu.
“Kamu bekerja di kafe milikku, menguntitku hampir dua minggu, dan kita belum saling tahu nama?”
Muyi menatap langit.
“Kalau kamu bilang begitu, kedengarannya aku seperti kriminal.”
“Sedikit,” jawabnya santai.
Muyi memutar mata.
“Namaku Seo Jun.”
“Seo Jun,” ulang Muyi pelan, seperti mencoba merasakan nama itu di lidahnya.
“Namamu cocok,” katanya.
“Cocok?”
“Ya. Kedengarannya seperti tokoh utama.”
Seo Jun tertawa kecil.
“Mudah-mudahan bukan tokoh yang mati di akhir cerita.”
“Kalau kamu mati di akhir cerita,” kata Muyi, “aku akan kehilangan inspirasi.”
Mereka berjalan lagi.
Angin malam cukup sejuk.
Beberapa toko sudah menutup pintu, dan jalanan mulai lengang.
“Jadi,” kata Seo Jun, “kamu benar-benar menulis novel juga?”
Muyi mengangguk.
“Sejak lama.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
Muyi mendengus.
“Kamu juga tidak pernah bilang kamu pemilik kafe.”
“Poin yang bagus.”
Sunyi sebentar.
Lalu Seo Jun berkata,
“Boleh aku baca?”
Muyi langsung berhenti berjalan.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena itu memalukan.”
“Novel tentang aku juga memalukan.”
Muyi menatapnya.
“Itu salahmu.”
Seo Jun tertawa lagi.
Namun saat mereka hampir sampai di ujung jalan, Muyi tiba-tiba berhenti lagi.
Ekspresinya berubah sedikit serius.
“Ada sesuatu yang belum aku bilang.”
Seo Jun mengangkat alis.
“Apa?”
Muyi menatap kafe mereka dari kejauhan.
Lampu di dalam masih menyala redup.
“Kamu bilang tadi… kamu yang memilih aku bekerja di sana.”
“Iya.”
“Karena aku cerewet di telepon?”
“Sebagian.”
Muyi menatapnya curiga.
“Sebagian?”
Seo Jun menghela napas kecil.
“Jujur saja?”
“Jujur saja.”
“Aku pernah melihatmu sebelumnya.”
Muyi mengerutkan dahi.
“Di mana?”
“Di toko buku seberang jalan.”
Muyi mencoba mengingat.
“Yang kecil itu?”
“Iya.”
“Yang raknya sempit dan penjaganya galak?”
“Itu.”
Muyi menatapnya lebih lama.
“Kapan?”
“Sekitar dua bulan lalu.”
Seo Jun tersenyum kecil, seperti seseorang yang sedang membuka halaman lama dari ingatannya.
“Kamu berdiri di depan rak novel, membaca bagian belakang buku.”
Muyi mencoba mengingat.
Dan tiba-tiba potongan memori kecil muncul.
Seorang laki-laki berdiri di ujung lorong buku.
Dengan poni panjang.
Ia berkedip.
“Tunggu.”
Seo Jun mengangguk.
“Iya.”
Muyi menutup mulutnya.
“Yang menjatuhkan buku itu?”
Seo Jun tertawa pelan.
“Itu aku.”
Muyi menatapnya tidak percaya.
“Yang kamu bantu mengambil bukunya.”
Muyi benar-benar ingat sekarang.
Seorang laki-laki yang menjatuhkan tiga buku sekaligus karena terlalu sibuk menatap rak.
Ia membantu memungutnya.
Mereka bahkan sempat berbicara sebentar tentang novel.
“Tapi… waktu itu kamu pakai masker,” kata Muyi.
“Iya.”
Muyi menunjuknya.
“Berarti kamu sudah melihatku sejak lama.”
“Sedikit.”
“Dan kamu tetap membiarkanku menguntitmu dua minggu?”
Seo Jun mengangkat bahu.
“Itu cukup menghibur.”
Muyi menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara malu dan kesal.
“Kamu kejam.”
“Penulis butuh bahan cerita.”
Muyi menghela napas panjang.
“Baik.”
“Apa?”
“Aku juga harus jujur tentang sesuatu.”
Seo Jun menunggu.
Muyi menatap jalanan yang basah.
“Kafe itu…”
“Kenapa dengan kafe?”
Muyi menunjuk bangunannya dari jauh.
“Aku sebenarnya sudah tahu tempat itu sebelum kamu.”
Seo Jun mengerutkan dahi.
“Maksudmu?”
Muyi menggigit bibir sebentar, lalu berkata,
“Dua tahun lalu aku pernah mengirim proposal ke kafe itu.”
“Proposal?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Muyi menatapnya.
“Acara membaca novel setiap minggu.”
Seo Jun membeku.
“Apa...?”
Muyi mengangguk pelan.
“Aku ingin membuat komunitas membaca kecil di sana.”
Sunyi beberapa detik.
Seo Jun tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka sesuatu.
Lalu menatap Muyi lagi dengan mata melebar.
“Nama lengkapmu.”
Muyi bingung.
“Muyi Aruna.”
Seo Jun menunjukkan layar ponselnya.
Di sana ada email lama.
Subjeknya:
Proposal Komunitas Membaca, Muyi Aruna
Tanggalnya: dua tahun lalu.
Seo Jun menatapnya tidak percaya.
“Ini, kamu?”
Muyi juga terkejut.
“Kamu membaca itu?”
“Aku yang menerima emailnya.”
Sunyi panjang.
Muyi tertawa kecil karena tidak percaya.
“Jadi, aku mencoba masuk ke kafe itu dua tahun lalu.”
Seo Jun mengangguk pelan.
“Dan akhirnya kamu benar-benar masuk.”
Muyi menatap bangunan itu lagi.
Lampunya masih menyala hangat.
Seperti menunggu sesuatu sejak lama.
Seo Jun menutup ponselnya.
Lalu berkata pelan,
“Mungkin sebenarnya ini bukan kebetulan.”
Muyi menoleh.
“Maksudmu?”
Seo Jun tersenyum kecil.
“Mungkin kita hanya terlambat dua tahun untuk memulai cerita ini.”
Muyi menatapnya.
Angin malam lewat pelan di antara mereka.
Lalu ia berkata,
“Kalau begitu kita harus menulisnya dengan benar.”
Seo Jun mengangguk.
“Bab pertama?”
Muyi tersenyum.
“Besok.”
“Di kafe?”
“Di kafe.”
Namun mereka belum tahu satu hal lagi.
Di dalam kafe yang lampunya masih menyala itu di meja kasir, waiter senior sedang membaca sebuah buku catatan yang tertinggal.
Buku itu milik Muyi.
Ia membuka halaman pertama.
Dan membaca keras-keras dengan alis terangkat:
“Catatan rahasia,
Jika suatu hari aku bekerja di kafe buku itu, aku harus berhati-hati.
Karena tempat itu milik laki-laki yang dulu tanpa sengaja membuatku jatuh cinta di toko buku.”
Waiter itu berkedip.
Lalu bergumam,
“Wah, jadi sebenarnya mereka berdua sudah saling jatuh cinta bahkan sebelum cerita ini mulai.”