Disukai
0
Dilihat
108
Berita Terakhir
Drama

Grafis BREAKING NEWS menyala merah di sudut layar.

"—di tiga lokasi berbeda, terjadi penangkapan terhadap delapan belas orang."

Suara itu sedikit terengah, seperti berlari sambil bicara. Kamera bergoyang tipis sebelum kembali stabil.

"Seluruhnya saat ini sedang dibawa ke Bareskrim Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dari informasi yang kami terima, tiga di antaranya merupakan pejabat BUMN, sementara satu orang lainnya disinyalir sebagai figur penting di kabinet pemerintahan."

Di belakang reporter, garis polisi kuning membelah halaman gedung. Lampu rotator berputar tanpa suara, cukup untuk membuat latar terasa hidup—dan tegang.

"Pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait pasal yang disangkakan. Kami akan terus memperbarui informasi ini."

Winda menatap kamera. Kali ini lebih singkat. "Saya Winda Novriansyah, melaporkan dari Imam Bonjol. Kembali ke studio."

Di studio, sepersekian detik hening. Lampu masih menyala. Musik bumper belum masuk.

Annisa Hapsari membuka mulut lalu berhenti. Suara off-air-nya bocor. Jelas. Terlalu jelas.

"Gilak. Kelar juga kita."

Beberapa kepala di belakang kamera langsung menoleh. Seseorang mengangkat tangan, panik, memberi isyarat cut. Terlambat. Annisa membeku. Tatapannya kosong sesaat, seperti baru sadar dirinya sedang berdiri di tepi jurang yang tidak ia lihat sebelumnya.

"Kamera dua, siap."

Annisa menarik napas. Senyum dipasang kembali—senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun, senyum yang bisa menutup apa pun.

"Pemirsa, kita kembali dengan perkembangan terbaru terkait penangkapan besar-besaran yang baru saja kami laporkan—"

Tapi di belakang kamera, studio tidak lagi rapi. Bisik-bisik pecah. Seorang produser menjauh sambil menekan ponsel ke telinga, suaranya nyaris bergetar. Nama mulai beredar cukup hanya dengan tatapan, tanpa suara. Sementara Annisa terus membaca teleprompter. Suaranya stabil. Tangannya tidak.

Beberapa menit kemudian, siaran terputus.

***

Maximillianus Raka tiba di kantor ketika Jakarta masih berada di antara dua dunia—dunia yang belum sepenuhnya bangun tapi masih urung untuk kembali beranjak tidur. Jam di ponselnya menunjukkan 05.42. Lift gedung nyaris kosong, seolah kota ini sengaja memberinya ruang untuk berpikir sebelum hari menagih apa pun darinya.

Pantulan wajahnya di dinding baja lift membuatnya berhenti sejenak. Garis di sekitar mata itu tidak ada semalam. Atau mungkin, ia hanya tidak memerhatikannya.

Ruang redaksi KANAL 11 menyambutnya pun hadir dengan cara yang selalu sama: cahaya putih tanpa kompromi, layar-layar menyala, dan dengungan pendingin udara yang konstan. Jangan berharap menemukan jendela besar di sana. Apalagi mencari tanda-tanda pagi. 

Raka menaruh tasnya di samping kursi dan membuka laptop. Puluhan surel masuk sejak tengah malam. Beberapa bertanda urgent. Sisanya hanya pengingat bahwa dunia tidak pernah menunggu siapa pun—termasuk newsroom—untuk siap. Ia menyeduh kopi instan dan menyimpan harapan besar, hawa panasnya bisa membuatnya duduk nyaman dan bertahan.

Di monitor besar, headline berita pagi telah tersusun rapi. Tidak ada yang mengejutkan. Banjir di Sumatera. Tangkap tangan terbaru KPK. Pernyataan pejabat yang akan dibantah pejabat lain sebelum siang.

Raka membaca cepat, hingga matanya berhenti pada satu judul kecil di sudut rundown.

Kasus Chromebook Tidak Memiliki Mens Rea - Siapa yang Dikorbankan?

Statusnya masih pending. Raka tahu persis alasannya.

"Pagi, Mas."

Naya Putri berdiri di samping mejanya. Rambutnya diikat seadanya, tapi dengan mata terlalu terang untuk jam segini. Tablet di satu tangan, secangkir kopi di tangan lain—kopi dari kedai bawah yang jelas lebih serius daripada seduhan instan milik Raka.

"Kamu cepat," kata Raka tanpa menoleh.

"Belum pulang, Mas" jawab Naya. "Sumberku nelpon lagi. Katanya ada dokumen tambahan."

Raka menghela napas pelan. Ia menutup laptopnya setengah. "Dokumen apa?"

"Rekening. Aliran dana. Nama-nama yang sebelumnya nggak muncul."

Raka akhirnya menatap Naya. Di wajah perempuan itu ada sesuatu yang selalu membuat redaksi seperti ini berbahaya: keyakinan bahwa kebenaran selalu sepadan dengan risikonya.

"Siapa?" tanya Raka.

Naya ragu sepersekian detik. "Salah satu komisaris BUMN."

Raka mengangguk pelan. Tidak perlu penjelasan tambahan. Nama itu membawa ekor panjang—politik, kekuasaan, dan konsekuensi.

"Ini nggak bisa tayang pagi," katanya.

"Aku tahu," jawab Naya cepat. "Tapi setidaknya kita siap."

Siap untuk apa, Raka bertanya dalam hati. Jawaban itu jarang menyenangkan.

Langkah kaki terdengar dari arah koridor ruang rapat produser. Surya Muhammad—orang-orang biasa memanggilnya dengan SM—, muncul, rapi seperti biasa—jas gelap, kemeja putih, ekspresi seseorang yang selalu terlihat seolah sudah memikirkan semuanya semalam.

"Pagi," katanya singkat. "Kita rapat sepuluh menit lagi."

Raka mengangguk. Naya meliriknya sebentar, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

***

Ruang rapat kecil terisi perlahan. Beberapa produser. Editor desk. Rapat pagi selalu dimulai dengan keterlambatan lima menit—semacam ritual, tapi tidak pernah diakui siapa pun.

Raka duduk di kursi dekat ujung meja, posisi amannya. Dari sana, ia bisa melihat semua wajah dan mendengar nada bicara tanpa harus menimpali. Surya, seperti biasa, masuk terakhir. Rambutnya disisir ke belakang dengan presisi nyaris militer. Meletakkan map tipis di meja dengan pelan, duduk di kursi kepala, lalu diam sejenak. Jeda yang disengaja.

"Kita mulai dari rundown," katanya akhirnya.

Judul demi judul disebut. Urutan digeser. Durasi dipangkas. Efisien. Bersih. Saat sampai pada isu Kasus Chromebook, Surya berhenti.

"Ini masih kita simpan," katanya datar.

Tapi tidak ada juga yang bertanya kenapa. Raka hanya menatap layar laptopnya. Ia tahu menatap Surya terlalu lama bisa terbaca sebagai tantangan.

"Bahasanya dijaga," lanjut Surya. "Jangan lompat ke kesimpulan. Kita tidak mau mendahului proses."

Proses siapa, batin Raka, tidak pernah disebutkan. Beberapa orang di ruangan mengangguk. Intensitas anggukan di sini sering kali bisa dibaca sebagai posisi politik.

Raka melirik Naya. Tubuhnya condong ke depan, pulpen di tangan, menahan diri. Antusiasme yang belum terkikis realitas industri.

"Naya," kata Surya, suaranya mendadak lebih ramah. "Pastikan datanya diverifikasi berlapis."

"Iya, Pak."

"Kita bukan yang pertama," tutup Surya, merapikan mapnya. "Tapi kita harus jadi yang paling rapi."

Kalimat itu menggantung di udara. Raka menuliskannya di buku catatan. Ketika rapat bubar dan ruangan hampir kosong, Naya mendekati mejanya.

"Mas," katanya pelan. "Kita beneran nyimpen ini?"

Raka menatapnya. Kegelisahan di wajah juniornya itu terlalu jujur. "Untuk sekarang."

Naya mengangguk, meski jelas itu bukan jawaban yang ia harapkan, lalu beranjak pergi.

***

Raka tetap duduk, mengedarkan pandangan ke penjuru redaksi yang mulai bising.

Dari tempatnya, ia bisa melihat dua lukisan besar yang dipajang berhadapan di ujung lorong manajemen. Lukisan pertama adalah potret hitam-putih demonstrasi mahasiswa '98—simbol perlawanan dan pengingat akan akar idealisme Surya sebagai mantan jurnalis investigasi lapangan yang tak kenal takut.

Namun, tepat di seberangnya, tergantung lukisan abstrak berwarna merah dan emas. Plat kuningan kecil di bawahnya bertuliskan: Stabilitas. Kata orang-orang, itu hadiah dari "kawan lama". KANAL 11 memang tidak pernah bersembunyi dari siapa yang membesarkannya. Perusahaan ini berdiri lima tahun lalu, disokong oleh modal dari jaringan pengusaha lintas sektor—nama-nama yang bebas keluar masuk ring kekuasaan.

Di atas kertas, stasiun ini adalah wajah pers progresif. Namun dalam praktiknya... mereka hanya berjalan di garis tipis: antara apa yang ingin diperjuangkan, dan apa yang aman untuk disiarkan.

Dan Surya Muhammad adalah sang penjaga keseimbangan. Sebagai mantan wartawan yang tajam di era 90-an, Surya tahu betul cara menekan narasumber. Tapi hari ini, keahlian terbesarnya adalah tahu kapan harus berhenti menekan. Verifikasi berlapis. Itu selalu jadi mantra andalannya untuk membunuh berita tanpa terlihat seperti algojo.

Lamunan Raka buyar saat ponselnya bergetar. Satu pesan pendek masuk dari nomor tanpa nama.

Kalau ini tidak tayang, saya tidak tahu harus ke mana lagi.

Raka menatap layar itu lama. Ia mengunci rahangnya, bangkit dari kursi, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja Naya.

"Ada orang yang mau bicara," kata Raka pelan. Nadanya dijaga serendah mungkin agar tenggelam oleh dengungan mesin fotokopi di sudut.

Naya tidak langsung bereaksi. Tangannya yang sedang mengetik naskah terhenti di atas keyboard. Ia sudah cukup lama berada di ruang redaksi untuk tahu bahwa kalimat semacam itu bisa berarti apa saja—dari sekadar pengakuan setengah matang, hingga upaya cuci tangan yang dikemas sebagai keberanian heroik. Ia memutar kursi, menatap Raka. Menunggu.

"Dia bukan nama kecil," lanjut Raka. "Dan dia ketakutan."

Kata terakhir itu yang membuat Naya langsung mencondongkan tubuh. Takut selalu menjadi indikator yang jujur. Sumber yang percaya diri biasanya datang membawa agenda politik; sumber yang ketakutan datang membawa insting bertahan hidup.

"Dokumennya?" tagih Naya dengan suara tertahan.

"Baru sepotong. Sengaja dia pecah buat jaminan," Raka menumpukan sebelah tangannya di kubikel Naya. "Rekening yang berulang, pola transfer, relasi antar-entitas. Belum ada peluru pamungkas, tapi kalau digabung dengan nama komisaris BUMN yang kamu sebut tadi pagi..."

Naya membuang napas berat. Di situ, harapan itu muncul. Harapan bahwa berita yang selama ini disandera oleh rapat dan kehati-hatian birokratis akhirnya punya sandaran tulang punggung.

Tapi di saat yang sama, insting Naya menyala. "Waktunya terlalu pas, Mas. Baru tadi pagi delapan belas orang ditarik Bareskrim. Pejabat BUMN yang kita pantau ada di daftar tangkapan itu, kan? Whistleblower ini ketakutan karena lingkaran terdekatnya mulai ditebang. Dia ngasih ini ke kita bukan murni buat keadilan. Dia lagi nyari sekoci sebelum ikut tenggelam."

Naya menatap Raka tajam. "Dia mau ketemu?"

"Belum," Raka menggeleng. "Masih lewat perantara. Dia minta jaminan. Kalau ini nggak tayang hari ini, dia bawa dokumen utuhnya ke kompetitor. Atau lebih buruk lagi, dia hilang."

Naya tersenyum masam. Di dunia mereka, jaminan dari stasiun TV adalah omong kosong. Tidak ada yang bisa menjamin apa pun di gedung yang memajang pigura kebebasan pers tapi dibiayai oleh oligarki.

"Aku mau lihat semuanya, Mas." kata Naya akhirnya, suaranya mengeras, menuntut. "Boleh minta dokumen utuhnya sekarang? Tanpa disederhanakan."

Raka menatap Naya lekat. Ia tahu persis, begitu ia meminta file penuh itu, jarak aman mereka hangus. Tidak ada jalan mundur menjadi sekadar wartawan yang 'sedang melakukan riset'.

Raka merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan terenkripsi, membalas nomor tadi dengan satu kata:

Kirim.

Hanya butuh tiga puluh detik hingga sebuah notifikasi surel dengan lampiran PDF masuk ke laptop Raka.

Naya bangkit dari kursinya dan mendekat, nyaris menempel pada bahu Raka untuk melihat layar. Mata mereka menyisir rumitnya matriks aliran dana tersebut—dari rekening cangkang di luar negeri, berpindah ke yayasan fiktif, lalu bermuara pada satu entitas perusahaan lokal dengan nominal triliunan.

Mata Naya perlahan melebar. Darahnya seolah berhenti mengalir.

Perusahaan penerima dana terbesar dalam dokumen itu bukanlah milik pejabat BUMN. Bukan juga milik figur kabinet pemerintahan.

Perusahaan itu adalah entitas induk yang mendanai seluruh operasional KANAL 11.

Raka membeku. Kalimat Surya di ruang rapat pagi tadi kembali mengiang di kepalanya, memukul layaknya palu godam. Ini masih kita simpan. Jangan lompat ke kesimpulan. Kita tidak mau mendahului proses. Surya tidak sedang melindungi proses hukum. Surya sedang melindungi ruang redaksi ini dari kehancuran total.

"Mas..." Suara Naya bergetar hebat. Matanya tak lepas dari layar. "Kalau ini naik, besok stasiun TV ini tutup."

Raka menatap pantulan wajahnya sendiri di layar monitor yang menampilkan grafik aliran dana korupsi tersebut. Idealismenya menatap balik, menuntut jawaban. Ruang redaksi di sekitar mereka masih sibuk dengan rutinitasnya—orang-orang tertawa kecil, suara printer, reporter bersiap turun ke lapangan—tidak tahu bahwa tanah tempat mereka berpijak sedang retak.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja Raka bergetar hebat. Layarnya menyala, “SM”. Raka dan Naya hanya saling tatap.

Di luar gedung, matahari Jakarta mulai naik, siap memanggang kota. Namun di dalam ruangan bersuhu stabil ini, Raka sadar, tidak ada satu pun jalan keluar yang tidak terbakar. Ia membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa henti. Perlahan, tangannya bergerak menyentuh mouse.

Di atas tombol Forward to Master Control, jarinya berhenti.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)